Kamar 126

Kamar 126
Bioskop


Axel yang mendengar ucapan Dila pun menurunkan kacamatanya di hidung, "Sejak kapan jatuh itu enak? Emang jatuh dari mana yang enak?!" Tanya Axel sambil menaikkan satu alisnya ke atas.


Dila melirik Axel yang sedang fokus mengemudi dengan kacamata yang kini sudah dia benarkan kembali. Lalu tiba-tiba saja Dila membisikkan sesuatu di telinga Axel, "Jatuh Cinta!!" Lirihnya di telinga Axel yang membuatnya merinding seketika.


Glekk,,,


Axel yang mendengar itu pun langsung menelan saliva nya dengan susah payah. Merasa Dila sudah menggodanya, bahkan Axel sendiri seperti mati kutu. Tak dapat lagi menjawab ucapan Dila.


Dila yang melihat itu pun terkekeh melihat Axel yang tampaknya malah tak dapat berkata-kata setelah dia goda, dengan ucapan seperti itu tadi.


"Pffffff hahaha, lo lucu banget sih Axel! Lihatlah muka lo sampai merah gitu!" Gelak tawa Dila terdengar ketika melihat pipi Axel yang tampak merona di buatnya.


Axel yang memang benar-benar merasa malu itu pun langsung menepikan mobilnya. Dia menghentikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Dila heran kenapa Axel malah berhenti di tempat sepi seperti itu.


Dila yang awalnya masih tertawa akhirnya bingung dan terdiam, "Loh kok berhenti?" Tanya Dila penasaran kenapa Axel malah menghentikan mobilnya.


Dila melihat ke arah Axel. Axel tampak membuka kacamata nya dan menatap Dila dengan intens, membuat hati Dila berdesir. Tatapan itu yang memang biasa Axel berikan pada Dila. Tapi kali ini Axel tampak sedikit memperdalam penglihatannya menatap manik wajah Dila. Perlahan wajah Axel mendekat ke arah wajah Dila.


Dila yang melihat itu, tak dapat berkata apapun. Tatapan mata Axel seakan menghanyutkan dirinya kala itu.


Hingga tak terasa kini jarak antara wajah Axel dan Dila hanya berjarak 5 cm saja.


"Pffffff, hahaha!" Axel langsung gantian tergelak melihat wajah Dila yang langsung merona, "Lihatlah, pipi lo yang sekarang merona bukan?"


"Ish!!!" Kesal Dila pada Axel yang ternyata hanya mempermainkannya. Dila langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, karena merasa kesal dengan Axel.


"Apa lo mikir kalau gue bakal cium lo?!" Tanya Axel, namun Dila tak menjawabnya, dia masih diam karena merasa kesal dengan Axel.


"Lo tenang aja, Dil! Gue nggak akan cium lo sebelum lo sendiri yang ngebolehin gue buat nyium lo!" Kata Axel yang mulai menghentikan tawanya, dan kini berganti pada mode serius membuat Dila sedikit mengurangi rasa kesalnya.


"Haish, terus kenapa nggak lo cium aja langsung!!!" Kesal Dila yang malah keceplosan. Wajahnya semakin memerah, dia tampak gelagapan dengan apa yang dia ucapkan tadi. Merasa bodoh karena sudah sampai mengatakan hal seperti itu pada Axel. Dila merutuki dirinya sendiri.


Sedangkan Axel yang mendengarnya malah tersenyum penuh arti. Axel malah semakin gemas melihat Dila yang salah tingkah di depannya itu.


"Ma-maksud gue itu ta-tadi-!"


Cup,,,,


Sebuah kecupan di pipi membuat Dila menghentikan ucapannya yang gelagapan. Dila sendiri terkejut dan langsung membulatkan matanya, saat dirinya mendapat kecupan di pipinya. Axel benar-benar akan membuatnya semakin gila, kalau terlalu lama bersama dengannya.


Dila yang masih diam menatap ke arah depan dan melamun ,karena masih syok. Axel mencium pipi kanannya secara tiba-tiba.


"Maaf!" Kata Axel pertama kali untuk membuyarkan lamunan Dila.


