Kamar 126

Kamar 126
Keputusan Mark


Mark tersenyum melihat Dila yang mulai terlelap. Terdengar suara dengkuran halus dari Dila yang menandakan dia memang sudah terlelap dalam tidur Mark.


Mark yang melihat itu tersenyum penuh arti, dengan terus mengusap lembut rambut Dila. Hatinya sangat bahagia melihat pujaan hatinya itu terlelap di pangkuannya. Sampai akhirnya Mark juga ikut terlelap dengan posisi duduk bersandar pada dipan ranjang Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di sisi lain, tepatnya Sekolah. Axel tampak gelisah memikirkan kondisi Dila yang katanya sedang tidak badan itu. Axel yang biasanya tak pernah fokus pada guru dan selalu memandang Dila. Kali ini dirinya malah semakin merasa tak ada semangat sama sekali. Dengan melihat bangku Dila yang ada di sampingnya itu kosong. Membuat hati Axel tak tenang.


Dan rasanya ingin sekali dia langsung pulang dan menemui Dila untuk menanyakan kondisinya.


"Dila, apa yang sedang terjadi sama lo? Apa lo sakit? Apa ini gara-gara kemarin? Gara-gara gue yang bawa lo pergi dan pulang malam?! Apa ini gara-gara gue, Dil?!" Batin Axel yang malah menyalahkan dirinya sendiri. Pikirannya terus melayang dan selalu menyalahkan dirinya yang kemarin membawa Dila pergi jalan-jalan tanpa ingat waktu.


Pikirkan Axel kalut, ingin segera pulang dan menjenguk Dila yang katanya sedang tidak enak badan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang sekoah,,,,


Masih di posisi yang sama, dengan Mark yang tampak terlelap itu. Memang mereka nantinya akan menjenguk Dila. Tapi baru boleh setelah Dila benar-benar sembuh, atau kalau tidak seenggaknya biarkan Dila istirahat setelah meminum obatnya.


Sampai akhirnya terlihat Axel dengan tergesa tak menghiraukan apa yang di katakan oleh mama Gisella. Dia buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu setelahnya hendak mengetuk pintu kamar Dila.


Akan tetapi Axel mengurungkan niatnya untuk mengetuk dan memilih langsung masuk begitu saja.


Ceklek,,


Suara knop pintu perlahan di buka dari luar. Tampak Axel masuk ke dalam.


Deg,,,,


Namun siapa yang menyangka kalau Axel akan melihat pemandangan yang membuat hatinya seperti teriris. Dia cemburu. Melihat Mark dan juga Dila yang tengah terlelap, dengan Dila yang berbantal kan paha Mark untuk tidur.


Mata Axel memerah menahan amarah, air mata sudah menggenangi pelupuk matanya , bahkan sudah siap untuk mengalir deras. Namun Adel harus menahannya, dan memilih untuk mengurungkan niatnya membangunkan Dila.


Axel kembali keluar dengan perlahan membuka pintu dan kembali ke kamarnya sendiri.


Selang beberapa saat kemudian, terlihat Gisella masuk ke dalam kamar Dila untuk memastikan kalau anak gadisnya itu telah beristirahat dengan baik.


Ceklekk,,,


Gisella tersenyum melihat Dila yang terlelap dengan berbantal paha Mark. Terdengar dengkuran halus dari keduanya. Lalu Gisella memutuskan untuk mendekat ke arah mereka dan membangunkan Mark.


Pov Axel


Sakit. Itu yang aku rasakan ketika melihat gadis yang aku cintai bersama dengan pria lain. Aku tahu meskipun hanya sebatas saudara saja, tapi rasa sakit ini mungkin baginya tak beralasan.


Tapi bagiku, rasa sakit ini seakan menyiksaku. Ku lihat dia dengan damai dalam pangkuan Mark. Aku berpikir, apa mungkin ini yang di lakukan Mark ketika saat bersama dengan Dila. Dila sendiri tampaknya juga tak mempermasalahkannya, jadi aku juga tak bisa melarang Dila dengan alasan rasa cemburuku ini. Kalau aku mengatakan dan menyuruhnya untuk menjauhi Mark. Nanti yang ada dia malah menjauhi aku.


