Kamar 126

Kamar 126
Lebih dari saudara


Dengan perlahan mungkin karena tidurnya yang terusik, Dila membuka matanya lalu manik matanya menatap Mark dengan sendu. Entah kenapa hati Mark seperti tandus saat melihat orang yang dia cintai tak berdaya seperti itu. Ingin rasanya Mark memeluknya untuk menenangkan hati dan mengatakan kalau semua pasti baik-baik saja. Tapi itu tidak mungkin Mark lakukan. Mengingat kalau dirinya tidak bisa sembarangan langsung memeluk Dila tanpa seijinnya.


"Kak Mark!" Ucap Dila lirih saat melihat Mark di sana.


"Kamu makan ya, habis itu nanti kamu minum obat!" Mark mencoba membujuknya, karena memang dari tadi saat Gisella membujuknya untuk makan. Dila selalu saja menolak.


Dila lalu perlahan mencoba bangkit dengan di bantu oleh Mark. Dirinya bersandar pada dipan ranjang. Manik mata mereka bertemu, mereka saling menatap satu sama lain. Hati keduanya seperti merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Apalagi Mark yang melihat kondisi Dila yang sangat lemah seperti itu. Membuat hati siapapun teriris saat melihatnya wajah Dila yang terlihat pucat sekali.


"Buka mulut kamu ,Dil!" Ucap Mark sambil menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Dila. Awalnya Dila terlihat enggan, namun Mark berhasil membujuknya. Tapi tunggu? Kenapa Dila memanggil Dila dengan sebutan aku kamu? Bukankah itu terlalu formal untuk mereka?


Entahlah, semenjak perasaan Mark semakin memuncak dan tak dapat di kendalikan, dirinya memilih untuk mengubah panggilan mereka. Hingga akhirnya Dila juga setuju untuk memanggil Mark dengan sebutan aku kamu.


"Kak, Mark! Apa yang terjadi padaku? Aku hanya demam biasa kan?!" Tanya Dila. Mark tersenyum kecil dan mengangguk.


Suapan demi suapan Dila makan hingga makanan itu tak tersisa lagi.


Ceklek,,,


Terdengar suara pintu di buka dari luar, lalu masuklah seorang wanita yang tak adalah mama Gisella.


Mark dan juga Dila langsung menoleh ke arah pintu, dan menatap mama Gisella yang berjalan membawa beberapa obat yang diletakkan di atas nampan.


"Dila, kamu sudah makan?!" Ucap Gisella sembari melihat piring yang telah kosong, karena sudah habis di makan oleh Dila. Gisella tampak tersenyum ke arah Mark, karena dia tahu pasti Dila makan karena adanya Mark.


"Dila sudah makan ma!" Kata Mark mewakili Dila yang hanya mengangguk karena badannya masih merasa lemas.


"Kalau begitu, sekalian kamu suruh Dila meminum obat ini , soalnya kalau mama yang suruh dia pasti menolak!" Gisella berbicara dengan melirik ke arah Dila untuk menggodanya, "Sekalian temani dia di sini ya, mama masih ada kerjaan, dan masih harus memberi tahu papa Chan tentang kondisi Dila!!" Lanjut mama Dila sembari menyodorkan nampan berisi beberapa obat milik Dila.


Tak seperti biasanya mama Gisella melakukan ini pada Mark, atau memang hanya perasaan Mark saja?


Gelagat Gisella terlihat seperti ingin memberi Mark kesempatan untuk berdua saja dengan Dila.


Tapi apapun itu Mark sangat bahagia karena bisa berada dekat dengan Dila, hanya berdua saja.


Setelah memberikan nampan berisi obat, Gisella pun tersenyum penuh arti menatap Mark. Lalu kemudian dia langsung pergi dengan berpamitan pada anak perempuannya itu. Dan di jawab anggukan saja oleh Dila.


Pintu kamar Dila pun di tutup oleh Gisella. Mark yang masih terdiam melamun pun tiba-tiba saja , suara lembut dan lemas itu membuyarkan lamunan dari Mark.


"Kak, apa yang sedang kamu lamun kan?!" Tanya Dila dengan suara yang masih lemas karena sakit.


"Eh, nggak ada yang aku lamunin kok!" Mark tersentak mendengarnya lalu dia langsung menaruh nampan itu, lalu mengambil obat milik Dila.


