
Ana melarikan diri, dan langsung di kejar oleh Lucas diikuti oleh Alfian dan Victor yang tadi berada si luar ruang khusus. Lucas bisa saja menembaknya, tapi dia tidak ingin melakukan itu, karena bagaimana pun nama Ana itu sudah pernah menjadi sorotan publik karena manekin yang dia buat. Lucas juga tak ingin mengotori namanya hanya karena menembak seorang wanita seperti Ana.
Saat Ana berlari, dia tak masuk ke dalam mobilnya tapi dia langsung berlari menuju jalam raya yang tak begitu ramai akan mobil yang berlalu lalang. Dia dengan percaya diri menghadap ke belakang melihat Lucas dengan tersenyum mengejek, seakan ingin mengatakan kalau "Kalian tidak akan bisa menangkap ku!!" Lalu saat berbalik, dari arah utara terdapat sebuah truk tangki dan langsung menyambar tubuh Ana.
Lucas, Alfian dan Victor yang melihat itu sangat terkejut. Mereka tak menyangka kalau akan jadi seperti ini. Bahkan tubuh Ana tak lagi utuh karena terseret cukup jauh dari tempatnya di tabrak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam museum, terlihat Windy tengah menangisi kondisi papanya yang sedang sekarat karena kehilangan banyak darah.
"Papa bertahanlah, aku akan bawa papa ke rumah sakit!" Ucap Windy yang hendak meminta tolong pada Mark dan Alfin, namun Bram justru menghalangi niatnya.
"Nak, it-itu tidak perlu! Papa ras-rasa ini sudah menjadi ja-jalan papa untuk pergi!!" Ucap Bram dengan terbata.
"Tidak jangan katakan itu pa!! Papa harus bertahan! Papa nggak boleh ninggalin Windy!!" Windy menangis sejadi-jadinya di depan papanya yang tengah sekarat itu.
Mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi, "Papa menyayangimu nak! To-tolong kuburkan mereka semua dengan la-layak!!" Setelah mengatakan itu Bram pun menghembuskan nafas terakhirnya. Di hadapan Windy yang tengah memangku kepala papanya itu.
"Tidak!!! Papa!!! Jangan tinggalkan aku!!!! Jangan tinggalin Windy pa!!!!" Ucap Windy sembari menangis sejadi-jadinya. Sampai akhirnya Windy benar-benar pingsan karena tak kuat melihat papanya yang telah pergi meninggalkannya.
Alfin dan Mark yang melihat itu segera melakukan tindakan, dengan membawa Windy menuju ruangan yang ada di kantor itu. Lalu menyuruh asisten Anisa untuk mengurus semuanya.
Alfian dan Victor segera memberi tahu kedua kakak mereka yang masih berada di dalam museum. Sedangkan Lucas masih berada di lokasi kejadian, dengan memberi tahukan kabar itu pada polisi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam museum, tepatnya di ruang milik Ana. Windy di baringkan di sebuah sofa panjang yang ada di sana. Terlihat kalau Windy masih belum sadarkan diri.
"Kak, Ana mengalami kecelakaan!" Ucap Alfian yang baru saja masuk ke ruang itu bersama dengan Victor.
"Apa yang terjadi?! Kenapa bisa begitu?!" Tanya Mark yang terkejut, begitu juga dengan Alfin yang ada di sana.
Alfian mengatur nafasnya untuk memberi tahu hal itu pada Mark dan Alfin, "Tadi saat kita kejar dia, dia lari ke arah jalan raya! Dan langsung tertabrak oleh truk tangki! Badannya bahkan tak utuh karena sudah terseret jauh!" Ucap Alfian menceritakan kejadian tadi.
Mark dan Alfin membelalakkan matanya mendengar cerita dari Alfian. Bagaimana ini bisa terjadi di waktu yang bersamaan. Bahkan Mark seketika mengingat Windy yang pastinya nanti akan terguncang mendengar cerita ini.
