
"Gue mungkin akan beli mansion baru, dan kita juga pasti akan balik lagi ke negara kita, jadi gue minta tolong sama lo buat tinggal di mansion gue itu!" Ucap Nathan yang menyuruh Tao untuk tinggal di mansion yang ada di Jepang itu.
"Buat apa gue tinggal di mansion sebesar itu sendirian?! Lagi pula kalau gue tinggal sendirian di mansion itu, gue pasti hanya akan mengingat masa kelam yang sudah pernah terjadi dulu!" Ucap Tao menunduk sedih.
"Gue nggak akan bunuh lo!" Ucap Chan sembari mengambil pisau itu dari tangan Tao.
Singkat cerita, Jeni sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, karena kondisinya yang sudah berangsur membaik.
Mereka memutuskan untuk kembali ke mansion itu dan tinggal di sana untuk sementara waktu sembari menemani Tao.
Tao kini juga ikut tinggal di mansion besar itu, karena bujukan dari mereka yang berhasil membuat Tao mau tinggal di mansion itu.
Di ruang keluarga,,,,
"Tao, apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Gisella memulai pembicaraan di antara mereka.
"Tanya saja, Vel!" Ucap Tao setelahnya.
"Kenapa di sini ada banyak hantu anak kecil?" Tanya Gisella yang sudah penasaran dengan beberapa anak kecil yang sering berkeliaran di halaman.
Tao menghela nafasnya lalu berkata,,,,
"Gue sendiri juga nggak tahu tentang itu, gue sendiri nggak pernah melihat mereka! Tapi yang pasti kalau mereka memang benar ada di sini, itu berarti mereka aadalah anak-anak yang dulu sudah pernah menjadi korban tumbal dari kedua orang tua Tao dan Tio.
"Tapi kenapa orang tua lo ngelakuin hal kayak gitu?" Tanya Chan yang tak kalah penasaran.
"Gue sendiri juga nggak tahu pastinya, tapi kayaknya mereka menginginkan kekayaan yang instan, maka dari itu mereka melakukan hal itu!" Jawab Tao.
"Lalu kenapa bisa mereka tega sampai menumbalkan anaknya sendiri?" Tanya Nathan pada Tao , karena Nathan penasaran kenapa orang tua Tao mau menumbalkan anaknya sendiri.
"Itu yang buat gue jadi nggak habis pikir sama mereka, bahkan Tio bisa menjadi seorang psikopat seperti itu, semua karena dia melihat langsung saat adik perempuan kita satu-satunya di bunuh dan dijadikan tumbal oleh mereka.
"Kalau begitu, sudahlah! Biarkan saja saudara-saudara lo itu tenang di sana! Dan mungkin beberapa hari lagi kita akan kembali ke negara kita!" Ucap Chan menasehati Tao dan juga memberi tahu kalau mereka akan segera kembali ke negara mereka.
"Kenapa kalian harus cepat-cepat kembali? Apa kalian nggak nyaman sama adanya gue di sini? Kalau begitu gue akan tinggal di rumah gue sendiri yang ada di sana!" Ucap Tao yang sebenarnya tidak rela kalau mereka kembali ke negara mereka. Karena Tao pasti akan merasa sangat kesepian.
"Maksud Chan nggak gitu! Lagi pula kita juga masih bisa berkunjung ke sini! Tujuan awal kita ke sini itu cuma untuk liburan saja!" Jelas Sehun pada Tao supaya tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka nanti.
"Yang di katakan sama Alex itu benar! Dan nantinya gue akan pindah tangankan mansion ini ke lo, Tao! Biar lo menjadi pemilik mansion ini sepenuhnya!" Ucap Nathan setelahnya.
"Jujur gue pasti akan merasa kesepian kalau kalian semua pergi!" Ucap Tao dengan nada sedihnya.
"Lo nggak perlu sedih, gue akan suruh mafioso gue buat nemenin lo di mansion ini! Lo butuh berapa orang?! 50? 100? Atau berapa , katakan saja!" Ucap Leon yang nantinya akan menyuruh Mafioso miliknya untuk tinggal bersama dengan Tao di mansion besar itu.
"Untuk apa 100 orang ada di sini, tapi tidak bisa di ajak bicara?" Ujar Tao sembari menghela nafasnya.
"Haish, apa lo kira mereka itu bisu?" Ucap Chan.
"Lo bisa jadi pemimpin mereka nanti!" Kata Leon.
"Iya itu pasti!" Jawab Gisella sembari tersenyum ke arah Tao.
Akhirnya mereka tinggal di mansion itu untuk beberapa hari ke depan.
Gisella sekarang juga sudah tahu mengenai hantu yang sering dia lihat di dalam kamarnya. Itu adalah arwah dari Diana, Mama dari Tao . Yang memang menggantung di dalam kamar itu.
Chan tidak bisa melihatnya karena arwah dari Baskara dan Diana yang terkunci di alam lain, hanya Gisella yang mengetahuinya. Arwah mereka terkunci tak lain karena mereka sudah banyak menumbalkan banyak anak, namun masih kurang 2 tumbal lagi. Hingga pada akhirnya mereka berdua lah yang menjadi penutup tumbal itu, dan menjadi gantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Singkat cerita,,,
1 minggu kemudian,,,
Karena sudah lebih dari seminggu mereka berada di Jepang, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke negara mereka.
Dan di situlah saatnya Tao akan merasakan kesepian dan kesedihan yang mendalam, karena mengetahui kalau orang-orang yang ada untuknya akan meninggalkan dirinya.
Meskipun ada lebih dari 100 mafioso yang menemaninya di sana, sekaligus sudah terbangun sebuah markas besar di tempat itu. Namun Tao masih saja merasa kesepian, karena kehilangan saudara kembarnya, Tio dan juga para sahabatnya yang nantinya kembali ke negara mereka.
"Semoga kalian segera di beri momongan!" Ucap Tao yang memberikan doa pada ke 4 pasangan tersebut, agar segera diberi momongan.
"Semoga aja ya!" Jawab Jeni.
"Lo juga buruan cari cewek!" Ucap Alex.
"Gue belum minat sih buat cari cewek apalagi pacaran!" Ucap Tao.
"Lah, jangan-jangan lo homo ya?" Ucap Nathan.
"Ya nggak gitu juga kali!" Jawab Tao sembari menghela nafasnya.
"Lo jaga diri baik-baik di sini, dan pimpin dengan baik mafioso milik gue!" Ucap Leon memerintahkan Tao untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin mafia di Jepang.
"Pasti, gue akan lakukan sesuai yang lo mau!" Ucap Tao yang merasa terharu dengan apa yang diberikan oleh Leon padanya.
"Thanks ,karena kalian udah ngobatin rasa duka gue selama satu minggu ini!" Ucap Tao lagi setelahnya.
"Sama-sama, yang penting lo jangan pernah melakukan hal bodoh! Dan aku tidak perlu menyebutkannya, kau pasti sudah tahu apa yang aku maksud bukan?" Ucap Gisella yang mengingatkan Tao, supaya dia tidak melakukan hal bodoh.
"Iya, gue nggak akan pernah melakukan ritual atau apalah itu!" Ucap Tao memberi tahu Gisella, kalau dirinya tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.
"Menyembah mereka yang tak pantas untuk di sembah, hanya akan mendatangkan mala petaka bagi diri kita sendiri!" Kata Chan mengingatkan.
"Suamiku ada benarnya! Sebaiknya sebelum aku pergi, aku akan memagari tempat ini dulu!" Kata Gisella yang memutuskan untuk memagari mansion itu, sebelum dia kembali ke negaranya.