Kamar 126

Kamar 126
Hanya satu bulan


"Apa yang akan kalian lakukan?!" Tanya pak Satyo ketakutan setelah melihat Mark menelpon polisi.


"Apa kau mau mati sia-sia? Lebih baik kau pertanggung jawabkan hidupmu di dalam sel tahanan! Karena mati itu hanya akan menjadi jalan mudah bagimu untuk lari dari tanggung jawab mu!!" Ucap Lukas dingin.


"Meskipun di penjara sekali pun hidupku tidak akan tenang!" Ucap batin Pak Satyo.


Setelah polisi datang, mereka segera menuju ke ruang tamu. Dan menemui 5 bersaudara itu yang telah membekuk Pak Satyo.


"Permisi tuan, bisa katakan di mana letak jasad yang anda katakan di laporan telepon tadi?!" Tanya polisi yang baru saja masuk bersama beberapa polisi yang lain juga.


"Ruang bawah tanah pak! Dan juga 2 jasad lainnya yang di kubur di ruangan itu!" Ucap Mark memberi tahu, lalu dengan segera polisi mengecek ke bagian ruangan yang di katakan oleh Mark tadi.


Dan benar saja selang beberapa menit polisi yang di utus oleh atasannya itu mengatakan ada 7 jasad di ruang bawah tanah, sedangkan 2 jasad di ruang kamar. Dengan segera polisi menelpon rekannya yang lain dan juga tim otopsi untuk mengambil jasad yang sudah berupa tulang-belulang itu.


Setelah selesai, polisi juga membawa pelaku dan di masukkan ke dalam mobil polisi. Para tetangga yang mendengar suara sirine polisi langsung berhambur melihat rumah itu, yang kini sudah di tandai garis polisi.


"Maat tuan, bisakah anda ikut kami ke kantor polisi, untuk menjelaskan kronologinya!" Pinta polisi.


"Saya yang akan ikut ke kantor bersama dengan adik saya!" Jawab Alfin yang dengan senang hati ikut ke kantor polisi, dia tidak mengajak Alfian, melainkan mengajak Jeno, adik kandung Lucas.


"Kalau begitu mari ikut kami!" Kata polisi itu mempersilahkan Alfin dan juga Jeno untuk ikut.


Sedangkan Mark, Alfian dan juga Lucas pergi ke rumah sakit, untuk memastikan kebenaran mengenai tulang belulang itu.


Selang beberapa waktu, Victor dan Alfin telah datang ke rumah sakit, menyusul saudaranya dengan mengendarai taksi.


"Bagaimana?!" Tanya Mark pada Alfin.


"Seperti yang kau katakan kak, gue udah ceritain semua kronologinya pada polisi!" Jawab Alfin dengan penuh keyakinan.


"Baguslah!" Jawab Mark.


Dan benar saja, setelah beberapa jam di lakukan otopsi. Dokter mengatakan memang benar kalau tulang belulang itu memang milik istri dari Pak Satyo dan juga anaknya.


Mark memberi tahu para tim medis untuk menguburkan jasad mereka dengan layak. Mark tidak meminta apa-apa lagi selain itu. Karena memang sudah di pastikan jiwa mereka pasti sudah berada dalam lindungan iblis, bukan lindungan melainkan lebih tepatnya jeratan iblis.


Mark dan Alfian tentu tidak akan melakukannya lebih dari itu, dia akan memilih diam. Karena mama Gisella melarang keras mereka berhubungan dengan iblis. Mungkin kalau makhluk tak kasat mata, Gisella masih akan mentoleransi. Akan tetapi tidak dengan iblis. Karena bagaimana pun juga Iblis itu bukanlah main-main dan bukan lawan mereka. Gisella tidak mau kalau sampai anak-anaknya terlibat dengan iblis ,dan tidak mau kalau sampai anak-anaknya terluka.


Setelah selesai dengan apa yang mereka lakukan itu. Ternyata Mark benar-benar memastikan tulang belulang itu selesai di makamkan dengan layak.


