
Sosok itu tiba-tiba berlari ke arah Mark, namun tentu saja Mark hanya diam dengan wajah santainya. Mark tahu kalau sosok itu tak akan bisa menyakiti dirinya, karena dia dan para saudaranya telah memakai kalung pemberian mama Gisella, yang bisa menjaga mereka dari serangan dan juga gangguan makhluk tak kasat mata.
Sosok dari bi Nuri berlari ke arah Mark dengan mata melotot seperti ingin keluar, dan hendak mencekik Mark. Akan tetapi, saat tinggal 4 langkah saja sampai. Sosok dari bi Nuri langsung melebur menjadi abu. Membuat Mark hanya menghela nafasnya. Karena bi Nuri telah musnah dari dunia maupun akhirat. Padahal Mark sebenarnya tak ingin itu terjadi dan memperingatkan bi Nuri. Tapi ternyata bi Nuri malah tak menghiraukannya dan tetap melakukan hal bodoh dengan dendam yang menyelimuti semua hatinya.
Setelah itu Victor langsung membersihkan dirinya di kamarnya yang ada di markas. Lucas sudah menyuruh mafioso untuk memakamkan dengan layak jasad dari bi Nuri. Lalu kemudian Mark dan Lucas duduk di ruang utama markas sembari menunggu Jeno yang sedang membersikan tubuhnya.
Di ruang utama markas, terlihat Lucas sedang meminum wine kesukaannya bersama dengan Mark.
"Lo tadi ngapain pergi kak pas Victor lagi siksa tuh orang?!" Tanya Lucas sembari menaruh gelas wine nya.
Mark langsung menoleh ke arah Lucas dan berkata, "Gue nyari info tentang lokasi desa Sahara!" Jawab Mark apa adanya.
Lucas mengernyitkan dahinya heran, "Memangnya buat apa lo nyari tahu tentang lokasi desa Sahara itu?!" Tanya Lucas penasaran. Mark lalu menceritakan saat dirinya bertemu dengan nenek Wina dan tujuannya mencari letak keberadaan makam suami nenek Wina. Saat menjelaskan itu, Victor yang telah selesai membersihkan tubuhnya langsung ikut nimbrung.
"Jadi itu nenek nggak tahu kalau suaminya udah nggak ada?!" Tanya Lucas memastikan. Dan Mark hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kasihan banget tuh nenek kak! Terus lo udah tahu tempatnya kak?" Tanya Victor yang merasa kasihan setelah mendengar cerita dari kak Mark barusan.
Mark mengangguk, "Iya sudah, jadi gue besok bakal antar beliau ke makam suaminya!" Kata Mark memberi tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali lagi di rumah sakit, Nenek Wina tengah tertidur di sofa. Sedangkan Alfian terlihat menyelimuti nek Wina. Alfin masih fokus menatap lekat wajah Windy yang pucat itu.
"Windy, bangunlah! Apa kau akan terus menutup mata kamu seperti ini? Bangun dan aku akan berusaha membuat kamu bahagia!" Ucap Alfin dalam hati.
"Kak, gue beli kopi dulu ya di depan!" Ujar Alfian yang langsung membuyarkan lamunan dari Alfin. Alfin yang tersentak pun langsung menoleh ke arah Alfian, "Iya pergilah! Hati-hati!" Kata Alfin menyuruh Alfian untuk hati-hati.
Alfian pun tersenyum mengangguk lalu kemudian langsung keluar dari ruang rawat inap itu dan menuju kantin rumah sakit, untuk membeli kopi.
Di sisi Alfin dia tak sengaja merasakan tangan Windy yang di genggamnya itu tiba-tiba saja bergerak. Membuat Alfin membelalakkan matanya dan merasa senang.
"Windy, kau sudah sadar?" Tanya Alfin pelan, mata Windy pun perlahan terbuka. Windy menatap sekeliling melihat ruangan dengan nuansa putih, dia yakin kalau dirinya berada di rumah sakit. Matanya menatap Alfin yang tengah tersenyum senang ke arahnya.
"Alfin?!" Lirih Windy ketika melihat Alfin.
"Iya ini aku, kau sudah sadar? Apa kau mau aku panggilkan dokter untuk memeriksa kamu?" Tanya Alfin ketika melihat Windy sadar. Windy menggeleng, badannya terasa kaku seperti sulit di gerakkan akibat tak sadarkan diri.
"Minum!" Lirih Windy lagi yang langsung di mengerti oleh Alfin. Lalu kemudian Alfin dengan sigap memberikan minuman pada Windy, Windy bahkan menenggak minuman itu hingga habis.
Windy tersenyum, "Apa aku di rumah sakit? Kau yang membawa aku ke sini?" Tanya Windy, belum sempat Alfin menjawab, Windy sudah bertanya lagi pada Alfin, "Oh iya, bagaimana dengan Bi Nuri?!" Tanya Windy yang membuat raut wajah Alfin yang awalnya bahagia mendadak kesal.