Hingga akhirnya aku temukan cara yang paling benar, yaitu Diam. Biarkan luka ini hanya aku yang merasakan, aku akan diam tak bersuara kalau melihat mereka bersama.


Padahal jika di pikir-pikir aku tidak melakukan apapun pada Dila. Akankah hanya karena sebuah kecupan di pipi membuat Dila sakit? Tapi aku rasa itu mustahil!!


Di sisi lain, aku juga masih merasa bersalah karena berpikir kalau aku lah penyebab Dila jadi seperti ini. Apalagi saat makan malam di hari itu mama Gisella mengatakan kebenaran kalau Dila tidak pernah sakit sebelumnya. Itu membuat rasa bersalah dalam diriku menjadi naik. Aku merasa sangat bersalah karena telah mengajak Dila jalan-jalan hingga pulang larut.


"Maafin gue Dil!" Gumam ku lirih saat memikirkan Dila yang masih sakit.


Sampai akhirnya malam itu aku diam-diam mengunjungi kamar Dila untuk memastikan kondisi Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gisella yang sudah berada di dekat ranjang Dila pun perlahan membangunkan Mark untuk membersikan dirinya.


"Mark!" Lirih mama Gisella sambil menepuk pelan pundak Mark supaya tak membangunkan Dila yang sudah terlelap.


Perlahan Mark membuka mata dan melihat adanya Gisella di depan matanya.


"Mama?!" Ucap Mark saat melihat Gisella.


"Syuttt pelan kan suara kamu, kalau tidak nanti Dila akan bangun!" Kata Mama Gisella sambil menunjuk ke arah Dila yang masih setia tiduran di pangkuan Mark.


Mark mengerjap-ngerjapkan matanya menyadari kalau ternyata dirinya malah ketiduran saat mendapat tugas untuk menjaga Dila kala itu.


"Bersihkan tubuh kamu, ini sudah sore!!" Kata Gisella menyuruh Mark untuk segera mandi. Mark hanya tersenyum mengangguk. Lalu setelahnya perlahan mengubah posisi Dila untuk tidur di atas bantalnya sendiri.


Saat setelah beranjak dari ranjang Dila.


"Maafin Mark ya ma, malah ketiduran pas jagain Dila!" Lirih Mark saat sudah berdiri di dekat ranjang Gisella.


Gisella tersenyum lalu berkata, "Sudah sayang, mama malah mau berterima kasih sama kamu, kalau nggak ada kamu Dila pasti tidak mau makan dan meminum obatnya! Mengingat adik perempuan kamu ini orangnya sangat keras kepala!" Lirih Gisella supaya tidak membangunkan anak gadisnya.


"Oh iya kalau begitu bersihkan diri kamu dan tidur sendiri di kamar kamu, jangan lupa untuk makan malam nanti!" Lanjut Gisella lagi untuk mengingatkan Mark.


"Iya ma!"


Kemudian mama Gisella dan Mark pun keluar dari kamar Dila untuk membiarkan Dila tidur dengan nyenyak. Namun saat sudah berada di luar kamar Dila. Tiba-tiba Mark teringat kalau ada yang ingin dirinya katakan pada Gisella. Lalu menghentikan langkah Gisella.


"Ma, bisakah aku bicara 4 mata dengan mama nanti?!" Tanya Mark pada Gisella.


Setelah menghentikan langkahnya, Gisella berbalik menatap ke arah putra angkatnya itu, " Apa yang ingin kamu bicarakan sama mama? Kelihatannya serius sekali?!" Bukannya menjawab, Gisella malah balik bertanya. Tampak di sudut bibirnya terangkat dan alisnya terangkat, merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh anak angkatnya itu.


"Emt begini ma-" ucap Mark terpotong.


"Gini ya sayang, sebaiknya kamu mandi dulu, nanti setelah makan malam! Mama akan ke kamar kamu!" Kata Gisella lalu setelahnya berjalan pergi meninggalkan anak angkatnya itu.


Mark hanya bisa pasrah dan tak bisa memaksa mamanya itu untuk mendengarkan apa yang dia mau sekarang juga. Tak ada pilihan lain selain pergi ke kamarnya sendiri.


Mark bahkan tak menyadari kalau Axel diam-diam menatapnya dari kejauhan. Tatapan sendu Axel menandakan kalau dirinya tengah gelisah memikirkan Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Makan malam pun tiba, semuanya tengah berkumpul di meja makan. Seperti biasa, suasana hening terjadi karena memang mereka tidak di perbolehkan untuk berbicara ketika makan.


