Kamar 126

Kamar 126
Pov Dila


"Makasih ya Axel!" Jawab Dila tersenyum. Axel lalu mengusap kepala Dila dengan lembut, dia tersenyum manis ke arah Dila yang menatapnya dengan selimut yang telah menutupi setengah badannya , lalu kemudian,,,,,


Cup,,,


Deg,,,


Dila langsung membelalakkan matanya merasakan sebuah kecupan dari Axel. Dila terpaku sejenak namun Axel tak tahu kalau Dila saat itu terkejut melihatnya seperti itu hanya tersenyum, Dila sendiri juga membalas senyuman Axel dengan canggung. Namun masih berusaha untuk tetap terlihat tenang di depan Axel.


Axel sendiri tadi tanpa sadar langsung mengecup pipi Dila singkat. Entah kenapa wajah Dila terlihat bersemu merah di mata Axel yang membuat Axel merasa gemas dengan Dila. Setelah itu tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua, Axel memutuskan untuk berjalan menuju ke arah sofa untuk tidur di sana. Axel tahu kalau Dila selalu seperti ini, dengan meminta di temani namun jika dengan Axel, pasti Axel mengalah dan tidur di sofa. Setelah itu Axel menunggu Dila terlelap dalam tidurnya, lalu kemudian dia tertidur di sofa.


Akan tetapi siapa yang menyangka kalau Dila sebenarnya tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya. Dia tidak bisa tidur karena pikirannya berkecamuk dan berpikir akan apa yang nantinya akan terjadi padanya setelah di cium oleh Axel.


Pov Dila


Malam itu aku merasa rindu sekali pada mama, aku ingin bersenda gurau bersama mama. Entahlah padahal mereka berada di Jawa baru beberapa hari, tapi rasanya aku sudah seperti jauh sekali sama mereka, apa lagi mengingat kalau mama sama papa tidak mengaktifkan ponsel mereka. Itu yang membuatku merasa khawatir, mereka tak memberi aku kabar sama sekali. Terakhir mereka hanya menghubungi Ayah Nathan untuk memberi tahukan kalau mereka akan berada di Jawa selama dua hari, dan ponsel mereka nantinya juga akan sengaja di matikan.


Tapi ini sudah lebih dari dua hari bukan? Kenapa mereka tak kunjung kembali? Bahkan aku malah bertambah khawatir memikirkan mereka, aku mencoba menelpon mereka namun tidak ada jawaban ,dan bahkan ponselnya masih di matikan.


Aku agak kesal saat itu. Rasanya ingin segera menyusul mereka, entah kenapa hatiku ingin sekali berada di dekat mereka. Sampai akhirnya aku mendengar suara perempuan. Ya, aku berpikir kalau itu Alisya tidak mungkin hantu karena mansion telah di pagari oleh mama. Saat aku tahu pintu terbuka, aku semakin yakin kalau yang tadi memanggilku adalah Alisya. Aku menghela nafas dengan raut wajah malas, berjalan menuju pintu untuk menutupnya. Akan tetapi siapa sangka kalau aku melihat Axel yang berjalan melintasi kamarku.


Dia menyapaku karena tak sengaja melihat aku yang hendak menutup pintu kamar. Tentu saja aku menyapanya balik. Tapi hal yang terduga terjadi, aku secara spontan menarik Axel masuk ke dalam kamarku. Entahlah aku tidak mengerti akan diriku sendiri, kenapa bisa aku langsung menarik Axel masuk ke dalam kamarku. Bahkan aku menyuruhnya untuk menemani aku tidur karena kekesalanku yang tak bisa berkomunikasi dengan mama dan papa yang kini masih berada di pulau Jawa.


Lagi pula mereka ngapain sih ke sana? Kenapa mereka nggak ngajak kita semua sekalian ke sana, ya itung-itung buat liburan di sana. Tapi kenapa papa sama mama seakan menutupi ini dari kita semua, para anak-anaknya. Mereka tidak mengatakan apa tujuan mereka datang ke pulau Jawa. Haish, bahkan mereka pergi juga tidak pamit dulu sama anak-anaknya.


Oke kita balik lagi di malam itu, Axel jelas menuruti apa yang aku minta, termasuk menemani aku untuk tidur di kamarku. Dengan dia yang biasanya tidur di sofa dan aku tidur di ranjang. Pernah juga sih di satu ranjang yang sama, tapi tentunya nggak ngapa-ngapain dong.


