
Tanpa menjawab, Chan dan Gisella langsung menuju ke kamar Alfin. Dan benar saja pintu kamar Alfin di kunci dari dalam. Ini tidak seperti biasanya Alfin mengunci pintunya dari dalam. Padahal semenjak kepergian Saviana pun dirinya juga sering membiarkan pintu terbuka. Hal itu sontak langsung membuat pikiran semua orang kemana-mana, takut kalau sampai Alfin berbuat nekat nantinya.
Tok tok tok
"Alfin, buka nak!" Panggil Gisella dari balik pintu, namun tak ada jawaban dari Alfin yang berada di dalam kamar.
Cukup lama mereka mengetuk pintu namun tak kunjung ada jawaban, sampai semua anggota keluarga ikut mengecek di sana. Semua kini telah berada di depan kamar Alfin sambil terus memanggil Alfin dari luar.
"Mending kita dobrak aja!" Kata Leon yang sudah geram. Karena memang setiap pintu di mansion itu sembarang orang bisa mendobraknya, bahkan butuh beberapa orang.
Di sisi Alfin dirinya yang berada di kamar seolah tak mendengar panggilan dan teriakan dari semua orang yang ada di luar kamarnya.
"Gue harus nyusul lo, Sav! Gue nggak bisa hidup tanpa lo!!" Ucap Alfin yang sudah menyiapkan tali untuk melakukan bunuh diri.
Bersamaan saat Alfin menjatuhkan kursi dan lehernya telah terikat pun.
Gubrak,,,,
"ALFINNN!!!!" Teriak semua orang yang melihat Alfin tergantung.
Srettt,,,
Leon langsung memotong tali yang menjerat Alfin dengan menggunakan samurai miliknya.
Bruk,,,
Alfin terjatuh dan langsung di hampiri oleh Gisella. Tentu saja Alfin masih hidup karena memang waktunya sangat tepat sekali dengan dobrakan pintu tadi.
Namun siapa sangka kalau Alfin malah tampak kecewa?
"Kenapa Daddy potong talinya?!" Alfin malah marah pada Leon yang sudah memotong tali yang akan di gunakan Alfin untuk percobaan bunuh diri.
"ALFINN!" Bentak Chan.
"Apa pa? Alfin hanya ingin bersama dengan kekasih Alfin!" Entah kenapa seperti bukan diri Alfin sendiri, dia bahkan berani membantah ucapan Chan.
"Alfin jangan lakukan itu nak!" Ucap Gisella yang sudah menangis histeris sambil memeluk anaknya, tentu saja Gisella masih trauma karena telah kehilangan 2 anaknya.
"Lepaskan Alfin, ma!! Mama yang udah bikin Saviana pergi!! SAVIANA PERGI GARA-GARA MAMA!!" Bentak Alfin pada Gisella.
Plakkk,,,
Sebuah tamparan keras mendarat tepat pada pipi Alfin. Semua orang yang ada di sana membelalakkan matanya melihat Gisella menampar Alfin , dengan tatapan tajam. Amarah Gisella seakan membara karena di bentak oleh Alfin. Tak ada yang berani berkata, bahkan semua orang baru pertama kali melihat Gisella semarah itu. Alfin yang di tampar pun langsung memegangi pipinya.
"JANGAN JADI ANAK DURHAKA HANYA KARENA SEORANG WANITA!! BAHKAN MAMA YANG SUDAH MEMBANTUNYA UNTUK MENYELESAIKAN URUSAN DUNIANYA!!! DAN KAMU SEHARUSNYA SADAR, SAMPAI KAPAN PUN MANUSIA TIDAK AKAN BISA BERSATU DENGAN ARWAH!!! KAMU SEHARUSNYA TIDAK MEMBENTAK MAMA SEPERTI INI!!" Gisella membentak Alfin dengan penuh amarah yang membara, "APA KAMU LUPA SIAPA YANG SUDAH MELAHIRKAN KAMU?! APA KAMU TEGA MELIHAT MAMA KEHILANGAN ANAK MAMA LAGI?! MAMA KECEWA SAMA KAMU ALFINN!!!!" Gisella langsung pergi begitu saja dengan mengusap air matanya, hatinya pedih seakan teriris belati yang sangat tajam. Mengingat anaknya membentak dirinya seperti tadi , membuat hati ibu mana pun terasa seperti di sambar kilatan petir berkali-kali.
"Gisella!!" Panggil Chan lalu setelahnya mengikuti langkah Gisella.
"Kita semua kecewa sama kamu Alfin!" Ucap papa Byun mewakili semua orang yang ada di sana.
Mereka semua lalu pergi meninggalkan Alfin yang masih terdiam membeku di tempatnya. Dengan memegang pipinya yang sudah tidak sakit, namun hatinya masih merasakan sakit mendengar apa yang di katakan oleh mamanya lagi. Dirinya menyesal.