"Ini minumlah!" Mark pun menyuruh Dila meminum obat.


"Apa ini pahit?!" Tanya Dila polos, karena memang sejatinya Dila bahkan belum pernah sakit sama sekali. Makanya dia tidak pernah meminum obat sama sekali. Wajar jika dia tidak tahu bagaimana rasa obat itu.


"Hey, apa kamu tidak pernah meminum obat?!" Tanya Mark sambil mengernyitkan dahinya, heran. Dila menjawabnya dengan gelengan kepala.


Mark menghela nafasnya perlahan "Itu berarti kamu tidak pernah sakit, dan ini pasti baru pertama kalinya bagimu?!" Ucap Mark menerka-nerka. Namun siapa sangka tebakan Mark itu benar dan langsung di jawab anggukan oleh Dila.


"Bisakah aku tidak meminumnya, karena dulu saat Dira sakit!! Dia pernah bilang kalau obat itu rasanya tidak enak, dan pahit! Aku tidak suka kak, bisakah kau membuangnya saja?!" Pinta Dila dengan suara yang masih lemas.


Mark merasa kesal pada Dila yang malah menyuruhnya untuk membuang obat-obat itu. Namun dia urungkan untuk memarahi Dila, karena memang hatinya yang telah luluh lantah karena Dila itu. Dia kini bahkan tidak bisa marah pada pujaan hatinya itu.


"Dila, dengarkan kakak! Apa kamu mau di suruh meminum obat terus? Kamu pasti nggak mau kan? Jadi lebih baik kamu minum dan segera sembuh biar nggak di suruh sama mama buat minum obat?!" Mark mengucapkannya dengan penuh kelembutan, sehingga Dila tidak bisa menolak lagi apa yang di minta oleh Mark itu.


"Baiklah, tapi-" ucap Dila terpotong.


"Sudah, minumlah! Langsung di telan saja, jangan di rasakan oke, atau kalau tidak aku akan menyuruh dokter V untuk menyuntikkan langsung obat ini ke dalam tubuh kamu?!" Kata Mark lembut, namun tubuh Dila seketika meremang mendapat ancaman dari Mark. Meskipun dia mengucapkannya dengan lembut, tapi itu sungguh membuat Dila merinding karena ancamannya.


Dila lalu meminum obatnya, dengan langsung di telan dan menenggak air putih yang di berikan oleh Mark padanya. Benar saja, Dila tak merasakan pahit atau rasa apalah itu!


Dila tersenyum menatap Mark yang mampu membuatnya tidak khawatir lagi dengan apa yang dia rasakan.


"Kak, apa kau akan ke kamarmu?!" Tanya Dila lirih.


"Memangnya kenapa hm? Apa kamu tidak mau di tinggal sendiri? Apa kamu takut?!" Cecar Mark dengan nada sedikit menggoda Dila.


"Aku bukannya takut kak, aku cuma ingin bersama dengan kamu! Bisakah kau menemaniku tidur di sini?" Kata Dila.


Deg,,,


"Apa ini? Tidur dengan Dila? Astaga bisa gila gue kalau gini? jantung gue bahkan lebih kencang berdetak dari pada biasanya!" Batin Mark.


Perasaan Mark sangat tak bisa di pungkiri kalau dia merasa sangat bahagia, Dila seketika meminta ditemani tidur. Ingin menolak karena hati dan pikirannya saat ini sedang berbeda pendapat. Bagaimana tidak. Hati Mark mengatakan kalau dia sangat senang bisa menemani Dila tidur, akan tetapi pikiran Mark kalut kalau saja nanti dia tidur dengan Dila apa kata orang-orang di mansion? Mark tentu juga tak mau kalau sampai nantinya Axel tau dan malah memarahi Mark tentang itu.


Namun apa boleh buat, Mark tak mungkin menolak permintaan Dila. Sekarang Dila sedang sakit, tak mungkin menolak apa yang diminta oleh Dila. Bukankah orang sakit memang harus di turuti supaya dia cepat sembuh?


Kalau menolak dan membuat Dila sedih, mama Gisella pasti akan sangat marah dan kecewa pada Mark.