Selesai dari pemakaman, Mereka berlima kembali naik mobil menuju ke suatu cafe untuk mengisi perut mereka.


Di cafe,,,


"Wah, kayaknya emang kalau cuma berdua doang kalian nggak bisa langsung menyelesaikan bersama!" Ucap Victor sambil meminum jus pesanannya sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang.


"Kenapa bisa gitu?!" Tanya Alfian.


"Kan kalau ada banyak orang, apalagi ngajak si dia, hal kayak tadi itu pasti mudah di atasi!" Ucap Victor lagi sambil menunjuk Lukas dengan dagunya. Mereka membahas saat tadi ada penyerangan mendadak yang di tujukan pada mereka. Namun beruntungnya ada Lukas yang ikut bersama dengan mereka tadi. Ya, memang benar mereka semua sebenarnya mampu untuk melawannya, karena memiliki bakat bela diri masing-masing. Namun akan lebih mudah lagi ketika dirinya berada mendampingi mereka semua.


"Gue setuju sama apa yang di omongin Jeno, kalau kalian ada misi lagi, gue siap bantu! Tapi bukan buat berurusan sama hantu, ya buat jaga-jaga aja kayak tadi!" Kata Lucas yang malah ingin membantu Alfian dan Mark.


Mereka berlima pun akhirnya sepakat untuk melakukan misi bersama, ketika ada yang membutuhkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di sisi mereka yang sedang makan di cafe, kini Dila yang sudah sembuh dari sakitnya pun mulai melanjutkan belajarnya secara pribadi di kamar. Dia tidak mau kalau sampai ketinggalan pelajaran karena sakit beberapa hati itu.


Ceklek,,,


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Dila tak menggubris dan melihat siapa yang datang itu. Dia masih terus fokus mengerjakan beberapa tugas yang memang sudah sangat menumpuk. Meskipun guru menyuruh untuk tidak perlu mengerjakan semuanya. Namun Dila yang keras kepala akhirnya memutuskan untuk mengerjakan semua tugas yang di berikan semasa dia libur karena sakit.


"Dila!" Panggil seseorang dengan suaranya yang lembut.


Dila menoleh ke arah sumber suara itu, dan menatap pemilik suara dengan senyumannya, "Axel?!" Kata Dila melihat Axel yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


"Dila, ini aku bawakan kamu susu! Cepatlah tidur!" Ucap Axel sambil mengelus puncak kepala Dila. Dila sama sekali tidak merasa terusik dengan Axel yang mengusap lembut rambutnya. Dia malah semakin melebarkan senyumannya lalu berkata, "Axel ,temani gue tidur malam ini!" Kata Dila memohon.


"Ma-maaf Dil! Untuk hati ini gue nggak bisa temenin lo!" Kata Axel menolak, namun dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia mau menemani Dila tidur.


Dila yang mendengarnya tampak memudarkan senyuman di wajahnya. Dia terlihat kecewa dengan jawaban yang di berikan oleh Axel tadi. Memang baru kali ini, Axel menolak tawarannya untuk menemani Dila tidur.


Akan tetapi dia sudah terlanjut berjanji pada papanya,


Pov Axel.


Hari itu aku datang kembali ke kamar Dila hanya untuk mengantarkan segelas susu. Tampak terukir senyum di bibir indahnya. Melihat aku membawakannya segelas susu, dia tampak senang. Entah senang karena susu yang ku bawa atau senang karena bertemu denganku.


Aku tak berani bertanya padanya tentang kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu, saat kita berdua pergi untuk jalan-jalan. Aku tidak mau dia sedih karena bersamaku dia malah sakit seperti itu.


Malam itu dia juga menginginkan tidur dengan di temani olehku, namun sayangnya aku menolaknya dengan halus. Seketika raut wajahnya berubah suram, mendapat penolakan dariku. Sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar ingin menemaninya, akan tetapi aku masih ingat dengan jelas larangan papa untuk menjauhi Dila sementara.


