
Mark menghela nafasnya lega, namun dia juga sedikit merasa cemburu mengetahui kalau Dila ternyata sudah di cium oleh orang lain "Jadi karena itu?!" Tanya Mark sambil menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan.
Dila menjawabnya dengan polos dan tampaknya wajahnya menggemaskan jika di lihat, "Jika memang karena itulah aku sakit, Axel pasti merasa sangat bersalah!" Seketika Dila membelalakkan matanya menyadari sesuatu, "Jadi apa aku akan sakit karena di cium sama kamu kak?!" Tanya Dila yang masih sangat polos di depan Mark.
Mark tersenyum lalu mengusap kepala Dila dengan lembut, "Dila, mencium wajah itu tidak akan berakibat apa-apa! Dan semua prasangka buruk kamu mengenai itu semua salah! Mungkin kamu sakit memang karena terkena angin malam!! Itu nggak ada hubungannya dengan Axel!" Ucap Mark menjelaskan pada Dila.
"Tapi kenapa aku bisa sakit kak? Mengingat aku tidak pernah sakit sebelumnya?!" Tanya Dila penasaran.
Mark menarik nafasnya sebelum mulai mengatakannya lagi, "Kan tadi kakak udah bilang kalau itu hanyalah hal yang biasa saja Dila! Mungkin karena kamu terkena angin malam, jadi kamu bisa sakit!" Jelas Mark pada Dila.
"Jadi aku tidak akan sakit?!" Tanya Dila masih dengan polos.
Mark tampak tersenyum mendengar pertanyaan ambigu itu dari Dila, "Tidak Dila! Itu tidak benar!" Ucap Mark memberi tahu Dila.
Dila tersenyum mendengarnya, dia seakan mendapatkan pencerahan dari Mark. Dirinya kini bahkan menjadi percaya diri lagi, "Jadi aku tak akan sakit?" Kembali Dila bertanya untuk memastikan lagi kepada Mark.
Mark kembali mengecup kepala Dila sembari tersenyum, seakan mengatakan kalau apa yang di katakan olehnya tadi adalah kebenaran. Dila pun tanpa mendengar jawaban dari mulut Mark, dia sudah tahu mengenai itu. Sampai akhirnya Dila langsung memeluk Mark dengan hangat. Membuat Mark bahkan sempat tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Takut kalau nantinya dia tak bisa menahan juniornya yang hendak bangun.
"Aku menyayangimu kak!" Ucap Dila sembari memeluk Mark dalam kondisi membelakangi Mark, dengan meletakkan tangan kiri Mark sebagai bantal sedangkan tangan kanannya di letakkan di pinggangnya. Dila terlihat sangat menikmati posisi itu.
Mark yang mendengarnya pun hatinya berbunga-bunga. Dia tak percaya kalau Dila mengatakan hal seperti itu dengan tiba-tiba. Akan tetapi Mark juga tak ingin berpikiran terlalu jauh, karena dia tidak mau kalau sampai kecewa dan ternyata Dila hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih.
"Sebenarnya hatiku sakit Dil, mengetahui kalau Axel telah mencium pipi kamu! Tapi aku lega karena kalian ternyata tidak melakukan apapun di luar batas kalian!" Batin Mark merasa sesak di dadanya dan juga merasa lega.
"Tidurlah, Dil!" Mark menyuruh Dila untuk segera tidur, akan tetapi Dila malah terlihat memandangi wajah Mark.
Dila tiba-tiba menggeleng, "Tidak kak, nanti saja!! Aku ingin melihatmu dan ingin menanyakan sesuatu padamu!" Ucap Dila dengan penuh keyakinan, membuat Mark tampak penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Dila.
"Ada apa Dila? Katakan saja? Apa ada yang masih mengganjal di hati kamu?!" Tanya Mark penasaran
Beralih ke mode serius dengan berbalik posisi, menatap wajah Mark yang awalnya membelakangi Mark. Kemudian mata mereka saling beradu. Mark menelan saliva nya dengan kasar melihat tatapan serius dari Dila.
