Kamar 126

Kamar 126
Permintaan Mark


Sesampainya di mansion, Mark hendak berjalan menuju ke arah kamarnya. Kebetulan kamar Mark melewati jendela yang mengarah langsung pada kolam renang. Sehingga dirinya dapat melihat jelas siapa yang sedang berada di kolam renang itu.


"Mark!" Suara panggilan yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Mark ketika melewati jendela yang mengarah langsung pada kolam renang.


Mark yang mendengarnya langsung menoleh ke sumber suara, dengan sekat kaca, Mark tahu siapa yang memanggilnya itu.


"Mama?!" Lirih Mark sembari menoleh ke arah mamanya. Terlihat Gisella menyuruh Mark untuk mendekat ke arah dirinya yang sedang berada di kolam renang.


Mark berjalan ke arah Gisella, sambil tersenyum ke arah Gisella.


"Mama? Ada apa ma? Kenapa mama manggil Mark sampai teriak kayak gitu?!" Cecar Mark pada Gisella yang tengah duduk di tepi kolam renang. Sambil kedua kakinya dia masukkan ke dalam kolam.


"Nak, kenapa kamu lama sekali ,hm? Apa yang membuat kamu lama mengantar mereka? Apa mereka membuat masalah dengan kamu?!" Tanya Gisella sambil mengusap kepala Mark.


Mark pun akhirnya ikut duduk di samping Gisella, lalu mengangkat tinggi bagian bawah celananya sampai ke lutut. Kemudian dia ikut memasukkan kakinya pada kolam renang.


"Tidak ada yang menyusahkan Ma, justru Mark malah suka kalau setiap hari mengantar mereka seperti ini?!" Kata Mark sambil tersenyum ke arah Gisella.


"Nak, kenapa kamu tidak mau kuliah sama seperti adik-adik kamu yang lain?!" Tanya Gisella pada anak sulungnya itu, "Alfin pasti juga senang kalau kamu mau kuliah dengannya!" Ucap Gisella setelahnya.


"Entah lah ma, Mark belum kepikiran sampai sana! Bahkan Mark bahagia seperti ini, toh Mark juga tidak ingin menyusahkan kalian semua dengan kehadiran Mark!" Ucap Mark.


"Hey, nak kenapa kamu berkata seperti itu,?! Mama tidak suka kamu mengatakan kalau kamu menyusahkan!! Jujur mama sungguh bersyukur bisa memiliki anak seperti kamu nak, kamu bisa menuntun adik-adik kamu ke jalan yang benar!" Kata Gisella yang mampu membuat hati Mark merasa luluh mendengarnya.


"Jadi ini kamu benar-benar tidak ingin kuliah sama seperti saudara kamu yang lain?!" Kembali Gisella bertanya untuk membuat Mark yakin dengan keputusan yang dia ambil.


"Biar Mark pikir-pikir dulu ya ma!" Jawab Mark lagi yang masih saja menggantung jawabannya.


Gisella yang hanya mendapat jawaban mengantung dari anaknya itu hanya bisa menghela nafas gusar. Dirinya sebenarnya sangat ingin sekali kalau Mark mau melanjutkan pendidikannya. Tapi Gisella juga sadar kalau dia tidak bisa terlalu memaksakan kehendak Mark.


Mark lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Gisella, sedangkan Gisella tampak mengusap lembut rambut Mark.


"Ma, bisakah mama ceritakan kejadian masalalu, saat mama bertemu dengan mama kandungku?!" Tanya Mark yang menginginkan Gisella menceritakannya pada Mark


"Apa kamu yakin ingin mendengarnya nak?!" Tanya Gisella memastikan, dan di jawab anggukan oleh Mark yang saat itu sekilas menatap ke arah Gisella, "Iya, ma! Aku juga ingin tahu kenapa mama dulu bisa bersama dengan pap Chan, padahal setahu Mark dulu papa Chan sudah memiliki kekasih, yang ada di kamar nomor 126 itu!" Jelas Mark yang mengingat kejadian belasan tahun yang lalu.


Gisella sendiri langsung tertegun, mendengar Mark yang membicarakan kamar nomor 126 kala itu. Bagaimana bisa anak kekecil Mark bisa mengingat baik kejadian belasan tahun yang lalu?