Aku sempat menepis pikiran itu, dan memutuskan berpikir lalu mengingat kejadian saat aku pergi jalan-jalan bersama dengan dia. Aku takut dia malah ilfil atau trauma karena pergi bersama denganku. Apalagi mengetahui kalau Dila tidak pernah sakit sebelumnya, itu membuat aku semakin tidak percaya diri untuk selalu ada di dekatnya.


Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan Dila karena suatu alasan dari papa Byun.


Flashback on,,,


"Axel, papa ingin bicara empat mata denganmu! Temui papa di ruang kerja papa!" Pinta papaku kala hari sudah mulai larut.


Dengan hati yang tak begitu tenang. Aku memutuskan untuk menurut saja dan ikuti apa yang diinginkan oleh papa saat itu.


"Ada apa pa?!" Tanyaku saat aku sudah sampai di ruangan papa.


"Katakan sama papa, kenapa Dila bisa sampai sakit? Apa yang kamu lakukan padanya?!" Tanya papa tegas, dengan sorot mata dingin.


Aku menelan saliva ku dengan kasar lalu perlahan mengatakan ,"Aku tidak melakukan apapun pa!" Jawabku dengan menunjukkan kebenaran.


"Lalu kenapa bisa Dila sakit saat bersama denganmu? Mengingat dia dari kecil tidak pernah sakit Axel!" Benar kata papa, di sini papa juga heran kenapa bisa Dila yang tak pernah sakit, tiba-tiba saja sakit. Bahkan saat setelah pergi jalan-jalan denganku. Siapapun itu pasti juga akan menyalahkan aku atas semua ini. Karena mereka memang tahunya aku yang pergi bersama Dila sebelum dia sakit seperti itu.


Aku bahkan sempat berpikir, akankah hanya dengan mencium pipinya itu membuatnya sakit?


Haish, tapi itu tidak masuk akal bukan?


Mana ada yang seperti itu?


"Axel, kamu tidak melakukan hal yang macam-macam kan sama Dila?!" Tanya papa yang mengarah pada pembicaraan yang intim. Tentu saja aku terkejut mendengarnya, bagaimana bisa papa berpikir sampai sana. Mengingat pipi ku hanya di kecup oleh Dila saja rasanya sudah ingin melayang ke awan. Apalagi berbuat intim? Itu sangat tidak mungkin. Karena aku juga tahu batasan ku.


"Pa, bagaimana mungkin papa berkata seperti itu? Apa papa sudah mulai tidak mempercayai anak papa sendiri ,pa?' tanya ku yang hendak tersulut emosi karena ucapan papa tadi.


"Lalu kenapa bisa Axel!!" Papa masih saja terus menginterogasi ku dengan cecaran pertanyaan yang sama. Bahkan ku lihat wajahnya mulai memanas karena frustasi.


Sampai akhirnya dia menghela nafas lalu berkata, "Pergilah dan temui Dila!! tanyakan kondisinya bagaimana! Dan satu lagi, kamu harus mengingat ini!!!" Kata papa yang menggantung ucapannya dan malam membuatku semakin penasaran di buatnya.


"Apa yang harus aku ingat pa?!" Tanyaku yang sudah tak sabaran ingin mendengar lanjutan dari ucapan papa tadi.


"Hindari Dila beberapa hari terakhir ini! Usahakan jangan sampai kamu mau untuk tidur dengannya, bahkan menemani saja jangan!!" Pinta papa yang membuat tanganku gemetar dan hatiku rasa nya seperti tersambar petir di siang bolong, bak ombak yang menerpa karang dengan kuatnya. Aku bingung kenapa papa malah melarang apa yang sudah sering aku lakukan bersama Dila?


"Pa kenapa syarat yang papa ajukan seberat ini? Apa papa tidak ingat kalau aku sering sekali tidur satu kamar dengan Dila setelah Dira tiada pa!" Kataku mencoba membuat papa mengerti dengan maksudku.


Papa mendekatiku lalu memegang kedua pundak ku, "Nak, kalau kau ingin Dila segera sembuh, maka turuti apa yang papa inginkan, setidaknya lakukan selama satu bulan penuh! Jangan sampai kamu melanggarnya!" Pinta papa lagi.