Dila perlahan menoleh dan dahinya mengernyit heran, kenapa minta maaf? Apa yang di lakukan Axel sampai dia meminta maaf seperti itu?


"Maaf?!" Tanya Dila heran sambil menatap ke arah Dila.


Axel tampak tersenyum lalu berkata, "Maaf karena sudah mencium pipi lo tampa ijin! Habisnya lo gemesin!" Katanya lalu kembali tersenyum kecut merasa bersalah. Lalu Axel mengusap lembut rambut Dila.


Dila yang mendengar itu malah terbengong, dia bingung harus menjawab apa. Apa benar kalau mencium pipi itu kesalahan yang sangat besar? Sampai-sampai wajah Axel merasa bersalah seperti itu?


Axel lalu kembali menancap gas untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke gedung bioskop. Sedangkan Dila malah memegang pipinya yang tadi di cium oleh Axel. Bahkan dia senyum-senyum sendiri nggak jelas mengingat kejadian tadi. Di posisi Axel, dia melirik Dila sekilas lalu tersenyum kecil. Dia yakin kini pipi Dila telah memerah seperti buah tomat. Dan Axel juga yakin itu semua karena dia yang sudah lancang mencium pipi Dila.


Sesampainya di gedung bioskop, Dila langsung turun bersama dengan Axel.


"Lo tunggu di sini dulu, biar gue beli tiket!" Kata Axel menyuruh Dila untuk menunggu di kursi tunggu. Dila hanya menjawabnya dengan tersenyum mengangguk ke arah Axel. Lalu memutuskan untuk duduk dan menunggu Axel yang sedang membeli tiket.


Beberapa saat kemudian, Axel kembali dengan membawa 2 tiket untuk menonton bioskop bersama dengan Axel.


"Oh iya, Dil! Filmnya masih di mulai 1 setengah jam lagi, lo mau ngapain dulu biar nggak bosen?!" Tanya Axel menawarkan pada Dila. Karena 1 setengah jam itu lumayan lama, tidak mungkin kalau mereka berdua akan terus berdiam diri, dengan duduk di bangku itu sembari menunggu giliran film di putar.


Dila pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya tertarik, sembari menunggu giliran filmnya. Sampai matanya mengarah pada tempat bermain di dalam mall itu.


"Axel, gimana kalau kita main itu dulu aja? Kayaknya seru deh!" Ajak Dila pada Axel, sambil menunjuk area bermain beberapa game di mall itu.


Axel mendengus setelah melihatnya, "Astaga Dil! Bahkan di mansion kita aja gamenya lebih banyak di bandingkan sama yang ada di sini!" Kata Axel dengan nada malasnya.


"Haish, ini beda Axel!! Pokoknya kalau keluar itu, jangan samain sama apa yang ada di mansion, meskipun lebih mewah dari yang ada di mansion!!! Tapi tetap aja beda!" Kini gantian Dila yang menatap Axel dengan tatapan kesalnya, pasalnya memang Dila tidak suka di bantah.


"Ya sudah kalau begitu! Gue akan ke sana sendiri!" Ucap Dila sambil beranjak dari duduknya dan hendak menuju ke tempat bermain game.


Namun langkahnya terhalang oleh tangan Axel yang sengaja menahan tangannya. Dila yang berhenti pun menoleh ke arah tangannya yang di pegang oleh Axel lalu menatap Axel dengan jengah.


"Kenapa? Lo mau bilang kalau lo mau nunggu di sini? Ya udah tungguin aja sampai lo lumutan! Gue mau main dulu di sana!!" Kesal Dila pada Axel karena merasa sudah menolak ajakan dari Dila tadi.


"Baiklah, demi lo! Kita main sampai puas oke?!" Ajak Axel yang tampaknya malah lebih bersemangat di bandingkan dengan Dila tadi. Dahi Dila mengernyit melihat tingkah konyol Axel itu. Bahkan meninggalkan Dila yang masih terdiam mematung.


Axel yang menyadari Dila tak mengikutinya pun langsung menoleh ke belakang, dia menatap Dila yang masih terdiam membeku, dengan tatapan penuh tanda tanya melihat Axel.


