Kamar 126

Kamar 126
Jatuh Cinta


"Ngelihat lo sama Axel kayak gini, entah kenapa hati gue sakit, Dil! Gue nggak tahu apa yang lo rasain ke gue?! Tapi yang gue tahu gue sayang sama lo!" Batin Mark dengan wajah memelas nya menatap Dila dari balik pintu kamar Axel yang kebetulan saat itu terbuka sedikit.


"Kak Mark!" Seseorang memanggil Mark sembari menepuk bahu Mark dari belakang, membuat dia tersentak sekaligus tertegun dengan apa yang dia lihat.


"Fian-Alfian?!" Ucap Mark gelagapan.


"Lo ngapain di depan kamar kak Axel? Kenapa nggak langsung masuk aja?!" Cecar Alfian yang mengira kalau Mark akan menemui Axel.


Mark sedikit berdehem untuk menetralisir kan kegugupannya, "Emt, gue sebenarnya tadi mau nemuin Axel, tapi kayaknya di dalam ada Dila, jadi gue nggak jadi deh!" Kata Mark berkilah dari kebenarannya.


"Oh begitu!" Jawab Alfian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Udah lah yuk ke kamar gue! Gue akan kasih tahu lo tentang rumah itu!" Ujar Mark yang mencoba mengalihkan pembicaraan, dan tentu saja dengan tujuan supaya tidak terlihat kalau Mark sedang berada di depan kamar Axel.


Mark pun berjalan menuju kamarnya, diikuti dengan Alfian yang berjalan di belakangnya.


"Untung aja Alfian nggak curiga, dan percaya sama gue!" Gumam Mark dalam batinnya.


Sesampainya di kamar milik mark.


"Gimana kak?!" Tanya Alfian yang sudah sangat penasaran ,jadi langsung menanyakan pada intinya.


"Gue dapat info kalau rumah itu sengaja di jual, dan katanya udah 2 tahun nggak di tinggali!" Jelas Mark pada Alfian.


"Hantu perempuan!" Kata Mark.


"Hantu laki-laki!" Kata Alfian.


Mereka berdua mengatakannya bersamaan. Mereka sampai bingung di buatnya dengan ucapan mereka sendiri.


"Kok lo ngomong hantu laki-laki sih? Bukannya lo pernah bilang hantu perempuan?!" Tanya Mark dengan tatapan heran mengarah pada Alfian.


"Gue perasaan nggak pernah ngomong kalau itu hantu laki-laki, orang gue tadi padi aja bilangnya wajahnya nggak terlalu jelas!" Kata Alfian sambil mendengus pelan mendengar penuturan dari kakak sulungnya itu.


"Oh, mungkin gue aja kali yang kurang fokus sama ini!" Mark tampak menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Entah kenapa setelah melihat Dila bersama dengan Axel tadi malam membuat dirinya tidak fokus, pada arah pembicaraannya mengenai kasus tentang rumah yang akan di jual itu.


"Lo lagi banyak pikiran ya kak? Kalau gitu kapan-kapan aja gimana? Lagian ini kan juga kita lakuin sesuai apa yang kita suka, jadi nggak harus di lakuin sekarang juga kok!" Ujar Alfian memberi tahu Mark.


Mark tampak mengusap wajahnya kasar, hatinya memang merasa gusar sedari tadi. Akan tetapi dia berusaha menenangkan dirinya. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada Alfian.


"Apa kita harus kasih tahu mama dulu? Kalau kita akan melakukan hal seperti ini lagi?" Ucap Alfian menyarankan untuk memberi tahu Gisella tentang apa yang akan mereka lakukan nanti.


"Sebaiknya lo jangan bilang apa-apa dulu mama, gue takut kalau sampai nanti mama nggak setuju sama keputusan kita!" Kata Mark yang malah mulai taj percaya diri, kalau Gisella akan memberinya ijin atau tidak nantinya.