Sampai akhirnya makanan dari masing-masing orang telah habis. Dan baru di perbolehkan membuka suara.


"Ma, apa kak Dila belum bangun? Kenapa nggak ikut kita makan malam?" Tanya Alfian penasaran.


"Mama larang kalian untuk menemui Dila, biarkan dia istirahat sampai kondisinya pulih! Kalian tahu kan, Dila tidak pernah sakit sebelumnya!" Kata Gisella memberi tahu semua orang.


"Axel, memangnya kamu ajak Dila kemana sampai dia sakit kayak gitu?!" Tanya Sindy pada anaknya, karena yang dia tahu Dila sakit setelah keluar jalan-jalan bersama dengan Axel.


Semua mata menoleh ke arah Axel, mereka ingin jawaban dari Mark akan pertanyaan itu.


Sedangkan Axel diam, tak menjawab. Dia bingung ,dia sungguh merasa bersalah. Sampai akhirnya dia gugup untuk menjawabnya.


"Aku-" ucap Axel terpotong.


"Sudahlah ,Sin! Kita jangan salahkan Axel, bahkan ini juga sepertinya tidak ada hubungannya dengan Axel! Axel pasti juga tidak mungkin membuat Dila sakit!" Kata Gisella membela Axel.


"Tapi terakhir kali Dila pergi itu sama Axel, Sel!! Entah apa yang di lakukan dia pada Dila sampai dia sakit!" Kata Sindy yang malah ingin sekali menginterogasi anaknya itu. Karena sudah membuat Dila jadi sakit.


Axel yang tak tahan dengan cecaran itu memutuskan untuk bangkit dari duduknya, dan meminta ijin untuk undur diri.


"Maaf, Axel ke kamar dulu! Permisi!" Tanpa mendengar jawaban dari mereka yang ada di meja makan pun, Axel langsung berjalan menuju lift dan ke lantai 3.


"Axel!" Panggil Sindy yang melihat Axel langsung pergi meninggalkan mereka yang bahkan sedang membahas dirinya dan Dila.


"Sindy, sudahlah! Jangan marahi dia!" Kata Gisella, dan Sindy pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah dengan tingkah laku anak pertamanya itu.


Namun siapa sangka saat Axel telah sampai di lantai 3, dirinya memutuskan untuk pergi ke kamar Dila.


Ceklek,,,


Axel berjalan ke arah ranjang. Tampak gadis itu masih setia dengan ranjangnya, bahkan wajahnya yang biasanya ceria itu, kini tampak pucat. Dada Axel seketika sesak melihat Dila yang terbaring lemah seperti itu.


"Dila!" Lirih Axel yang tak di dengar oleh siapapun. Matanya berkaca-kaca menatap Dila yang masih terlalap itu.


Axel perlahan duduk di pinggiran ranjang Dila. Tangannya terulur dengan memegang kening Dila, masih hangat. Axel juga menyibakkan rambut Dila yang menutupi wajahnya.


Gadis itu merasa terusik dan akhirnya membuka matanya perlahan. Namun dia tidak sepenuhnya sadar, hanya sekilas saja dsn tersenyum manis ke arah Axel dengan wajah pucat nya itu.


Deg,,,


Air mata Axel menetes melihatnya, tak tega melihat Dila seperti itu, "Cepatlah sembuh, Dil! Maaf karena gue lo jadi kayak gini!" Lirih Axel lagi yang masih saja merasa bersalah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di ruang makan, mereka satu persatu mulai membubarkan diri dan pergi ke kamar mereka masing-masing.


Mark yang saat itu hendak ke kamar Dila dia urungkan, karena Mark memiliki firasat kalau Axel sedang ada di kamar Dila.


Di kamar Mark dirinya tengah duduk di balkon sambil memandang gemerlap bintang. Lalu tanpa permisi, Alfian tiba-tiba menyapanya dari balkon kamar yang berbeda.


"Kak Mark!" Panggil Alfian yang langsung membuat Mark menoleh ke arah balkon kamar Alfian.


"Alfian! Ada apa?!" Tanya Mark di seberang balkon.


