
Mark menarik nafasnya sebelum mengatakan semua pada Windy, "Papa lo udah pergi setelah dia bertemu dengan tante Klara di alam lain!" Ucap Mark, "Kau salah kalau kau mengira beliau tidak mengucapkan salam perpisahan! Dia sudah mengatakan saat di detik-detik dia meninggal" Ujar Mark selanjutnya.
Windy mengingat dan dia sadar kalau memang benar papanya sudah mengucapkan salam perpisahan saat di detik-detik terakhirnya. Windy menarik nafas lalu menghelanya ,"Kenapa dia tidak menemui ku terlebih dahulu?!" Tanya Windy sembari menoleh ke arah Mark, matanya memerah dan penuh dengan air mata di dalamnya.
"Papamu sudah pergi dengan damai, bukannya dia tidak mau bertemu dan berpamitan sama lo! Tapi itu sudah kehendak sang pencipta!" Ujar Mark, "Apa lo nggak tahu kenapa makhluk tak kasat mata berkeliaran? Itu karena urusan dunia mereka belum selesai! Tapi papa lo berbeda! Dia tidak lagi memiliki dendam! Jadi dia sudah pergi ke alam yang seharusnya dia datangi!!" Lanjut Mark lagi.
"Jadi begitu kah? Apa yang lo katakan itu benar?!" Tanya Windy karena dirinya tak begitu tahu tentang itu, yang dia tahu kalau dia hanya bisa melihat makhluk tak kasat mata saja.
"Untuk apa gue berbohong sama lo! Harusnya lo bisa pakai logika untuk memikirkan itu, karena lo juga sama kayak gue! Tapi, gue nggak tahu apa yang terjadi sama nyokap lo!" Ucap Mark memberi tahu.
"Jadi mama gue belum kembali ke alamnya?!" Tanya Windy penasaran. Dia ingin tahu mengenai itu.
"Gue sendiri juga nggak tahu pastinya. Tapi lo tenang aja! Mama lo pasti juga sudah mendapatkan apa yang sudah menjadi tanggungannya di dunia!" Kata Mark yang malah membuat Windy semakin bersedih di buatnya. Bagaimana tidak, Windy masih sangat terpukul karena telah kehilangan mamanya itu, lalu bagaimana bisa dia mengatakan hal itu pada Windy.
"Sorry Win, gue nggak ada maksud kayak gitu!" Ucap Mark merasa bersalah karena sudah membuat Windy malah semakin bersedih.
"Apa menurut lo, kesalahan mama gue nggak bisa di maafkan? Apa yang di lakukan dia memang sangat fatal?!" Tanya Windy, akan tetapi saat Mark ingin menjawabnya, ucapannya malah terpotong oleh Windy lagi, "Hhh, begitu bodohnya gue malah tanya kayak gitu! Jelas kesalahan yang di lakukan mama gue itu sangat fatal, bahkan dia sudah seperti iblis di mata para korbannya! Termasuk tante Ana!" Lanjut Windy lagi.
Mark hanya bisa terdiam , dia merasa kasihan pada Windy. Pasti begitu menyakitkan berada di posisinya saat ini.
Mark akhirnya akat bicara, "Windy, mungkin mulai besok museum itu akan di tutup! Karena semua yang ada di dalamnya tidak layak untuk di pertontonkan banyak orang! Lo tahu sendiri kan kalau mereka itu adalah tubuh manusia asli?!" Ucap Mark dengan diakhiri kalimat tanya.
Windy menghela nafas lalu mengusap air matanya ,"Ya lo benar! Museum itu harus di tutup! Manekin-manekin itu harus di kuburkan dengan layak! Gue akan ikut untuk menguburkan mereka, sebagai tanda bahwa gue mewakili mama untuk meminta maaf pada mereka, para korban mama!" Ujar Windy dengan penuh keyakinan di hatinya. Dia akan mengurus semuanya hingga selesai. Supaya arwah mama dan papanya tenang di sana.