"Lo kok malah jadi nggak percaya diri gitu sih Kak? bahkan kemarin kemarin kita izin ke Mama juga di bolehin kok!" kata Alfian yang mencoba membuat Mark tak khawatir akan keputusan dari Gisella nanti. Alfian sangat yakin dirinya dan kakak sulungnya itu akan mendapatkan izin untuk membantu mereka makhluk tak kasat mata.


Mark yang mendengar jawaban dari adiknya itu tampak menganggukkan kepala dan mengolah nafas panjang. " Kalau gitu lebih baik apa kabar lo gue mau istirahat sebentar, kepala gue rasanya pusing banget!" usir Mark pada Alfian dengan mencoba tak menyakiti hati Alfian.


Alfian sendiri sebenarnya tahu tentang apa yang dialami oleh Mark waktu itu. Tatapan Matk menunjukkan kalau dirinya sedang menyimpan sebuah amarah, yang tak dapat di luapkan. Dengan berjalan gontai Alfian perlahan keluar dari kamar Mark. Sesampainya Alfian di ambang pintu kamar Mark, dia sempat berbalik, "Kak Mark, kalau lo butuh apa-apa langsung ke kamar gue aja!" Ujar Alfian mengingatkan untuk datang ke kamarnya. Mendapat jawaban anggukan dari yang di ajak bicara tadi, Setelahnya Alfian langsung berlalu pergi menuju kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfian


Hari ini aku melihatnya lagi. Kalau tidak salah, mungkin sudah 3 kali ini aku melihatnya di atap rumah itu. Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu apakah dia perempuan atau laki-laki. Karena memang jarak gerbang dengan rumah itu terhalang halaman yang luas, jadi tampak kabur di penglihatan ku. Yang terakhir saat aku bertemu dengannya ,dia seakan memberiku tekanan yang membuat dadaku sesak saat itu juga. Berujung aku bisa menetralisirkan rasa sesak di dadaku dengan terus membaca sebuah doa yang pernah mama ku beritahukan padaku. Hari itu meski aku melihatnya dari jauh, tapi aku bisa merasakan tatapan matanya kala itu sepertinya ingin sekali meminta tolong padaku. Untuk menyelesaikan urusan dunianya yang memang belum terselesaikan, Mungkin.


Aku memberi tahu kaka Mark setelah sampai di depan pintu gerbang sekolah ku. Ternyata kak Mark juga sama merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin aku dan kak Mark akan membantunya, seperti yang sudah beberapa kali kita lakukan sebelum nya.


Saat itu aku juga melihat tatapan mata kak Mark yang sepertinya, dia tampak kecewa saat kak Axel membawa pergi kak Dila dengan tiba-tiba. Aku tahu mungkin usiaku belum cukup untuk mengenal apa yang namanya cinta. Namun setiap orang pasti bisa merasakan dan bisa juga menebak dari sorot mata mereka bukan?


Dan ya, aku menemukan kebenaran kalau memang kak Mark seperti cemburu melihat kak Axel bersama kak Dila pergi meninggalkan kak Mark yang masuk ke dalam gerbang sekolah.


Maka dari itu aku putuskan untuk mengalihkan pembicaraan supaya kak Mark tidak terlalu sedih memikirkan kak Dila. Aku tahu pasti kak Mark menyembunyikan ini dari siapapun, tapi aku yang memang sangat dekatnya setelah kejadian membantu makhluk tak kasat mata bersama dengan kak Mark kala itu. Aku menjadi lebih dekat lagi dengan kak Mark. Karena memang aku merasa aku satu frekuensi sama dia. Dia memiliki indra keenam yang terbuka dari lahir, dan tentu memiliki banyak pengalaman mengenai makhluk tak kasat mata.


Ya, misi pertamaku dengan kak Mark waktu itu adalah. Saat kita tak sengaja berlibur di suatu negara. Dan tanpa sengaja melihat hantu yang sepertinya bisu, dia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Tapi tatapan sendunya seperti menyayat hatiku, ingin rasanya aku membantunya, tapi apa yang bisa aku lakukan kala itu?


