Kamar 126

Kamar 126
Tidak enak badan


Pov Axel


Hari itu adalah hari paling bahagia yang pernah aku alami setelah sekian lama di tinggal oleh pujaan hatiku, Dira. Entah kenapa rasanya aku malah justru menyukai Dila yang memang awalnya berniat membuatku kembali tersenyum. Aku yang berubah menjadi dingin setelah ditinggal oleh Dira. Saat itu mendadak meleleh dengan cara yang di berikan oleh Dila. Aku seperti terhipnotis dengan dirinya yang selalu membuatku tersenyum.


Aku bahkan pernah berpikir apakah memang Dila itu pengganti Dira? Karena mengingat wajahnya yang begitu mirip dengan Dira. Aku tak dapat berpikir jernih ketika bersamanya.


Awalnya ku pikir aku hanya bisa membuka hatiku karena ucapannya waktu itu. Dan aku memutuskan menutup hati setelah kepergian Dira. Namun nyatanya aku salah, perasaan yang sama itu datang lagi terhadapku. Menghampiriku seakan ingin menyapa dan memiliki seutuhnya.


Aku menyadari kalau aku memang menyukai Dila. Tapi perlahan rasa seperti getaran di hati yang membuat jantungku selalu berdegup dengan kencang. Membuatku ingin terus berada dekat dengannya. Dan aku menyimpulkan kalau aku ternyata mencintai Dila.


"Lo harus jadi milik gue Dil!" Kata ku kala itu.


Hari ini bahkan aku merasa sangat bahagia bisa jalan-jalan berdua saja dengan Dila. Mengingat sangat sulit untuk mencari waktu berdua dengannya, karena memang pasti adik-adik bungsu yang lain pasti ingin ikut jika itu masalah menyangkut bepergian. Itu membuatku tak nyaman jika harus bersama banyak orang, padahal aku sedang ingin mengobrol berdua saja dengan Dila.


Saat itu aku memang sengaja mengajaknya hanya berdua. Dila juga menurut saja dengan apa yang aku minta.


Bahkan aku sempat terkejut ketika hendak mengganti pakaianku, tiba-tiba saja Dila datang dan langsung masuk begitu saja ke dalam kamarku tanpa permisi. Namun sebenarnya itu sudah menjadi hal yang biasa bagiku, mengingat Dila juga sering tidur di kamarku. Benar-benar mirip sekali dengan Dira, pujaan hatiku atau lebih tepatnya saudara kembar Dila.


Namun jujur saja tak pernah sedikit pun aku melupakan Dira yang ada di masalalu ku. Hanya saja aku sedikit merubah pola pikir dan mencoba mengikhlaskan kepergian Dira yang sangat mengenaskan itu.


Aku gemas dengan wajah Dila ketika keceplosan ingin aku menciumnya. Dan akhirnya reflek saja aku langsung menciumnya. Jujur hatiku merasa sangat bersalah ketika menciumnya dengan tiba-tiba tanpa persetujuan darinya kala itu. Hingga aku memutuskan untuk meminta maaf pada Dila atas kelancangan yang sudah aku lakukan.


Tapi siapa tahu kalau Dila justru tak menolaknya dan sama sekali tidak marah atau bahkan kecewa padaku. Hingga saat di pekan raya, tepatnya saat menaiki bianglala. Aku malah mendapat balasan kecupan di pipi kanan ku. Ahh,,,,rasanya masih seperti mimpi. Seakan belum aku mengungkapkan perasaanku, justru Dila membalasnya.


Akan tetapi aku merasa bingung ,aku takut kalau nantinya aku mengungkapkan perasaanku ini, Dila justru menjauh. Aku takut dia tidak menerimaku dan justru malah mengira kalau dia hanya menjadi pelampiasan ku ketika Dira telah tiada. Tentu aku tidak mau itu terjadi.


Jadi aku urungkan niatku untuk menjadikannya kekasihku, aku akan tetap menjalaninya seperti ini. Meskipun tanpa ikatan tapi setidaknya aku selalu ada bersama dengannya ,begitu juga sebaliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, seperti biasanya mereka semua menjalani aktivitas masing-masing. Tapi hari itu tampaknya Dila sedang tidak enak badan.


"Loh Dila di mana ma? Kok nggak ikut sarapan?!" Tanya Axel yang tak melihat adanya Dila di meja makan.


"Biar mama cek dulu!!" Kata Gisella lalu setelahnya langsung berjalan menuju ke kamar Dila, "Oh iya, kalian mulai makannya dulu saja!" Kata Gisella menyuruh untuk memulai sarapan pagi.


