Kamar 126

Kamar 126
Desa Sahara


Nenek itu pun langsung duduk di sebuah kursi yang ada di sana, dan Mark mengikuti nenek itu untuk duduk.


"Aku tidak pernah tahu berita tentangnya cu! Aku tidak memiliki uang untuk pergi ke tempatnya dan bertanya pada atasannya, bahkan sampai sekarang sudah lebih dari 20 tahun aku hanya bisa mencari makam demi makam untuk memastikan apakah suami ku telah mati atau di kuburkan di pemakaman! Tapi sampai sekarang aku bahkan tidak pernah menemukannya!" Kata nenek itu dengan sendu yang membuat Mark merasa kasihan padanya. Tentu saja bagaimana bisa dia mengira kalau nenek itu telah mencari suaminya di berbagai desa hanya untuk mencari tahu apakah suaminya ada di desa itu dan juga mencari di beberapa pemakaman.


Itu sungguh membuat hati Mark teriris mendengar cerita dari nenek itu. Mark merasa iba dan ingin rasanya menolong nenek itu untuk memberi tahunya kalau suaminya telah meninggal. Tapi Mark ragu untuk mengatakannya. Di sisi lain Mark juga tak tega melihat nenek itu kalau harus terus mencari keberadaan suaminya, yang nyatanya telah meninggal itu.


Bahkan kakek yang ada di belakangnya itu tak berkata apapun, hanya terus terdiam dan menatap istrinya dengan sendu. Ingin rasanya aku bertanya mengenai apa yang telah terjadi, namun bagaimana caranya.


"Cu, apa cucu bisa melihat makhluk tak kasat mata? Apa cucu bisa melihat suamiku? Apa dia sudah mati?!" Tanya nenek paruh baya itu pada Mark yang membuatnya terpaku, Mark bingung harus menjawabnya bagaimana. Mark takut kalau sampai nanti nenek itu malah syok kalau mengetahui suaminya telah meninggal.


Sampai akhirnya suami nenek itu yang tadinya hanya diam mulai angkat bicara, "Tolong antar kan istriku di tempat peristirahatan terakhirku nak!!" Kata kakek itu menyuruhku, aku sempat tersentak mendengarnya. Hingga aku tersadar akan tujuanku yang harus pergi ke markas.


"Ah, nenek! Apa nenek mau aku antar untuk mencari keberadaan suami nenek? Tapi kita cari besok saja ya nek! Ini sudah malam! Sebaiknya nenek menginap di ruang rawat inap teman saya aja bagaimana?!" Ucap Mark menawarkan diri pada nenek itu. Sontak saja nenek itu menjawab,


"Tidak perlu cu! Nenek sudah biasa tidur di jalan atau di depan toko! Soalnya kalau mau balik ke rumah nenek itu jauh, dan butuh biaya banyak! Apalagi uang nenek cuma cukup untuk membeli obat ini saja! Jadi nenek terpaksa Cu!!"


Deg,,,,


Hati Mark seperti tersayat mendengar penuturan dari nenek itu. Bagaimana mungkin di usianya yang tak lagi muda bahkan usianya melebihi kakak dan nenek Mark, beliau bisa berjalan dan selalu mengunjungi desa-desa dan kota untuk mencari keberadaan suaminya. Yang bahkan nenek itu tak tahu di mana. Bahkan beliau sampai rela tidur di jalanan dan hanya makan seadanya, di tambah dia harus tetap membeli obat secara rutin. Karena penyakit yang dia miliki.


Nenek itu berusaha keras untuk tetap hidup, dia berjuang supaya dia bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama suaminya kelak. Maka dari itu nenek itu memiliki tekat yang kuat untuk tetap bertahan hidup. Hanya demi bisa bertemu dengan suaminya yang entah ada di mana.


Mark bahkan malu saat mengetahui perjuangan nenek itu untuk mencari suaminya. Dia malu pada dirinya sendiri yang malah ingin menghabiskan uang, padahal banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkan.


"Nek, Mark mohon, nenek jangan nolak ya! Biarkan Mark nanti mengantar nenek untuk mencari kakek! Tapi nenek tidur di ruang rawat teman saya ya, di sana juga ada saudara saya!" Pinta Mark dengan memohon supaya nenek itu mau dengan apa yang dia inginkan.


Nenek itu akhirnya menghela nafas dan mengangguk, namun seketika air matanya menetes melihat Mark orang yang baru saja bertemu dengannya tapi sudah bersikap baik terhadap beliau, "Kamu anak yang baik nak! Terima kasih sudah mau menolong nenek!" Kata nenek sembari mengusap kepala Mark dengan lembut.


