Kamar 126

Kamar 126
Awal yang baru


Di pagi hari yang cerah, semua keluarga besar itu tampak sedang menikmati sarapan bersama di meja makan. Hari ini semua tampak hening dan memilih fokus pada makanan mereka masing-masing. Hanya dentingan sendok yang mengenai piring saja yang terdengar di waktu itu. Tapi meskipun begitu, bukan berarti itu pertanda yang buruk bagi keluarga mereka. Justru itu memang kini di jadikan kebiasaan untuk tidak berbicara ketika makan di meja makan, sampai makanan mereka habis.


Hari itu seperti biasanya, mereka para anak-anak pergi ke sekolah dan juga kampus. Meski mereka masih menempuh pendidikan, akan tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk mereka melakukan pekerjaan ,atau pun aktivitas seperti yang diinginkan oleh mereka.


“Ma, Dila berangkat dulu ya!” ucap Dila yang berpamitan dengan Gisella, mamanya.


“Iya sayang kamu hati-hati di jalan ya!” Gisella mengusap kepala anak perempuan satu-satunya itu yang hendak berangkat ke sekolah. Bukan hanya Dila saja tapi anak-anak yang lain juga tak kalah ingin berpamitan pada Gisella.


“Ma, Mark antar mereka ke sekolah dulu ya?!” pamit Mark pada Gisella yang akan mengantar para adik-adiknya itu ke sekolah. Gisella yang melihat ketulusan hati Mark yang ingin mengantar adik-adiknya itu pun tersenyum manis ke arah Mar, dan mengangguk perlahan. Pertanda bahwa dia memperbolehkan Mark untuk mengantar adik-adiknya untuk ke sekolah.


Beberapa saat kemudian mobil yang di kemudikan oleh Mark itu sudah meninggalkan pelataran mansion. Dan melesat menuju ke sekolah para adik-adiknya.


Sesampainya mereka semua di sekolah, Dila yang hendak turun pun di bukakan pintu oleh Mark. “Silahkan?!” ucap Mark sambil membukakan pintu untuk Dila.


Axel yang melihat itu pun seperti terbakar api cemburu, meskipun dirinya tak memiliki rasa pada Dila. Tapi entah kenapa rasanya saat melihat Dila, dirinya seperti sedang menatap sang pujaan hati yang sudah lebih dulu menghadap ke sang pencipta, Dira.


Axel yang langsung turun pun langsung menggandeng tangan Dila dan mengajaknya untuk segera memasuki gerbang sekolah. Bagaimana tidak, tentu saja Mark hanya mengantar mereka sampai di depan gerbang saja. Meskipun sekolah itu milik Ayah Nathan, tapi bukan berarti mereka bias seenaknya saja melanggar peraturan yang ada di sekolah itu.


“Yuk, Dil?!” ucap Axel yang langsung menyambar tangan Dila untuk di ajak masuk ke area sekolah.


“Gue masuk dulu ya kak?!” ucap Dila pada Mark yang ketarik oleh Axel.


Mark pun hanya tersenyum mengangguk sambil menatap Dila yang perlahan memasuki area sekolah.


Tampak dari sisi mobil yang lain, Alfian juga baru saja turun dari mobil itu dan menyapa kakak tertuanya itu.


“Kak, gue masuk dulu ya?!” pamit Alfian sambil menenteng tas di bahu kirinya, dan di jawab anggukan oleh Mark, “Oh iya, gue sampai lupa kak!” Tampak Alfian berbalik arah lagi menatap ke arah Mark berada. Mark yang melihat itu pun langsung menaikkan satu alisnya karena heran.


“Ada apa lagi? Apa ada yang ketinggalan?!” Tanya Mark penasaran sekaligus menerka apa yang akan Alfian katakana padanya.


“Gue cuma mau bilang aja kak, kalau kemarin gue sempet lihat sosok yang ada di rumah yang di jual itu?!” kata Alfian dengan segala rencananya.


“Memangnya apa yang kamu lihat?!” Tanya Mark lagi.


