Kamar 126

Kamar 126
Kekhawatiran Gisella


"Axel!" Panggil Dila saat sudah duduk di bangkunya sendiri, dirinya menatap Axel dengan mata yang berbinar.


"Dila?" Kata Axel pelan, namun siapa sangka Dila yang tadinya cuek dan hanya diam melamun saja, bahkan duduk termenung dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Axel sungguh bingung dengan perubahan yang langsung terjadi pada Dila yang begitu cepat. Apalagi tiba-tiba Dila meletakkan kepalanya di bahu Axel, membuat Axel semakin tambah penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Dila.


"Ada apa denganmu Dila?!" Batin Axel bertanya.


Tiba-tiba,,,


Deg,,,,


Axel teringat akan mimpinya tadi malam yang bertemu dengan Dira ,dan mengatakan kalau Dila itu juga Dira. Yang ada dalam satu tubuh. Axel langsung mengambil kesimpulan kalau yang ada di dekatnya saat ini adalah Dira.


"Apa ini benar kamu Dira?!" Batin Axel menatap Dila yang tengah bersandar di pundaknya.


"Axel, kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin menyapaku?" Tanya Dila sembari mendongakkan kepalanya. Membuat Axel mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Dila, ada apa denganmu?" Tanya Axel.


"Aku akan mengatakannya , tapi tidak di sini! Bisa kita bolos saja?" Tanya Dila dengan lirih yang membuat mata Axel membulat seketika. Karena baru kali ini Dila mengajak untuk membolos sekolah.


Axel begitu heran dengan sikap Dila, namun dia berusaha menepisnya dan mulai meyakinkan dirinya kalau benar, Dira ada di dekatnya saat ini, "Memangnya kita mau ke mana?" Tanya Axel dengan lirih kepada Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, saat sebelum jam sarapan. Gisella dan juga Chan sudah memutuskan untuk langsung pulang ke mansion yang ada di kota, tentunya tanpa menginap di mansion miliknya. Mereka hanya akan mengambil beberapa barang mereka saja di mansion Jawa, dan langsung menuju ke mansion utama yang ada di Kota.


Pukul 03.00 tepatnya masih di pendopo milik paman Felix, Gisella dan juga Chan telah bersiap untuk berpamitan dengan Paman Felix dan juga bi Inem.


"Paman, Chan sama Gisella mau pamit pulang ke mansion utama yang ada di kota!" Pamit Chan pada paman Felix sembari bersalaman dengan paman Felix yang hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Kini giliran Gisella yang berpamitan, "Paman, terima kasih karena sudah dengan senang hati mau menerima kehadiran kami di rumah ini!" Kata Gisella sembari menyalami paman Felix.


Paman Felix pun sempat menghentikan langkah Gisella, "Tunggu dulu nak! Ingatlah untuk menjaga anak gadis kamu! Jangan biarkan dia menurutinya! Satu lagi, bawalah dia ke sini supaya aku bisa membersihkan dirinya dari segala pengaruh buruk!" Kata paman Felix yang malah membuat Gisella bingung, namun juga merasa khawatir. Gisella kini merasa sangat takut dengan apa yang akan terjadi pada putri satu-satunya itu, apalagi di tambah ucapan paman Felix yang membuat hatinya tak tenang. Hal itu cukup membuat Gisella ingin segera kembali ke mansion utama dan menemui semua anak-anak.


Gisella akhirnya hanya menjawabnya dengan tersenyum mengangguk, me coba menutupi rasa kekhawatirannya di depan semua yang ada di sana.


"Kalau begitu kami pamit dulu paman, bi Inem! Permisi!" Ucap Gisella pada paman felix dan juga Bi Inem yang ada di depan mereka. Paman Felix dan bi Inem yang mengetahuinya pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Sering-sering main ke sini ya non!" Kata bi Inem yang merasa berat di tinggal oleh Gisella, karena bi Inem telah menganggap Gisella seperti anaknya sendiri.


"Baiklah bi! Mungkin liburan sekolah nanti , Chan dan saya akan membawa semua orang untuk berlibur di pulau Jawa, dan pastinya nanti kita semua akan berkunjung ke sini!" Ujar Gisella sembari tersenyum ke arah bi Inem.


Bi Inem sendiri menjawabnya dengan tersenyum penuh haru ke arah Gisella.


Setelah itu Gisella dan juga Chan bersiap untuk menuju ke Mansion yang mereka tempati di pulau Jawa. Tentunya hanya untuk mengambil beberapa barang milik mereka yang awalnya mereka letakkan di mansion itu.


Tak berapa lama, tepatnya pukul 06.00 Gisella dan juga Chan telah sampai di mansion mereka yang ada di Jawa. Gisella hanya mengambil koper yang berisi barang-barangnya dan juga milik Chan.


"Chan, kenapa aku masih terus kepikiran sama apa yang di katakan oleh paman Felix tadi ya?!" Kata Gisella dengan melamun sembari memasukkan pakaian miliknya dan juga Chan ke dalam koper.


Chan yang tengah duduk ranjang sembari memegang ponselnya pun menatap ke arah Gisella, "Ada apa sayang? Sudahlah, kita kana tahu dari para orang tua di mansion utama kalau Dila itu sedang baik-baik saja di sana! Jadi kamu nggak perlu khawatir oke!" Kata Chan berusaha menenangkan istrinya supaya tidak terlalu berlarut-larut dalam ucapan yang telah di katakan oleh paman Felix. Padahal kenyataannya, Chan sendiri juga merasa khawatir dan juga takut kalau sampai terjadi sesuatu pada anak gadisnya. Namun dia masih terus berusaha untuk tetap tidak begitu khawatir di depan Gisella.


"Paman Felix bilang kita harus menjaga anak gadis kita, aku jadi khawatir Chan! Aku takut kalau sampai anak kita nanti-" ucap Gisella terpotong.


"Gisella tak akan ada apapun yang terjadi pada anak kita! Sebaiknya kita berdoa, kamu lupa apa tujuan kita ke sini? Kita ke sini untuk mencari cara agar semua orang yang ada di mansion kembali aman, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan semuanya oke!" Kata Chan memperingatkan lagi. Namun lagi-lagi Gisella menghela nafasnya masih merasa gelisah. Chan yang melihat istrinya itu pun langsung mendekati Gisella dan memeluknya dengan hangat.


"Kamu tenang saja ya, aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja!" Kata Chan lagi.


"Berapa lama kita nanti di perjalanan Chan?" Tanya Gisella.


Chan menjawab, "Mungkin sekitar 5 sampai 6 jam! Kita akan memakai pesawat nanti supaya lebih cepat!" Ujar Chan memberi tahu kalau nanti mereka akan memakai pesawat dan bukan memakai mobil. Gisella mengangguk paham lalu kemudian dirinya memikirkan cara untuk mengisi waktu luangnya selama berada di pesawat nanti.


Hingga akhirnya Gisella telah menemukan sebuah cara untuk mengisi waktu luangnya selama berada di pesawat. Gisella akan membuat kalung dari bambu kuning nanti, tentunya banyak yang akan dia buat. Namun semua itu dia anggap mudah karena memang dirinya tak perlu repot-repot membuatnya menjadi air seperti bunga anggrek hitam dulu.