
Pemuda itu tampak hendak menaiki sepedanya dan akan mulai mengayuh. Namun dengan cepat kilat, Dila langsung menghalangi pergerakan pemuda itu, dengan berdiri tepat di hadapan sepedanya. Sontak membuat pria itu terbelalak saat tahu ada gadis cantik yang menghalangi jalan sepedanya.
"Tunggu!" Ucap Dila yang sudah berdiri tepat di depan pemuda itu dengan memegang stang sepeda gunung miliknya.
Belum sempat pemuda itu menjawabnya, Dila sudah kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang sudah tersimpan dalam benak Dila sejak tadi.
"Lo siapa??! Kenapa lo dari tadi ngelihatin gue sama saudara-saudara gue yang lagi di danau! Hah?!" Dila mencoba menahan emosinya, karena memang tidak salah lagi, orang itu lah yang tadi diam-diam mengawasi mereka dari jauh.
"Gu-gue! Cuma mau ngasih tahu lo sama saudara-saudara lo! Kalau vila yang kalian tempati saat ini tidak baik buat kalian!" Jawab pria tersebut seakan mengingatkan, namun tentu saja Dila tidak peduli dengan hal itu. Dia malah mengira kalau pria yang dia ajak bicara itu aneh. Mana mungkin ada vila yang tidak baik, apa buktinya? Karena memang dari awal masuk ke vila semuanya tampak baik-baik saja.
Mata Dila menelisik pria itu dari bawah sampai atas, dirinya merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh pria di hadapannya itu. Dirinya mencoba untuk tidak percaya begitu saja.
"Apa maksud lo ngomong gitu? Nggak baik apanya? Memangnya ada apa di sana?" Dila mencerca pria itu dengan pertanyaan yang mungkin akan mendapatkan jawaban atas semua yang dia bingung kan.
"Lo semua harus hati-hati dan selalu waspada! Gue lihat ada aura hitam yang menyelimuti vila itu!" Ucap pria itu kembali mengingatkan.
Hal itu sontak membuat Dila yang tak begitu percaya dengan hal mistis langsung menaikkan satu alisnya, merasa kalau dirinya sedang di kerjai oleh pria itu. Namun dirinya juga tidak bisa menuduh pria itu mengucapkan omong kosong.
"Lo tuh apa-apaan sih! Kalau ngomong tuh yang jelas! Aura hitam apaan? Gue nggak ngerti apa yang lo maksud!" Dila menanyakan lagi perihal apa yang di katakan oleh pria tadi, karena bagi orang yang tak percaya akan hal mistis. Tentu akan sangat sulit bagi mereka untuk langsung percaya begitu saja. Mereka tidak akan percaya kalau tidak melihatnya secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri.
"Gue cuma mau ngingetin aja sama kalian buat hati-hati! Dan akan lebih baik kalau lo sama saudara-saudara lo pergi tinggalkan vila itu! Sebelum terjadi sesuatu sama kalian semua!" Pria itu kembali mengingatkan seakan vila itu memang berbahaya untuk di tinggali, nyatanya padahal vila itu baik-baik saja dan tak ada apapun yang mengganggu mereka di sana. "Gue permisi!" Pria itu menaiki sepedanya dan mengayuh sepedanya hendak meninggalkan Dila yang masih bingung di sana.
"Tunggu!" Dila kembali meneriaki pria itu, namun pria itu sudah lebih dulu mengayuh sepedanya dan mulai menjauhi dari Dila sampai hilang dari pandangan matanya.
"Issh malah di tinggalin gitu aja, orang belum selesai ngomong juga!" Gerutu Dila yang langsung di tinggalkan oleh pria tadi dan menyisakan banyak pertanyaan saja pada diri Dila.
"Aneh banget sih tuh orang! Apa jangan-jangan pria tadi itu yang di maksud sama Dira kemarin itu? Kalau emang bener dia sih, ya gue akui dia memang aneh! Bahkan apa yang dia katakan tadi aja gue nggak bisa pahami itu!" Dila masih terus bertanya-tanya dan berpikir tentang apa yang di maksudkan oleh pria tadi, "Haish, jadi ketularan aneh kan gue! Hufttt!!!" Dila menghembuskan nafas kasar sampai akhirnya,
"Dila!" Suara teriakan dari Bryan yang memanggil dirinya sontak membuat Dila menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, Jaemin?" Ucap Dila yang melihat Bryan berjalan ke arahnya.