"Kasihan Windy! Dia kehilangan kedua orang tuanya sekaligus!" Ucap Alfin sembari menatap iba pada Windy yang masih pingsan.
"Lalu apa yang terjadi pada Bram kak? Apa dia?!" Tanya Alfian yang hendak menerka-nerka.
Mark menghela nafasnya, "Iya, dia telah tewas akibat di tembak oleh Ana tadi! Gue juga nggak habis pikir bagaimana dia bisa melakukan itu pada anaknya sendiri!" Ujar Mark sembari menghela nafasnya.
Setelah itu mereka semua datang ke makam untuk pemakaman Ana dan juga Bram. Pemakaman itu di langsungkan hari itu juga. Windy yang melihat kedua orang tuanya di kebumikan merasa sangat terpukul. Dirinya ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sekaligus dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Windy bahkan tak mampu mengeluarkan air mata, badannya begitu lemas tak berdaya meratapi nisan kedua orang tuanya. Tak ada keluarga lain lagi. Dia kini sudah hidup menjadi sebatang kara. Dia tak tahu harus bercerita pada siapa, dia sekarang sendiri tanpa adanya sanak saudara.
Alfin menyentuh pundak Windy yang masih memandang batu nisan milik kedua orang tuanya," Win, ini udah sore! Lo harus pulang! Kita berlima akan mengantar lo pulang!" Ucap Alfin dengan menawarkan kebaikan hatinya. Bagaimana pun dia juga pernah kehilangan orang yang sangat dia sayangi, sangat berat rasanya. Dia bisa merasakan kesedihan yang kini telah menimpa Windy.
"Tidak perlu, biarin gue sendiri! Gue bisa pulang sendiri!!" Ucap Windy dengan wajah memelas nya dan melamun.
Tiba-tiba saja kilat menyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya membasahi tubuh kelima remaja pria dan 1 wanita itu di sana. Victor langsung mengambil 5 payung supaya para saudaranya juga tak basah kuyup.
"Papa, Mama, Windy sayang sama kalian! Bisakah papa kembali? Bisakah kalian menemui Windy walau hanya dalam mimpi?! Kalian bahkan pergi tanpa berpamitan pada Windy!" Ujar Windy di bawah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya, wajahnya tampak pucat karena terkena air hujan.
Alfin yang tak tega pun mendekatinya yang memayungi Windy bersama dengan dirinya "Windy, kita akan antar lo pulang!" Ajak Alfin dengan menarik tangan Windy perlahan. Sejenak Windy menoleh ke arah tangannya yang di tarik lembut oleh Alfin. Akan tetapi entah kenapa Windy seakan langsung beranjak dari posisinya setelah melihat ketulusan Alfin ingin mengantarnya pulang.
Wajah Windy yang pucat pasi membuat dirinya seakan seperti mayat hidup. Windy akhirnya mau diantar pulang oleh kelima remaja itu. Akan tetapi saat Windy hendak melangkah, dirinya merasa pusing dan langsung pingsan. Alfin yang melihatnya langsung reflek membuang payung dan memegangi Windy. Mark yang juga melihat itu langsung memayungi Alfin dan Windy.
"Bagaimana ini?!" Tanya Alfin bingung pada kakaknya.
Mereka pun menuju ke kediaman Bram dan Ana, yang lebih tepatnya mansion Windy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Windy
Hari itu adalah hari di mana aku memutuskan untuk memberi tahu arwah yang selama ini mengikuti ku, yaitu tante Klara. Sebenarnya aku sudah lama bisa melihat dirinya, dia yang selalu mengancam ku dengan kata-katanya, yang selalu menemaniku dengan tatapan tajam penuh dengan dendamnya. Aku tidak tahu apa penyebab tante Klara selalu mengikuti ku.
Aku yang memiliki indra keenam yang sudah terbuka semenjak usiaku 7 tahun, hanya bisa diam dan pura-pura tidak melihat mereka makhluk tak kasat mata. Saat usiaku menginjak 17 tahun, rasa penasaranku semakin besar. Aku ingin tahu kenapa tante Klara selalu saja mengikuti ku. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk mencari tahu mengenai hal itu.