"Sama-sama nek! Ya sudah mari Mark antar ke tempat teman Mark!" Kata Mark sembari menuntun nenek itu menuju ruang perawatan Windy.


Ceklek,,,


Pintu ruang rawat inap milik Windy pun terbuka. Terlihat di dalam sana Alfin yang tengah duduk di kursi yang ada di samping brankar tempat Windy, sedangkan Alfian duduk di sofa sembari membaca buku.


Mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara, dan melihat Mark yang datang kembali bersama dengan seorang nenek tua.


"Loh kak? Kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?" Tanya Alfian tanpa berdiri dari duduknya, dia belum melihat kalau di sebelah Mark ada nenek tua. Sebut saja namanya Nek Wina.


"Dia siapa kak?" Tanya Alfin yang melihat adanya nek Wina bersama dengan Mark. Alfian yang mendengar itu langsung beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang di maksud nenek oleh kak Alfin.


Mark berjalan masuk ke dalam ruang rawat inap itu bersama dengan nek Wina dan memperkenalkan nek Wina kepada para saudaranya itu, "Alfin, Renjun! Perkenalkan ini nek Wina, tadi aku bertemu dengannya di lorong rumah sakit! Besok aku akan membantunya mencari suaminya! Jadi biarkan nek Wina bermalam di sin!" Pinta Mark pada kedua saudaranya itu, "Oh iya nek, perkenalkan! Ini adik-adik Mark, yang itu Alfin dan yang ini Alfian !" Ucap Mark memperkenalkan saudara yang lebih tepatnya adik-adik dari Mark.


"Salam kenal nek!" Ujar Jaehyun dan juga Alfian bersamaan.


"Maaf ya cu kalau kehadiran nenek merepotkan kalian semua!" Kata nenek Wina merasa tak enak hati. Akan tetapi segera mungkin mereka membuat nek Wina merasa nyaman berada bersama dengan mereka.


"Tidak nek! Tidak merepotkan sama sekali! Malah Alfian senang kalau nenek mau di sini!" Kata Alfian dengan senyum senang dan merasa antusias mendengarnya.


Nenek Wina pun tersenyum bahagia, andai dia bisa berkumpul bersama dengan suaminya dan juga keluarganya. Mungkin dia akan merasa sangat bahagia sekali.


"Oh iya nek kalau gitu, Mark pamit dulu ya! Ada yang harus Mark lakukan sekarang! Nenek di sini dulu ya sama Alfin dan Alfian !" Kata Mark yang hendak pamit pergi, tentu dia akan pergi ke markas. Karena di sana Lucas sudah menunggu Mark di markas untuk melakukan apa yang di minta oleh Alfin, untuk memberikan pelajaran pada bi Nuri yang telah mencelakai Windy dengan menusuk perut Windy.


"Hati-hati ya cu!" Kata nenek memperingatkan Mark yang hendak pergi. Mark tersenyum mengangguk menjawab ucapan dari nenek Wina. Lalu kemudian setelahnya Mark langsung menuju ke markas utama. Di mana Lucas sudah berada di sana dengan Victor.


Setelah Mark pergi, Alfian langsung mempersilahkan nenek Wina untuk duduk di sofa yang ada di ruang rawat inap itu.


"Nek, boleh Alfian tanya sama nenek?" Ucap Alfian mencoba mencairkan suasana. Karena setelah Mark pergi hanya ada keheningan karena merasa canggung.


Nenek Wina tersenyum, "Kamu tampan, pria yang menunggu pacarnya itu juga tak kalah tampan!" Ucap nenek Wina malah memuji Alfian  dan Alfin karena ketampanan mereka.


"Terima kasih nek!" Ucap Alfian berterima kasih sembari tersenyum karena pujian yang nenek Wina berikan.


Tatapan mata nenek Wina mendadak sendu setelah itu. Membuat Alfian dan juga Alfin heran akan apa yang terjadi dengan nenek Wina yang mendadak sedih.


"Ada apa nek?!" Tanya Alfin penasaran.


"Oh iya nek, keluarga nenek memangnya kemana??" Tanya Alfian yang teringat ingin menanyakan itu pada nenek Wina.


Tersenyum miris dan menatap Alfian  dan Alfin bergantian, "Nenek hidup sebatang kara setelah suami nenek pergi untuk berperang, bahkan nenek tidak memiliki keturunan!" Ucap nenek Wina memberi tahu tentang hidupnya, yang membuat Alfian dan Alfin merasa iba dan kasihan terhadap apa yang terjadi pada nenek Wina.


