Kamar 126

Kamar 126
Masalalu Saviana


"Mama bercanda? Apa ini artinya mama nggak merestui Alfin sama Saviana?!" Alfin masih terlihat bingung dan hanya menganggap kalau apa yang di katakan oleh mamanya itu hanyalah bohong.


"Alfin, kekasihmu ini berbeda dengan kita!! Dia bukan manusia!"


Duarrrr


Hancur sudah, Gisella tak bisa menahannya lagi. Dari awal memang Gisella percaya kalau dirinya pasti akan sulit untuk memberi tahu Alfin, karena memang Jaehyun tak percaya akan adanya makhluk tak kasat mata.


"Apa? Ma, udah ya nggak usah aneh-aneh! In-ini nggak mungkin ma!!" Kata Alfin yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Mama nggak bohong sama kamu nak, tanyakan saja pada kekasihmu ini?!" Kata Gisella dengan lembut pada Alfin, supaya anaknya itu percaya padanya.


"Nggak, ini nggak benar!" Alfin berdiri dari duduknya lalu menggelengkan kepalanya, "Mama jangan bikin Saviana jadi tambah trauma lagi ma!! Mama jangan bercanda sama ucapan mama! Bahkan Mark sama Renjun juga bisa melihat Saviana, bagaimana mungkin mama bisa mengatakan kalau Saviana bukan manusia?!" Jaehyun kini meluapkan emosinya pad Gisella. Dia marah, namun hatinya masih merasa sangat penasaran dengan apa tujuan mamanya mengatakan hal seperti itu.


"Saviana ayo kita pergi!" Alfin hendak menarik tangan Saviana, namun Saviana menghalanginya dengan manahan tangan Jaehyun.


Deg,,,


"Saviana?!" Lirih Jaehyun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa yang mama kamu katakan itu benar!" Ucap Saviana membenarkan ucapan Gisella tadi.


"Apa?!" Alfin tercekat mendengar penuturan dari kekasihnya itu. Mulutnya seakan sulit untuk berkata lagi.


Saviana berdiri dari duduknya lalu menghadap ke arah Alfin, " Jaehyun maafkan aku, aku memang salah! Dari awal seharusnya aku menghindari kamu!! Aku memang bagian dari mereka, makhluk tak kasat mata, maafkan aku karena tidak mengatakan yang sebenarnya padamu Jaehyun!!" Ujar Saviana yang kini sudah tak kuasa lagi menahan air matanya yang sedari tadi dia tahan.


"Kalau memang benar begitu, seharusnya kamu tidak bisa berada dekat dengan mama! Tapi apa buktinya? Tidak terjadi apa-apa sama kamu?! Sudahlah lebih baik kita pergi saja dari sini, sayang!" Ajak Jaehyun.


"Jaehyun, mama tidak memakai kalung itu! Sama seperti kamu yang tidak pernah memakai kalung pemberian mama, itu sebabnya Saviana bisa dekat dengan kamu!! Mark dan Alfian juga sudah mama suruh untuk melepas kalung itu dan meninggalkannya di mobil tadi!!" Jelas Gisella panjang lebar, berharap anaknya bisa mengerti dan mengikhlaskan apa yang memang sudah menjadi takdirnya.


Memang benar sebelum tadi turun dari mobil, Gisella sempat menyuruh Mark dan juga Alfian melepaskan kalung air suci. Gisella beralasan ingin mengganti liontinnya dengan yang baru, jadi mereka berdua hanya menurut saja. Dengan ini Mark dan Alfian sudah tahu apa yang di maksud oleh mamanya. Kini mereka juga tahu kalau kekasih Alfin itu adalah makhluk tak kasat mata.


"Jadi benar, kalau aku selama ini berpacaran dengan hantu??! ARKHHHHHHH!!" Teriak Alfin meluapkan emosinya, beruntung di restoran itu tidak ada pengunjung dan hanya ada 2 staf saja.


"Kalian berdua harus bisa menerima ini, bukannya mama tak merestui, tapi kalian ini sudah berbeda dunia! Sampai kapan pun alam tidak akan pernah merestui kalian!!" Jelas Gisella panjang lebar.


"Tapi Alfin sangat mencintai Saviana ma, apa tidak ada cara lain supaya Alfin bisa bersatu dengan Saviana?!" Tak dapat di pungkiri Alfin masih terus memikirkan bagaimana cara dirinya bisa bersatu dengan pujaan hatinya yang bahkan bukan manusia ini?.


