
"Terima kasih, tante!" Jawab Saviana sambil tersenyum pahit ke arah Gisella, mengingat Alfin sang kekasih hati yang pergi entah ke mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jauh di sisi Alfin dirinya terlihat mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kampus. Alfin ingin mencari tahu tentang kebenaran akan Saviana.
"Arkhhhh!! Kenapa harus orang yang gue cintai, dan kenapa gue nggak pernah sadar akan itu?!" Kesal Alfin sambil memukul setirnya.
Sesampainya dia di kampus , Alfin tidak menemukan informasi apapun mengenai Saviana. Bahkan hanya ada satu kasus, dan itu pun sudah di tutup beberapa tahun yang lalu. Alfin keluar dari kampus berjalan gontai menuju mobilnya. Sampai akhirnya matanya menatap ke arah mamanya dan juga papa Byun yang beserta beberapa mafioso milik Lukas. Dengan Lukas yang berjalan paling belakang. Mereka menuju ke pintu rahasia menuju telaga.
Memang Gisella sengaja memberi tahu Byun dan Lucas untuk mengantarkannya ke kampus Alfin dengan membawa beberapa mafioso. Untuk misi pengambilan jasad Saviana.
Mark dan Alfian yang ada di dalam mobil tak jauh dari sana pun , melihatnya juga. Sampai akhirnya mereka berdua turun dari mobil, karena melihat Alfin yang diam-diam juga mengikuti langkah Gisella dan yang lainnya menuju ke telaga itu.
Pov Gisella dan yang lainnya.
"Gisella, kamu yakin di sini?!" Tanya Byun pada Gisella setelah sampai di tepi telaga.
"Saviana bilang memang di sini tempatnya!" Ujar Gisella memberi tahu, "Lukas, cepat suruh mafioso kamu untuk mencari sebuah koper yang ada di sini, suruh mereka menyelam!" Pinta Gisella pada Lucas.
Lukas pun langsung menyuruh beberapa mafioso yang dia bawa untuk melakukan apa perintah dari Gisella tadi. Dengan cepat mereka langsung mencari keberadaan koper itu di dasar telaga.
Sampai akhirnya tak butuh waktu lama, mafioso itu menemukan koper yang mereka yakini kalau koper itu yang di cari oleh Gisella. Alfin tercekat dan membelalakkan matanya saat tahu kalau Saviana ternyata di bunuh dan jasadnya di masukkan ke dalam koper.
Dan benar saja, saat koper itu di buka oleh salah satu mafioso, terdapat tulang belulang yang di yakini adalah milik Saviana. Di sana yang bisa melihat Saviana hanya Gisella, Mark, Alfian, dan Alfin. Bahkan anak-anak Gisella itu masih bersembunyi mengikuti Alfin.
Alfin hanya bisa terdiam, dan tak dapat berkata-kata lagi melihat kenyataan pahit ini. Seorang yang selama ini dicintai ternyata hanyalah makhluk tak kasat mata.
"Saviana, apa kamu akan pergi setelah ini? Tante janji akan menguburkan kamu dengan layak nanti!" Ucap Gisella pada Saviana.
"Terima kasih tante, aku akan pergi dengan tenang, alam selanjutnya bahkan juga sudah menungguku!" Kata Saviana sambil tersenyum ke arah Gisella.
"SAVIANA!!" Teriak Alfin yang berlari ke arah mereka. Sontak semua pandangan pun tertuju pada mereka yang ada di sana.
"Alfin?" Lirih Saviana saat melihat Alfin mendekat ke arah mereka.
"Tidak, jangan pergi Saviana!!" Pinta Alfin pada Saviana.
"Maafkan aku Alfin, ini sudah menjadi takdir kita! Ini semua salahku, seharunya aku tidak pernah menampakkan diri di perpustakaan kampus waktu itu!!" Ujar Saviana yang sudah berderai air mata.
"Aku akan selalu mencintai kamu!" Ucap Alfin sambil membelai rambut Saviana. Alfin bahkan terisak melihat kekasihnya itu akan pergi untuk selama-lamanya.
"Aku juga akan selalu mencintai kamu, sampai kita di pertemukan kembali di alam berikutnya!" Ucap Saviana dengan terisak.