"Apa kakak menyayangiku?!" Tanya Dila pada Mark.
Mark jadi salah tingkah saat di tanya mengenai hal itu oleh Dila. Akan tetapi sebisa mungkin Mark menutupinya dari Dila, "Apa yang kamu katakan Dila? Tentu saja aku sayang sama kamu?!" Kata Mark memberi tahu sambil menyelipkan rambut Dila pada telinganya.
"Kak, aku serius! Apa kakak benar menyayangi aku hanya sebatas saudara atau lebih tepatnya adik?!"
Deg,,,,
Seketika jantung Mark seperti di pompa dengan cepat, bagai batu karang yang di terjang ombak. Mark takut kalau dirinya malah salah berbicara atau bahkan malah salah mengartikan apa ucapan yang muncul dari mulut Dila tadi.
"Dila, kenapa kamu menanyakan itu?" Tanya Mark.
"Katakan saja kak, aku menunggumu mengatakannya!" Pinta Dila yang memang dirinya merasakan getaran cinta di hatinya. Sedangkan Mark bingung harus mengatakannya bagaimana. Dia harus berusaha untuk tidak salah bicara di depan Mark. Lalu setelahnya Mark berpikir keras, "Apa memang ini saatnya untuk mengatakan sebenarnya pada Dila? Apa ini adalah waktu yang tepat?!" Batin Mark dengan segala rasa bingung di hatinya.
Mark menarik nafasnya dalam lalu melihat Dila dengan tatapan sendu, sedangkan Dila menatapnya penuh harap, "Dila, mungkin ini bukanlah waktu yang tepat kakak mengungkapkannya! Tapi kakak juga tak bisa menahannya lagi, kakak terlalu takut Dila! Kakak memang menyayangi kamu, lebih dari seorang saudara!! Kakak memiliki suatu perasaan yang berbeda semenjak pertemuan kita pertama kali!!" Ucap Mark dengan penuh keseriusan dalam hatinya.
Dila lalu tersenyum, kemudian memegang wajah Mark dengan satu tangannya, "Apa ini yang namanya cinta terbalaskan? Aku merasa sangat bahagia mendengarnya! Tak aku sangka bukan hanya diriku saja yang memiliki perasaan lebih sepertimu kak!" Kata-kata Dila begitu menyentuh hati Mark, mata mereka bahkan berkaca-kaca satu sama lain. Cinta mereka saling terbalaskan, bukankah itu memang keinginan semua orang untuk mencintai dan di cintai oleh orang yang kita harapkan?
"Apa benar kau memiliki rasa yang sama sepertiku Dil?" Tanya Mark, dia bahkan masih berpikir kalau Dila hanya main-main, mengingat Dila masih bersekolah. Dila menjawabnya dengan anggukan dan air matanya menetes.
Mark menatap Dila dan menghapus air mata Dila, "Jangan menangis, aku tak ingin melihatmu menangis Dila!" Ucap Mark meminta Dila untuk tidak menangis.
"Aku menangis karena aku bahagia kak!" Ucap Dila dengan kesungguhan hatinya.
Mereka kemudian saling berpelukan dengan hangat melepaskan semua beban yang selama ini ada di hati mereka. Tak dapat di pungkiri kalau memang mereka memiliki perasaan yang sama. Setelah mereka melepas pelukannya, mereka saling memandang satu sama lain.
"Dila, kakak minta kita rahasiakan ini dari yang lainnya! Kakak nggak mau kalau sampai merasa canggung pada semua orang nantinya! Apa kamu tidak keberatan?!" Tanya Mark dengan nada lembut supaya Dila mau mengerti.
Dila mengangguk, "Iya kak , lagi pula aku juga tidak ingin kalau sampai mama tahu, aku sebentar lagi akan ujian pertama , jadi nggak mungkin mengatakannya pada mama, yang ada mama malah marah sama aku karena pacaran!" Ucap Dila dengan tersenyum manis.
