Kamar 126

Kamar 126
Nisan tanpa nama


"Kakak???!" Ujar Dira sambil menatap sosok cahaya itu yang ada di dekat mereka.


"Ijinkan aku untuk menjaga adikku ma! Dia akan aku jaga sepenuh hati!" Kata anak pertama Gisella itu dengan penuh ketulusan.


"Apakah mama bisa memeluk kamu nak?!" Tanya Gisella di sela tangisnya sambil masih dalam posisi memeluk Dira.


"Maaf ma tapi itu tidak bisa! Itu karena aku belum sempat terlahir ke dunia ini! Maka dari itu inilah wujud ku!" Katanya.


"Maafkan mama!" Gisella sangat menyesal karena teringat akan dirinya yang tidak bisa menjaga calon anak pertamanya dulu.


"Mama tidak perlu menyesali semuanya! Ini sudah menjadi takdir!" Kata anak itu yang membuat Gisella memang harus menerima kenyataannya.


"Mama minta tolong sama kamu, tolong jaga adik kamu nak! Mama berjanji kalau mama akan memberi tahukan kisah tentang masalalu mama pada semua saudara kalian nantinya!" Jelas Gisella panjang lebar sambil meminta tolong pada anaknya.


"Dira pergi ya ma! Mama harus menjalani hari-hari mama dengan baik! Dira sama kakak akan menunggu mama di pintu kehidupan selanjutnya nanti!" Kata Dira yang setelahnya memeluk mamanya. Gisella membalas pelukan Dira sembari menitihkan air matanya. Bahkan Mark yang melihatnya pun ikut menitihkan air mata.


"Mama harus segera kembali! Karena sebentar lagi tempat ini akan runtuh!! Jika kalian tidak segera pergi dari sini, kalian akan selamanya terjebak di sini!" Kata sosok bercahaya itu.


Gisella langsung melepaskan pelukannya pada Dira. Lalu menatap ke arah sosok cahaya putih itu.


"Tapi-" ucapnya terpotong karena tangannya langsung di pegang oleh Mark.


"Kita harus pergi sekarang kak!" Kata Mark sembari menarik tangan Gisella dan membawanya kembali ke dunia nyata.


Mata Gisella menatap sendu sembari berlari menjauh dari tempat itu. Sosok cahaya itu langsung membawa Dira pergi juga dari tempat itu dan lenyap dari pandangan Gisella dan Mark.


Tempat itu juga perlahan runtuh. Gisella dan Mark kini bahkan sudah kembali ke alam dunia melalui astral projection.


"Chan!" Ucap Gisella sembari memeluk Chan setelah membuka matanya. Chan juga langsung membalas pelukan dari Gisella.


"Syukurlah kau kembali, sayang!" Ucap Chan sambil mengecup kening Gisella, "Bagaimana?" Tanya Chan memastikan. Gisella hanya menjawabnya dengan anggukan, tanda bahwa dirinya mengatakan semua sudah baik-baik saja.


Sepasang suami istri itu masih mengeratkan pelukannya. Mereka merasa kehilangan juga merasakan rasanya penyesalan akan tidak bisa menjaga anak yang dulu sempat belum dilahirkan oleh Gisella.


"Kakak sebaiknya pulang, keluarga kakak pasti sudah menunggu untuk pemakaman Dira!" Ujar Mark yang langsung membuyarkan keduanya yang masih berlarut dalam kesedihan. Mereka melepaskan pelukan lalu perlahan Gisella menghadap ke arah Mark berada.


"Makasih karena sudah menolong kakak!" Ujar Gisella sembari tersenyum ke arah Mark dan para sahabatnya. Mark hanya menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk.


