
"Ada apa?" Tanya Alfin sambil menatap Saviana.
"Nggak ada apa-apa kok! Mungkin waktu itu gue lagi bosen aja, terus nggak sengaja nemuin tempat ini! Mungkin karena udah lumayan lama, jadi murid baru nggak tahu soal tempat ini!" Ucap Saviana menjelaskan dengan alasannya.
"Jadi lo sering datang ke sini?" Tanya Alfin.
"Setiap gue lagi nggak mood atau capek sama hidup gue, gue pasti akan selalu datang ke sini!" Ucapnya lalu menoleh ke arah Alfin yang ada di sampingnya.
Jaehyun berpikir sejenak mengingat kalau dirinya jarang melihat Saviana yang datang ke perpus , lalu memutuskan untuk bertanya, "Jadi ini sebabnya lo jarang kelihatan di perpus? Karena lo sering datang ke sini?".
"Ahh, it-itu !" Saviana tampak gugup karena bingung harus beralasan apa, sampai dirinya tersadar, "Tunggu, untuk apa lo nyari gue?" Kini Saviana yang balik bertanya hingga membuat Alfin salah tingkah, dan mengusap lembut tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya, emt, ya gue cuma pengen kenalan aja sama lo, biar bisa lebih dekat lagi sama lo!" Jawab Alfin jujur.
Saviana tampak hanya menjawabnya dengan anggukan tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun pada Alfin.
"Oh, iya Sav! Gue pengen lebih dekat lagi sama lo! Apa gue boleh? Gue pengen mengenal lo lebih dari seorang teman!" Ucap Alfin dengan langsung pada intinya. Terlihat Saviana membulatkan matanya karena bingung harus menjawab ucapan Alfin bagaimana.
"Kenapa Alfin malah bilang kayak gitu? Gue harus bilang apa ke dia? Gue nggak mungkin bilang sama dia yang sebenarnya! Dia satu-satunya orang yang gue temui dan bisa ngelihat gue tanpa merasa takut sama sekali! Apa yang harus gue lakuin sekarang?" Batin Saviana menatap hamparan telaga yang ada di depannya.
"Saviana, kok malah melamun? Lo nggak mau ya?" Ucap Alfin yang berhasil membuyarkan lamunan Saviana.
"Ah, Bu-bukan itu! Gu-gue cuma murid biasa Alfin! Lo nggak pantes buat dekat sama gue!" Jawab Saviana sekenanya.
"Ck, gue nggak perduli soal kasta! Gue cuma pengen deket sama lo Sav!" Jawab Alfin dengan keseriusannya.
Karena kebingungan Saviana, dirinya memilih untuk menerima Alfin yang memutuskan ingin dekat dengannya. Saviana hanya mengangguk lalu tersenyum yang menandakan dirinya mau.
"Makasih ya, Sav!" Karena reflek dan senang, Alfin langsung memeluk Saviana yang ada di dekatnya.
Deg,,,,
Saviana bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini, sampai akhirnya Alfin tersadar kalau dirinya sudah reflek memeluk Saviana. Dan langsung melepaskan pelukannya.
"Ah, Sorry, gue terlalu bersemangat karena dapat teman baru!" Kata Alfin yang entah kenapa hatinya sedari tadi sudah berdegup kencang saat berada di dekat Saviana.
Saviana hanya tersenyum tipis dan membatin,
"Maafin gue ya Alfin! Gue nggak bermaksud buat bohongin lo! Ini gue lakuin karena gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan gue buat dekat sama manusia sebagai teman gue, gue capek terus aja kesepian dan tak memiliki seorang teman pun!" Batin Saviana sedih mengingat dirinya setelah tiada dan tak tahu lagi harus pergi ke mana, karena dia sekarang sudah menjadi arwah gentayangan karena jasadnya tidak di kuburkan dengan layak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Suasana di desa ini sangat damai, bahkan belum terjamah tangan manusia bodoh yang bisanya cuma merusak!" Ucap Dila sambil menghirup udara segar di desa Loka itu.
"Iya gue setuju sama lo, Dil! Pegunungan di sana itu juga bahkan tampak sangat indah!" Ucap Bryan yang tak kalah mengagumi tempat itu dengan menunjuk gunung di sisi selatan desa itu.