"Haish, kenapa malah bengong sih? Ayo!!" Ajak Axel, lalu kemudian seketika lamunan Dila terbuyar dengan suara ajakan dari Axel tadi.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke tempat bermain game. Ada berbagai macam game di sana, bahkan semua sudah mereka coba satu persatu. Sampai akhirnya tak terasa 1 jak sudah berlalu. Tampaknya kedua anak-anak itu terlihat kelelahan dengan apa yang beru saja mereka mainkan.


"Oh Iya Dil, masih ada waktu 30 menit lagi buat filmnya, gimana kalau kita makan atau nggak minum aja?!" Tawar Axel yang tadi sempat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Boleh tuh, gue juga haus nih!" Kata Dila yang terlihat kelelahan setelah bermain game bersama dengan Axel.


Mereka berdua pun akhirnya makan siang di cafe yang ada di mall itu.


"Gimana? Seru nggak?!" Tanya Axel sambil menyeruput jus semangka yang dia pesan tadi.


"Gue seneng banget tahu nggak! Rasanya beda sama yang di mansion! Meski bagusan yang ada di mansion sih, tapi bagi gue di sini lebih enak, soalnya bisa melihat banyaknya anak kecil dan orang dewasa yang memenuhi tempat game itu!" Kata Dila dengan usulan dari dirinya.


Di sela-sela makan siang itu, ada sebuah ucapan yang tiba-tiba saja terucap dengan spontan pada mulut Axel. "Dil, kita kan udah deket nih! Nah menurut kamu kalau aku pacaran gimana?!"


"Uhuk,,,uhuk" Dila langsung tersedak mendengarnya, tenggorokannya seperti tercekat dan tiba-tiba saja terasa sangat kering mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Axel barusan.


Axel tampak khawatir melihat Dila yang tersedak, lalu kemudian langsung memberikan sebuah air putih di gelas yang sengaja di pesan khusus untuk Dila.


"Eh, Dil!! Ini minumlah dulu;" kata Axel sembari menyodorkan air putih di dalam gelas itu. Lalu dengan segera Dila menenggak habis air putih itu hingga tandas, yang di ucapkan oleh Axel barusan benar-benar membuat dirinya tercekat.


"Lo nggak apa-apa?!" Tanya Axel memastikan kondisi Dila apakah dia baik-baik saja. Yang di tanya hanya menjawabnya dengan anggukan karena dia masih terlihat syok. Bagaimana tidak, tanpa aba-aba dan pertimbangan yang matang tiba-tiba saja Axel mengatakan hal seperti itu ada Dila.


Hal itu seketika membuat Dila seperti terpaku, dan hanya menatap makanan yang ada di depannya. Dia melamun.


Dila mencoba menetralisir kan perasaannya yang membuatnya merasa sedikit gusar. Lalu Dila menatap jam fi pergelangan tangannya, yang ternyata sudah saatnya mereka menonton film. Dila mencoba mengalihkan pembicaraan setelah berhasil menenangkan hatinya sendiri.


"Axel, ayo kita nonton filmnya! Kayaknya udah mau mulai nih!" Ajak Dila mencoba berkilah. Axel tampaknya juga sangat menanggapinya, dirinya memang benar tak begitu serius dan tak begitu di ambil hati ucapan dan jawaban tadi yang keluar dari mulut Dila. Axel lalu membayar bill dan segera mengajak Dila untuk segera menonton film yang memang akan mereka tonton itu.


Singkat cerita, Axel dan Dila kini sudah berada di dalam bioskop. Dan mungkin beberapa menit lagi film akan segera di mulai. Dila sempat heran mengapa sederet kursi yang di pesan oleh dirinya itu tak ada siapapun yang menempati.


"Kok sebelah kita kosong sih?!" Tanya Dila merasa heran, karena yang dia tahu pasti akan penuh satu bioskop untuk menonton film bersama di gedung itu.


"Gue udah beli semua tiket dan beberapa kursi ini memang sengaja gue pesan karena gue nggak mau kita keganggu!' kata Axel memberi tahu.


"Astaga, nggak gitu juga kali Axel!" Kata Dila sambil menepuk jidatnya, merasa heran dengan kelakuan dari Axel itu. Yang sudah beberapa kali ini membuat mulutnya tak mampu berucap, begitupun dirinya yang sudah beberapa kali di buat salah tingkah karenanya.


