
Di sisi lain, di kelas 12 yang ditempati oleh anak-anak ke 2 keluarga besar Nathan.
Pov Dila dan semua saudaranya
"Haish, bosen banget nih gue!" Ucap Dila sambil menyandarkan kepalanya pada dinding.
"Ya pulang aja!" Jawab Victor tanpa berpikir.
"Lo mau Dila bolos sekolah?" Tanya Axel.
"Ya kan tadi dia bilang bosen!" Jawab Victor lagi.
"Ya maksud gue itu bosen banget belajar terus!!" Ucap Dila sambil mendengus kesal.
"Ya udah nggak usah belajar!" Jawab Bryan.
"Terus?"
"Lah katanya tadi bosen belajar, ya nggak usah belajar dong!" Jawab Bryan dengan santainya.
"Haish, pusing gue!" Ucap Dila dengan memutar bola mata malasnya.
"Lagian kenapa sekolah nggak ngadain study tour gitu, apa gimana kek! Gue pengen liburan nih!" Ucap Alisya yang menempelkan kepalanya ke meja.
"Ok, nanti pulang sekolah gue bilang ke ayah, buat nganter kita ke luar negeri!" Jawab Bryan dengan entengnya.
"Mau ngapain?" Tanya Dira polos.
"Lah katanya tadi Alisya mau liburan!" Jawab Bryan lagi.
"Bosen gue liburan mulu!" Ucap Axel yang justru bosen liburan, karena Papa Byun selalu membawanya liburan sampai pindah-pindah sekolah.
"Ya lo yang bosen! Kita mah nggak!" Ucap Dila.
"Emangnya kalian nggak pernah liburan?" Tanya Axel polos.
"Enak bener tuh mulut kalau ngomong!" Ujar Victor sambil melotot ke arah Axel.
"Jangankan liburan, gue minta liburan ke pantai aja malah dibikin pantai di belakang mansion!!" Ujar Bryan dengan menghela nafasnya.
"What? Jadi pantai di belakang mansion itu, pantai buatan? Wah lama-lama bisa stres nih gue!" Ucap Axel sambil memegang kepalanya.
"Kenapa stres?" Tanya Dila.
"Ya gue bakal bingung milihnya!" Jawab Axel.
Sementara itu Dira yang dari tadi diam terus memijat keningnya karena mendengar perdebatan antara saudara-saudaranya.
Saat itu juga guru yang akan mengajar kelas mereka pun datang.
"Selamat siang anak-anak, maaf kalau tadi bapak udah jam kosong selama 2 mata pelajaran!" Ucap guru itu meminta maaf pada para muridnya.
"Nggak apa-apa pak!" Jawab para murid.
"Bapak akan memberi kalian tugas untuk satu bulan ke depan!" Seru guru itu yang akan mengadakan sebuah tugas selama 1 bulan ke depan.
"Lama bener pak, emangnya tugas apaan sih pak?" Tanyak Bryan penasaran dan juga sudah tidak sabar ingin tahu.
"Jadi begini, nanti dalam waktu 1 bulan ke depan, bapak akan memberikan kalian semua tugas untuk membuat makalah tentang alam di pedesaan! Dan setelah nanti 1 bulan bapak akan menagih makalah itu, kalian silahkan membentuk kelompok! 1 kelompok terdapat 3 orang di dalamnya.
"Dikit amat sih pak?" Ujar Victor terkejut.
"Kita kan berenam, jadi ya harus berenam pak, nggak mau kalau cuma tiga!!" Bryan menyangkal ucapan guru itu, karena di satu keluarganya yang ada di kelas itu memang ada 6 murid. Dan yang sebenarnya di dalam satu kelas itu ada 36 murid.
"Tapi ini-" kata guru itu tiba-tiba saja terpotong, oleh Bryan yang kebetulan duduk di meja paling depan.
"Bapak mau di pecat dari guru? Kita semua bakal selesaikan tugas bahkan sebelum deadline nya pak, tapi asalkan masing-masing kelompok terdapat 6 orang murid pak!" Ujar Bryan dengan wajah polosnya.
"Iya pak Bryan benar!" Ucap para murid yang lain.
"Iya pak, saya juga setuju!" Jawab murid yang lain juga.
Karena merasa tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti apa kata Bryan tadi, guru itu pun menerima sarannya, karena memang guru itu juga takut kalau dirinya sampai di pecat.
"Kalau dia bukan anak pemilik sekolah ini, udah gue potong tuh lidah!" Batin guru itu dengan hati yang berat akan penolakan para muridnya.
"Ya sudah baiklah, kali ini bapak akan menuruti apa yang kalian inginkan, dan untuk bulan depan nanti! Bapak ingin kalian semua sudah mengumpulkan tugas makalah ini! Atau kalau tidak kalian tidak akan naik kelas! Mengerti?" Kata Guru itu menjelaskan.
"Baik pak! Kita mengerti" Jawab para murid dengan kompak.
Di saat yang bersamaan, Alfian tengah berbicara pada satu sosok yang menarik perhatiannya.
"Haish ribet amat deh hidup gue!" Gerutu Alfian pada dirinya sendiri.
"Ku mohon tolong aku!" Pinta sosok hantu wanita yang ada di depannya.
