
Mark merasa ada yang aneh dengan Dila. Dia mengira apakah Mark melakukan kesalahan padanya, kenapa tiba-tiba Dila berubah seperti itu? Bahkan pertanyaannya belum sempat terjawab, namun kenapa bisa seperti ini?
"Baiklah!" Jawab Mark yang setelahnya menyelimuti Dila. Namun siapa sangka justru Dila langsung merangkul lengan Mark bagaikan guling. Dirinya seakan tak ingin berpisah dari Mark.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padamu Dila?! Kenapa kamu sepertinya berbeda dari biasanya?!" Tanya Mark di dalam hatinya.
Malam itu Mark terlihat belum bisa tidur, dari tadi dia hanya memandangi Dila dengan penuh intens. Mark berpikir, apakah yang terjadi padanya ketika Dila nanti meninggalkannya bersama dengan pria lain.
"Dila, apa kau mencintai Axel? Apa kau benar-benar hanya menganggap ku sebagai kakakmu saja Dil? Aku sangat takut dengan kenyataan itu nantinya Dil! Kenyataan yang mengatakan kalau kau mencintai Axel dan hanya menganggap ku sebagai saudara saja, tidak lebih!" Batin Mark dengan wajah sendunya menatap wajah Dila yang ada di dekatnya. Bahkan air mata Mark menetes membayangkan suatu saat nanti dia akan patah hati, karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Dila merasa tidurnya terusik, karena pipinya seperti mendapatkan suatu buliran bening dari mata Mark. Dia langsung membuka mata.
"Kak Mark apa yang terjadi kenapa kau menangis?!" Tanya Dila dengan suara serak. Hal itu membuat Mark gelagapan dan langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin kalau sampai Dila melihatnya dalam kondisi seperti ini.
"Aku tidak apa-apa, Dil! Ak-aku hanya merindukan kedua orang tuaku saja!" Ujar Mark mengelak supaya Dila tak lagi bertanya dan melanjutkan tidurnya.
Namun siapa sangka kalau Dila justru malah sedikit bangkit dari posisinya. Sedangkan Mark masih dalam posisi satu tangan di gunakan untuk menyangga kepalanya.
"Kak, jangan bohong! Dila nggak suka kak Mark bohong! Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kau bahkan tak pernah menangis seperti ini sebelumnya!!" Kata Dila yang terlihat mengintrogasi Mark. Dirinya tak percaya kalau Mark menangis karena merindukan kedua orang tuanya. Bahkan Mark sudah sangat bahagia melihat dirinya bisa bersama dengan keluarga yang harmonis seperti keluarga besar Nathan ini.
"Ak-aku beneran nggak apa-apa Dila!" ucap Mark dengan gugup dan tersenyum canggung.
Dila lalu menyentuh pipi Mark, dia mengusapnya dengan lembut, "Kak katakan saja, aku tidak akan mengatakan ini pada siapapun! Aku juga bisa menjaga rahasia?!" Ucap Dila mencoba membuat Mark mengaku padanya, tentang sebab dirinya menangis.
"Bagaimana caranya aku mengatakan kalau aku menangis karena takut kau meninggalkanku dengan pria lain Dila!" Batin Mark menatap Dila dengan tatapan sendunya.
"Kak Mark, ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini? Apa ada yang kau sembunyikan dariku kak? Kenapa hatiku sakit melihatmu yang rapuh seperti ini?!" Batin Dila yang juga menatap Mark dengan penuh rasa cemas.
Perlahan Mark lalu bangkit dari posisinya dan mencium kening Dila. Dila seperti merasakan kehangatan pada dirinya, bahkan hatinya seperti ingin mengungkapkan bagaimana perasaannya terhadap Mark. Tak dapat di pungkiri kalau Dila memang menyukai Mark, dari semenjak pertama kali mereka bertemu.