Sampai akhirnya kak Mark datang dan membantuku menyelesaikan semuanya. Memang pada dasarnya pengalaman yang di miliki oleh kak Mark lebih banyak dari pada aku, jadi dia langsung bisa mengerti apa yang diinginkan oleh hantu itu.


Dan apa kalian tahu apa yang terjadi waktu itu? Hantu itu menunjuk sebuah rumah yang tampaknya sudah tidak di tinggali selama berhari-hari. Hantu itu menunjukkan apa yang dia mau, dia hanya bisa menunjuk sebuah rumah. Dan apa boleh buat? Karena memang sudah terlanjut basah ya sekalian aja mandi. Dalam artian aku sudah terlanjur sampai pada tempat yang dia mau, tidak mungkin aku menyerah, tentu saja aku harus sekalian membantunya hingga tuntas.


Dan apa kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?


Aku dan kak Mark yang sudah meminta ijin pada mama kita untuk membantunya , akhirnya kita di perbolehkan untuk membantunya. Sampai pada akhirnya kita mengetahui apa penyebab hantu itu bisu. Atau lebih tepatnya dia tidak mengatakan apapun karena memang ada sesuatu yang menyumpal mulutnya. Saat aku dan kak Mark mencari tahu, ternyata dia di bunuh dan mulutnya di sumpal dengan kain yang panjangnya hampir 1 meter. Bahkan kain itu sampai masuk ke dalam rongga paru-parunya.


"Maaf tuan, telah di temukan kain yang panjangnya hampir 1 meter di dalam mulutnya. Kain itu tidak bisa di ambil dan hanya bisa di lakukan opersi saja untuk pengambilannya!" Kata dokter kala memberi tahu aku dan kak Mark mengenai kondisi pasiennya yang memang sudah tidak bernyawa.


"Lakukan operasi dok, ambil kain yang menyumpal itu!" Kak Mark menjawabnya dengan tegas. Tak ku sangka kak Mark akan sepeduli itu. Tapi bukankah hantu itu sangat bahagia dengan tindakan yang di lakukan oleh kak Mark. Tentu saja, sampai akhirnya hantu itu membuka suara setelah kain yang menyumpal di kerongkongannya itu di ambil oleh dokter. Dia tersenyum ke arahku dan juga kak Mark sembari mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih karena sudah menolongku , aku ikhlas menerima takdir kematianku ini! Aku tidak akan menuntut balas perbuatan orang yang melakukan ini, biarkan hukum dunia sendiri yang mencari tahunya! Terima kasih telah menemukanku dan membuat rohku ini jadi tenang! Selamat tinggal!!" Ucap sosok itu dengan senyumnya yang damai, lalu setelahnya menghilang begitu saja. Perlahan arwahnya menghilang hingga tak dapat lagi di lihat oleh mata.


Itulah misi pertama yang aku lakukan bersama dengan kak Mark. Tak ku sangka aku mengerti tentang suasana yang menegangkan, mengetahui banyak misteri. Hingga aku putuskan akan selalu bersama dengan kak Mark untuk membantu mereka makhluk tak kasat mata.


Oke, kita kembali ke topik awal lagi. Mengenai kak Mark, aku memergokinya mengintip dari balik pintu kamar kak Axel yang sedikit terbuka. Aku sendiri tahu kalau di dalam kamar kak Axel itu ada kak Dila di dalamnya. Aku tahu karena memang aku juga mendengar suara kak Dila samar-samar.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mendekat ke arah kak Mark yang tengah memikirkan apa, aku juga tidak tahu. Tapi dari sorot matanya, bisa di artikan dia sedang marah, namun tak bisa dirinya luapkan. Cemburu, mungkin itu kata yang pas untuk kak Mark kala itu. Sampai akhirnya aku menyadari kalau memang kak Mark sangat menyukai kakak kandungku itu, yaitu kak Dila.