Singkat cerita, setelah itu mereka semua pulang ke mansion setelah dari kediaman Windy tadi. Sesampainya di mansion hari sudah mulai larut, tentu para orang tua sangat khawatir terhadap mereka. Meskipun Jeni sudah di bujuk oleh yang lainnya dengan mengatakan kalau Lucas ada bersama dengan mereka. Namun tetap saja dia masih merasa khawatir, karena bagaimana pun hatinya selalu merasa gelisah setiap kali tidak bertemu dengan anak-anaknya itu.
"Nak kalian berlima dari mana saja?!" Tanya Jeni yang khawatir ketika melihat kelima anak itu pulang ke mansion. Tentu dia langsung berlari ke arah mereka. Dia sangat khawatir karena mereka kini adalah tanggung jawab Jeni untuk saat ini, karena Gisella sedang berada di pulau jawa.
"Maaf Mom, tadi ada sedikit insiden di misi kita!" Ucap Mark memberi tahu dengan mewakili para saudaranya.
"Kalian menjalankan misi lagi? Tapi kenapa tidak menghubungi Mommy? Kenapa tidak memberi Mommy kabar tentang itu? Mommy khawatir sama kalian nak!" Ucap Jeni dengan segala kekhawatiran yang dia miliki.
"Jeni sayang, biarkan mereka membersihkan diri dulu! Nanti kita lanjutkan bicara setelah makan malam saja!" Ucap Leon supaya Jeni membiarkan mereka untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Lalu kemudian mereka menuju ke kamar mereka masing-masing. Akan tetapi saat hendak masuk ke dalam kamarnya, terlihat Axel yang tengah berbincang dengan papa Byun. Namun Mark tentu tak ingin menguping percakapan mereka. Jadi Mark memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikan itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Pov Axel
Hari itu papa mendatangiku karena melihat aku bersama dengan Dila. Aku yang di suruh papa untuk menjauhi Dila untuk satu bulan lamanya, melanggar itu dari papa Byun. Dia terlihat marah saat melihatku berjalan masuk bersama dengan Dila setelah pulang sekolah tadi. Apalagi Dila saat itu sangat menempel padaku, dia bahkan bergelayut di tanganku, sudah seperti sepasang kekasih.
Malam itu juga saat semua sibuk menunggu kedatangan kak Mark dengan para saudara yang lain. Bahkan ada juga yang menyiapkan makan malam. Aku memilih untuk berada di kamar. Aku tahu kalau papa pasti akan menemui ku di kamar.
Dan benar saja, firasat ku memang tidak salah. Papa mendatangiku malam itu, "Axel, papa mau bicara sama kamu!" Ucap papa Byun ketika sudah masuk ke dalam kamarku, wajahnya tampak tegas. Aku lihat dia juga seperti ingin memarahiku, aku sudah tahu dia pasti akan membahas tentang apa yang dia lihat tadi saat aku bersama dengan Dila.
"Ada apa pa?!" Tanyaku basa basi seolah tak tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan.
Papa Byun menghela nafasnya sebelum mengucapkannya, "Apa kamu tahu kesalahan kamu? Kenapa kau melanggar perintah papa Axel?!" Ucap papa Byun saat itu padaku.
Aku bingung harus menjawabnya bagaimana, di sisi lain aku tidak ingin menyembunyikan ini dari papa. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin di cap menjadi anak durhaka, karena tidak bisa menuruti apa kata papa. Aku sungguh di landa sebuah dilema saat itu, aku begitu bingung dengan kalimat apa yang harus aku lontarkan. Sampai akhirnya, "Maafkan Axel pa! Axel tidak bisa membendung ini! Axel tidak bisa jauh dari Dila! Rasanya itu sulit Pa!" Ucapku yang tak tahan lagi dengan rasa yang sudah berkecamuk di hati dan pikiranku.