"Kak, apakah dengan kamu mencium ku? Aku akan sakit?!" Tanya Dila dengan polosnya, setelah Mark mencium keningnya.
Mark mengernyitkan dahinya, dia berpikir bukankah seharusnya Dila marah karena Mark tak meminta ijin dulu ketika mencium Dila? Tapi kenapa Dila malah bertanya seperti itu padanya?
"Dila, maaf karena sudah lancang mencium kening kamu! Tapi apa yang kamu katakan tadi? Kenapa memiliki pikiran seperti itu?!" Tanya Mark penasaran dengan cara berpikir Dila.
Dila menghela nafasnya, "Apa kakak ingat saat aku sakit dulu? Semua orang berpikiran kalau aku sakit karena Axel! Mereka mengira aku melakukan sesuatu dengannya?! Tapi seiring berjalannya waktu aku juga berpikir, apakah yang aku lakukan dengan Axel saat itu bisa membuatku sakit?!" Ujar Dila panjang lebar.
Mark terkejut mendengarkan ucapan Dila tadi. Dia berpikir apakah yang telah di lakukan oleh Dila saat bersama dengan Axel malam itu? Kenapa Dila bisa berpikiran kalau dia sakit setelah melakukan suatu hal dengan Axel?
Hati Mark sakit seperti tertusuk mendengar itu dari mulut Dila. Dia sungguh mengira kalau mereka telah melakukan hal di luar batas. Mark rasanya seakan tak sanggup untuk mendengarkan kelanjutannya ucapan itu dari mulut Dila. Tapi tak dapat di pungkiri dia juga penasaran di buatnya. Mark sangat penasaran dan ingin memastikan tentang apa yang di pikirkan nya ,apakah benar begitu atau itu hanyalah pikirannya saja.
Dengan dada yang sesak Mark mencoba bertanya, "Memangnya kamu melakukan apa dengan Axel malam itu?!" Tanya Mark dengan hati berdebar, dia sakit mendengar kenyataan yang pahit dari mulut Dila.
"Emt, tapi berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan ini pada siapapun ya kak! Hanya kamu ,aku dan Axel yang tahu!" Ucap Dila yang membuat Mark semakin penasaran. Bahkan dia sudah tak sanggup lagi menahannya, ingin sekali dia melampiaskan amarahnya yang entah muncul dari mana. Lebih tepatnya itu adalah rasa cemburu.
"Iya, kak Mark janji! Katakanlah!" Ucap Mark dengan hatinya yang berusaha untuk tegar, menyiapkan hatinya.
Dila menunjuk pipi Mark, memberi Mark kode kalau dirinya telah mencium pipi. Namun Mark tak mengerti apa yang di maksud oleh Dila. Dirinya sejenak berpikir, "Maksudnya?!" Tanya Mark penasaran.
"Axel mencium pipi aku kak! Dan tadi kakak mencium keningku, apa aku akan sakit?!" Ucap Dila dengan polosnya membuat Mark bernafas dengan lega karena mendengarnya.
Mark menghela nafasnya lega, namun dia juga sedikit merasa cemburu mengetahui kalau Dila ternyata sudah di cium oleh orang lain "Jadi karena itu?!" Tanya Mark sambil menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan.
Dila menjawabnya dengan polos dan tampaknya wajahnya menggemaskan jika di lihat, "Jika memang karena itulah aku sakit, Axel pasti merasa sangat bersalah!" Seketika Dila membelalakkan matanya menyadari sesuatu, "Jadi apa aku akan sakit karena di cium sama kamu kak?!" Tanya Dila yang masih sangat polos di depan Mark.
Mark tersenyum lalu mengusap kepala Dila dengan lembut, "Dila, mencium wajah itu tidak akan berakibat apa-apa! Dan semua prasangka buruk kamu mengenai itu semua salah! Mungkin kamu sakit memang karena terkena angin malam!! Itu nggak ada hubungannya dengan Axel!" Ucap Mark menjelaskan.