
Maka dari itu saat Nek Wina turun dari mobil dan terdiam, beliau ternyata memikirkan tempat itu yang tak asing baginya. Dia langsung mengerti kalau Desa itu adalah desa kediaman kedua orang tua Cahyo. Pikiran nek Wina saat itu berkecamuk dan membuat dirinya malah terdiam melamun.
Itu juga kenapa saat kakek Cahyo bertemu dengan Mark beliau hanya terdiam saja, dan tak mengatakan apapun pada Mark mengenai kenyataan pahit itu. Namun tentu saja Mark tahu karena dia tak sengaja masuk ke dimensi lain dan melihat masalalu dari kakek Cahyo ,setelah merasuki Mark waktu itu.
Kemudian setelah menceritakan semua itu pada semua yang ada di ruang rawat inap Windy. Mereka terdiam dan tak percaya bisa ada manusia seperti itu. Bahkan itu semua lebih menyakitkan dari pada berita tentang kematian. Kakek Cahyo yang bahkan belum bisa menemui nek Wina telah tewas akibat serangan jantung. Sedangkan istrinya yang lain meninggal karena penyakit yang di deritanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain,tepatnya di sekolah, kelas Dila.
Dila menahan rasa sakit kepalanya dengan meletakkan kepalanya di atas meja, membuat Axel merasa curiga akan Dila.
"Dila, kamu kenapa sih? Kamu lagi ada masalah? Kamu cerita dong!" Kata Axel sedikit
Dila langsung bangkit dari posisinya dan menoleh ke arah Axel, Dila tersenyum, "Aku nggak apa-apa kok Axel, kamu tenang aja oke!" Kata Dila yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari Axel.
"Kamu sakit?" Tanya Axel.
Deg,,,
Dila tersentak dan bingung harus menjawabnya bagaimana, dirinya langsung menghindar ketika Axel hendak menyentuh dahinya. Axel mengernyit bingung dengan sikap Dila yang aneh di hari itu.
"Dila, kamu di panggil ke ruang kepsek sekarang!" Kata Bryan tiba-tiba.
"Hah? Ada apa?" Tanya Dila.
"Nggak tahu tuh!" Jawab Bryan dengan mengedikkan bahunya tidak tahu. Setelah itu Dila langsung berdiri dari duduknya, dirinya langsung menuju ke ruang kepala sekolah. Entahlah untuk apa.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Dila langsung di persilahkan duduk oleh kepala sekolah, "Silahkan duduk Dila!" Kata kepala Sekolah dengan sopan, karena dia tahu kalau Dila adalah salah satu anak dari pemilik sekolah.
"Ada apa ya pak? Kenapa bapak meminta saya untuk datang ke sini?!" Tanya Dila penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh kepala sekolah padanya.
"Begini Dila! Karena sekolah sebentar lagi akan mengikuti lomba olimpiade sains, dan kamu adalah salah satu murid berprestasi di sekolah! Apakah kamu mau mengikuti lomba tersebut?" Tanya kepala sekolah pada Dila dengan baik-baik.
Dila pun menghela nafasnya, "Begini pak, jadi saya sebenarnya tidak enak jika menolak tawaran yang sangat berharga ini! Tapi saya tahu bapak menyuruh saya juga karena saya adalah anak dari pemilik sekolah bukan? Begini saja, lebih baik bapak cari siswa lain yang tak ada sangkut pautnya dengan anak-anak pemilik sekolah! Dengan begitu mereka yang bersekolah di sini juga bisa merasakan rasanya mengikuti event seperti ini pak!" Ucap Dila panjang lebar kepada kepala sekolah yang duduk di depannya.
Kepala sekolah yang mendengarnya langsung tertegun, dirinya tidak menyangka kalau Dila akan mengatakan hal seperti itu. Sungguh kepala sekolah tak menyangka sama sekali dengan ketulusan hati Dila yang dengan baiknya memberikan kesempatan bagi siswa lain untuk berpatisipasi dalam event perlombaan sains itu.