Papa Byun sepertinya marah saat aku mengatakan itu, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat sangat datar dan dingin.
"Apa kau ingin Dila sakit lagi Axel? Apa kamu ingin membuat semua orang di mansion ini khawatir pada Dila yang sakit?!" Kalimat papa yang membuat hatiku bergetar hebat, tak ingin menjawab tapi seolah pikiranku mengendalikan ku untuk berusaha berani.
Papa mendengus, "Kalau begitu jauhi Dila seperti yang papa suruh waktu itu!!" Pinta papa lagi pada diriku, kalimat itu seakan sengaja di katakan oleh papa yang terdengar seperti ingin menjauhkan aku dari Dila. Entah dorongan dari mana aku malah mencoba melawan kehendak papa itu.
"Tapi kenapa pa? Kenapa harus Axel yang menjauhi Dila? Iya Axel tahu Dila saat itu sakit setelah pergi bersama dengan Axel!! Tapi Axel tak melakukan apapun pa! Kenapa papa seakan ingin menjauhkan Axel dari Dila?!" Ucapku yang mulai terpancing emosi.
Papa juga sama halnya tidak mau mengalah, karena pada dasarnya papa itu keras kepala sama seperti diriku.
"Asal kamu tahu Axel! Semua orang akan sangat khawatir terutama Gisella!! Dia itu sudah sangat trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya! Dia akan sangat sedih jika sampai Dila sakit!!" Kata papa lagi yang masih tak mau mengalah.
"Tapi kenapa papa malah ingin menjauhkan Axel dari Dila dengan dalih mengatakan supaya Dila tidak sakit?? Apa aku ini adalah penyakit untuk Dila? Apa papa tidak pernah berpikir, untuk apa aku membuat Dila sakit? Bahkan aku menyayanginya! Dan merasa sakit saat melihat dia sakit seperti itu!!" Ucapku yang sudah terlanjur kesal pada apa yang di katakan papa tadi.
"Axel ini demi kebaikan kamu dan Dila!" Suara papa sedikit melembut karena mungkin mendengar aku yang sedikit meninggikan suaraku, bahkan air mataku rasanya sudah ingin sekali menetes.
Aku mengalihkan pandanganku sejenak dan menarik nafas dalam untuk menjawab ucapan papa, "Apa papa pikir dengan menjauhkan Axel dan Dila seperti ini, membuat Dila akan membaik? Axel rasa tidak pa! Kita berdua sama-sama tersiksa dalam kebisuan! Kita sudah seperti saling menyakiti pa!" Ucapku yang tak mampu lagi membendung air mataku, bulir bening itu mengalir dengan sendirinya. Bahkan tenggorokanku rasanya seperti tercekat saat mengatakan semua itu. Kalimat yang langsung keluar dengan sendirinya tanpa aku rencanakan sebelumnya. Entah apa tanggapan papa, aku tidak lagi peduli, yang aku pikirkan sekarang hanyalah Dila dan kedekatan kita yang tak bisa di pisahkan.
Ku lihat papa menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar aku mengatakan itu. Aku sendiri tak tahu apa yang akan di katakan oleh papa padaku, karena aku sungguh tak bisa menebak hanya dengan dari raut wajahnya saja.
Papa langsung duduk di kursi belajarku yang letaknya tak jauh dari ranjang ku berada, ku lihat raut wajah cemas papa. Aku tak tahu apa yang papa cemaskan saat itu. Aku masih berdiri meskipun melihat papa yang tengah duduk, namun aku sendiri enggan untuk duduk walau hanya di ranjang ku sendiri.
"Duduklah, papa akan ceritakan padamu sesuatu yang tak kau ketahui!" Kata papa waktu itu, ingin rasanya aku langsung bertanya. Namun ku lihat ada kak Mark yang lewat di depan kamarku, aku pikir dia nantinya akan menguping pembicaraanku dengan papa. Mengingat pintu kamarku yang tidak aku tutup. Aku langsung menuju ke pintu untuk menutupnya supaya papa lebih leluasa mengatakan apapun, dan tak seorang pun mendengarnya.