Mereka kemudian saling melempar senyum , dan tangan Mark mengusap lembut surai hitam milik Dila. Dan tanpa dia sadari, Mark memegang tengkuk Dila dan perlahan mendekatkan wajah mereka. Dila tidak menolak, dia bahkan menutup matanya seakan tahu apa yang nantinya akan terjadi pada mereka selanjutnya. Melihat Dila yang menutup mata pasrah, Mark pun dalam hatinya merasa senang karena tidak ada penolakan dari Dila.
Mereka akhirnya bercium*n, saling memangut penuh dengan rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya. Mark semakin menekan tengkuk Dila, membuatnya ikut terbuai dalam ciuman itu.
Cukup lama mereka berciuman, akan tetapi tampaknya saat Mark melepaskan ciumannya, mereka tidak kehabisan nafas sama sekali. Itu karena memang Mark tak ingin membuat Dila sampai kehabisan nafas karena berciuman. Itu dia lakukan semata-mata untuk tanda cinta, bukan untuk memuaskan h*srat.
"Dila maaf karena mengambil ciuman pertama kamu!" Kata Mark sedikit menyesal. Namun Dila tampak tersenyum dan berkata, "Apapun akan aku lakukan untuk kakak!" Jawab Dila yang membuat Mark seketika memandang Dila dengan sedikit kesal.
"Kakak yang seharusnya mengatakan itu, kamu itu perempuan! Jadi jangan gampang mengatakan hal itu pada laki-laki! Kamu harus jual mahal Dila!" Ucap Mark dengan nada kesalnya.
Dila dengan wajah polosnya menjawab "Tapi , aku hanya mengatakan itu padamu saja kak!"
Mark terdiam mendengarnya, namun setelahnya dia mengatakan suatu hal untuk membuat Dila merasa nyaman, "Dila, kakak nggak akan biarin kamu mengatakan itu lagi pada kakak! Kamu hanya perlu menjaga hati saja! Selebihnya biar kakak yang tanggung!! Kakak juga hanya akan melakukan hal seperti tadi saat menikahi kamu nanti! Kakak akan jaga kamu! Karena kakak benar-benar cinta sama kamu, kakak hanya akan menjaga bukan merusak!" Ujar Mark panjang lebar membuat hati Dila tersentuh dengan ucapan yang di berikan oleh Mark tadi. Dila tak menyangka kalau kakaknya itu akan menjadi romantis seperti ini padanya, atau memang sebenarnya Dila tak pernah melihat saat Mark memberikan perhatian lebih padanya?
"Terima kasih kak, aku juga mencintai kakak!" Ujar Dila lalu setelahnya mereka berpelukan lagi.
Setelah melepas pelukan, Mark mencium kening Dila, "Tidurlah, kakak akan tidur di sofa nanti! Hanya untuk berjaga-jaga saja karena kakak takut kalau nanti sampai kebablasan mengingat kita sudah saling mengungkapkan perasaan satu sama lain!!" Ucap Mark memberi penjelasan. Dila sangat bahagia mendengarnya, itu berarti memang benar kakaknya itu sangat mencintai dia dan akan selalu menjaganya dalam hal apapun.
"Baiklah!" Jawab Dila dengan tersenyum ,"Tapi tolong temani aku sampai tertidur dulu ya kak!" Lanjut Dila lagi meminta untuk di temani oleh Dila.
Mark hanya menjawabnya dengan tersenyum mengangguk lalu menyelimuti Dila yang sudah berbaring di ranjang. Mark menemaninya hanya sampai Dila tertidur saja.
Jujur Mark sangat takut kalau sampai nantinya dia tak bisa mengontrol nafsunya ketika satu ranjang dengan Dila. Mengingat mereka sudah saling tahu perasaan masing-masing. Itu tak akan luput dari sebuah nafsu. Berbeda ketika mereka masih saling memendam perasaan. Mereka masih sedikit merasa canggung jika melakukannya. Maka dari itu memang sangat berbeda meskipun yang membedakan hanyalah pengungkapan perasaan saja.
Mark menunggu Dila sampai Dila tertidur dan kemudian dia berpindah posisi menuju ke arah sofa, dia akan tidur di sofa panjang yang ada di kamar malam ini.