
Setelah semuanya selesai. Gisella dan juga Chan pun kembali ke pendopo milik paman Felix bersama dengan bi Inem juga.
Sesampainya mereka di pendopo, ada yang membuat mereka terkejut melihatnya. Ada beberapa warga yang berdiri di depan gerbang pendopo.
"Chan, ada apa itu? Kenapa ramai-ramai gitu?!" Tanya Gisella penasaran dan juga terkejut karena melihatnya.
"Aku juga nggak tahu sayang!" Jawab Chan yang juga tak tahu.
"Biar bibi turun dulu nak, kalian tunggu di sini saja!" Kata bi Inem yang setelahnya langsung turun dari mobil dan menghampiri para warga.
Pov Bi Inem
Hari itu setelah kembali dari hutan, aku dan juga keponakan dari tuan Felix melihat ada banyak orang yang berdiri di depan pendopo. Aku langsung turun untuk mengeceknya sendiri.
"Permisi bapak-bapak, dan ibu-ibu! Ada apa ya?!" Tanyaku sopan kepada mereka yang wajahnya terlihat khawatir.
Salah satu dari orang itu menjawab, "Kami memerlukan bantuan dari paman Felix untuk kesembuhan orang kota yang datang ke desa ini!!" Ucap salah dari mereka.
"Maksudnya bagai mana ini?" Tanya ku lagi yang tak mengerti arah pembicaraan mereka.
Mereka pun menceritakan kalau ada 6 remaja SMA yang datang ke desa itu untuk melakukan penelitian tepatnya untuk membuat makalah untuk kelulusan mereka nantinya.
Mereka datang dari kota, 3 perempuan dan 3 laki-laki. Tepatnya mereka mengontrak sebuah Vila di desa sebelah. Dari cerita warga, ada 2 orang anak yaitu perempuan dan laki-laki dan yang 1 sedang sekarat di sana. Mereka para warga sudah mencari dari semalam namun tak menemukan 2 remaja itu. Dan mereka ingat akan paman Felix yang biasanya membantu para warga yang kesusahan dengan makhluk gaib yang sering mengganggu.
"Kalian semua tunggu di sini, saya akan bilang pada tuan Felix dulu!!" Kataku, karena memang para orang-orang yang ada di sana tidak ada yang berani masuk karena mereka takut dengan hawa menyeramkan yang ada di sekitar pendopo paman Felix.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Memang benar, bagi orang awam yang melihatnya pasti akan terasa menakutkan. Tapi sebaliknya, jika yang melihatnya adalah si pemilik indra keenam, pasti akan berbeda lagi. Mereka yang memiliki indra keenam kan merasakan sejuk ketika memandang pendopo itu. Udara di sana bukanlah mencekam, melainkan membuat nyaman mereka yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.
Setelah mengatakan itu bi Inem pun membuka gerbang dan memberi kode kepada Chan yang ada di mobil untuk masuk ke halaman pendopo milik paman Felix. Orang-orang itu sejenak menyingkir, membiarkan mobil Chan lewat dan masuk ke dalam halaman pendopo.
Chan pun turun dari mobil bersama dengan Gisella juga, Bi Inem juga ikut masuk ke dalam halaman dan menyusul Gisella dan Chan sudah lebih dulu berada depan pendopo, "Ada apa ini bi?!" Tanya Gisella yang turun dari mobil itu penasaran.
"Ah itu orang-orang ingin meminta tolong pada tuan!" Kata bi Inem memberi tahu.
"Tentang apa bi? Apakah ada sesuatu yang bisa kita bantu juga?!" Tanya Gisella menawarkan diri.
Bi Inem menggeleng cepat, "Biarkan tuan sendiri yang memutuskan nona, tuan tidak akan membiarkan kalian melakukan ini!" Ucap Bi Inem dengan sopan.
"Tapi bukankah paman jarang sekali keluar dari pendopo? Lalu bagaimana bisa paman akan menolong mereka? Bukankah itu berarti paman akan keluar dari pendopo?!" Tanya Chan yang sedari tadi menahan rasa penasarannya untuk egera menanyakan itu pada Bi Inem.
"Saya sendiri juga tidak tahu, saya akan menanyakannya langsung pada beliau!" Kata bi Inem lalu setelahnya masuk ke dalam pendopo diikuti oleh Gisella dan juga Chan juga yang mengekor di belakangnya.
Ternyata paman Felix saat itu tengah duduk di ruang tamu sembari terdiam. Paman Felix seperti sudah tahu mengenai kedatangan para warga itu yang ingin meminta tolong padanya. Dia telah memikirkan apa yang akan dia lakukan.