"Untuk apa kau menanyakan tentang dia yang telah tega membuat kamu sampai seperti ini? Kau bahkan sudah tak sadar dari kemarin! Sudah jangan bahas dia lagi! Bagaimana? Apa yang kamu rasakan sekarang? Bagian mana yang masih sakit?!" Tanya Alfin yang malah mencerca berbagai pertanyaan pada Windi, membuat Windy malah tersipu malu sendiri. Windy sadar dan tahu kalau dirinya saat ini sedang di perhatikan oleh Alfin, dalam artian Alfin telah mengkhawatirkan dirinya saat ini.
"Alfin, aku baik-baik saja!" Jawab Windy sembari tersenyum dan tangannya memegang tangan Alfin, untuk memberikannya ketenangan.
Mata Windy lalu mengarah pada seorang nenek yang tengah tertidur di sofa ruang rawat inap dirinya itu, Windy ingat kalau dirinya bisa melihat makhluk tak kasat mata, dan berpikir kalau dirinya tengah berada di rumah sakit. Dia mengira kalau itu makhluk tak kasat mata, "Alfin, itu siapa? Dia manusia bukan?" Tanya Windy memastikan pada Alfin kalau yang di lihatnya itu manusia, bukan makhluk tak kasat mata.
Alfin lalu menoleh ke arah sofa, tepatnya Nenek Wina yang tengah tertidur pulas, "Oh iyu nek Wina!" Kata Alfin menjelaskan, lalu kemudian dirinya menceritakan tentang nek Wina yang awalnya bertemu dengan kak Mark.
"Kasihan sekali nenek itu, biarkan dia tinggal bersama denganku saja Alfin! Mengingat aku sekarang juga sudah tinggal sendiri!" Kata Windy memohon, karena dia tahu dirinya telah tinggal sendiri tanpa ada kedua orang tua dan bahkan ART kepercayaannya saja telah berkhianat dan tega melakukan perbuatan yang hampir menghilangkan nyawa Windy.
"Itu bisa di bicarakan nanti Windy, ya kalau beliau nanti bisa bertemu dengan keluarganya, mungkin beliau akan tinggal bersama dengan keluarganya nanti!" Jelas Alfin, "Tapi kamu tenang saja , kalau nanti kamu merasa kesepian aku akan mencari cara agar kamu tidak merasa kesepian lagi, bahkan aku akan menjamin keselamatan kamu Win!" Lanjut Alfin yang berkata dengan serius pada Windy.
Windy merasa senang mendengarnya, lalu dia bertanya, "Alfin, kenapa kamu mau melakukan ini? Aku bahkan tidak layak untuk kamu lindungi?! Kita bahkan tak memiliki hubungan yang baik sebelum ini!" Kata Windy bertanya, memang benar sebelumnya dirinya dan Alfin tidak memiliki hubungan dekat, bahkan mengenal pun rasanya tidak.
Alfin terdiam, memang benar apa yang telah di katakan oleh Windy barusan. Dirinya bingung, tak tahu harus menjawabnya bagaimana lagi, "Ah itu-!"
Ceklek,,,,
Ucapan Alfin terpotong ketika dirinya mendengar suara knop pintu yang di buka dari luar, dia bisa bernafas dengan lega karena tak harus menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Windy padanya.
Ya, yang datang dan masuk ke dalam ruangan itu adalah Alfian dengan membawa 2 gelas kopi di tangannya. Dirinya telah kembali dari kantin.
Alfian membulatkan matanya kaget saat melihat kalau kak Windy telah sadar, "Astaga, kak Windy sudah sadar?! Kak Alfin! Kenapa nggak bilang ke dokter?" kata Alfian. Alfin yang tadi menghela nafas pun merasa terselamatkan dengan kedatangan Alfian, lalu kemudian dia berkata, "Iya baiklah, aku akan panggil dokter untuk memeriksa kondisi Windy! Kamu temani Windy dulu ya!" Pinta Alfin lalu kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Sedangkan Alfian langsung mendekati kak Windy.
"Hay kak, bagaimana kondisi kakak?!" Tanya Alfian dengan sopan.
Windy tersenyum, "Seperti yang kamu lihat, aku sudah sadar dan mungkin aku akan segera pulang dari sini!" Kata Windy dengan lirih karena masih baru sadar.
"Kak, apa kau tahu! Kak Alfin bahkan terlihat buruk sekali saat menjaga kamu, dua menolak makan dan mandi dan tetap terus menjaga kamu di sini!!" Ucap Alfian dengan polosnya yang malah membuat Windy tersentak dan menelan ludahnya dengan susah payah. Mengingat dirinya yang tak pernah merasakan di perhatikan sampai segitunya.
"Astaga, apa sampai segitunya Alfin menjaga aku? Apa yang Alfin lakukan? Dia bahkan tak memikirkan kondisinya sendiri!" Batin Windy.
Tak lama setelahnya, dokter pun datang bersama dengan Alfin dan langsung memeriksa keadaan Windy.