Malam itu bahkan aku melampiaskan kekesalan ku karena mama sama papa yang membuat aku rindu akan mereka. Axel menarik ku untuk menenangkan aku di dalam pelukannya. Ku lihat Axel tersenyum hangat kepadaku saat melepas pelukannya. Tangannya menyentuh rambutku dan mengusapnya dengan lembut, bahkan aku sempat terbuai olehnya. Tapi aku sadar kalau aku terus-terusan seperti itu, maka aku pasti akan di kelilingi oleh hawa nafsu.


Axel menyuruhku untuk segera tidur dengan menyelimuti diriku dan kembali senyum indah di wajahnya terukir sangat manis. Aku pun juga membalas senyumannya.


"Selamat tidur Dila!" Katanya sambil mengusap surai hitam milikku. Tapi seketika aku membelalakkan mataku ketika Axel tiba-tiba mencium pipiku. Aku tidak tahu perasaan apa ini, hatiku rasanya campur aduk. Aku bingung dengan hatiku sendiri, aku merasa senang tapi aku juga merasa sedih dan khawatir.


Senang entah karena di cium oleh Axel, sedihku karena aku takut membuat kak Mark kecewa dan khawatirku karena aku takut kalau aku akan sakit ketika di cium oleh Axel. Haish, bodoh! Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Hanya orang bodoh yang bisa berpikir kalau mencium pipi itu bisa sakit. Bahkan kak Mark juga sudah mengatakan kalau sakit itu tidak ada sangkut pautnya dengan mencium pipi.


Tapi jujur aku sangat takut jika kak Mark tahu, apakah yang akan dia rasakan nanti?


Bukankah sakit bila mengetahui kalau orang yang dia cintai di cium oleh orang lain?


Apakah aku harus merahasiakannya dari kak Mark? Ya, mungkin lebih baik seperti itu.


Kak Mark ku mohon maafkan aku, aku sendiri juga tak bisa melarang Axel untuk tidak melakukan hal seperti mencium ku. Tapi bagaimana kalau pada saat-saat tertentu kak Mark mendadak melihat Axel mencium ku?


Bukankah itu akan menjadi masalah?


Terutama masalah hati yang tak mudah untuk di perbaiki, melukainya memang mudah, tapi aku sendiri tak punya pengalaman mengobati hati yang telah patah.


Aku bingung, pikiranku berkecamuk waktu itu. Memikirkan bagaimana kak Mark nanti kalau tahu mengenai itu?


Tapi kadang aku juga berpikir, bahwa aku dan Axel itu juga saudara, bukankah wajar kalau saudara seperti itu?


Kedekatan ku dengan Axel itu sungguh seperti kakak beradik. Tapi kalau begini terus aku akan menyakiti hati kak Mark. Bahkan kita sudah saling tahu tentang perasaan kami masing-masing.


Itu artinya kak Mark selalu terluka karena ku. Ya, karena aku selalu menempel pada Axel, padahal sebelumnya bukan aku yang dekat dengan Axel, tapi Dira lah yang dekat dengannya bahkan aku sempat berpikir kalau Axel dan saudara kembar ku itu menjalani sebuah hubungan yang lebih dari seorang saudara.


Haish, bagaimana ini?


Aku melihat Axel menatapku dari sofa, untuk memastikan aku sudah tidur atau belum. Aku pura-pura menutup mataku walau pikiranku tidak bisa berhenti untuk berpikir mengenai semua ini.


Aku bingung mengenai semuanya, hingga aku perlahan membuka mata untuk memastikan apakah Axel sudah tidur atau masih terbangun. Dan ku lihat Axel sudah tertidur pulas. Lalu aku kembali berpikir apakah yang harus aku lakukan. Tapi ternyata kantukku menyerang dan aku malah ketiduran.


Aku terbangun di sebuah taman yang tidak asing bagiku, aku pernah datang ke sana. Tapi aku tidak ingat kapan aku datang ke sana.


"Tempat ini nggak asing deh, tapi siapa yang udah bawa gue ke sini? Dan kapan gue pernah ke sini?!" Ucapku saat itu sembari menyusuri jalan setapak yang ada di taman itu. Taman itu sangat indah dengan berbagai bunga yang menghiasinya. Aku bahkan tak berpikir kalau tempat itu ada di dunia nyata. Memang di mansion juga ada taman yang tak kalah indah, tapi sepertinya tempat ini memiliki kesan tersendiri.


Aku terus berjalan hingga akhirnya aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku,


"Dila!" Panggilnya dari arah berlakang ku, aku langsung menghentikan langkahku dan perlahan menoleh.


