Kamar 126

Kamar 126
Berkunjung ke rumah Mark


"Gue nggak aneh-aneh kok, gue serius! Kayaknya memang ada yang aneh dengan Vila ini!" Ucap Dira yang mulai memberi tahu.


"Dira, mulai deh!" Kata Axel.


"Axel, jangan potong omongan gue!" Kata Dira sedikit kesal pada Axel yang malah memotong ucapan Dira, yang bahkan sama sekali belum mengatakan apapun.


"Tau nih, diam dulu kenapa sih!" Kesal Alisya yang membela Dira.


"Keanehan demi keanehan mulai ada di sekitar gue sejak gue datang ke vila ini!!" Dira tampak menarik nafasnya untuk mulai menceritakan.


"Pertama ,gue lihat anak-anak kecil yang berlarian di halaman ini bahkan mereka entah langsung hilang kemana!!! Kedua, gue lihat ada sosok berjubah hitam di dekat pohon besar itu!" Kata Dira sambil menunjuk pohon besar yang ada di dekat sana. "Gue juga sebenarnya nggak nyaman sama bi Sara dan bi Tina! Gue mohon sama kalian tolong percaya sama gue!! Gue nggak main-main!" Lanjut Dira lagi.


"Dir, mungkin itu cuma halusinasi lo aja! Lo kan penakut, jadi yang ada di pikiran lo pasti kebayang-bayang terus dan sampai berhalusinasi kayak gitu!" Kata Alisya memberi tahukan isi pikirannya pada Dira, setelah Dira menceritakan apa yang dia alami.


"Iya ,Dir! Lagi pula menurut gue sih wajar-wajar aja kalau lo kayak gitu! Kan kita juga belum lama tinggal di vila ini! Mungkin lo kurang terbiasa aja ,Dir!" Kata Victor menambahi.


"Ya kalau memang mereka itu ada, kenapa cuma lo, Dil yang di takuti?" Ujar Alisya yang memang merasa begitu.


Axel yang saat itu duduk di dekat Dira pun, langsung menyentuh pundak Dira dan mengusapnya lembut, "Dira, lo nggak usah khawatir ya! Kita semua ada buat lo dan akan selalu jagain lo!" Ucap Axel yang mencoba membuat hati Dira tak begitu khawatir akan hal-hal mistis yang di alami Dira.


Namun Dira justru malah menepis tangan Axel , "Udah gue duga kalau kalian pasti nggak akan percaya sama apa yang sudah gue bilang!! Apa kalian baru akan percaya kalau nanti gue udah kenapa-kenapa?!".


Deg,,,,


Entah kenapa mendengar ucapan Dira tadi, hati mereka semua bergetar. Seperti ketakutan kalau semisal terjadi apa-apa dengan Dira.


"Dira, maksud kita nggak kayak gitu!" Ucap Axel yang mencoba menjelaskan.


"Axel! Lo adalah orang yang paling gue percaya!! Semenjak kedatangan lo ke mansion, gue paling dekat itu cuma sama lo! Tapi kenapa lo nggak percaya sama gue?!" Kata Dira yang mulai meninggikan suaranya, dia menatap Axel dengan perasaan yang tak dapat di artikan.


"Dira, gue percaya sama lo!" Ucap Axel menenangkan Dira yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Lo bohong!!! Kenapa nggak dari kemarin-kemarin lo percaya sama gue?!" Ujar Dira yang sudah menitihkan air matanya, lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam vila.


"Dira, lo mau ke mana?!" Tanya Alisya yang melihat Dira berlari masuk ke dalam vila dengan menangis. Dira bahkan sama sekali tidak menggubris apa yang di katakan oleh Alisya.


Melihat Dira yang menangis, hati Axel sebenarnya sakit, dan tidak tega kalau sampai Dira menangis seperti itu. Ada rasa perih di hatinya karena tidak bisa mengerti dan juga memahami apa yang di rasakan oleh Dira.


"Axel, kayaknya cuma lo deh yang bisa bujuk Dira!" Kata Victor menyuruh Axel yang sempat terdiam membeku.


Sedangkan Axel langsung berganti pakaian, dan ikut berlari menyusul Dira. Namun Dira sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya.


Brakk,,,,


Suara pintu yang di banting keras membuat Axel mempercepat langkahnya dan menuju ke kamar Dira sendiri.


Tok tok tok,,


"Dira, buka pintunya!" Ucap Haechan sambil mengetuk pintu.


