
"Axel, aku merindukan kamu!" Kata Dira yang masih berada di pelukanku saat itu.
"Aku juga sangat merindukan kamu Dir! Aku rindu di saat kita bersama dulu! Bisakah kau kembali?!" Kataku yang masih mendekap tubuh Dira dengan hangat, bahkan aku enggan untuk melepaskan pelukan Dira.
"Axel! Kau tak perlu khawatir, aku masih ada untuk kamu! Aku selalu ada di samping kamu!" Ucap Dira yang membuatku bingung, lalu setelahnya aku melepaskan pelukan dan menatap kedua mata Dira mengharapkan sebuah keseriusan tentang apa yang di ucapkan oleh Dira barusan.
Dira pun tersenyum ke arahku,,
"Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu Dira? Bahkan setelah kau meninggal, kay tak pernah menampakkan dirimu! Dan kau juga tak pernah datang ke dalam mimpiku, walaupun hanya sekali saja!" Kataku yang sedikit kecewa dengan Dira. Tapi aku berusaha menepis rasa kekecewaan ku itu, aku tidak ingin Dira malah bersedih karena mendengarkan apa yang aku ucapkan tadi.
"Axel, maafkan aku! Tapi kau sekarang tidak perlu khawatir lagi! Dila dan aku itu sama saja! Kau tidak perlu lagi khawatir ketika tidak bisa bertemu denganku, ingatlah kalau aku dan Dila itu sama!! Jika kau mencintaiku, maka kau pasti juga akan mencintai Dila! Aku selalu bersama kamu dalam wujud Dila Axel! Jadi ku mohon jangan takut karena aku selalu ada untuk kamu!" Jelas Dira panjang lebar padaku. Aku sempat syok mendengarnya, aku bahkan sempat tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dira saat itu.
"Dira, apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin kalau Dila itu adalah kamu?" Tanyaku yang masih tak mengerti dan tak percaya akan apa yang Dira ucapkan tadi padaku.
"Itu memang benar adanya Axel! Tapi aku mohon jangan katakan ini pada siapapun, hanya kamu saja yang aku temui, dan aku mengatakan ini karena aku sangat mencintaimu! Maka dari itu aku kembali dalam diri Dila, kita kembar dan kita akan menjadi satu!" Kata Dira lagi. Ini rumit, bagaimana bisa Dira memiliki pikiran yang seperti itu? Siapa yang akan percaya padanya? Aku sendiri bahkan tak tahu harus percaya padanya atau tidak.
Dira kemudian mengucapkan sebuah kata dan memberi tahu aku lagi, "Kau pasti bertanya dan bingung dengan semua ini!! Biar aku beri kamu petunjuk, kau mencintainya karena dia begitu mirip denganku, maka dari itu aku berusaha menunjukkannya padamu!" Kata Dira.
"Jadi itu sebabnya Dila selalu bersama ku? Karena itu adalah kau?!" Tanya ku memastikan dan di jawab anggukan oleh Dira. Ku lihat Dira tersenyum manis ke arahku, aku bahagia karena ternyata selama ini Dira selalu ada di dekatku. Itulah kenapa aku bisa merasa nyaman ketika sedang bersama dengannya. Mengingat setelah kepergian Dira aku sama sekali tidak dekat dengan wanita lain selain Dila.
"Cintailah diriku di wujud Dila, kita bisa bersama Axel!" Ucap Dira dengan lembut yang membuat hatiku bergetar, aku sekarang bimbang dengan hatiku sendiri. Akankah aku masih mencintai Dira atau aku sudah berpindah ke lain hati dengan mencintai Dila yang selama ini menemani aku dan bersama denganku setelah kepergian Dira?
Aku kembali memeluk Dira dan kali ini ku peluk Dira dengan sangat kuat, aku mencoba merasakan kalau yang ku peluk itu benar-benar Dira. Mimpi yang paling indah dan terasa sangat nyata itu membuatku tidak ingin terbangun dari tidurku. Aku ingin terus bersama dengan Dira, mungkin seperti inilah jika aku selalu berada di alam mimpi, maka aku akan terus melihat Dira yang selalu ada di sampingku.
"Aku mencintaimu Dir!" Kataku saat aku memeluknya dan menutup mataku.
"Mimpi yang indah!" Ucapku sambil tersenyum ke arah foto Dira yang aku ambil dari laci.
Kemudian aku memutuskan untuk mandi, padahal ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tapi sungguh aku memang sengaja melakukan itu karena aku tidak bisa tidur dengan badan yang berkeringat dan juga pegal-pegal. Maka dari itu aku memilih untuk mandi saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, tepatnya di rumah sakit. Saat masih pukul 18.00, Mark datang ke rumah sakit bersama dengan Alfian tentu saja membawakan makanan untuk Alfin. Karena memang Alfin tidak mau pulang sebelum Windy sadar. Saat Mark pulang tadi dia sudah memberi tahu Mommy Jeni kalau Alfin akan menginap di rumah sakit untuk menunggu Windy di sana. Mommy Jeni sebenarnya khawatir, tapi dia tidak bisa melihat anak Gisella sedih. Dia masih bisa merasakan kalau Alfin masih mengingat Saviana dan tak ingin kehilangan sosok wanita yang dia cintai lagi. Bahkan Mommy Jeni menyuruh Mark untuk membawakan Alfin makan malam ke rumah sakit.
Maka dari itu Mark dan Alfian datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan untuk Alfin.
Di saat Alfin masih terpaku sendiri menatap Windy yang tak kunjung sadar juga itu. Alfin sangat khawatir, dia sangat takut kalau sampai nanti dia kehilangan wanita yang dia sayangi lagi. Alfin bahkan kelihatan sangat berantakan sekali. Dia bahkan sama sekali tak mau bergerak dari kursinya. Dia terus saja memandang Windy, ingin menunggunya hingga sadar.
"Windy, aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang! Yang jelas aku sangat mengkhawatirkan kamu! Aku takut kamu pergi seperti Saviana yang telah meninggalkan aku! Ku mohon bangunlah!" Ucap Alfin sembari memegang tangan Windy. Dia sungguh sangat takut kehilangan lagi.
Ceklekk,,,,
Pintu ruang rawat inap milik Windy itu pun terbuka. Dan terlihat Mark dan Alfian memasuki ruang rawat inap itu. Alfian menenteng sebuah paperbag untuk Alfin, yang berisi makanan dan juga pakaian milik Alfin.
Alfin sendiri bahkan tidak tahu kalau ada orang yang datang ke ruang rawat inap itu. Dia terlalu fokus pada Windy. Mark dan juga Alfian langsung mendekat ke arah Alfin berada.
"Alfin, ini gue sama Alfian datang bawain lo makanan sama baju ganti buat lo!!" Kata Mark memberi tahu Alfin kalau dirinya telah datang.