"Kapan kita mulai misinya?!" Tanya Alfian yang sudah tak sabar ingin segera mengungkap sebuah misteri di rumah sering kali dia lewati ketika berangkat ke sekolah.


"Entahlah, mungkin setelah Dila sembuh! Aku yakin mama nggak akan ngebolehin kita, mengingat Dila sedang sakit!" Kata Mark namun tak menatap ke arah Alfian berada.


"Memangnya kak Dila sakit apa sih kak? Gue penasaran deh, perasaan dia kemarin baik-baik aja!" Kata Alfin penasaran.


Mark tampak menghela nafas gusar, "Gue juga nggak tahu, tapi yang pasti dia hanya demam biasa, jadi lo nggak perlu khawatir! Semoga aja besok dia udah sembuh!" Kata Mark sambil mencoba tersenyum pahit ke arah depan.


Alfian menanggapinya dengan anggukan, lalu setelahnya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Selang beberapa menit kemudian,


Ceklek,,,


Suara pintu kamar Mark di buka dan Mark yang termenung pun bahkan tak mendengar suara pintu yang di buka itu.


Ya, dia adalah Gisella. Karena ucapannya tadi sore pada Mark yang mengatakan kalau dirinya akan datang ke kamar Mark setelah makan malam.


"Mark!" Panggil Gisella dari dalam kamarnya.


Sontak Mark yang sedang termenung pun langsung terperanjat. Dan berdiri lalu hendak berjalan ke arah Gisella berdiri.


"Mama!" Ucap Mark.


"Kamu di sana saja, mama yang akan ke sana!" Pinta Gisella sembari berjalan ke arah Mark yang tengah duduk di kursi balkon. Gisella lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Mark berada.


"Nak, apa yang ingin kamu bicarakan sama mama?!" Tanya Gisella yang langsung pada intinya.


"Mark mau bahas soal tawaran mama!" Kata Mark.


"Tawaran apa nak?!" Gisella mengernyit karena dia merasa tak memberi Mark penawaran apapun.


Mark menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan, "Tawaran untuk melanjutkan pendidikan Mark ma!" Ucap Mark memberi tahu.


"Apa? Kamu serius nak?!" Tanya Gisella memastikan ucapan Mark tadi.


"Iya, ma! Setelah Mark pikir-pikir mungkin memang Mark lebih baik melanjutkan pendidikan Mark!" Ujar Mark mengulangi ucapannya lagi.


Gisella merasa senang dengan keputusan dari anak sulungnya itu. Karena akhirnya Mark mau menurut untuk melanjutkan pendidikannya yang memang sempat tertunda karena ekonominya dulu.


"Syukurlah nak, mama sangat senang mendengarnya!" Kata Gisella dengan bahagia.


"Tapi, apa mama nggak keberatan? Mark nggak mau kalau nantinya Mark malah jadi beban buat mama!" Kata Mark yang takut dengan apa yang nantinya akan terjadi. Tanpa tahu, kalau keluarga barunya itu tidak begitu memikirkan harta.


"Sudah jangan berkata seperti itu lagi, atau mama akan marah! Kamu tahu kan uang itu bisa di cari, apa kamu lupa kalau keluarga kita memiliki kekayaan yang tidak akan ada habisnya?!" Menarik nafasnya untuk melanjutkan ucapannya, "Jadi bagi kita nggak ada yang namanya beban nak! Akan lebih baik kalau kamu melanjutkan pendidikan kamu! Kamu tenang saja, semua kebutuhan kamu akan mama sama papa penuhi, apalagi kampus yang di tempati adik-adik kamu itu juga milik ayah Suho sendiri nak!" Jelas Gisella panjang lebar.


Mark tampak tersenyum mendengar Gisella yang terlihat bahagia dengan apa yang menjadi keputusannya itu.


"Kapan kamu akan ke kampus?!" Tanya Gisella.


"Mungkin waktu dekat ma, Mark ingin menunggu Dila sembuh dulu dan mungkin 1 minggu lagi ma Mark akan masuk ke universitas yang sama dengan saudara yang lain!!" Ucap Mark memberi tahukan rencana yang sudah dia pikirkan matang-matang.


Rencana kuliah yang berkedok ingin perlahan mengalihkan rasa cemburunya ketika melihat Dila bersama dengan Axel.