"Baiklah kalau begitu Dila, bapak akan menghargai keputusan kamu ini! Bapak juga akan memberikan kesempatan bagi mereka, siswa yang berprestasi selain dari keluarga pemilik sekolah ini, untuk mengikuti perlombaan tersebut!" Kata kepala sekolah dengan tersenyum bangga ke arah Dila atas kemurahan hatinya.
Di dalam toilet terlihat Dila tengah menahan rasa sakit di kepalanya yang teramat sangat dia rasakan, "Astaga kenapa rasanya sakit sekali?" Ucap Dila sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba saja dirinya melihat satu sosok di depan cermin yang membuatnya membelalakkan matanya kaget, "Dira!" Lirih Dila melihat adanya Dira di cermin, sontak saja Dila langsung melihat ke arah belakangnya dan ternyata benar ada Dira di belakangnya.
"Iya ini gue Dila! Gue akan ada di saat lo merasakan sakit yang teramat sangat di kepala lo! Gue akan muncul Dila!" Kata Dira dengan lembut sembari tersenyum manis ke arah Dila.
Dila tertegun, dia tak menyangka kalau bisa seperti itu, "Lalu bagaimana gue bisa hidup kalau rasa sakit ini menyerang kepala gue?" Kata Dila masih memegang kepalanya.
"Gue memiliki satu cara! Yaitu dengan gue masuk ke dalam tubuh lo Dil! Itu akan membuat rasa sakit itu hilang!" Kata Dira dengan wajah sendunya.
Dila berpikir, "Kalau begitu maka lakukanlah! Gue nggak mau terus-terusan kayak gini!" Kata Dila pada akhirnya mengambil sebuah kesimpulan.
Dira tampak tersenyum manis ke arah Dila berada, "Baiklah, tapi lepaskan kalung itu dulu! Gue bakal musnah kalau sampai menyentuhnya nanti!" Ucap Dira meminta pada Dila, Dila langsung mengangguk dan melepaskan kalung itu, lalu kemudian Dira perlahan mendekat ke arah Dila dan,
Swassstt,,,,,
Sosok Dira langsung masuk ke dalam tubuh Dila dengan cepat, membuat Dila sempat sempoyongan. Namun setelahnya benar, Dila sudah tak merasakan sakit pada tubuhnya.
Dila sebenarnya sempat bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, bahkan dia merasa nyaman bisa satu tubuh dengan saudara kembarnya, "Dira terima kasih!" Lirih Dila.
Lalu kemudian Dila yang kembali bersemangat itu pun langsung kembali menuju ke kelasnya. Sesampainya Dila di kelas yang sudah tak ada guru di sana. Di ambang pintu, Dila menatap manik mata Axel dengan berbinar membuat Axel bingung. Namun tak lama kemudian terlihat kalau tatapan mata Dila itu bagi Axel sudah tidak asing. Ya, itu bukan tatapan mata Dila, melainkan Dira.
Deg,,,,
"Dira!" Batin Axel sembari menelan saliva nya dengan susah payah, dirinya tertegun dengan batinnya sendiri.
Dila langsung berjalan ke arah bangkunya, lalu mendekat ke arah Axel yang memang duduk satu meja dengan Dila.
"Axel!" Panggil Dila saat sudah duduk di bangkunya sendiri, dirinya menatap Axel dengan mata yang berbinar.
"Dila?" Kata Axel pelan, namun siapa sangka Dila yang tadinya cuek dan hanya diam melamun saja, bahkan duduk termenung dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Axel sungguh bingung dengan perubahan yang langsung terjadi pada Dila yang begitu cepat. Apalagi tiba-tiba Dila meletakkan kepalanya di bahu Axel, membuat Axel semakin tambah penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Dila.
"Ada apa denganmu Dila?!" Batin Axel bertanya.
Tiba-tiba,,,
Deg,,,,