Gisella langsung menuju ke kamar anak perempuan satu-satunya itu.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Dila yang di ketuk oleh Gisella. Namun tak ada jawaban dari dalam, membuat Gisella penasaran lalu memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar Dila.


Ceklek


Gisella melihat anak perempuannya itu masih berbaring di ranjang dengan nyamannya. Gisella menggelengkan kepalanya melihat itu, lalu berjalan mendekat ke arah Dila. Duduk di tepi ranjang Dila hendak membangunkan Dila.


Deg,,,


Alangkah terkejutnya Gisella saat mendapati badan Dila yang panas dan merasa ada yang aneh pada anaknya itu.


"Astaga, kenapa badan kamu panas sekali nak!" Kata Gisella khawatir, "Dila sayang, ayo bangun! Apa kamu sakit?!" Kata Gisella membangunkan Dila yang masih terlelap dan enggan untuk bangun.


Gisella kemudian memutuskan menelpon Nadia yang berada di meja makan. Nadia sendiri yang melihat adanya panggilan masuk dari Gisella tampak mengernyitkan dahinya.


"Nadia, bilang sama anak-anak yang lain kalau hari ini Dila tidak akan masuk ke sekolah! Dan juga suruh Mark kemari untuk membawakan kompres dan makanan untuk Dila!!" Ucap Gisella dari balik telepon.


"Iya baiklah!" Jawab Nadia singkat dan mencoba bersikap biasa saja dan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang kondisi Dila.


Telepon pun langsung di matikan secara sepihak oleh Gisella lalu kemudian pandangan matanya beralih pada anak perempuannya yang masih berbaring itu.


Gisella juga sempat menelpon dokter V untuk datang ke mansion dan memeriksa keadaan Dila saat itu. Karena bagaimana pun juga dirinya nggak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama anak perempuan satu-satunya itu. Dia sangat trauma akan kejadian naas yang telah terjadi pada Dira.


"Nak, apa yang kamu rasakan?!" Tanya Gisella memastikan.


"Badan Dila sakit semua ma, dan rasanya nggak enak banget!" Ucap Dila memberitahukan apa yang sedang badan dia rasakan.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi malam bersama Axel, sampai kamu jadi sakit begini sayang?!" Gisella mulai khawatir karena memang setahu dia Dila sakit setelah pergi kemarin dan baru pulang larut malam.


"Cuma masuk angin biasa aja kok ma, mama nggak usah khawatir! Nanti pasti juga sembuh kalau udah minum obat!" Dila mencoba menenangkan mamanya supaya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Sudah kamu tiduran aja, mama akan jagain kamu di sini! Sambil nunggu Mark dan Dokter V datang ke sini!" Peringat Gisella pada anaknya itu. Dan di jawab anggukan oleh Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di meja makan, semua orang tampak sedang menikmati sarapan pagi mereka. Tanpa adanya suara yang saling keluar dari mulut mereka. Sampai akhirnya terdengar dering ponsel dari Bunda Nadia yang membuat semua pandangan menoleh ke arah Bunda mereka itu.


"Iya baiklah!" Ucap Bunda Nadia setelah menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa bunda? Apa terjadi sesuatu?!" Tanya Brian yang akhirnya angkat bicara.


"Brian, lanjutkan sarapan kamu dan kalian semua juga! Ingat jangan ada yang berbicara saat kita sedang makan!" Kembali Nadia mengingatkan kepada semua anak-anak mereka untuk tidak berbicara saat berada di meja makan.


Semua juga tampak tenang saat sarapan pagi itu, apalagi setelah Nadia menegur Brian yang membuka suara ketika mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Meskipun sarapan dengan tenang, namun mereka tampaknya sedang di landa rasa bingung, bagaimana tidak? Tentu saja mereka begitu bingung dengan apa yang kini di lakukan oleh Dila. Mengetahui mama Gisella yang katanya akan memanggil Dila tak juga kunjung datang.


Setelah selesai sarapan,,,


"Bunda, Dila mana sih?!" Tanya Axel yang tak kunjung melihat keberadaan Dila.


"Dila sedang tidak enak badan nak, jadi mungkin Dila tidak akan masuk hari ini!" Kata Bunda Nadia memberi tahu anak-anak yang lain.


"Apa??? Dila sakit??" Axel tampak langsung khawatir mendengar hal itu, apalagi itu tentang Dila, "Axel mau jenguk Dila dulu!" Kata Axel yang hendak beranjak dari duduknya.


"Eh eh kamu mau kemana?" Sindy tampak menghalangi langkah anaknya itu untuk pergi menuju ke lantai 2. Tepatnya ke kamar Dila.