Gisella menggeleng penuh haru, "Sampai kapan pun kalian tidak akan bisa bersatu nak!" Kata Gisella dengan berat hati. Mematahkan hati anaknya yang sedang di mabuk asmara.


Alfin tampak berpikir sejenak lalu setelahnya langsung lari begitu saja meninggalkan mereka di restoran itu. Gisella yang khawatir akan apa yang akan di lakukan oleh anaknya itu pun , menyuruh Mark dan Alfian untuk mengikuti kemana Alfin pergi.


Kini hanya ada Gisella dan Saviana saja di sana. Saviana langsung duduk bersimpuh melihat dan menyesali apa yang selama ini sudah dia lakukan. Dengan mencintai manusia yang bahkan tidak sama dengannya, tak hanya hatinya saja yang patah, tapi kini dia juga mematahkan hati orang yang paling dia cintai.


Melihat Saviana yang duduk bersimpuh membuat hati Gisella seperti teriris. Dirinya tahu kalau anaknya pasti juga merasakan hal yang sama. Gisella lalu mendekati Saviana dan membangunkannya dari posisinya.


Saviana meminta maaf pada Gisella atas kesalahan yang sudah dia perbuat. Dirinya menyesal telah melukai hati Alfin bahkan sampai sejauh ini. Dan Gisella pun akhirnya menceritakan bagaimana dirinya bisa melihat dan tahu tentang Saviana.


Gisella tahu kalau Saviana adalah salah satu dari arwah gentayangan yang pasti tidak di kuburkan dengan layak sebelumnya. Gisella juga mengatakan kalau dirinya akan membantu Saviana untuk kembali ke alam di mana seharusnya dia berada. Saviana awalnya ragu, karena dirinya tahu kalau nanti dia tenang di alam selanjutnya pasti dia tidak akan bisa melihat atau bahkan bertemu dengan Alfin. Namun pada akhirnya Gisella berhasil meyakinkan Saviana kalau dirinya itu tidak seharusnya ada di alam dunia ini. Dia harus kembali ke tempat di mana seharusnya mereka berada. Dengan berat hati Saviana menerima semua saran dari Gisella.


Namun sebelum itu, Gisella penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Savaian, sampai dirinya menjadi arwah gentayangan.


Saviana pun menceritakan kejadian yang dia alami beberapa tahun yang lalu, menjelang kematiannya. Dulu Saviana adalah salah satu mahasiswi kampus yang kini di tempati oleh Alfin. Saviana menjadi salah satu murid teladan dan gemar membaca di perpus, sampai akhirnya dia dekat dengan seorang pria. Sampai mereka menjalani hubungan. Saviana awalnya tidak tahu kalau pria itu adalah anak dari pemilik kampus. Pria itu bahkan pernah mempermalukan Saviana saat acara pertemuan keluarga besar. Entah apa tujuannya, namun semakin lama, kekasihnya itu semakin berubah. Dia sering sekali memukul dan bahkan melakukan kekerasan pada Saviana. Sampai akhirnya pertemuan terakhirnya dengan kekasihnya di telaga dekat kampus. Kejadian itu menjadi peristiwa naas Saviana. Kematian akibat di paksa melayani kekasihnya, Saviana yang berontak pun akhirnya di pukul menggunakan batu hingga tak sadarkan diri. Lalu dengan kejam kekasihnya memperkosa dirinya dan membuang Saviana ke telaga itu. Padahal Saviana sebenarnya masih hidup, tapi karena kepalanya yang membuatnya lemah dan kakinya juga tak bisa bergerak karena ulah dari b*jing*n itu, bahkan kekasihnya itu sempat mengambil koper dan meletakkan Saviana pada koper itu dan langsung menenggelamkannya.


Bahkan pihak kampus sengaja menutupi kejadian itu, hingga sampai akhirnya memilih untuk menutup telaga itu dengan tembok tinggi. Dan tak ada satu orang pun yang tau ada telaga di sana.


Mendengar cerita dari Saviana itu, membuat Gisella merasa miris. Hatinya bahkan rasanya seperti tercabik-cabik. Bagaimana bisa perempuan tidak berdosa di nodai dan di bunuh hidup-hidup seperti itu?


"Kamu tenang saja, tante akan membantu kamu nak!" Ucap Gisella yang sudah berniat membantu Saviana.


"Terima kasih, tante!" Jawab Saviana sambil tersenyum pahit ke arah Gisella, mengingat Alfin sang kekasih hati yang pergi entah ke mana.