Tapi bagaimana Mark bisa tahu kalau Chan memiliki kekasih? Akankah dulu Mark pernah melihat Chan berduaan bersama dengan iblis itu? Atau karena memang nomor kamar mereka yang berdekatan membuat Mark lebih tahu akan Chan di bandingkan dengan Gisella dulu. Tapi itu sangat mustahil bukan, waktu itu Mark masih sangat kecil untuk mengetahui semuanya.


"Nak, mama akan ceritakan bagaimana mama bisa bertemu dengan mama kandung kamu dulu!" Ucap Gisella setelah menelan saliva nya. Dirinya mencoba menetralisir kegundahan hatinya saat mengetahui Mark yang ternyata sedikit tahu mengenai kekasih Chan sebelum Gisella, yaitu yang tak lain adalah Wendy. Iblis yang sudah mempengaruhi Chan dan membuat Chan terbuai akan pengaruhnya.


"Dulu waktu mama kamu ini sedang joging, mama sendiri sempat beristirahat bersama dengan papa Chan di sebuah taman yang tak jauh dari hotel itu! Lalu mama tak sengaja melihat papa kamu, yang anehnya menggendong sosok arwah penasaran, yang tak lain adalah mama kandung kamu nak!" Jelas Gisella, lalu mengambil nafasnya, " Mama awalnya tidak mau ambil pusing, mama juga tidak ingin terlibat dengan mereka makhluk tak kasat mata, maka dari itu, mama sempat pura-pura tidak melihatnya!" Lanjut Gisella , namun Mark tampak mengernyitkan dahinya mendengar apa yang di katakan oleh Gisella itu.


"Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya ma?!" Tanya Mark yang mulai heran dan penasaran akan pertemuan Gisella dan mama kandungnya dulu.


"Saat mama pura-pura tidak melihatnya, mama terlambat! Rupanya mama kandung kamu itu menyadari kalau mama bisa melihat dirinya!! Hingga akhirnya dia menyadari kalau mama bisa melihatnya, lalu setelahnya pasti kamu tahu sendiri bukan? Dia membuntuti mama dan meminta bantuan mama untuk menyelesaikan urusan dunianya, sampai akhirnya mama bertemu dengan kamu waktu itu!" Jelas Gisella panjang lebar pada Mark.


Mark yang mendengarnya pun mengangguk-anggukan kepala, karena dirinya merasa bahagia sekarang bisa hidup berdampingan dengan Gisella. Yang tak lain adalah pengungkap misteri tentang mamanya dulu.


"Apa kamu bersedih?!" Tanya Gisella memastikan pada Mark, apakah dia bersedih setelah mengingat kejadian kala itu.


"Tidak, ma! Lagi pula apa yang harus aku sedih kan? Mungkin semua sudah menjadi takdir keluarga aku ma, aku ikhlas menerima takdirku ini!! Aku bahkan sangat bersyukur bisa hidup berdampingan dengan mama Gisella!" Ucap Mark lalu memeluk hangat Gisella Penuh haru.


Gisella tersenyum mendengarnya, dia tahu Mark pasti juga sangat merindukan sosok mama kandungnya yang dengan tega di habisi oleh papa kandungnya sendiri.


"Oh iya, Ma! Kenapa mama tidak menceritakan kisah mama?! Aku ingin sekali mendengarkan kisah suka duka mama saat menjalani sebagai seorang indigo, yang selalu membantu arwah yang membutuhkan bantuan kita?!" Pinta Mark yang dia yakini pasti Gisella akan mau menurutinya.


Gisella rasa kali ini mungkin saatnya dunia tahu tentang masalalu Gisella, yang penuh dengan lika-liku dan suka duka bersama dengan Chan. Memang dari awal para anak-anak Gisella tidak ada yang berani menanyakan tentang hal ini pada Gisella. Mereka mengira kalau nantinya Gisella pasti akan bersedih ketika mengingat masalalu. Hal itu mendapat bukti ketika Gisella menceritakan masalalu nya ketika berada di hotel yang ada di Jepang waktu itu.


"