Perlahan Alfin hendak mencium kening Saviana. Tentu saja hanya Gisella, Mark dan Alfian saja yang bisa melihat itu. Akan tetapi belum sempat mencium Saviana, arwah Saviana perlahan menghilang bak di telan oleh bumi.
Alfin membelalakkan matanya ketika melihat perlahan arwah Saviana menghilang, "Sayang kenapa kamu-? Tidak! ku mohon jangan sekarang!!" Alfin seperti tak terima kalau Saviana akan meninggalkannya secepat ini.
"Tidak!! SAVIANA!!!" Teriak Alfin ketika melihat arwah Saviana lenyap seperti berubah menjadi angin dan menerpa dirinya yang saat itu masih berdiri. Arwah Saviana pun kini hilang dan telah tenang di alam selanjutnya.
Brukkk,,,
Alfin jatuh bersimpuh, air matanya kini sudah membanjiri pipinya. Dia terisak mengingat kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Alfin sangat terpukul kehilangan orang yang sangat dia cintai. Hatinya kini hancur berkeping-keping, perih terasa kala mengingat momen bahagianya bersama dengan Saviana.
"Alfian ada apa?!" Tanya Chan yang baru datang ke lokasi, setelah meeting.
"Papa?!" Alfian menoleh ke arah papanya, "Kok papa bisa ada di sini?!" Tanya Alfian heran.
"Papa di kasih tahu sama papa Byun tadi!" Jawab Chan lalu setelahnya melihat anaknya yang jatuh bersimpuh dengan terisak.
Gisella mendekati anaknya itu dan mengusap lembut punggungnya untuk menenangkan Alfin.
Setelah itu mereka semua menguburkan jasad Saviana di dekat makam anak-anak Gisella. Tubuh Alfin seakan lemas tak berdaya, karena sudah kehilangan orang yang sangat dia cintai.
Sesampainya di mansion besar. Mereka yang ada di mansion bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Setelah mengantar Alfin ke kamarnya. Gisella pun menceritakan kejadian pilu yang di alami oleh anak sulungnya itu. Gisella sengaja menceritakannya tanpa di ketahui oleh Alfin, karena takutnya nanti Alfin akan semakin tambah bersedih.
Semua orang yang mendengar cerita itu pun ikut terisak akan kisah cinta yang di alami oleh Alfin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Alfin masih enggan untuk keluar dari kamarnya. Dia memilih berdiam diri dan merenungi apa yang sudah terjadi. Saking seringnya melamun, kadang Alfin tidak sadar kalau ada orang yang masuk ke dalam kamarnya.
Di hari itu, Gisella tampak berada di kamarnya bersama dengan Chan.
"Chan, aku kasihan sama Alfin!" Ucap Gisella dengan wajah khawatirnya akan anak sulungnya.
"Kita harus membujuknya lagi, aku sendiri juga khawatir sayang!" Kata Chan memberi tahu sambil memeluk Gisella.
Kebetulan pintu kamar mereka terbuka, dan itu membuat siapapun lebih leluasa untuk masuk ke dalam kamar itu.
"Mama!" Panggil Dila dengan wajah cemasnya.
Suara Dila membuat Chan dan Gisella tersentak lalu menoleh ke arah putrinya itu.
"Dila, ada apa nak?!" Tanya Gisella yang melihat raut wajah anak gadisnya itu cemas.
"Kak Alfin mengunci pintu kamarnya dari dalam, ma! Ini nggak biasanya, aku takut kalau sampai terjadi sesuatu sama kak Alfin!" Ucap Dila khawatir, dirinya takut kalau sampai kakaknya berbuat yang tidak-tidak.
Tanpa menjawab, Chan dan Gisella langsung menuju ke kamar Alfin. Dan benar saja pintu kamar Alfin di kunci dari dalam. Ini tidak seperti biasanya Alfin mengunci pintunya dari dalam. Padahal semenjak kepergian Saviana pun dirinya juga sering membiarkan pintu terbuka. Hal itu sontak langsung membuat pikiran semua orang kemana-mana, takut kalau sampai Alfin berbuat nekat nantinya.
Tok tok tok