"Indah apanya sih? Orang suasana mencekam gini di bilang indah!" Gerutu Dira yang merasa takut sambil bergelayut di tangan Axel.
Mereka yang melihatnya tampak biasa, karena Dira memang sangat manja dan semenjak kedatangan Haechan di keluarga mereka, dirinya terlihat hanya manja pada Axel saja.
"Mencekam gimana sih, Dir? Bawa santai aja kali Dir! nggak usah takut kayak gitu!" Ucap Victor sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celana yang dia pakai.
"Gimana kalau kita ke sana?" Mata melihat adanya danau di dekat tempat yang mereka pijaki, sambil Axel menunjuk sebuah danau itu dari kejauhan.
Terlihat danau yang indah dengan hamparan rerumputan luas di pinggiran danau, sehingga membuat siapa saja yang ke sana ingin menduduki rumput hijau yang masih terlihat rapi dan terawat itu.
"Nah, tuh ada danau! Mending kita ke sana aja! Sambil ngerjain makalah!" Ucap Dila menyarankan, setelah melihat danau tak jauh dari tempatnya berdiri itu.
Semuanya setuju pada apa yang di sarankan Axel dan juga Dila, dan langsung menuju danau itu. Sekaligus mereka juga beristirahat, karena mereka lelah berjalan jauh dari vila.
Mereka memutuskan hendak duduk melingkar di rerumputan hijau yang ada di tepi danau. Akan tetapi, Dila merasa ada yang mengawasi mereka dari jauh, entah itu siapa namun Dila sangat yakin kalau memang ada orang yang sedang mengawasinya.
Saat mereka sudah duduk melingkar ,Dila terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan mencari kalau-kalau dia menemukan gelagat orang mencurigakan yang sedang mengawasi mereka. Tanpa di sadari Bryan ternyata dari tadi melihat Dila yang tampak gelisah.
"Lo kenapa sih, Dil? Kayak lagi nyari sesuatu?" Tanya Bryan yang sontak menyita perhatian semuanya dan melihat ke arah Dila.
"Nggak ada kok, gue cuma ngelihatin pemandangan danau yang indah ini!" Jawab Dila namun sorot matanya masih menelisik mencari apa yang dia curigai dalam hati. Sampai akhirnya Dila melihat seorang di balik semak-semak. Sontak Dila membulatkan matanya lalu meminta ijin pada teman-temannya untuk undur diri sebentar.
"Eh, bentar ya! Kalian tunggu di sini! Gue mau ke sana!" Dila hendak beranjak dari duduknya namun di tahan oleh Alisya yang kebetulan duduk di dekatnya tadi.
"Lo mau ke mana? Gue temenin ya! Jangan sendiri! Nanti lo ilang lagi!" Ucap Alisya yang khawatir kalau sampai Dila pergi sendirian.
"Haish, apaan sih! Lo kayak nggak tahu gue aja sih! Gue udah gede kali! Cuma mau ke sana bentar! Lo pada tunggu di sini aja!" Ucap Dila yang menepis halus tangan Alisya yang tadi sempat menahan dirinya.
"Kalau gitu, lo hati-hati ya! Teriak aja kalau ada sesuatu!" Ucap Dira yang takur terjadi sesuatu pada saudara kembarnya itu.
"Iya-iya tenang aja!" Ucap Dila lalu setelahnya berjalan pergi dari sana dan menuju ke semak-semak tempat di mana matanya menemukan sosok orang yang sedang mengawasinya dari jauh.
Karena rasa penasaran yang menyelimuti hati Dila, dia akhirnya memutuskan berjalan menuju semak-semak itu untuk sekedar mengecek siapa yang tadi sedang mengawasi mereka semua. Dan ternyata saat Dila sampai pada semak-semak itu, ternyata di baliknya ada jalanan yang terhubung pada jalan yang sempat dia lalui tadi bersama para saudaranya. Mata Dila kembali menelisik, kini dirinya yang bergantian menajamkan mata melalui semak yang dia pijaki. Terlihat di seberang jalan ada seorang pemuda yang hendak menaiki sepeda gunung miliknya. Hal itu sontak membuat Dila yakin kalau pemuda itu adalah orang yang tadi sempat memata-matai dirinya dan para saudaranya yang ada di dekat danau.