Mataku memerah, seakan buliran bening yang sedari tadi menumpuk telah berdatangan untuk segera di runtuh kan dari tempatnya. Aku menunduk, mencoba menstabilkan semua ucapan papa yang masih terngiang di telingaku.


Lalu dengan berat hati aku menyetujui apa yang papa mau, aku akan menghindari Dila jika dia memintaku untuk tidur bersama denganku. Hanya satu bulan, ya! Hanya satu bulan lamanya. Aku yakin kalau aku bisa!.


Flashback off


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mark dan saudara yang lain telah sampai di kediaman mereka. Wajah mereka tampak bahagia karena sudah membantu para hantu itu ,untuk di istirahatkan dengan layak.


Meskipun arwah mereka akan tetap terjerat dengan iblis. Akan tetapi setidaknya Mark sudah melakukan apa yang dia mampu.


"Loh, anak-anak kalian ini dari mana?!" Tanya Mommy Jeni yang kebetulan saat itu sedang berada di ruang tamu, sambil membaca buku.


Jeni menatap anak-anak itu penuh selidik, karena tak kunjung ada jawaban. Lalu pandangan mata Jeni mengarah pada anak pertamanya, ya tentu saja itu Lucas. Tampak di baju jaket yang Lukas kenakan ada noda darah. Sebenarnya itu hal yang biasa Jennie lihat pada anaknya, mengetahui anaknya adalah sang king mafia pengganti Daddy nya.


"Biasa ma, nantangin maut!" Jawab Lukas bercanda sambil terkekeh.


"Haish, jangan berkata seperti itu! Ayo katakan sama mama!! Apa yang telah kalian lakukan hm? Apa kalian habis bertarung dengan musuh? Tapi kenapa hanya Lucas saja yang tampak sangat kotor?!" Tanya Mommy Jennie penasaran dengan masih menatap anak pertamanya itu.


"Maafkan kita ma, tadi kita berlima sud-" kata Mark terpotong dengan datangnya Gisella.


"Loh anak-anak kalian dari mana? Kenapa rame-rame kayak gini?!" Tanya Gisella yang juga tak kalah penasaran, karena tadi tak sengaja mendengar percakapan dari Jennie dengan anak-anak tadi.


"Mama!" Kata Mark melihat kedatangan Gisella.


"Nah Alfian itu hidung kamu kenapa hm?!" Cecas Gisella saat melihat hidung Alfian. Meskipun tak ada bekasnya, namun Gisella seakan tahu apa yang telah terjadi pada anak-anaknya itu.


"An-anu ma itu tadi-" ucap Alfian terbata lalu di potong oleh Gisella.


"Hmt, jadi kalian tadi melakukan apa hm?!" Tanya Gisella lagi memastikan, dirinya ingin anak-anaknya jujur padanya tentang apa yang baru saja mereka lakukan dan alami.


Mark menghela nafasnya lalu berkata, "Maafkan kita ma, maaf karena kita nggak ijin sama mama soal bantuin makhluk tak kasat mata!" Mark mengucapkannya dengan menunduk. Memang benar mereka sama sekali tidak mengatakan apapun, apalagi meminta ijin pada Gisella soal membantu makhluk tak kasat mata.


Gisella berjalan mendekat ke arah Mark dan juga Alfian berada, "Hey, tidak perlu menunduk seperti ini! Yang penting kalian tidak melakukan hal berbahaya yang sudah mama larang itu! Jadi mama tidak akan marah pada kalian!" Ucap Gisella yang membuat Alfian dan Mark menatapnya dengan mata yang berbinar, lalu setelahnya memeluk Gisella dengan hangat.


"Makasih ma!" Ucap Alfian dan Mark bersamaan.


"Kalau begitu cepat bersihkan diri kalian semua, kita makan malam bersama nanti!" Ucap Gisella menyuruh para anak-anak untuk mandi dan bersiap untuk makan malam. Padahal hari masih sore.