Kak Mark kau tenang saja, waktu masih panjang! Dunia lo nggak akan berakhir itu aja, hanya karena kak Dila. Yakinlah kalau nantinya lo bisa dapatin kak Dila, atau kalau tidak masih banyak wanita cantik di luaran sana. Gumamku kala itu, tepatnya setelah meninggalkan kak Mark sendirian di dalam kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, tampak Axel sudah mengganti pakaiannya dan bersiap pergi bersama dengan Dila. Entah mereka akan ke mana ,tapi tentu saja mereka berdua sudah ijin sama mama Gisella dan juga mama Sindy.


Mereka menuju ke garasi untuk memilih model mobil yang akan mereka kendarai.


"Axel, mobil itu aja! Yang bagian atasnya kebuka itu!" Dila tampak menunjuk salah satu mobil di antara ratusan mobil yang ada di bagasi, dengan luar lapangan sepak bola itu.


"Iya baiklah!" Tentu saja Axel langsung menurutinya, dan langsung saja mereka menuju ke arah mobil itu dan duduk di jok mobil. Axel memang masih sekolah, tapi skillnya mengemudi tidak dapat di remehkan. Dia memiliki SIM untuk berkendara ke mana pun. Hingga saat itu mereka berdua langsung melesat pergi dengan mengendari mobil mewah berwarna merah itu, yang atapnya terbuka. Sehingga menampakkan dua remaja yang tampan dan cantik mengendarainya.


Mobil mereka perlahan melewati halaman depan hingga perlahan hilang dari pandangan mata. Entah mereka akan menuju ke mana. Namun siapa sangka ada yang melihat kepergian mereka berdua dari balik jendela yang mengarah langsung pada gerbang utama mansion keluarga besar itu. Matanya memerah hendak menangis, tangannya mengepal melihat pujaan hatinya pergi dengan pria lain. Ya siapa lagi kalau bukan Mark. Dia ingin marah tapi di urungkannya karena mengingat dia tidak memiliki hak penuh pada Dila. Dia hanya sebatas seorang saudara, atau lebih tepatnya seorang kakak bagi Dila.


"Sakit sekali!" Ucap Mark lirih sambil memegang dadanya yang terasa sesak melihat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita mau ke mana ini?!" Tanya Axel pada Dila.


"Kita nonton aja dulu yuk! Gue udah lama nggak nonton!" Kata Dila dengan keputusannya. Memang di mansion mereka sudah sudah ada bioskop pribadi. Namun tentu itu akan terasa berbeda dengan bioskop yang sering di kunjungi oleh orang lain, dan menontonnya bersama-sama dengan para pengunjung lain. Dila juga ingin merasakan berdampingan dengan orang-orang luar untuk menonton sebuah film di bioskop.


"Oke, kita ke bioskop!" Ucap Axel sembari memakai kacamata hitamnya.


"Punya gue mana?!" Tanya Dila sambil menatap ke arah Axel yang memakai kaca mata hitamnya.


Kening Axel mengernyit "Apanya?!" Tanyanya heran.


"Kacamata gue mana Axel!!" Rengek Dila sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hey, kau jadi semakin manis kalau bibirmu kayak gitu!" Ucap Axel yang malah menggoda Dila.


"Axel!!!!" Dila semakin kesal di buatnya sambil meninju pelan lengan Axel.


"Aduh, aduh hahaha iya iya jangan kayak gini dong, kan lagi nyetir! Kalau nabrak terus jatuh gimana?!" Kata Axel sambil masih terus menatap ke arah jalanan yang dia lalui bersama dengan Dila.


"Ya biarin aja! Orang jatuh juga enak kok!" Kata Dila sambil melipat tangannya merasa sebal.


Axel yang mendengar ucapan Dila pun menurunkan kacamatanya di hidung, "Sejak kapan jatuh itu enak? Emang jatuh dari mana yang enak?!" Tanya Axel sambil menaikkan satu alisnya ke atas.


Dila melirik Axel yang sedang fokus mengemudi dengan kacamata yang kini sudah dia benarkan kembali. Lalu tiba-tiba saja Dila membisikkan sesuatu di telinga Axel, "Jatuh Cinta!!" Lirihnya di telinga Axel yang membuatnya merinding seketika.


Glek,,,