Kamar 126

Kamar 126
Cemburu?


"Tau dari mana lo?!" Tanya Adam sambil menaikkan satu alisnya ke atas.


"Ya dari cerita sih, bahkan sekarang itu sifat manusia udah melebihi setan!" Ujar Renald lagi.


"Renald juga ada benarnya! Tapi yang sudah mengambil salah satu dari keluarga kita itu, adalah mereka yang jahat!! Maka dari itu kita harus tetap waspada! Jangan sampai kalian melepaskan kalung yang sudah mama berikan pada kalian!! Paham!!" Jelas Gisella memberi tahu.


"Paham, Ma!" Jawab mereka semua kompak, kecuali dengan Alfin yang tidak menjawabnya, "Pakai ataupun tidak bagi gue sama aja!" Gumam Alfin yang bahkan tidak terdengar oleh siapapun.


Alfin memang tidak pernah memakai kalung yang di berikan oleh Gisella. Itu sebabnya dirinya bisa dekat dengan Saviana, karena tidak terhalang oleh kalung itu. Hanya satu alasan kenapa Alfin tidak mau memakainya, hal itu karena dia tidak percaya akan adanya makhluk tak kasat mata.


Mereka langsung mengunjungi makam Tao dan juga Tio yang ada di sana. Setelah mengunjungi makam, mereka beristirahat di kamar mereka masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfin


Dirinya sedang duduk di balkon yang kebetulan mengarah langsung pada halaman luas yang ada di mansion itu.


"Sav, kenapa lo nggak pernah mau setiap gue ajakin lo untuk datang ke mansion keluarga besar gue?!" Gumam Alfin sambil sedikit melamun menatap halaman. Namun dirinya terkejut melihat adanya Saviana yang berdiri di dekat pohon yang ada di pinggiran halaman.


"Saviana!" Ucap Jaehyun yang di dengar oleh Saviana, dan seketika Saviana langsung menghilang begitu saja. Alfin yang tau kalau itu adalah Saviana, akhirnya memutuskan untuk pergi ke halaman yang ada di sana. Dengan segera Alfin menuruni banyak anak tangga, padahal di dalma mansion itu ada lift. Itu membuat perhatian semua orang mengarah pada Alfin, yang seperti tergesa-gesa. Hanya Adam, Lukas dan Zaki yang ada di ruang game, dan melihat Alfin melewati mereka begitu saja.


"Si Alfin ngapain lari kayak gitu?!" Tanya Adam yang melihat Alfin berlari melewati mereka.


"Tau tuh kayak mau dapet apa aja!!" Jawab Lukas sambil masih memainkan gamenya.


Alfian yang saat itu juga berada di sana, memutuskan untuk mengikuti langkah Alfin yang keluar dari mansion, menuju ke halaman.


"Tadi Saviana kan? Iya nggak salah lagi, tadi emang Saviana!" Batin Alfin sambil berlari ke halaman. Sesampainya dia di halaman, Alfin menoleh ke segala arah mencari ke keberadaan Saviana.


"Ada apa kak?!" Tanya Alfian yang berjalan mendekat ke arah Alfin berada.


Mendengar ada suara yang memanggilnya, Alfin langsung menoleh ke sumber suara.


"Lo nyari siapa sih kak?!" Tanya Alfian saat sampai di dekat Alfin.


"Gue nyari pacar gue!" Jawab Alfin sambil masih celingukan mencari apa yang dia cari.


"Memangnya pacar kakak ke sini juga?!" Ucap Alfian penasaran dan langsung membuat Alfin terdiam dan berpikir sejenak.


"Eh!!" Alfin langsung mengingat dan terdiam. Dia baru ingat kalau dirinya berada di Jepang.


"Saviana nggak mungkin datang ke sini, ini kan di Jepang! Apalagi gue juga lupa bilang ke dia kalau gue pergi ke Jepang!!" Batin Alfin sambil masih terdiam.