Deg,,,


"Dira?!" Kataku senang bisa kembali melihat saudara kembar ku yang telah tiada. Aku langsung menghampiri nya dan memeluknya. Kami saling berpelukan dan melepaskan kerinduan yang terpendam. Namun seketika saat aku memeluknya, aku tersadar kalau tempat itu adalah tempat di mana aku pernah datang ke sana dan bertemu dengan Dira. Dira yang sudah meninggal bisa aku temui, aku sangat yakin kalau itu adalah alam mimpi.


Aku melepaskan pelukanku pada Dira, "Dira apakah aku sedang berada di alam mimpi?" Tanyaku pada Dira. Ku lihat dia tersenyum lalu mengangguk, "Iya, Dil! Kamu ada di alam mimpi! Apakah kamu senang berada di sini?!" Tanya Dira padaku.


"Aku senang Dira, di sini tempatnya sangat indah, tapi tentu pasti aku akan terbangun dan hanya bisa mengingat ini semua nanti!" Kataku sedikit kecewa.


"Ayo kita mengobrol dan menuju ke tengah taman!" Ajak Dira, aku hanya mengangguk. Dira mengajakku berjalan sambil mengobrol, sungguh ini bukan seperti alam mimpi. Ini seperti nyata dan aku rasanya sangat bahagia bisa bertemu dengan saudara kembar ku, Dira.


"Dila, bagaimana dengan Axel? Apa kabarnya dia?!" Tanya Dira kala itu. Aku pun menjawab, "Dia baik-baik saja ,Dir! Bahkan dia selalu rutin setiap minggu untuk berkunjung ke makam kamu!" Kataku memberi tahu Dira. Ku lihat Dira tersenyum kecil mendengar ucapan ku tadi.


Kami berdua berjalan menyusuri taman bunga yang indah itu, berbagai tanaman bunga ada di sana. Banyak kupu-kupu berterbangan dengan mengepakkan sayap mereka yang berbagai warna. Mataku seakan takjub melihatnya. Ingin rasanya aku tinggal di sana dan bersama dengan Dila.


"Kamu tenang saja Dila! Tempat ini tidak akan pernah menghilang, ingatlah kalau aku akan selalu ada di sini untuk menunggu kamu!" Kata Dira padaku yang membuatku mengernyit heran.


Aku pun bertanya padanya, "Tapi Dira, bukankah kamu sudah pergi ke alam yang lebih baik lagi?!"


Dira tersenyum ke arahku, "Apa kamu pikir aku bisa benar-benar pergi? Aku masih memiliki kamu yang notabenenya adalah saudara kembar ku! Aku bisa pergi hanya kalau aku bersama dengan kamu Dil!" Kata Dira yang membuat aku terkejut.


"Lalu kenapa kamu tidak pernah datang ke alam manusia dan menampakkan diri di depan mama sama papa?" Tanyaku penasaran, memang benar biasanya mama akan tahu karena mama bisa melihat makhluk tak kasat mata.


Dira menghentikan langkahnya dan menghela nafasnya, "Dila, gue berbeda! Dan lagi gue nggak mau malah bikin mereka semua sedih! Mereka pasti berpikir kalau gue nggak bisa melanjutkan ke alam selanjutnya karena mereka! Gue mohon sama lo jangan bilang siapa-siapa ya Dil!" Kata Dira memohon, jadi itulah sebabnya Dira tidak pernah muncul lagi an menampakkan dirinya pada seluruh keluarga yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.


Aku awalnya tidak setuju kalau Dira tidak mau menampakkan dirinya pada semua keluarga, tapi aku juga tidak bisa memaksakan diri untuk menyuruh Dira melakukannya. Aku memilih menghargai keputusan Dira untuk apa yang dia inginkan.


"Baiklah kalau begitu, aku akan merahasiakan ini dari siapapun, tapi kita masih bisa bertemu kan?!" Tanya ku pada Dira.


Ku lihat Dira tersenyum karena mendengar jawabanku yang akan merahasiakan ini dari semua orang yang ada di mansion. Lalu kemudian Dira memberi tahuku, "Dila, kau bahkan bisa bertemu denganku melalui alam mimpi ini! Tapi ada satu syarat yang harus di lakukan Dil! Dan itu adalah apa yang berhubungan denganku!" Kata Dira yang membuat aku senang, karena akhirnya aku jadi bisa bertemu dengan Dira walaupun hanya di alam mimpi.


"Sungguh? Apa syaratnya?!" Tanyaku antusias karena merasa penasaran.