Aku kembali ke posisi awal dengan duduk di ranjang sesuai dengan permintaan papa, yang memintaku untuk duduk.
Papa menarik nafasnya, seakan ingin mengatakan sebuah rahasia besar yang selama ini dia simpan, "Papa akan menceritakan masalalu papa, apa kamu tidak pernah berpikir? Kenapa papa bisa terpisah dari para sahabat-sahabat papa ini dulu?!" Tanya papa padaku, aku mencoba berpikir dan mencerna ucapan papa. Memang benar dari dulu papa hanya ingin pergi keliling dunia dengan berkedok mencari keberadaan para sahabatnya. Bahkan waktu itu aku hanya berpikir kalau papa selalu pergi ke berbagai negara semata-mata untuk liburan atau bahkan tinggal menetap. Sampai akhirnya dia menemukan para sahabatnya dan mengatakan kalau ternyata selama ini papa dampak berkeliling dunia, hanya untuk mencari keberadaan para sahabatnya itu.
Namun siapa sangka, aku justru tak berpikir apa sebab papa bisa jauh dari para sahabatnya itu. Bukankah seharusnya setelah mengalami kecelakaan papa harus mencari mereka?
Tapi kenyataannya ternyata papa Byun mencari mereka baru semenjak aku dan Jessica bersekolah. Entah itu hanya perasaanku saja atau apa. Tapi itulah yang aku tahu.
Tetapi mendengat pertanyaan sekaligus pernyataan dari papa itu membuatku berpikir. Bagaimana mengenai masalalu papa yang bahkan tak aku ketahui.
"Ada apa pa? Ceritakan padaku semuanya! Aku tidak ingin ada yang di tutup-tutupi lagi diantara kita!" Kataku yang sudah mulai penasaran dengan cerita yang akan di ceritakan oleh papa waktu itu.
Kulihat papa kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan, "Waktu itu papa-" ucap papa terpotong. Karena mendengar suara dering ponsel yang berbunyi. Papa mengambil ponselnya yang ada saku celananya, lalu kemudian melihat siapa yang sedang menelponnya.
Dan ternyata yang menelpon papa adalah mama Sindy, mamaku. Papa segera mengangkat nya, dia ingin tahu mengapa mama menelpon nya.
Aku tak mendengar apa yang di katakan oleh mama melalui telepon itu, namun aku bisa menebak kalau mama menyuruh papa dan aku untuk turun ke meja makan. Karena memang waktu makan malam telah tiba.
"Iya baiklah! Aku sama Axel akan segera turun!" Kata papa lalu setelahnya mematikan telepon dari mama.
Aku sebenarnya kecewa karena itu berarti papa akan menunda pembicaraannya denganku. Padahal aku sudah sangat penasaran sekali dengan apa yang akan di ceritakan oleh papa padaku.
Papa melihat ke arahku, sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, "Ayo kita turun ke meja makan! Yang lain sudah menunggu!" Ajak papa yang sudah berdiri dari duduknya.
Aku sempat terdiam sejenak lalu berbicara, "Bagaimana dengan ceritanya pa?!" Tanyaku pada papa, karena takut nantinya papa akan membatalkan niatnya untuk menceritakan tentang masalalu nya.
Papa tampak tersenyum ke arahku sembari mengusap rambutku pelan, "Masih ada banyak waktu! Kita lanjutkan nanti saja! Sekarang kita turun dan makan malam bersama! Yang lainnya udah pada nunggu di meja makan!" Bujuk papa waktu itu.
Aku sendiri hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang papa mau. Toh nantinya papa juga akan menceritakannya padaku. Setelah itu aku dan papa langsung menuju meja makan, untuk makan malam bersama dengan keluarga besar seperti biasanya.