Nek Wina tersenyum, "Nggak apa-apa cu! Dulu memang nenek seorang yatim piatu, dan menikah di usia 20 tahun, tapi setelah 2 tahun pernikahan nenek tidak kunjung di karuniai seorang anak! Hingga ternyata suami nenek harus menjalankan tugas ikut berperang yang bahkan nenek nggak tahu dia berperang dan di tugaskan di mana!" Jelas nenek Wina panjang lebar yang membuat dia teringat langsung pada masalalu nya.


"Yang sabar ya nek!" Kata Alfian sembari mengusap lembut pundak nenek Wina.


Nenek Wina yang tadi sempat menitihkan air mata pun mengusapnya perlahan dan menatap Alfian dan Alfin , "Mungkin kalau aku memiliki seorang anak, aku sudah memiliki cucu yang tampan seperti kalian berdua nak!" Kata Nek Wina.


"Kalau nenek mau, nenek bisa anggap kita ini cucu nenek sendiri!" Kata Alfin sembari tersenyum manis ke arah nenek Wina. Melihat Alfin dan Alfian nek Wina tersenyum penuh haru.


"Cu, apa dia itu saudara kalian juga atau kekasih?" Tanya nek Wina pada Alfin yang memang sedari tadi menyadari kalau Alfin sama sekali tidak bergerak dari posisinya yang duduk di kursi yang ada di dekat brangkar Windy.


"Ah, emt ini teman Alfin nek! dia menjadi korban penusukan, kedua orang tuanya juga sudah meninggal dan Alfin nggak tega lihat dia berjuang sendirian di rumah sakit! Rencananya Alfin akan jaga dia sampai sembuh, mengingat dia pasti juga akan merasa syok kalau mengingat kejadian kemarin itu!" Kata Alfin menjelaskan panjang lebar yang membuat bi Wina mengangguk-angguk paham dengan apa yang di katakan oleh Alfin tadi.


Di sana sosok kakek, yang tak lain adalah suami dari nenek itu sama sekali tak menampakkan diri. Padahal Mark tadi masih bisa melihatnya. Mungkin arwah kakek tidak ingin di ketahui keberadaannya oleh siapapun. Maka dari itu kakek itu tidak mau menampakkan diri di depan Alfian.


"Dia sangat cantik! Cocok untuk kamu yang tampan nak!" Kata nenek itu memuji kecantikan Windy yang tengah terbaring di brangkar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain tepatnya di dalam mobil yang di naiki oleh Mark. Ternyata kakek itu mengikuti Mark dan kini telah duduk di jok belakang mobil.


Mark yang melihat itu langsung menghentikan mobilnya karena ingin berbicara dengan kakek itu.


"Kita hanya berdua saja kek! Katakan saja apa yang terjadi?" Tanya Mark dengan rasa penasaran.


Kakek itu mendadak menunduk dan wajahnya terlihat sedih, "Tolong antar kan dia ke makam milikku!" Kata Kakek itu menunduk sedih. Mark tahu kalau kakek itu merasa sedih karena tak dapat bertemu dengan istrinya yang masih hidup. Mark menyimpulkan kalau kakek itu sangat menyesal tak dapat kembali dengan selamat dari peperangan.


"Bagaimana caranya kek? Kakek di makamkan di mana?!" Tanya Mark dengan tanpa menatap sosok kakek yang ada di jok belakang.


"Desa Sahara, tempat pemakaman baru!" Kata kakek itu lalu setelahnya menghilang entah kemana. Membuat Mark langsung menoleh, karena dia menyadari kalau kakek itu telah pergi dari sana.


"Kakek?" Panggil Mark namun tak ada jawaban. Mark lalu menghela nafasnya dan mulai melajukan mobilnya lagi menuju ke markas besar.


Tak butuh waktu lama, Mark telah sampai markas. Dirinya langsung menuju ke ruang bawah tanah untuk menemui Lucas di sana.


"Bagaimana?" Tanya Mark saat sudah bertemu dengan Lucas.


"Dia masih diam dan tak ingin mengatakan apa tujuan dari majikannya itu melakukan pembunuhan dan menjadikan manekin seluruh mangsanya!" Kata Lucas dengan datar sembari menatap ke arah bi Nuri.


Mark pun mendekat ke arah Bi Nuri untuk melakukan apa yang seharusnya dia tanyakan, terlihat bi Nuri di ikat di sebuah kursi dengan kondisi yang kedinginan. Karena Lucas telah menyiksanya dan membangunkannya menggunakan air dingin.


