Kamar 126

Kamar 126
Murid Baru


Pov Alfin


Di dalam kamarnya.


Terlihat Alfin sedang duduk di ranjang miliknya, sembari mengingat kejadian tadi saat dirinya menabrak seorang gadis di perpustakaan.


"Siapa sebenarnya gadis itu? sebelumnya aku tidak pernah melihat dia di perpustakaan!?" setiap pertanyaan muncul dalam benak Alfin tentang wanita itu.


"Haish, Kenapa gue malah jadi mikirin gadis tadi? apa jangan-jangan gue suka sama dia?" Alfin menggaruk tengkuknya lalu memilih untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfian


Alfian sedang duduk di ranjang empuk miliknya sembari menatap layar laptopnya. Dirinya juga sedang memikirkan tentang sosok yang ia temui di koridor sekolah tadi.


"Kenapa hantu itu ingin sekali balas dendam? sekarang apa yang harus gue lakuin? apa gue harus bantuin dia? apa nggak usah? Tapi kasihan juga sih? Haish, bodo amat lah mendingan gue tidur!" kata Alfian sambil menggaruk kepalanya karena pusing memikirkan itu. Lalu kemudian Alfian mematikan laptopnya, dan meletakkannya di meja dekat tempat tidur.


Saat dirinya hendak tidur tiba-tiba saja ada suara ketukan yang terdengar di telinganya.


Tok tok tok


Sontak Alfian yang sudah hendak berbaring langsung menoleh ke arah sumber suara ketukan itu.


Ceklek,,


Pintu terbuka dan terlihat ada seorang pria berdiri tepat di ambang pintu,


"Dek, lo udah tidur?" tanya pria itu yang tak lain adalah Alfin, kakak tertuanya.


"Haish, kalau lo ngagetin aja sih Kak! Tumben lu ke sini ada apaan?" tanya Alfian yang ingin langsung to the point.


"Gue mau tanya sama lo!" ucap Alfin yang menutup pintu dan perlahan berjalan mendekat kearah adiknya yang kini duduk di ranjang empuk miliknya.


Alfin pun duduk di sebuah kursi meja belajar milik Alfian. Terlihat Alfian menatap kakaknya itu dengan penuh penasaran.


"Lo tau kan kalo gue itu nggak percaya sama apa yang namanya makhluk tak kasat mata!" ucap Alfin memberitahu Alfian.


"Iya gue tahu!" jawab Alfian sambil mengangguk.


"Sekarang katakan sama gue kalau hantu itu nyata! dan mereka benar-benar ada!" ucap Alfin yang membuat Alfian terperanjat kaget.


"Lah, kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu? hayo ngaku kakak pasti percaya kan kalau hantu itu ada?" Alfian menggoda kakaknya yang dia ketahui kalau kakak yang tidak percaya dengan hantu.


Alfin langsung menjitak kepala Alfian, jarak meja belajar dan tempat tidur Alfian tidak terlalu jauh.


Pletak,,,


Alfian meringis kesakitan saat kepala di jitak oleh kakaknya.


"Apaan sih Kak sakit nih!" ucapan Alfian sambil mengusap-usap kepalanya yang tadi di jitak oleh Alfin.


"Gue cuma kepo bukan percaya!!!" ucap Alfin kesal.


Alfian menghela nafasnya lalu berkata "Kakak tahu kan kalau Mama nggak suka kita bahas hal yang begituan?"


"Iya gue tahu!"


"Nah tuh tahu, Terus kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?" Alfian langsung menjawab apa yang dikatakan oleh kakaknya.


"Haish, nih bocah maunya apa sih? Apa salahnya kalau gue nanya kayak gitu sama lo? Ya udah lah gue pergi aja!" Ucap Alfin yang melangkah menuju pintu , saat hendak membukanya.


"Eh kak tunggu!" Alfian menghentikan langkah Alfin yang kini sudah sampai di dekat pintu kamar. Alfin menoleh ke arah Alfian, dirinya menatap dengan arti menanyakan ada apa.


"Tanya soal apa? Kalau soal makhluk tak kasat mata, gue udah nggak tertarik dan nggak perduli!" Ucap Alfin dengan menatap malas ke arah Alfian.


"Nggak kak, tapi ini soal mama!" Ucap Alfian dan membuat Alfin menatap datar ke arahnya.


"Mama? Ada apa dengan mama?" Tanya Alfin penasaran sambil menaikkan satu alisnya.