Di dalam sana, Dira tengah menangis ,karena merasa tidak ada yang mau percaya akan apa yang dia katakan.


"Dira buka! Maafin gue karena gue udah nggak percaya sama lo!" Kata Axel yang merasa bersalah pada Dira.


"Kalian semua nggak tahu rasanya jadi gue!! Gue akui kalau gue memang penakut!! Tapi gue nggak pernah bohong sama apa yang gue omongin!!" Ucap Dira dari dalam kamar.


"Dira gue mohon buka pintunya! Gue janji kalau gue akan percaya sama semua yang lo katakan!" Ucap Axel yang mulai terduduk lesu di depan pintu kamar Dira.


"Dira!" Lirih Axel yang perlahan matanya mulai berkaca-kaca mendengar Dira berkata seperti itu, bahkan dia tidak kuasa mendengar Dira menangis seperti itu karena dirinya.


Pov Dila.


Kini Dila berada di depan rumah Mark, dia sudah siap untuk mengetuk pintu rumah itu.


"Dia ada di rumah nggak ya?!" Lirih Dila yang hendak mengetuk pintu. Namun belum sempat mengetuk pintunya,


Ceklekkk,,,


Pov Bryan 


"Dila ngapain ke rumah itu? Perasaan Dila nggak kenal siapa-siapa di sini! Dia juga nggak pernah cerita kalai punya kenalan di sini!" Lirih Jaemin pada dirinya sendiri. Saat itu Jaemin bersembunyi di tempat di mana kemarin Dila juga bersembunyi di sana.


Back to Dila,,


Ceklekk,,,


Suara pintu di buka, dan yang membukanya tak alin adalah sang empunya rumah, yaitu Mark.


"Ngapain lo ke sini?!" Tanya Mark ketika melihat Dila yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Emt, it-itu sorry gue ganggu waktu lo!" Ucap Dila gugup ketika mendapati sang empunya rumah.


"Tunggu! Dari mana lo tahu kalau rumah gue di sini?" Tanya Mark sambil mengangkat satu alisnya.


"Eh, anu i-itu!" Dila tambah gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mark tampak menghela nafasnya sambil memutar mata malasnya, "Udahlah, gue udah tahu! Lo kan yang kemarin sembunyi-sembunyi di semak-semak?!" Ucap Mark yang membuat Dila membulatkan matanya.


"Kok lo tahu?!" Kata Dila spontan lalu secepat kilat menutup mulutnya yang keceplosan. Wajah imut Dila terlihat ketika dia mengetuk pelan kepalanya sendiri karena sudah keceplosan di depan Mark.


"Gadis ini cantik juga, senyumnya juga sangat manis!" Batin Mark yang menatap wajah Dila yang terlihat malu karena keceplosan.


"Kalau gitu gue mau pergi dulu!" Ucap Mark yang hendak beranjak dari ambang pintu.


"Eh tunggu, ada yang mau gue omongin sama lo!" Ucap Dila sambil menahan tangan Mark.


Sejenak mereka berdua menatap tangan Dila yang menahan tangan Mark. Selang beberapa detik, Dila langsung melepaskan jari jemarinya yang menyentuh tangan Mark.


"Gue nggak ada waktu buat ngomong sama lo!" Jawab Mark datar.


"Gue mohon kali ini aja!" Mohon Dila dengan mata yang berbinar, membuat siapapun tak mampu untuk menolak apa yang dia inginkan.


"Baiklah, tapi gue nggak bisa lama!" Jawab Mark setelah menarik nafas dan membuangnya perlahan.


Dila tampak tersenyum karena Mark memberinya waktu untuk berbicara.


"Lo mau ngomong apa? Waktu lo nggak banyak!" Kata Mark yang sudah memberikan sedikit waktunya untuk Dila.


"Emt, tapi gue nggak di suruh duduk dulu nih?!" Ucap Dila sambil melirik kursi kayu yang ada di teras rumah Mark.


"Haish, baiklah duduklah! Gue akan ambil minum dulu di dalam!" Jawab Mark yang menyuruh Dila menunggu di teras rumah sembari mengambilkan air minum untuk Dila.


Dila pun langsung duduk di kursi kayu yang hanya ada 2 biji dengan meja kecil di antara kursi itu. Mark yang masuk ke dalam rumahnya, mengambilkan secangkir teh hangat untuk Dila.