"Lo ngapain sih malah di sini! Di tungguin yang lain juga! Semua khawatir sama lo yang nggak balik-balik!" Cerocos Bryan pada Dila.
"Gu-gue tadi itu!" Dila mencoba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari Bryan , "Eh, tapi ngapain lo ke sini?" Tanya Dila yang mencoba mengalihkan pembicaraan, supaya tidak perlu menjawab pertanyaan yang Bryan katakan.
"Yah gitu aja pakai nanya lagi! Ya gue mau jemput lo lah!" Ucap Bryan yang ternyata tidak menuntut penjelasan pada Dila.
"Yaelah, kan jaraknya danau sama sini itu juga deket, ngapain pakai di jemput segala sih! Emangnya gue anak kecil apa?!" Dila memutar bola mata malasnya.
"Habisnya siapa suruh lo nggak balik-balik ke sana! Yang lain pada nungguin lo tahu nggak! Udah ayo balik ke sana!" Ajak Bryah pada Dila dengan menarik tangan Dila dan mengajaknya menuju ke arah yang lainnya. Dila yang hanya pasrah pun ketarik sama Jaemin yang menariknya tadi.
"Gue tadi habis nolongin kucing yang hampir ketabrak tadi!" Ucap Dila berbohong, memang nyatanya sedari tadi saat Dila hendak mendekati mereka. Dila sudah memikirkan alasan apa yang akan dia gunakan untuk menjawab semua pertanyaan dari para saudaranya itu.
"Eh, kenapa lo tadi nggak bilang ke gue pas di sana?" Bryan merasa bingung pada Dila, padahal tadi Dila tidak mengatakan kalau dirinya menolong kucing yang hendak tertabrak.
"Ya biarin lah, suka-suka gue dong! Gue juga males jelasin dua kali, jadi mending gue jawab aja sekalian di sini!" Ketus Dila dengan menatap Bryan.
"Ish nyebelin lo!" Kesal Bryan.
"Udah-udah kenapa malah pada berantem sih? Mending kalian buruan duduk dan bantuin gue bikin ini makalah!" Ucap Axel yang mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang sempat berdebat kecil tadi.
"Iya nih, gue juga pengen buru-buru balik ke mansion! Gue nggak betah tinggal di sini" tukas Dira yang memang sudah tidak betah untuk tinggal di desa itu, lebih tepatnya vila itu.
Tak ada sahutan lagi atas ucapan Dira, mereka fokus mencari beberapa bahan materi yang akan mereka gunakan untuk membuat makalah mereka.
Sampai akhirnya langit tiba-tiba mendung dan awan hitam pun tak kuasa menampung air yang dia bawa. Hingga pada akhirnya hujan turun dengan lebatnya menghujani desa Loka. Mereka yang tadi sudah memprediksi akan turun hujan pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari danau itu dan kembali ke Vila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Dila
Di dalam kamar Dila, dirinya sedang duduk di tepian ranjang dengan rambut yang masih basah, karena dia membasahinya tadi.
"Kok gue malah jadi penasaran sih sama yang di omongin pria tadi? Lagian kenapa gue juga bodoh banget sih! Harusnya tuh gue tanya ke dia apa maksudnya! Gue juga malah nggak tanya nama pria itu!" Tukas Dila sambil mencoba menggulung rambutnya yang basah tadi dengan handuk.
"Mending gue tanya Dira aja kali ya, kali aja dia tahu nama tuh cowok!" Dila pun berjalan keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk ke kamar Dira.
Ceklekk,,,
Pintu kamar Dira yang langsung di buka oleh Dila tanpa permisi, membuat Dira sontak terkejut karena memang pintu itu berbunyi sangat menakutkan bagi Dira.
"Astaga!! Haish Dila, lo ngapain sih ngagetin gue! Kan lo bisa ketuk dulu sebelum masuk!!" Kesal Dira sambil mengelus dadanya karena terkejut tadi.
"Hehe sorry-sorry gue lupa tadi, habisnya biasanya juga nggak apa-apa kalau gue langsung masuk!" Ucap Dila sambil tersenyum cengir kuda pada Dira.
"Ya kan itu kalau di mansion! Ini kan nggak di mansion!" Ucap Dira yang masih kesal karena terkejut.
Dila pun langsung duduk di ranjang Dira yang memang Dira sedang duduk bersandar pada dipan ranjang itu dengan memegang sebuah buku novel.