"Kak, kok diem?!" Ucap Alfian yang langsung membuyarkan lamunan Alfin.


Alfin menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Iya lo bener, gue mungkin salah lihat aja tadi!!"


"Kalau gitu gue masuk dulu kak!" Alfian setelahnya langsung masuk ke dalam mansion, dan meninggalkan Alfin sendiri di halaman itu.


Di sisi lain, Saviana memang sebenarnya ada di sana. Karena dirinya hantu, jadi dia bisa mengikuti kemana pun Alfin pergi. Meski sampai ujung dunia sekali pun. Setelah menghilang, Saviana hanya bisa menatap Alfin dari kejauhan.


"Maafin aku Alfin, aku memang nggak berguna! Aku udah bohongin kamu!!" Lirih Saviana sambil menatap Alfin dari jauh dengan mata sendunya.


Alfian langsung kembali masuk ke dalam mansion dan menuju ke kamarnya sendiri. Dirinya merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Kemudian setelahnya dia tampak menatap langit-langit kamar.


"Apa gue nikah aja ya sama Saviana, dengan begitu, dia pasti mau ikut gue buat ketemu sama keluarga besar gue!! Gue bakal tanya dan pastiin ke dia apa dia mau nikah sama gue!!" Ujar Alfin lalu menghela nafas, "Baiklah, gue akan tanya ke dia sepulang dari liburan ini!" Lanjut Alfin.


Sampai akhirnya Alfin terlelap dalam tidurnya.


Di sisi Dila dirinya tidak bisa memejamkan matanya, dirinya memutuskan untuk ke kamar Axel.


Tok tok tok


"Siapa?!" Tanya Axel dari dalam kamarnya.


"Ini gue Dila!" Jawab Dila dari balik pintu kamar Axel.


"Masuk aja Dil, pintunya nggak gue kunci!" Suruh Axel, lalu setelahnya Dila langsung masuk ke dalam kamar Axel dan menutup pintunya.


"Ada apa, Dil?" Tanya Axel yang masih duduk di ranjangnya.


"Gue boleh nggak tidur sama lo?!" Tanya Dila yang memang sudah tidak bisa tidur. Axel teringat akan seringnya Dira yang tidur di kamanya hanya karena takut.


"Iya Dil boleh!" Jawab Axel sambil tersenyum ke arah Dila.


"Makasih ya Axel!" Ujar Dila lalu setelahnya berbaring di ranjang Axel.


Tak di sangka ternyata ada yang melihat Dila masuk ke dalam kamar Axel. Ya, dia adalah Mark, dirinya bingung kenapa Dila masuk ke dalam kamar Axel. Mark tampak mengernyitkan dahinya karena bingung, karena dia memang baru pertama kali Mark melihat cewek yang masuk ke dalam kamar cowok.


"Dila kok masuk ke kamar Axel? Mereka ngapain ya?!" Tanya Mark lirih sambil masih melihat ke arah pintu kamar Axel yang masih tertutup.


"Mark!" Panggil Gisella yang tak sengaja lewat, dan melihat Mark yang menatap pintu kamar Axel.


"Mama?" Ucap Mark saat melihat kalau ada Gisella di belakangnya.


"Kamu ngapain di sini nak?" Tanya Gisella penasaran.


"Ma, tadi aku lihat Dila masuk ke kamar Axel? Mereka ngapain?" Tanya Mark penasaran.


"Oh, mereka memang biasa begitu, dulu sebelum Dira meninggal, dia juga sering tidur sama Axel karena memang Dira itu penakut.


"Tapi tadi kan Dila ma?!"


"Ya mungkin Dila lagi pengen tidur bareng Axel, kamu tenang aja! Mereka nggak mungkin hal yang macem-macem kok!" Ucap Gisella pada Mark yang tampaknya terlihat khawatir kalau sampai terjadi hal yang tidak di inginkan.


"Oh begitu!" Jawab Mark singkat sambil menghela nafasnya.