Kamar 126

Kamar 126
Kejutan tak terduga


Mereka berdua tidak menyangka kalau Jeni dan Jiso akan berbalik dan berjalan ke arah mereka berdua sembari memegang bunga itu.


Jiso langsung memberikan bunga miliknya pada Gisella, sedangkan Jeni memberikan bunga miliknya pada Lisa. Gisella dan Lisa tampak bingung dengan kondisi saat itu, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Gisella tak lagi bisa berkata karena bingung dengan situasi saat itu.


Jiso dan juga Jeni langsung menyuruh Gisella dan Lisa untuk berbalik dan betapa terkejutnya melihat 2 orang pria yang berada tepat di belakang mereka berdua.


Ya, itu adalah Chan dan Alex. Chan dan Alex berlutut dengan cincin yang mereka bawa untuk melamar wanita yang menjadi pujaan hati mereka.


Gisella dan juga Lisa hanya bisa terdiam membeku seakan tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mereka. Mereka tak pernah menyangka kalau Chan dan Alex akan melakukan hal seromantis itu pada mereka.


"Chan?" Ujar Gisella yang terharu pada Chan hingga dirinya menitihkan air mata bahagia.


Sedangkan di sisi Lisa dirinya benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Alex padanya. Orang yang sudah dia tunggu-tunggu kini telah berada di hadapannya dengan membawa cincin untuk melamar dirinya. Tangis Lisa langsung pecah karena rasa bahagia yang muncul di hatinya.


Sampai akhirnya Gisella dan Lisa menerima lamaran dari mereka berdua. Kejadian saat itu cukup membuat semua orang yang datang di acara pernikahan itu merasa terharu dan juga bahagia melihat mereka yang sedang bahagia.


Semuanya bahkan bersorak setelah mereka menerima lamarannya.


Gisella dan juga Lisa masih tidak menyangka kalau mereka akan mendapatkan sebuah kejutan yang bahkan membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Singkat cerita,,,,,


Setelah acara pernikahan itu selesai, mereka semua menginap di sebuah mansion yang sengaja Suho beli untuk semua sahabatnya juga. Satu mansion yang besar bak istana Nathan beli untuk bisa terus bersama dengan para sahabat-sahabatnya. Nathan sengaja membeli mansion itu, karena dirinya tidak ingin berpisah dari sahabat-sahabatnya. Mereka sudah menjadi keluarga bagi Nathan.


Mereka juga setuju untuk tinggal di satu mansion yang sama. Lagi pula mansion itu sangat besar, ada berpuluh puluh kamar di mansion itu.


Saat makan malam tiba, mereka semua berada di meja makan yang amat besar dengan beberapa makanan yang sudah siap tersaji di meja itu.


"Lisa?!" Panggil Nathan yang langsung membuat Lisa menoleh ke arahnya.


"Maafkan aku ya, aku sebenarnya sudah membuat rencana ini sebelum pernikahan di buat! Dan kemarin aku sengaja menyuruh kamu untuk menceritakan semuanya ,sekaligus untuk memastikan kalau kamu tidak memang benar-benar sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan siapapun! Maaf juga karena saat itu aku langsung pergi begitu saja, tapi sungguh itu hanyalah bagian dari sebuah skenario yang aku buat?!" Ujar Alex yang langsung menjelaskan panjang lebar pada Lisa.


Mendengar penjelasan dari Alex tentang hal itu, Lisa langsung bernafas dengan lega dan berkata,,,,


"Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu dengan kamu lagi?!" Ujar Lisa.


"Apa kau tahu? Alex datang padaku dan Kai, untuk membantu dirinya melamar kamu dan di hari yang sama Chan juga datang pada kami untuk membantunya melakukan hal yang sama seperti yang diminta oleh Alex sebelumnya?!" Kata Nathan yang memberitahukan kronologinya.


"Sampai saat ini aku bahkan masih belum percaya!" Ujar Gisella yang memainkan cincin pemberian Chan di jari manisnya itu.