Apakah kalian tahu sebenarnya aku hanya 2 kali saja datang ke museum manekin milik mama, itu karena memang aku takut berada di sana. Di sana sangat menyeramkan. Di setiap manekin aku lihat ada satu sosok tak kasat mata dengan pandangan tajam dan ada juga yang memelas. Saat itu mungkin usiaku baru 14 tahun.
"Ma, aku tidak ingin datang ke sini lagi! Aku nggak suka dengan seni seperti ini!!" Ucapku kala baru pertama kali datang ke sana. Aku hanya beralasan kalau aku tak menyukai seni .Itu karena aku memiliki alasan untuk tidak mengatakan sebenarnya, mama tidak akan percaya padaku! Dan juga sosok arwah tante Klara pasti juga akan tahu kebenaran kalau aku bisa melihat hantu. Maka dari itu aku mencari suatu alasan yang tak akan membuatnya curiga.
Sampai hari itu tiba. Aku tak sengaja mendengar ucapan tante Klara yang sudah tak ingin lagi menjalani kehidupan. Aku akhirnya membuka kedok ku sendiri. Tante Klara awalnya terkejut, namun dirinya lama kelamaan mulai percaya. Aku sendiri sebenarnya terkejut mendengar cerita dari masalalu tante Klara. Hingga pada akhirnya aku memperbolehkannya untuk meminjam ragaku untuk membantu mengungkap semua kejahatan yang mama aku perbuat.
Tapi aku tak pernah menyangka sama sekali kalau hari itu akan menjadi hari terakhirku untuk melihat kedua orang tuaku hidup. Jika aku tahu akhirnya akan seperti itu, aku tak akan pernah melakukannya. Meskipun aku tahu kalau itu bukanlah kesalahanku. Itu semua adalah takdir. Takdir yang harus mereka dan aku jalani. Aku ikhlaskan mereka pergi meninggalkan aku sendiri.
Tapi aku sangat menyayangkan, bukankah aku bisa melihat makhluk tak kasat mata? Akan tetapi kenapa aku tak bisa melihat keberadaan kedua orang tuaku setelah mereka tiada, padahal aku berharap bisa bertemu mereka dan berharap mereka akan mengucapkan selamat tinggal padaku. Tapi hari itu tak pernah ada. Mereka berdua benar-benar hilang. Bahkan dalam mimpi pun mereka juga tak pernah muncul.
Entahlah aku yang dulunya dingin menjadi semakin dingin, tak ingin bicara banyak. Kejadian itu cukup membuat hidupku menjadi trauma.
Bahkan tante Klara juga entah menghilang ke mana, dia yang setiap detik ku lihat sekarang bahkan ikut menghilang. Seakan mereka tak pernah ada lagi. Tante Klara bahkan juga tak mengucapkan selamat tinggal padaku. Terakhit kali aku melihatnya, dia tampak menatapku dengan wajah sendunya seakan mengucapkan terima kasih padaku atas apa yang sudah aku lakukan untuknya.
Walaupun begitu ,aku sangat berterima kasih padanya. Karena selama ada dia di dekatku, tak pernah ada makhluk tak kasat mata yang berani mendekatiku karena adanya keberadaan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Windy terbangun setelah pingsannya, dia mendapati dirinya tengah tertidur di ranjang kamarnya. Pakaian yang dia kenakan sudah di ganti oleh pelayan yang selama ini bekerja paruh waktu di kediamannya.
Windy melamun, dia berpikir apakah semua kejadian tadi itu adalah mimpi? Dia sangat berharap akan hal itu. Dia ingin ada seseorang yang datang dan mengatakan kalau semua hanyalah mimpi saja, mimpi buruk yang pernah Windy alami.