"Katakan apa kau masih menyembunyikan sebuah rahasia tentang majikanmu itu?!" Tanya Mark dengan datar.


"Cih!! Bocah ingusan sepertimu tahu apa hah? Bahkan sampai mati pun aku tidak akan mengatakan apapun tentang majikan ku!!!" Katanya sembari meludah ke depan Mark. Beruntungnya jarak antara Mark dan dirinya lumayan jauh. Jadi ludahnya tak mengenai Mark.


"Jadi kau tidak akan mengatakannya?" Tanya Mark lagi dengan nada suara mengejek. Bi Nuri pun tak mengidahkan ucapan Mark dan masih teguh akan pendiriannya itu.


Menghela nafasnya panjang, "Baiklah kalau kau memang tak ingin mengatakannya! Jangan salahkan aku jika aku mengobrak abrik makam anak tersayang mu!!" Kata Mark mengancam, membuat Bi Nuri membelalakkan matanya kaget mendengar ancaman yang di berikan oleh Mark.


Ya, Mark mengetahui itu karena melihat adanya sosok anak kecil yang berdiri tepat di samping Bi Nuri berada. Bi Nuri sendiri tak memiliki suami. Dirinya yang yatim piatu itu pernah di culik dan di paksa menjadi bahan pemuas nafsu di usianya yang ke 16 tahun. Bahkan Bi Nuri telah hamil tanpa sepengetahuan siapapun. Dirinya yang tak ingin menjadi bahan gunjingan pun memutuskan untuk membunuh anaknya yang baru berusia 2 hari itu. Dengan cara memasukkannya ke dalam air hingga tewas.


Namun siapa sangka saat menyadari anaknya tak bernafas lagi, dia seakan linglung dan malah merasa kehilangan sosok anaknya. Dia sungguh menyesal melakukan itu. Hingga akhirnya dia menguburkannya di sebuah tempat yang tak ada orang tahu, yang tak jauh dari tempat dia berada. Bahkan bi Nuri sering sekali tidur di dekat makam anaknya itu. Orang-orang yang hanya sekedar lewat saja hanya menganggapnya sebagai pemulung yang tak punya tempat tinggal karena tidur di bawah pohon besar dekat dengan makam anaknya itu. Cerita itu di ketahui oleh Mark saat dirinya tak sengaja bersentuhan dengan Bi Nuri ketika akan di bawa oleh Jeno ke markas utama.


"Jangan sentuh anakku!!!!" Ucap Bi Nuri yang langsung histeris.


"Siapa yang berani melawanku? Kau tahu? Aku bahkan bisa membawa tulangnya ke hadapanmu!!" Ancam Mark lagi.


"Sekali saja kau sentuh anakku! Akan aku bunuh kau dengan seluruh keluargamu!!!" Ucap bi Nuri dengan meninggikan suaranya.


"Oh benarkah? Kalau begitu katakan saja! Aku tidak akan mengganggu istirahat anakmu!!" Kata Mark lagi.


"Tak ada lagi! Hanya peti mati dengan mayat yang di awetkan itu! Nyonya Ana tak pernah mengijinkan siapapun masuk ke ruang sebelah kanan itu!" Kata Bi Nuri yang menceritakan dengan sendirinya.


"Cih, tidak berguna sama sekali!!!!" Kata Mark berbalik membelakangi bi Nuri, "Vic, siksa dia menggunkan air keras, dan penggal kepalanya!" Kata Mark menyuruh Victor untuk melakukan itu. Seketika saja mata bi Nuri terbelalak mendengar apa yang di katakan oleh Mark tadi, dia tak menyangka kalau dia akan berakhir di tempat menyeramkan itu.


"Tidak! Jangan siksa aku!! Jangan bunuh aku!!" Ucap Bi Nuri memohon. Namun tentu saja itu tak akan mempengaruhi apapun kalian tahu?


"Cih, siapa yang akan peduli dengan apa yang kau katakan? Aku tidak perduli sama sekali! Kau sendiri tak pernah memikirkan apa yang telah di rasakan oleh Windy! Dan juga anakmu sendiri!! Kau tak pernah mengampuni mereka!! Untuk apa aku mengampuni orang seperti dirimu!!" Tersirat senyum seringai di bibir Mark dengan apa yang sudah dia katakan. Mark sudah tak peduli lagi dengan apa konsekuensi yang akan dia dapatkan. Baginya nyawa harus di bayar dengan nyawa.