"Aku ingin berbicara dan bercerita padamu kak, apa kau tidak mau menemaniku? Aku juga ingin istirahat, tapi aku belum mengantuk! Jadi temani aku sampai aku terlelap!" Pinta Dila dengan wajah pucat nya.


Wajah itu membuat Mark merasa iba dan tak dapat berkilah lagi.


"Kemari lah kak!" Pinta Dila pada Mark dan menepuk sisi ranjang yang kosong, Dila sendiri masih duduk dengan bersandarkan dipan ranjang.


"Baiklah!" Mark tersenyum lalu menuju sisi ranjang yang kosong tepatnya berada di samping kanan Dila.


Mark juga ikut bersandar pada dipan ranjang Dila. Kini mereka tak berjarak, dengan Dila yang menyandarkan kepalanya pada pundak Mark. Membuat tubuh Mark seakan meremang, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Tak dapat di pungkiri hatinya kini sangat bahagia, karena setelah sekian minggu dia tak merasakan hal seperti itu.


Memang semenjak perubahan Axel. Dila malah semakin dekat dengan Axel, namun bukan berarti Dila menjauh dari Mark. Itu karena memang Axel seperti tak mau kalau Dila berada dekat dengan pria lain selain dirinya. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan apapun.


Pov Gisella


Hari itu anak perempuanku yang bernama Dila itu tak kelihatan batang hidungnya. Aku penasaran kenapa dia tak segera turun dari lantai 3 untuk makan sarapan bersama. Hari itu juga aku memutuskan untuk pergi ke lantai 3, yang tepatnya menuju kamar anak gadisku Dila. Untuk memastikan anak gadis ku yang sangat periang itu baik-baik saja.


Namun saat aku sampai di depan pintu kamarnya, aku seakan merasakan ada sesuatu yang janggal, dan seperti ada yang sedang mengganggu pikiranku. Tapi aku tidak tahu apa itu.


Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuka pintu kamar anak gadisku itu perlahan, tanpa mengetuknya lebih dulu.


Ceklek,,,


Setelah aku membuka pintu, ruangan kamar itu masih terlihat sama, rapi. Tak ada suara anak gadisku yang biasanya sangat cerewet dan periang.


Sampai aku mendapati dirinya masih bergumul dengan selimut, dan tampaknya enggan untuk bangkit dadi ranjangnya itu. Aku dekati dia dan hendak membangunkannya untuk menyuruhnya pergi ke sekolah. Karena para saudaranya yang lain memang sedang menunggunya di meja makan.


Akan tetapi aku terkejut saat merasakan tubuh anak gadisku itu panas. Ku sentuh dahinya. Dan memang benar kalau memang anak gadisku itu mungkin sedang di serang demam.


Pikiranku menjadi kalut, hatiku tiba-tiba juga gelisah. Takut terjadi apa-apa pada anak gadisku itu. Tentu saja aku takut kehilangannya. Karena memang sebenarnya ini tidak seperti biasanya. Dila, anak gadis ku itu baru kali ini mengalami sakit. Sampai aku putuskan untuk tetap berpikir positif dengan berpikir kalau Dila sakit itu, akibat dia pulang malam dan kecapekan setelah jalan-jalan sama Axel kemarin.


Aku menelpon Nadia untuk memberi tahu dia kalau Dila hari itu tidak akan masuk sekolah, karana sedang tidak enak badan. Aku juga menyuruh Nadia untuk memberi tahu Mark untuk datang membawa makanan dan juga kompres untuk Dila.


Hingga akhirnya, Mark datang ke kamar Dila dengan membawa apa yang aku minta tadi. Tapi siapa sangka Dila, anak gadisku itu sama sekali tak mau makan ketika aku sendiri yang akan menyuapinya. Lalu aku berpikir, mungkin anakku yang paling tua ini bisa membujuknya. Mengingat kedekatan dari mereka berdua yang bahkan sudah melebihi kedekatan sebagai saudara, membuat Gisella berpikir kalau Dila pasti mau jika di suapi oleh anak angkat ku itu. Mark.


Mengingat aku juga tahu apa yang sedang di rasakan oleh anak angkat ku itu. Aku tahu kalau dia memiliki rasa pada Dila yang melebihi perasaannya sebagai seorang saudara. Aku sengaja meninggalkan mereka dengan alasan ingin menebus obat yang memang sudah di resep kan oleh dokter V. Meskipun memang pada akhirnya aku juga benar-benar menebusnya, tapi setidaknya rencana ku untuk meninggalkan mereka berdua saja menjadi lancar bukan.