"Kakak ngerasa nggak sih kalau ada sesuatu yang di sembunyiin sama mama?" Tanya Alfian pada Alfin akan rasa penasarannya.


"Soal apa?" Alfin masih belum mengerti arah pembicaraan Alfian.


"Gue sendiri juga belum tahu pasti Kak! tapi gue penasaran, kenapa Mama melarang gue buat ngebantu hantu yang butuh bantuan gue?" kata Alfian sembari berpikir.


"Nggak ada yang salah sama hal itu! hal yang wajar kalau mama ngelarang lo buat lakuin itu!" kata Alfin yang tidak menyimpan rasa kecurigaan pada mamanya.


"Memangnya apa yang salah? gue juga enggak berbuat jahat! gue mah kan punya niat baik buat bantuin mereka! tapi setiap kali gue mau bantuin mereka, dan itu ketahuan sama mama, Pasti gue langsung dimarahin!" Alfian mengatakan itu pada Alfin karena bingung harus mengatakannya pada siapa lagi.


"Makanya lu nggak usah ngelakuin hal yang bodoh kayak gitu!" ujar Alfin menyarankan.


"Tapi kak,,,!" ucap Alfian terpotong.


"Udah nggak usah dipikirin sekarang lo buruan tidur!" Alfinn menyuruh Alfian untuk tidur, dan setelahnya Alfin langsung pergi begitu saja dari kamar Alfian.


"Haish, ngeselin banget sih jadi orang! orang belum selesai ngomong, main pergi aja!! bodo amat, mending gue tidur!" setelah itu Alfian pun tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, seperti biasa setelah sarapan mereka langsung bersiap menuju ke sekolah daan kampus mereka masing-masing.


Di SMA


Tepatnya di kelas Dila dan juga Dira, hari itu Dira sudah lebih baik dari kemarin. Dirinya memutuskan untuk bersekolah lagi.


Hari itu di kelas mereka sedang membicarakan akan adanya murid baru. Mereka semua saling bertanya apakah cowok atau cewek yang nantinya masuk ke kelas mereka.


Sampai akhirnya guru datang dengan seorang murid yang mengekor di belakangnya. Seorang cowok cool yang kelihatannya banyak bicara di suruh oleh guru untuk memperkenalkan dirinya.


"Nah, murid-murid hari ini kita kedatangan murid baru, dia pindahan dari SMA B****!" Kata guru itu memberi tahu para muridnya. "Nah sekarang perkenalkan nama kami pada mereka semua!" Guru itu menyuruhnya untuk memperkenalkan diri di depan kelas.


Dengan tas punggung yang dia kaitkan pada bahu kirinya, dia terlihat sangat cool. Tanpa pikir panjang dia langsung memperkenalkan dirinya.


"Nama gue Axel !" Ucapnya dengan singkat dan langsung memberi kode pada guru itu untuk segera di berikan tempat duduk.


"Axel kau duduklah bersama dengan Dira!" guru itu langsung menyuruh Axel untuk duduk di bangku yang ada di sebelah Dira. Alex pun langsung saja menuju ke bangku tersebut, karena tadi guru sempat menunjuk Dira yang mana. Karena bagi Alex, masih sulit untuk membedakan anak kembar itu.


Alex yang kini sudah duduk di samping Dira, mencoba berkenalan pada Dira.


"Hay, salam kenal ya, gue Alex! Nama lo siapa?" Ucap Alex memperkenalkan diri pada Dira.


"Kan tadi guru udah bilang nama gue!" Kata Dira yang membuat Alex merasa sedikit kikuk.


"Oh iya, gue lupa, nama lo Dira kan!" Ujar Alex sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Iya!" Jawab Dira singkat sambil tersenyum manis ke arah Alex, membuat siapa saja yang menatapnya itu terpanah akan kecantikan Dira.


Anak perempuan kembar dari Gisella dan juga Chan membuat siapapun yang melihat senyum mereka, pasti akan langsung merasa terpanah akan kecantikan mereka.


"Manis sekali!" Gumam Alex sambil melamun setelah menatap Dira yang tersenyum ke arahnya.


"Tadi lo bilang apa?" Tanya Dira karena dirinya merasa Alex berkata sesuatu.


"Akh itu tidak ada apa-apa!" Alex semakin di buat salah tingkah oleh Dira yang dia anggap perempuan cantik nan manis.