Setelah itu mereka berpamitan dengan Mark untuk menuju ke mansion. Mark, Mela dan juga Bayu pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Sebenarnya Mark menyayangkan kalau dirinya tidak sempat berpamitan dengan Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bagaimana tidak, mereka kehilangan sosok gadis kecil manja dan penakut di keluarga itu. Apalagi melihat jenazah Dira yang mengenaskan, membuat hati menjadi seperti tercabik-cabik oleh benda tajam. Tak ada yang bisa menghentikan air mata kesedihan mereka. Bahkan Gisella sudah tak mampu mengeluarkan air mata lagi Hatinya sedikit lega melihat dan mengantar Dira pada kakaknya dan terbebas dari iblis jahanam itu. Gisella yang mencoba mengikhlaskan Dira pun meminta Chan untuk segera memakamkan Dira, dia meminta agar Dira di makamkan di dekat kakak tertuanya.


Semua anak-anak yang belum mengetahui tentang kakak tertua pun hanya bersikap biasa saja pada batu nisan yang kini ada di dekat pemakaman Dira.


Masih di tempat yang sama yaitu pemakaman umum tempat Dira di makamkan. Mereka semua merasa sedih melihat gadis mereka pergi untuk selama-lamanya. Kejadian ini akan di jadikan sejarah dalam kehidupan keluarga besar mereka. Setelah selesai acara pemakamannya, semua orang menaburkan bunga pada makam Dira. Dan para keluarga pun berdiri mengelilingi makam Dira saat itu.


Sampai akhirnya Gisella memberanikan diri untuk mengungkapkan tentang masalalu yang terjadi pada Gisella dan Chan.


Gisella perlahan berjalan ke arah batu nisan anaknya, lalu berjongkok di dekatnya. Gisella mengusap lembut batu nisan Dira sambil tersenyum pahit, tanpa mengeluarkan air mata.


"Anak-anak semuanya! Dengarkan mama!" Ucap Gisella setelah menarik nafas dalam-dalam untuk memulai cerita yang kelam itu.


Sontak saja semua mata mengarah pada Gisella yang masih fokus mengusap batu nisan Dira. Mereka semua memakai kacamata hitam untuk menutupi mata mereka yang sembab karena menangis. Dan tujuan keduanya karena mereka juga tidak ingin menunjukkan kesedihan diantara yang lainnya.


"Mama ingin mengungkapkan sebuah rahasia besar yang sudah mama sembunyikan belasan tahun yang lalu!! Kalian pasti juga tidak menyangka dengan kepergian Dira yang seperti ini!!" Gisella menarik nafas di sela ucapannya. Semua anak-anak tampak bingung sekaligus penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Gisella.


"Dira seperti ini karena di jadikan tumbal oleh seseorang yang sudah menganut iblis!" Ujar Gisella lagi melanjutkan ucapannya.


"Tapi kalian tenang saja, mama sudah beberapa kali mengalahkan iblis! Dan iblis yang menjerat Dira juga sudah mama kalahkan, mama sudah mengalahkannya dengan bantuan dari kakak tertua kalian!" Ucap Gisella yang membuat semua tertegun dan bingung akan apa yang di maksud oleh Gisella.


"Maksud mama apa? Bukankah di antara kita semua yang tertua hanyalah Adam, anak bunda Nadia, tapi dia ada di mansion, bagaimana bisa membantu mama?" Tanya Victor yang mengira kalau kakak tertua adalah Adam.


"Katakan apa yang mama maksud?" Tanya Alisya setelahnya.


Gisella pun menoleh ke arah semua anak-anak, dan beralih lagi menoleh ke arah batu nisan Dira.


"Kalian salah!" Ucap Gisella lalu beralih ke makam yang ada di samping Dira dengan nisan tanpa nama. Anak-anak bingung dan tampak mereka mengernyitkan dahinya.


"Kalian tahu kenapa ada makam dengan nisan tanpa nama ini?" Tanya Gisella dengan mengusap makam dengan nisan tanpa nama.


"Ini adalah tempat peristirahatan terakhir kakak tertua kalian! Atau lebih tepatnya saudara tertua kalian!" Kata Gisella sambil tersenyum kecut.


"Mama jangan bertele-tele ma, katakan yang sebenarnya!" Ucap Alfin dengan segala rasa penasarannya.


Gisella yang mendengarnya langsung menatap ke arah Alfin berada, lalu kembali menoleh ke arah nisan tanpa nama itu lagi.


"Dia adalah kakak tertua kamu Alfin!"


Deg,,,,