Mereka pun menonton film yang bergenre romantis dan action itu. Mereka tampak menikmati filmnya. Hingga pada akhirnya mereka di kejutkan adegan mendapatkan ciuman pertama. Dila langsung teringat kejadian beberapa saat yang lalu, saat pipinya dengan spontan di cium oleh Axel.


Axel diam-diam menatap wajah Dila dalam kegelapan yang ada di bioskop itu. Tampak Dila yang kelihatannya sedang memikirkan sesuatu hingga wajahnya yang merah merona pun tak kelihatan karena lampu penerangan memang sengaja di matikan.


Tangan Axel tiba-tiba saja terulur lali menyentuh tangan Dila dengan lembut. Dila sempat kaget merasakan adanya tangan yang di yakini milik Axel itu perlahan menggenggam jari-jemarinya dengan erat. Dila juga tak menolaknya, hatinya berdesir seperti pasir pantai yang beberapa kali di terpa oleh ombak yang besar.


Dila menoleh pada Axel, tampak pria remaja di dekatnya itu menatap Dila penuh dengan arti. Dila seakan hanyut di buatnya. Tangan lembut Axel membuat Dila berpikir dan mengingat kejadian saat Axel yang tiba-tiba menciumnya, bahkan Axel meminta maaf akan hal itu.


Perlahan Axel juga mengarahkan kepala Dila untuk bersandar di pundaknya. Entah kenapa Dila juga seperti terhipnotis, dan menurut saja dalam buaian Axel itu yang memabukkan.


"Maaf, karena sudah lancang mencium pipi kamu tadi, Dil!" Kata Axel yang terdengar sangat lirih dan penuh penyesalan. Dirinya yakin kalau Axel memang benar merasa bersalah telah mencium Dila tanpa mendapatkan ijin dulu darinya.


"Axel!" Panggil Dila lirih sembari bersandar pada pundak Axel, lalu perlahan mengangkat kepalanya untuk sekedar menoleh dan berkata,"Axel, untuk tadi di mobil, lo nggak perlu minta maaf! Kita bisa lupakan dan kenang itu kalau lo mau!" Kata Dila lirih sambil tersenyum ke arah Axel.


Axel yang mendengarnya pun tersenyum penuh arti. Dila seakan telah berhasil membuat hati Axel yang mendung, kini seperti telah bersinar kembali. Kehadiran Dila seperti halnya mentari yang menerangi bumi dari gelapnya awan hitam yang melanda.


Di arahkannya kembali kepala Dila agar bersandar di pundaknya lagi. Dan lagi-lagi Dila hanya menurut dan tersenyum. Mereka menikmati film itu hingga tamat dan berakhir bahagia. Axel dan Dila memang sudah seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. 2 remaja yang masih duduk di bangku SMA itu bahkan sangat serasi jika berjalan bersama.


Setelah selesai menonton film, tangan Axel tak henti-hentinya menggenggam tangan Dila. Dila sendiri juga tak merasa risih dengan hal itu. Malah memang mereka juga sudah sering melakukannya, jadi mereka berdua sendiri juga masih bingung dengan perasaan mereka masing-masing. Apakah ini hanya perasaan terhadap saudara yang memang biasa mereka melakukan hal-hal seperti itu?


Atau memang mereka memiliki perasaan lebih yang bisa di bilang dengan sebutan cinta?


Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke sebuah tempat hiburan. Ya ,hari itu memang Axel sengaja ingin menyenangkan Dira dengan mengunjungi sebuah pekan raya yang baru beberapa hari di buka di taman kota.


Lagi-lagi memang mata mereka tak ading lagi dengan berbagai permainan yang ada di pekan raya itu. Akan tetapi sepertinya lebih seru ketika bermain di tempat yang begitu ramai itu, pikir Dila.


"Mark, naik itu yuk!" Ajak Dila sambil menunjuk sebuah biang lala yang memang tingginya menjulang hingga beberapa puluh meter dari permukaan tanah.


"Baiklah ayo!" Axel yang menggandeng tangan Dila pun berjalan menuju ke arah biang lala itu dan menaikinya bersama dengan Dila.