
Setelah sekian lama di alam bawah sadarnya mencari petunjuk tentang keberadaan Dira. Mark akhirnya memutuskan kembali ke dunia nyata karena hasil yang dia dapatkan nihil. Tidak ada satu pun petunjuk yang menunjukkan tentang keberadaan Dira.
Mark membuka matanya setelah rohnya terpisah dari raganya untuk melakukan astral projection.
"Mark, bagaimana?" Tanya Mela yang juga sudah membuka matanya, begitu juga dengan Bayu.
Mark hanya menjawab ucapan Mela dengan gelengan, hanya dengan begitu saja dia sudah tahu kalau Mark tidak menemukan keberadaan Dira.
Setelahnya Mark mengarahkan pandangan matanya ke arah Dila yang menatapnya dengan sendu dan penuh harap.
"Dila maafin kita! Kita belum bisa menemukan keberadaan Dira! Tapi yang jelas, dia tidak ada di alam lain!" Kata Mark menjelaskan.
"Lo tuh gimana sih! Ada-ada aja deh! Nyari tuh di dunia nyata bukan di al bawah sadar! Lo kira Dira udah mati!" Ujar Aliosya yang kesal dengan ucapan Mark tadi.
"Alisya udah, tenanglah!" Dila berusaha menenangkan Alisya yang masih terlihat marah melihat Mark dan kedua sahabatnya.
"Sorry, gue nggak bermaksud gitu!" Kata Mark menyesali ucapannya yang tadi.
"Iya, kita juga ke sini buat bantu nyari keberadaan saudara kembar Dila, karena dia sendiri yang menyuruhnya! Mark pergi ke alam lain juga sekaligus untuk mencari petunjuk tentang keberadaan Dira! Tapi kalau kedatangan kita buat lo sama saudara lo yang lain nggak nyaman, mending kita pergi aja!" Kata Mela panjang lebar untuk membela sahabatnya, setelahnya Mela menarik tangan Mark dan Bayu untuk segera pergi dari sana.
"Mela tunggu! Kita masih butuh bantuan kalian!" Ucap Dila menghalangi langkah Mela, juga Mark dan Bayu karena tadi sempat ketarik sama Mela.
"Kita juga sebenarnya mau bantuin lo ,Dil! Tapi kayaknya saudara lo itu nggak suka sama kehadiran kita! Jadi lebih baik kita permisi!" Kata Mela yang sudah kecewa akan ucapan dari Alisya tadi.
Mark dan Bayu hanya pasrah karena tangannya di tarik oleh Mela. Namun saat sampai di ambang pintu, Mark mengatakan pada Dila kalau dirinya akan selalu dengan tangan terbuka untuk membantu Dila.
"Lo bisa datang ke rumah gue kalau lo butuh bantuan gue lagi, Dil!" Kata Mark sembari tersenyum, lalu belum sempat Dila membalas senyumannya. Mark dan kedua sahabatnya sudah menjauh dari sana dan perlahan mereka tak terlihat lagi dari pandangan mata Dila.
Selang beberapa waktu setelah kepergian Mark dan kedua sahabatnya tadi. Tampak Chan, Byun, Nathan, Leon, Nadia dan Sindy datang ke vila itu untuk menemui anak-anaknya.
Axel, Bryan dan juga Victor juga sudah sampai di Vila lebih dulu sebelum kedatangan mereka.
"Papa!" Ucap Axel ketika melihat Byun masuk ke dalam Vila dan langsung menghampirinya. Byun tahu kalau anaknya itu sangat dekat dengan Dira akhir-akhir ini.
"Kenapa Dira bisa sampai hilang? Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak bisa menjaga Dira dengan baik?!" Ucap Byun yang langsung mencerca banyak pertanyaan pada anak pertamanya itu.
"Pa, jangan marahin Axel! Mereka semua juga nggak salah atas hal ini!" Kata Sindy yang tidak tega melihat anak pertamanya itu di marahi oleh suaminya.
"Maafin Axel, Ma, Pa!" Kata Axel tertunduk menyesal karena tidak bisa menjaga Dira dengan baik.
"Bunda!" Panggil Bryan ketika melihat bundanya datang ke vila.
"Di mana Alisya dan Dila?!" Tanya Nadia pada Bryan yang ada di hadapannya saat ini.
"Dia ada di dalam ma!" Kata Bryan sambil menunjuk sebuah kamar yang ada di paling pojok, yaitu kamar Dira.
Nadia pun langsung berjalan melenggang menuju ke kamar yang di tunjukkan oleh Bryan tadi.
Sedangkan di sisi lain, Leon langsung berjalan mendekati anak keduanya, yaitu Victor.
"Victor , katakan! Apa yang terjadi!" Kata Leon memerintahkan anaknya untuk memberi tahu semuanya.