"Ya baiklah, gue bakal tolongin lo! Tapi lo harus janji, setelah gue nanti nolongin lo! Lo harus pergi jauh-jauh dari gue? Dan nggak boleh lagi nemuin gue! Apalagi datang ke mansion gue!!" Ucap Alfian menawarkan kesepakatan dengan hantu itu.
"Iya baiklah!" Jawab hantu itu yang dengan senang hati karena Alfian mau membantunya.
Alfian pun memutuskan menemui satu guru yang pernah melecehkan murid yang sudah tewas itu.
Akan tetapi kali ini Alfian menggunakan cara yang berbeda dari biasanya. Yaitu dengan cara mencari rekaman cctv yang bertepatan dengan tanggal, di mana guru itu melecehkan muridnya yang tewas itu.
Setelah Alfian menemukannya, Alfian langsung menemui guru itu untuk mengancamnya. Alfian mengancam kalau dirinya akan menyeret guru itu pada polisi, jika dirinya tidak mau datang untuk menyerahkan dirinya sendiri.
"Pak, boleh saya bicara pat mata dengan bapak?" Tanya Alfian yang memilih untuk mengajak guru itu berbicara 4 mata.
"Silahkan!" Guru itu mempersilahkan Alfian untuk masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintunya.
Setelah duduk berhadapan, Alfian pun akhirnya memberanikan diri berbicara mengenai murid yang telah tewas itu.
"Maaf pak, bukannya saya merasa lancang, tapi kedatangan saya ke sini ingin menuntut sebuah keadilan pak!" Ucap Alfian yang langsung saja pada ke intinya.
Guru itu tampak menaikkan satu alisnya karena bingung akan apa yang di maksud oleh Alfian dengan ucapannya.
"Maksud kamu apa nak?" Tanya guru itu yang mendadak bingung.
"Saya ingin menuntut kematian seorang murid yabg bernama Grace, dia yang sudah meninggal satu tahun yang lalu!" Ucap Alfian dengan nada santainya mencoba mengajak guru itu untuk berkompromi.
Namun seketika,,,,,
Gubrakkkkkk,,,
Guru itu justru malah menggubrak meja dengan keras.
"Apa yang kamu katakan anak muda?" Tanya guru itu setelah menggebrak meja tadi.
"Sepertinya saya sudah tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai hal ini! Tentu bapak sudah tahu maksud kedatangan saya kemari! Lebih baik bapak menyerahkan diri pada polisi, agar hukuman bapak bisa lebih berkurang! Atau kalau tidak- " ucap Alfian terpotong.
"Kalau tidak kenapa? Kau bukanlah siapa-siapa! Kau tidak berhak menyuruhku untuk menyerahkan diri pada polisi!! Sekarang lebih baik kau pergi atau nyawamu akan melayang!" Ancam guru itu dengan menyuruh Alfian untuk keluar dari ruangannya.
"Apa bapak pikir, saya takut pada ancaman bapak? Saya bahkan sudah memegang bukti rekaman cctv saat bapak melakukan pelecahan seksu*l terhadap murid bapak sendiri! Dan saya akan melaporkan bapak ke polisi jika bapak tidak menyerahkan diri bapak sendiri pada polisi!" Ancam balik Alfian dengan memegang ponsel yang berisi rekaman cctv, dan tentunya rekaman itu juga sudah dia salin di lain tempat untuk berjaga kalau-kalau rekaman itu tiba-tiba di hapus secara sepihak.
"Tau apa kau bocah??" Ucap guru itu, "Bahkan sekarang kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ku ini! Aku juga akan mengantarmu menyusul Grace!" Ucap guru itu sambil tersenyum seringai pada Alfian . Lalu Guru itu mengambil sebilah pisau yang ada di laci meja kerjanya.
"Kenapa bapak ingin melukai diri bapak sendiri dengan pisau itu?" Tanya Alfian yang setengah takut karena memang dirinya tidak memegang senjata apapun, dan tidak pernah berpikir kalau guru itu akan berbuat nekat.
Guru itu pun mengarahkan pisau yang dia pegang pada Alfian , namun beruntungnya Alfian berhasil menghindar dengan menepis tangan guru itu, hingga pisau itu jatuh.
Tidak sampai situ, ternyata guru itu juga memiliki ilmu bela diri sama seperti Alfian yang juga telah diajarkan ilmu bela diri oleh Leon dan juga yang lain.
Bukkk
Brukkk,,,,Brakkk
Guru itu beberapa kali memukul Alfian namun Alfian berhasil menepis pukulan dari guru itu.
"Lebih baik bapak menyerah!" Ucap Alfian lagi mencoba bernegosiasi.
Bukkk,,,
Alfian meninju perut guru itu hingga guru itu terjatuh.
Brukkk,,,
"Sebaiknya bapak menyerah! Sebentar lagi polisi juga akan datang ke sini! Menyerah atau bapak tanggung sendiri akibatnya nanti!" Ucap Alfian yang ternyata tadi sudah menghubungi polisi lebih dulu.
Sedangkan guru itu perlahan meraih pisau tanpa di ketahui oleh Alfian . Saat Alfian menyadarinya, Alfian langsung mencoba menghalangi niat guru itu, namun naas,,,
Jlebb,,,,
"Akhh!! " Rintih Alfian saat pisau itu menembus perut Alfian.
Brukk,,,
Alfian seketika terjatuh karena hilang keseimbangan untuk menopang tubuhnya, akibat luka tusukan pada perutnya.