"Kau harus percaya padaku!!" Ujar Chan lalu mencium tangan Gisella begitu saja.


"Kalian harus segera menyusul kita!!" Saran Kai.


"Pasti!!" Kata Chan.


"Bagaimana kalau kita adakan acara pernikahan satu minggu lagi?!" Tanya Alex yang angkat bicara sekaligus menentukan kapan akan melakukan pernikahan.


"Secepat itu?" Tanya Lisa dengan membelalakkan matanya.


"Iya, aku setuju! Lebih cepat lebih baik!!" Ujar Chan yang sudah setuju pada rencana Alex.


Alex menoleh pada Lisa lalu bertanya,,,,


"Apa kau keberatan?"


"Aku sih ngikut aja gimana baiknya!" Jawab Lisa sembari tersenyum manis ke arah Alex.


"Haish, ternyata kau sudah tidak sabar ya!" Ucap Jiso menggoda Gisella.


"Eh, bukan gitu!" Ujar Gisella malu.


"Haish, udah deh nggak usah malu, biasanya juga malu-maluin!" Kata Jeni menyindir Gisella.


Setelah itu Gisella memutuskan untuk menyuruh Chan mengantar ke supermarket. Namun di halangi oleh Nathan.


"Untuk apa pergi ke supermarket? Semua kebutuhan kamu akan terpenuhi di sini!" Ujar Nathan.


"Memangnya di sini ada apa aja sih?" Tanya Gisella karena tidak mengetahui apa saja yang ada di mansion itu.


"Semua yang ada di supermarket aku pindahin ke sini! Jadi kalian semua tidak perlu lagi repot-repot untuk membelinya ke luar!!" Ujar Nathan dengan wajah sultan nya.


"Dan aku juga sudah menyiapkan ruang game lengkap di sini , bahkan kalau kalian tau di sini banyak sekali ruangan dengan berbagai apapun yang kalian inginkan!" Ujar Kai menimpali ucapan Nathan.


Saat tengah menikmati makan malam mereka. Kim Kai pemimpin mafia nomor 1 sedunia itu menerima telepon dari mafioso nya.


Mafioso milik Kai memberi tahu kalau markas telah di serang, dan dengan segera Kai menutup teleponnya dan hendak bergegas ke markas.


"Ada apa?" Tanya Jenie penasaran.


"Markas di serang! Aku harus segera ke sana!" Ujar Kai memberi tahu istrinya itu.


"Kalau begitu aku mau ikut!" Pinta Jeni.


"Tidak, kamu di sini saja sama yang lain!" Ujar Kai melarang Jeni untuk ikut dengannya.


"Pokoknya aku harus ikut!" Ujar Jeni dengan keras kepalanya.


Kai langsung beranjak dari duduknya dan hendak pergi, namun Jeni juga ikut berdiri dan mengikuti langkah Kim Kai.


"Sayang, kamu di sini saja!" Perintah Kai.


"Pokoknya aku harus ikut bersama kamu?!" Kata Jeni yang masih bersikeras ingin ikut dengan Kai.


"Jangan keras kepala, sayang!" Kata Kai mencoba membujuk Jeni.


"Aku tidak peduli! Aku harus ikut!" Jawab Jeni.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk tidak ikut berkelahi nanti!" Perintah Kai supaya Jeni tidak ikut berkelahi.


"Iya baiklah!" Jawab Jeni senang.


"Jen, bukankah lebih baik kamu di sini saja? Aku takut terjadi sesuatu padamu?!" Tanya Nadia khawatir.


"Kamu tenang saja aku pasti akan baik-baik saja, apa lagi bersama dengan suamiku ini!" Ujar Jeni sembari memeluk lengan Kim Kai.


"Biarkan saja, Jeni memang sangat keras kepala, tapi kalian tenang saja! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istriku!" Ujar Kai membuat semua percaya pada dirinya.


"Kalau begitu, kalian berhati-hatilah!" Ujar Gisella.


Setelah perdebatan kecil itu, Jeni dan juga Kai segera menuju ke markas.