Sampai akhirnya suara knop pintu di buka dari luar, masuklah ketiga remaja pria yang sudah tak asing lagi baginya. Ya mereka adalah Mark, Lucas dan juga Alfin. Mereka tak langsung pulang karena ingin menunggu Windy sadar dari pingsannya. Lalu bagaimana dengan Alfian dan Victor? Mereka memilih berada di ruang tamu dengan meminum teh hangat yang di buat oleh pelayan untuk mereka berdua.
"Windy, kita turun berduka cita atas kejadian yang telah menimpa keluarga lo! Semoga lo bisa ikhlas menerima semua ini!" Ucap Alfin dengan wajah penuh ketulusan, karena diantara mereka bertiga hanya Alfin yang tampak mengenal Windy, Lucas bahkan jarang sekali melirik wanita, sedangkan Mark baru saja masuk ke universitas itu.
Windy masih diam dia menatap kosong ke luar jendela, terlihat di luar masih hujan, "Apakah gue pernah melakukan suatu kesalahan yang fatal? Apa salah gue? Kenapa mereka tinggalin gue dengan cara seperti ini?!" Tanya Windy yang buka suara dengan nada datarnya sembari melamun.
"Windy, ini bukanlah kesalahan lo! Ini sudah menjadi takdir bagi kedua orang tua lo! Lo harus bisa ikhlaskan kepergian mereka! Gue yakin kalau mereka sebenarnya sayang sama lo!" Ucap Mark juga ikut menimpali.
Air mata Windy menetes mendengarnya. Dia langsung teringat kejadian masalalu yang pernah dia dan kedua orang tuanya alami. Sekelebatan ingatan kebahagiaan bersama keluarga itu muncul dan membuat Windy semakin menangis tanpa suara.
"Menangis lah sesuka hati lo! Keluarkan semua beban yang lo miliki! Lo pasti akan lega setelah menangisinya!!" Ucap Lucas.
"Kenapa mereka nggak muncul? Mereka seharusnya muncul dan berpamitan padaku bukan?! Kau! Kau yang lebih tahu mengenai makhluk tak kasat mata! Tolong katakan kalau mereka pasti akan muncul!!" Ucap Windy pada Mark. Dia tahu kalau Mark itu sama seperti dirinya yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.
Mark menelan ludahnya dan menarik nafas, "Tolong tinggalkan gue sama Windy berdua!!" Pinta Mark saat itu, mereka berdua mengerti akan ucapan Mark. Dan kemudian mereka keluar meninggalkan Mark dan juga Windy di dalam kamar itu. Mereka yakin Windy pasti ingin berbicara empat mata dengan Mark mengenai makhluk tak kasat mata.
Setelah mereka keluar dari kamar Windy, kini di sana hanya ada Windy dan juga Mark. Windy yang awalnya enggan dirinya berjalan ke arah sofa yang ada di sana. Dia ingin mendengar semua cerita dari Mark. Dia ingin tahu apakah dia tak bisa lagi bertemu dengan kedua orang tuanya meskipun mereka telah menjadi hantu.
Mark duduk di samping Windy, mereka berjarak hanya 100 cm dari tempat duduk Wendy saat ini.
"Tolong katakan sama gue! Apakah mereka sudah benar-benar pergi? Apa mereka pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun?!" Tanya Windy dengan pandangan lurus ke depan.
Mark menarik nafasnya sebelum mengatakan semua pada Windy, "Papa lo udah pergi setelah dia bertemu dengan tante Klara di alam lain!" Ucap Mark, "Kau salah kalau kau mengira beliau tidak mengucapkan salam perpisahan! Dia sudah mengatakan saat di detik-detik dia meninggal" Ujar Mark selanjutnya.
Windy mengingat dan dia sadar kalau memang benar papanya sudah mengucapkan salam perpisahan saat di detik-detik terakhirnya. Windy menarik nafas lalu menghelanya ,"Kenapa dia tidak menemui ku terlebih dahulu?!" Tanya Windy sembari menoleh ke arah Mark, matanya memerah dan penuh dengan air mata di dalamnya.