“Gue sih nggak lihat dia dengan jelasnya sih kak, soalnya waktu itu gue dari jauh lihatnya?!” ujar Alfian memberi tahu.


Mark pun menarik nafas dan membuangnya perlahan sebelum dia menjawab ucapan dari adik bungsunya itu.


Kini hanya ada Mark saja yang ada di sana, sembari menatap adik-adiknya yang lain yang perlahan memasuki area sekolah. Setelah itu Mark langsung menyalakan mobilnya untuk menuju ke satu tempat yang di maksud oleh Alfian tadi.


Sebuah rumah yang terlihat tua dengan cas yang masih bagus itu tampak sangat elegan ketika di pandang mata. Namun siapa sangka kalau rumah itu ada penghuninya?


Bahkan terlihat menakutkan di mata orang yang memiliki mata batin yang terbuka. Mark turun dari mobil setelah sebelumnya menepikan mobil itu di area warung yang kebetulan letaknya tak jauh dari rumah yang di beri tanda di jual itu.


Mark tampak menatap rumah itu sekilas sebelum dirinya benar-benar yakin kalau ada sosok yang memang menghuni rumah itu. Mark berjalan ke arah warung itu, untuk sekedar bertanya mengenai rumah itu.


“Permisi?!” ucap Mark yang menyapa pemilik warung itu.


“Iya, ada yang bias saya bantu?!” Tanya wanita paruh baya yang kelihatannya adalah pemilik warung itu.


“Bu, kalau boleh saya tahu, rumah di depan itu di jual ya bu?” Tanya Mark basa basi.


“Oh iya nak, rumah itu di jual, tapi sudah lebih dari 2 tahun rumah itu tidak laku, karena katanya ada hantu penunggunya?!” lirih pemilik warung itu yang kelihatannya tidak ingin di dengar oleh siapapun.


Tentu saja Mark tidak mau percaya begitu saja akan ucapan dari pemilik warung itu. Bahkan gelagat nya terlihat aneh, bagaimana tidak? Kenapa harus membahasnya dengan lirih? Dan kenapa juga kalau memang berhantu harus di ceritakan pada orang lain?


Bukankah itu terkesan seperti mempengaruhi seseorang yang ingin membeli rumah itu.


“Memangnya kenapa ya nak? Apa kamu mau membeli rumah ini?!” Tanya ibu pemilik warung itu.


“Ah iya benar bu, saya sepertinya tertarik dengan eksterior rumah itu, sangat elegan! Mungkin saya akan membelinya untuk hadiah ulang tahun mama saya!” Jelas Mark yang berbohong, sebenarnya tujuan utamanya hanyalah ingin menemui pemiliknya dan langsung bisa masuk untuk melihat semua isi dari rumah itu. Dengan begitu akan mudah untuk melakukan penyelidikan.


“Kalau memang kamu ingin membelinya, silahkan saja hubungi nomor ponsel itu nak” jawab ibu pemilik warung sembari menunjuk ke arah spanduk yang sengaja di pasang di depan gerbang rumah itu.


Mark langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh ibu si pemilik warung itu. Dan benar saja di sana terdapat nomor ponsel yang tertera di bawah spanduk bertuliskan di jual.


“Kalau begitu saya permisi bu, terima kasih atas infonya?!” ucap Mark berterima kasih pada ibu pemilik warung itu.


“Iya nak sama-sama?!” jawab ibu itu dengan senyuman di wajahnya yang sudah tampak keriput itu.


Mark lalu segera bergegas menuju mobilnya dan melajukannya menuju ke mansion. Karena memang dia sudah terlalu lama keluar, dia takut kalau sampai nantinya mama Gisella akan mengkhawatirkan dirinya yang tak kunjung pulang setelah mengantar para anak-anak ke sekolah mereka.


Singkat cerita, mobil yang tadi di naiki oleh Mark memasuki area mansion. Karena semua para pria sedang ada urusan bisnis di luar negeri. Hanya Mark dan Leon saja, pria yang ada di sana untuk menjaga para wanita. Untuk berjaga-jaga kalau nantinya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.