"Jadi begini, Dad,,,,,," Victor langsung menceritakan kronologi dari saat kemarin Dira masuk ke dalam kamar dengan perasaan marah sampai pada akhirnya Dira pergi atau bahkan hilang entah kemana.
Setelah mereka semua mendengar cerita dari Victor , semuanya tampak tercengang atas penuturan nya, apalagi dengan Chan yang baru tahu kalau Dila sebenarnya bisa melihat makhluk tak kasat mata. Namun Chan masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Victor.
"Chan ikut gue!" Ajak Nathan sambil menarik tangan Chan.
Nathan membawa Chan untuk ke teras vila ,sesampainya di depan,
"Nathan, lo ngapain ngajak gue ke sini? Kita harus segera mencari Dira!" Kata Chan yang sebenarnya masih tidak tahu apa sebabnya dia di tarik oleh Nathan dan di bawa ke teras vila.
"Chan, apa lo nggak tahu kalau tahu yang di omongin Victor tentang Dira? Anak lo memiliki indra keenam!" Kata Nathan memberi tahu Chan.
Namun Chan menjawabnya dengan gelengan, "Tidak! Hanya Alfian yang memiliki kemampuan yang sama seperti Gisella!" Kata Chan yang masih belum percaya kalau anak ketiganya juga sama seperti Gisella, memiliki indra keenam.
"Tapi, apa lo nggak percaya sama yang anak-anak katakan tadi?!" Tanya Nathan memastikan tentang keraguan Chan.
"Gue jug- " ucap Chan terpotong ketika melihat anak keduanya berlari memeluknya.
"Papa!" Dila yang melihat papanya di teras vila langsung berlari dan memeluk papanya dengan erat.
"Dila!" Kata Chan sambil mengusap lembut rambut anaknya yang masih memeluknya sambil menangis. Bahkan Chan tidak pernah melihat Dila menangis sebelumnya, karena Dila adalah anak gadisnya yang paling pemberani di banding dengan Dira.
"Dira, hilang pa!" Kata Dila masih terus memeluk papanya dengan erat.
"Sayang, jangan menangis! Kita cari Dila sama-sama ya!" Ucap Chan yang mencoba menenangkan anaknya.
Mereka pun melanjutkan pencarian Dira yang kini entah berada di mana. Bahkan Leon sudah mengerahkan 100 mafioso miliknya untuk membantu mencari keberadaan Dira saat ini. Namun tak satu pun dari mereka berhasil menemukan keberadaan Dira. Sampai akhirnya malam pun tiba, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk meneguk segelas air dan akan melanjutkan pencarian kembali di sekitar Vila dan juga desa Loka yang tak begitu besar.
Di tempat lain, Gisella yang sempat pingsan tadi juga tak kunjung sadar. Semua yang ada di mansion besar pun sedih termasuk anak-anak yang lainnya, ketika mengetahui kalau kakaknya dan juga adik mereka menghilang entah ke mana. Mereka masih setia menunggu di kamar Gisella sembari menunggu kabar dari mereka yang mencari Dira di desa Loka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di mansion,
"Mami gimana kejadiannya? Kenap Dira bisa hilang?!" Tanya Alfin yang sempat syok saat mengetahui kalau Dira hilang.
"Mami juga nggak tahu pastinya, tapi nanti setelah Mama Gisella sadar! Kamu sama Lucas ke sana buat ikut nyari dan jagain Mama Gisella!" Kata Lisa memberi tahu semuanya di dalam kamar itu.
"Kenapa kita nggak boleh ikut sih Mi?" Tanya Rafi.
"Sayang, sebaiknya kamu belajar saja ya sama yang lainnya!" Perintah Alex pada semua anak yang masih kelas 11.
"Bagaimana kita semua bisa belajar dalam kondisi seperti ini Pi? Bahkan kita semua sedang merasa sedih atas hilangnya kak Dira, kita nggak mungkin bisa fokus belajar!" Kata Tania pada semuanya.
"Tania, Papi Alex benar! Kalian harus belajar, jangan malah nambahin pikiran pada orang tua kita semua!" Ucap Zaki yang memperingatkan semua adiknya yang terlihat sangat sedih karena mereka juga tak kunjung memberi kabar tentang Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di vila, mereka sedang berada di ruang tamu untuk beristirahat sejenak setelah mencari keberadaan Dira.
"Nathan, bagaimana ini? Bahkan kita juga sudah mengerahkan 100 mafioso untuk membantu! Tapi tidak ada satu pun yang bisa menemukan di mana Dira berada!" Kata Chan yang hampir putus asa karena tak kunjung menemukan putrinya.
Bukan hanya Chan saja, bahkan semua yang berada di sana juga merasa bingung karena Dira sudah di cari kemana pun, namun tak ada kabar berita yang mengatakan kalau Dira bertemu.
"Apa yang harus gue katakan sama Gisella?" Chan tampak sangat frustasi sambil memegang kepalanya.