Kini di kamar itu masih ada Dila, Mark dan juga Alfiam. Mereka tidak tega melihat Alfin, saudara kandung mereka meratapi nasibnya sendirian. Bagaimana pun juga Alfin membutuhkan pundak yang kokoh untuk menopang kerapuhan hatinya saat ini.
Dila berjalan ke arah Alfin yang masih bersimpuh di lantai. Sedangkan Mark dan Alfian berdiri di sisi kiri dan kanan Alfin.
Alfin masih terlihat memikirkan ucapan mamanya tadi, lalu berkata, "Kakak salah dek!" Ucapnya masih dengan menatap kosong ke depan. Dan seketika Alfin menitihkan air matanya lalu memukul kepalanya sendiri, "Gue bodoh!!!" Merutuki dirinya sendiri.
"Alfin sadar!! Lo nggak boleh kayak gini!" Mark yang melihat itu langsung menghalangi tangan Alfin yang di gunakan untuk memukul kepalanya sendiri.
"Tapi gue salah kak, mama nggak mungkin maafin gue! Gue udah jadi anak yang durhaka kak!" Ucap Alfin pada Mark yang menghalangi tangannya untuk memukuli kepalanya sendiri.
"Kak Alfin, percayalah mama pasti akan maafin lo!" Kata Alfian menenangkan.
"Apa lo tadi nggak lihat mama semarah itu sama gue dek? Bahkan mama sebelumnya nggak pernah marah sampai segitunya!" Ujar Alfin menyesali perbuatannya.
"Iya kak, kita bertiga tahu, tapi Dila yakin kalau mama pasti akan maafin kakak! Hanya ada satu cara, yaitu meminta maaf pada mama kak!" Ucap Dila yang mampu membuat Alfin merasa tenang.
"Tapi gue nggak yakin kalau mama mau maafin gue!" Ucap Alfin tidak percaya pada dirinya sendiri.
Mark lalu menepuk pelan pundak Alfin, "Lo adalah anak kandung dari mama Gisella, percayalah mama itu bukan tipe orang pendendam, dia pasti akan maafin lo!" Kata Mark setelahnya.
"Gimana kalau kita berempat tidur satu kamar?!" Tawar Alfian dengan idenya.
Dila dan Mark setuju dengan apa yang di katakan oleh Alfian. Begitu juga dengan Alfin yang tampaknya juga setuju dengan saran dari adik bungsunya itu. Mereka bertiga juga nggak mau kalau sampai Alfin berbuat nekat lagi seperti tadi.
Mereka pun menghabiskan waktu bersama di ranjang Alfin yang sangat luas. 4 bersaudara itu terlelap dalam satu ranjang yang sama setelah lelah bercerita banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi Gisella, setelah berlari dari kamar Alfin. Gisella menuju kamarnya sendiri dan menangis. Dirinya menangis terisak di kamarnya dengan di peluk oleh Chan.
"Chan, kenapa anak kita bisa tega mengatakan hal seperti itu?! Apa dia tidak memikirkan perasaanku?! Apa salahku Chan?!" Sambil terisak Gisella memeluk Chan.
"Sayang, aku tahu kamu sakit hati karena ucapan anak kita tadi, begitu juga dengan aku!! Tapi sekarang dia sedang dalam kondisi yang tidak baik setelah di tinggalkan kekasihnya, dia juga sedang merasa sakit hati!" Kata Chan mencoba menenangkan Gisella.
"Tapi dia tidak harus membentak ku seperti itu Chan!" Gisella masih saja terisak mengingat anaknya yang bahkan berani membentak orang tuanya.
"Sudah sayang sudah!" Chan masih terus saja menenangkan Gisella hingga dirinya terlelap dalam pelukan suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya mereka semua sedang bersiap untuk sarapan. Semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali anak-anak Gisella yang entah berada di mana. Bahkan Lisa sudah mencari ke kamar Dila, Mark dan Alfian. Tapi dirinya tidak menemukan mereka di sana. Hanya ada kemungkinan di kamar Alfin saja.
Lisa menuruni anak tangga dan berjalan tergesa ke arah meja makan, "Anak-anak Gisella pada kemana sih, mereka nggak ada di kamar mereka!" Kata Lisa dengan nada cemas.
"Udah cari ke kamar Alfin?!" Tanya Jiso.
"Belum sih!" Jawab Lisa.
"Cari di sana aja, sekalian suruh Alfin buat ikut sarapan sama kita!" Suruh Nadia pada Lisa untuk memanggil Alfin.
Lisa pun berjalan menuju ke kamar Alfin, sampai tiba-tiba,
"Mami, Axel ikut!" Rengek Axel lalu mengekor di belakang Lisa.
"Lah, nih anak kemarin dinginnya minta ampun, sekarang jadi kayak gini!!" Ujar Lisa lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Alfin bersama dengan Axel.
Ceklek,,