Hingga aku kembali dari apotek dan masuk ke kamar Dila, aku mendapati piring yang awalnya ada makanan di atasnya. Kini telah habis tak tersisa lagi, menandakan menang tak sia-sia aku menyuruh anak sulung ku itu untuk menemani dan membujuknya untuk mau makan.


Setelahnya aku memberikan obat yang aku bawa pada Mark, anak angkat sekaligus anak sulung ku. Aku tahu Dila pasti akan menolak jika aku yang menyuruhnya untuk makan. Maka dari itu aku memutuskan untuk menyuruh Mark lagi, untuk membujuknya supaya mau meminum obat.


Kembali lagi aku membiarkan Mark berduaan saja dengan Dila di kamar Dila. Aku juga sudah yakin kalau mereka tidak akan berbuat hal yang macam-macam. Mengingat Mark sudah lebih dewasa di bandingkan dengan Dila. Aku sudah sepenuhnya percaya pada Mark, dan memintanya untuk menemani Dila selama dia sakit.


Aku biarkan mereka kembali berdua saja, dengan alasan aku ingin memberi tahu suamiku, Chan tentang kondisi dari anak gadis kami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak Mark!" Panggil Dila lirih saat sudah bersandar pada pundak Mark.


"Ada apa Dil?" Tanya Mark.


"Apa begini rasanya sakit? Aku merasa lemas sekali, seperti lupa dengan apa yang sudah aku lakukan tadi malam!" Kata Dila yang membuat dahi Mark mengernyit karena heran.


"Memangnya apa yang kamu lakukan kemarin, Dil?!" Lirih Mark supaya tak menyinggung perasaan Dila tentang apa saja yang dia lakukan dengan Axel kemarin.


"Banyak kak, aku ketiduran, lalu memutuskan untuk mandi ,sampai tadi malam selesai mandi aku merasakan sakit pada bagian tubuhku, dan langsung terlelap begitu saja! Rasanya sangat dingin sekali, tidak seperti biasanya!" Kata Dila menjelaskan, yang malah membuat Mark berpikiran yang tidak-tidak. Kenapa bisa sakit semua badan Dila? Memangnya apa yang Dila lakukan bersama dengan Axel tadi malam?


Mungkin itu yang saat ini ada di pikiran Mark saat ini.


Dila lalu menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya yang tengah duduk bersandar pada bahu Mark. Lalu memeluk lengan Mark. Mark sendiri bisa merasakan panasnya badan Dila. Dan dia juga merasakan kalau Dila memang benar-benar kedinginan. Entah apa sebabnya.


"Jangan berpikir yang macam-macam kak, aku tidak melakukan apapun bersama Axel! Aku hanya mengunjungi mall dan pekan raya saja!" Jelas Dila pada Mark yang seakan tahu kegelisahan hati Mark.


Mark pun bernafas lega mendengarnya dari mulut Dila, yang mengatakan kalau Dila tak melakukan apapun dengan Axel.


Tapi kenapa Dila seakan bisa tahu apa yang sedang membuat hati Mark gelisah? Apa dia juga merasakan hal yang sama pada Mark? Akankah dia menyimpan rasa pada kakak angkatnya itu?


Hanya mereka sendirilah yang tahu perasaan mereka.


Mark lalu memberanikan diri untuk mengusap lembut rambut Dila, lalu dengan sadar dia mencium kening Dila.


"Istirahatlah Dil!" Ucap Mark dengan lembut. Dila tersenyum mendengar ucapan lembut dari Mark itu. Lalu setelahnya Dila mengubah posisinya untuk tidur di pangkuan Mark.


Mark tersenyum melihat Dila yang mulai terlelap. Terdengar suara dengkuran halus dari Dila yang menandakan dia memang sudah terlelap dalam tidur Mark.


Mark yang melihat itu tersenyum penuh arti, dengan terus mengusap lembut rambut Dila. Hatinya sangat bahagia melihat pujaan hatinya itu terlelap di pangkuannya. Sampai akhirnya Mark juga ikut terlelap dengan posisi duduk bersandar pada dipan ranjang Dila.