"Sudah, nanti saja pas pulang sekolah! Ini kalian sudah mau telat! Dila akan kita jaga dengan baik! Kamu tenang saja!!" Kata Sindy yang melarang Axel saat hendak menemui Dila. Bukan tidak boleh, tapi karena memang sudah saatnya mereka masuk ke sekolah. Karena saat itu sudah sangat mepet jam sekolah mereka. Tentu para orang tua tidak menginginkan anak-anak mereka sampai terlambat untuk datang ke sekolah.


"Tapi, ma-!" Ujar Axel terpotong.


"Axel, jangan bantah apa yang di katakan oleh mama kamu! Lebih baik kalian semua segera berangkat ke kampus dan sekolah! Sebelum kalian terlambat!!" Ucap Leon dengan tegas dan membuat Axel, mau tidak mau dan dengan berat hati menuruti apa yang sudah menjadi keputusan dari Daddy Leon.


Mereka pun berangkat ke kampus dan juga sekolah setelah berpamitan dengan para orang tua.


Tampak Mark yang hendak mengantar mereka pun di panggil oleh bunda Nadia. Lalu bunda Andia menyuruh Alfin untuk mengantar adik-adik mereka ke sekolah, karena ternyata Alfin hanya ada kelas siang di hari itu.


Berbeda dengan Mark yang di suruh oleh Nadia tadi langsung menghampiri Nadia. Tak dapat di pungkiri, Mark sangat khawatir akan kondisi Dila saat ini. Dirinya ingin sekali menjenguk Dila saat itu. Tapi dia malah di panggil oleh bunda Nadia. Lebih tepatnya setelah mereka semua sudah keluar dari mansion dan menuju ke sekolah juga kampus.


"Ada apa Bunda?!" Tanya Mark setelah berada tepat di hadapan bunda Nadia.


"Kamu antar kan makanan ini ke kamar Dila ya, nanti bunda akan menyusul ke sana setelah menunggu dokter V datang!" Perintah Bunda Nadia pada Mark.


Mark sendiri yang mendengar perintah itu pun langsung membulatkan mata, merasa keberuntungan saat ini berpihak padanya. Bagaimana tidak? Tuhan sekarang menjawab apa yang dia inginkan untuk menjenguk Dila yang sedang tidak enak badan itu.


Dengan hati yang berbunga, Mark menyambut nampan yang di berikan bunda padanya. Dengan tersenyum penuh arti, Mark tampak berjalan menuju ke kamar Dila. Tak hanya makanan, di nampan itu juga ada kompres khusus untuk Dila nantinya.


Di dalam lift pribadi yang ada di mansion itu. Mark bahkan tak pernah menurunkan senyumannya. Dia merasa sangat senang karena akan bertemu dengan Dila, meski dengan cara yang seperti itu. Tapi setidaknya dirinya bisa bertemu dengan Dila.


"Dila, semoga kamu cepat sembuh setelah memakan ini!" Gumam Mark lirih sambil memandang nampan berisi makanan untuk Dila itu.


Tak butuh waktu lama, karena hanya di lantai 3 saja. Setelah keluar dari lift Mark langsung berjalan menuju ke kamar Dila , yang tepatnya ada di dekat kamar Mark.


Tok tok tok


Gisella yang berada di dalam kamar Dila pun mendengar ketukan pintu itu, "Masuk!" Perintah Gisella pada orang yang ada di balik pintu.


Ceklek


Pintu pun di buka dari luar. Ya tentu saja itu adalah Mark yang membawa nampan berisi makanan dan juga kompres untuk Dila.


"Mark!" Sapa Gisella saat melihat Mark memasuki kamar Dila.


Mark berjalan mendekat ke arah Gisella dan Gisella, "Mark di suruh sama bunda untuk membawa ini ke sini!" Kata Mark memberi tahu.


"Iya nak, mama yang menyuruhnya!" Kata Gisella. Lalu dirinya mengambil kompres dari nampan itu dan meletakkan di kepala Dila.


"Dila sakit apa ma?" Tanya Mark penasaran.


"Dila kayaknya demam Mark, mama juga nggak tau pastinya, tapi sebentar lagi dokter V akan datang buat memeriksa kondisi Dila!" Jelas Gisella.


"Dila, kamu makan ya ,Dila sayang!" Kata Gisella sambil menyodorkan sendok berisi nasi. Dila menggeleng. Namun tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki, yang tak lain adalah Nadia dan Dokter V yang masuk ke dalam kamar Dila.