"Katakan!" Jawab paman Felix dengan singkat dan menyuruh bi Inem untuk mengatakan padanya mengenai hal itu.
"Maaf tuan, di luar ada banyak warga yang mau meminta tolong pada anda, katanya ada 2 remaja laki-laki dan perempuan yang hilang, dan yang satunya ada di salah satu tempat penginapan dengan kondisi yang sekarat! Sepertinya mereka sudah berbuat kesalahan di desa sebelah tuan! Mengingat mereka semua dari kota!" Kata bi Inem menjelaskan.
Deg,,,,
Gisella yang mendengar itu tubuh gemetar. Dia sungguh ingat dengan kejadian ketika dulu para anak-anaknya mendapat tugas makalah dan salah satu anak gadisnya telah merenggut nyawa karena menjadi tumbal.
"Ap-apa? Di mana mereka? Apa aku bisa membantu mereka?!" Tanya Gisella dengan suara seraknya, dia gugup namun dia sangat ingin membantu mereka. Mengingat mereka ada di sana itu adalah seorang pelajar dan itu hampir sama dengan cerita dari anak-anak mereka yang telah melakukan pembuatan makalah, hingga berujung membawa mala petaka.
"Kau dengar Inem? Aku rasa Gisella dan suaminya bisa mengatasi ini! Biarkan mereka yang pergi! Aku hanya berpesan kepada kalian, untuk tidak melawan takdir! Karena itu tidak akan bisa mengubah apapun, dan akan berakhir sia-sia!" Kata paman Felix mengijinkan dan memberi peringatan kepada mereka.
"Tapi tuan- !" Ujar bi Inem terpotong, saat paman Felix menatapnya. Bi Inem yang di tatap langsung mengerti dengan tatapan itu. Tatapan yang seakan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, dan juga bi Inem tahu kalau semuanya akan fatal, mereka akan memanggil paman Felix.
Bi Inem menunduk lalu pergi dengan mempersilahkan Chan dan Gisella untuk mengikutinya. Mereka pun menuju ke lokasi yang di katakan oleh para warga sebelah itu.
Sebenarnya Chan tidak yakin akan hal itu. Dia takut kalau istrinya akan terpuruk lagi ,karena mengingat kejadian masalalu di mana salah satu dari anak kembarnya telah meninggal dunia akibat di bunuh dengan sadis dan di jadikan sebagai tumbal.
Namun Gisella bersikeras untuk membantu anak-anak yang malang itu untuk menyelesaikan masalah mereka. Dan membantu para warga mencari anak-anak yang hilang itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan di sinilah mereka berada sekarang. Di sebuah tempat kontrakan yang di sewa oleh para anak-anak dari kota itu untuk melakukan penelitian dengan terjun langsung di lokasi. Gisella langsung masuk ke dalam sana, dia menghampiri anak gadis yang sedang menangisi temannya yang sedang sekarat.
Gisella yang melihatnya membelalakkan matanya karena tak tega melihat kondisi satu gadis yang sedang sekarat itu. Matanya terbuka dengan mulut juga terbuka seperti telah kehilangan jiwa dan hanya menunggu kematian.
Gisella memegang bahu anak gadis yang menangis itu. Seketika saja Gisella melihat satu sosok yang berpenampilan seperti nenek tua. Nenek itu hanya menatap Gisella dengan senyum seringainya.
"Astaga!" Gisella tersentak membuat Chan langsung mendekat dan mendekapnya.
"Ada apa Gisella?!" Tanya Chan, namun sebelum Gisella menjawabnya, anak gadis itu sudah terlebih dahulu memandang Gisella dengan tatapan sendunya.
"Tante, tolong temanku! Kenapa dia bisa seperti ini??!" Tanya anak itu, Gisella langsung mencoba menenangkannya dan mengajaknya untuk berbicara di dalam salah satu bilik kamar.
"Nak, perkenalkan namaku Gisella! Kau bisa memanggilku tante Gisella, karena sepertinya umur kamu
Sama dengan anak gadisku!" Ucap Gisella sambil mengelus punggung anak gadis di dekatnya, dengan tujuan agar dia menjadi lebih tenang.
"Ceritakan pada tante kejadiannya nak!" Pinta Gisella setelah gadis itu tenang dan tak lagi menangis, namun wajahnya tak bisa berbohong kalau dia sangat sedih.
"Namaku Ratih kak! Aku dan ke 5 temanku di tugaskan untuk membuat makalah dengan mencari bahan-bahan alami yang ada di desa ini!" Kata anak itu yang kini kita tahu bernama Ratih. Lalu setelahnya Ratih menceritakan semuanya dari awal hingga sampai di saat itu semua terjadi.