"Dokter V? Tolong periksa Dila!" Ucap Gisella meminta bantuan pada dokter V untuk memeriksa kondisi dari Dila.


"Baiklah!" Kata dokter V lalu setelahnya memeriksa kondisi Dila.


Setelah beberapa menit kemudian, dokter V mengatakan apa yang sedang di alami oleh Dila.


"Apa yang terjadi pada Dila dok?!" Tanya Gisella yang merasa cemas dengan kondisi dari Dila, bukan hanya dia saja tapi Nadia dan Mark juga sangat mengkhawatirkan kondisi Dila.


"Kalian tenang saja! Dila hanya demam biasa, tadi aku sudah menyuntikkan obat penurun demam, dan aku sarankan supaya kalian menebus obat ini!!" Ucap Dokter V yang saat itu juga tampak memberikan resep obat pada Gisella untuk di tebus di apotek. Gisella langsung menerimanya.


"Dan aku sarankan untuk jangan sampai telat makan, dan berikan obatnya pada Dila supaya dia mau meminumnya!" Kata Dokter V melanjutkan ucapannya tadi.


"Iya dok terima kasih!" Jawab Gisella sembari tersenyum ke arah dokter V.


"Kalau begitu aku permisi!" Dokter V pun keluar dengan di antar oleh bunda Nadia, sehingga hanya menyisakan Gisella, Mark dan juga Dila di kamar itu.


"Dila kamu dengar kan apa yang di katakan sama dokter V tadi? Kamu harus makan dan minum obat kamu nanti oke!" Pinta Gisella pada anaknya itu yang tadi sempat menolak saat di suapi oleh Gisella.


Namun tiba-tiba saja Gisella teringat kalau di sana ada Mark. Gisella juga bisa saja meminta tolong Mark untuk menemani Dila atau bahkan untuk menebus resep obat yang tadi di berikan oleh dokter V. Akan tetapi tampaknya Gisella memiliki rencana , supaya Dila bisa dekat lagi dengan Mark. Gisella juga sempat berpikir, mungkin kalau dengan Mark yang menyuapi Dila, dirinya akan mau memakan makanannya.


"Biar Mark aja ma yang tebus obat itu!" Kata Mark dengan menyarankan untuk menebus obat di apotek terdekat. Namun Gisella menolaknya dengan alasan, dirinya nanti juga akan bertemu dengan seseorang nantinya.


Mark tampak pasrah dengan apa yang sudah menjadi keputusan dari mamanya itu.


Gisella pun langsung mengambil tas miliknya lalu berjalan cepat meninggalkan Mark dan juga Dila.


Tapi sebelum Gisella benar-benar pergi dari kamar Dila itu, Gisella sempat berjalan dengan melewati Mark yang ada di sana. Lalu sempat juga mensejajarkan posisinya di samping Mark.


Puk puk


Gisella menepuk pelan pundak Mark.


"Sayang, mama titip Dila sama kamu ya sebentar!! Suruh dia makan dan hibur dia! Katakan sebelum minum obat dia harus makan!" Kata Gisella dengan lirih yang mampu membuat Mark terkejut, namun masih bisa mencoba untuk biasa saja di hadapan mama Gisella.


Mark langsung menoleh ke arah Gisella sekilas. Dan benar saja, Gisella tersenyum penuh arti. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Mark dan Dila yang ada di kamar itu.


Mark seakan mendapatkan sebuah kebahagiaan, karena tampaknya Gisella memang sengaja menyuruh dirinya untuk menemani Dila yang sedang sakit itu.


Mark juga memang sudah sangat merindukan saat berduaan dengan Dila. Yang entah kapan terakhir kali saat mereka hanya berdua saja kala itu. Setelah Gisella pergi dari kamar itu. Mark langsung berjalan mendekat ke arah Dila berada. Tampak sekali wajah sendu Dila yang kini sedang menutup matanya itu.


Mark lalu duduk di tepian ranjang Dila. Mengusap lembut pipi Dila agar dirinya bangun untuk memakan makanannya.


Dengan perlahan mungkin karena tidurnya yang terusik, Dila membuka matanya lalu manik matanya menatap Mark dengan sendu. Entah kenapa hati Mark seperti tandus saat melihat orang yang dia cintai tak berdaya seperti itu. Ingin rasanya Mark memeluknya untuk menenangkan hati dan mengatakan kalau semua pasti baik-baik saja. Tapi itu tidak mungkin Mark lakukan. Mengingat kalau dirinya tidak bisa sembarangan langsung memeluk Dila tanpa seijinnya.


"Kak Mark!" Ucap Dila lirih saat melihat Mark di sana.