
"Aku tidak ingin menundanya lagi" jawab Chan.
"Oh begitu, bagaimana dengan perusahaan kamu?"
"Kita akan ke perusahaan aku dulu"
"Lalu kenapa harus mengajakku? Kau kan bisa ke sana dulu baru ke sini jemput aku!" Ujar Gisella.
"Perusahaan aku letaknya nggak jauh dari hotel itu, jadi aku nggak mau jauh-jauh buat jemput ke sini lagi" ujar Chan.
Mereka pun berpamitan dengan Lisa, Nadia dan juga Nathan yang ada di mansion Gisella. Setelah itu mereka menuju ke perusahaan milik Chan.
Di tengah perjalanan,,,,,,
"Bahkan sikap kamu sekarang berubah dan dingin padaku, Chan! Apa yang sudah aku lakukan sehingga membuatmu jadi seperti ini? Padahal sebelumnya aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa kamu berubah, Chan?" batin Gisella.
"Hey apa kau akan terus diam di sana?" Kata Chan dari luar mobil. Gisella baru sadar kalau mobil yang dia tumpangi sudah berhenti.
Setelahnya Gisella turun dari mobil dan berjalan di belakang Chan hingga memasuki perusahaan milik Chan. Para staf perusahaan pun menyambut kedatangan Chan, karena sudah sekian lama Chan tidak terlihat di perusahaan.
Sesampainya di ruangan Chan, Chan langsung masuk bersama dengan Gisella.
Di ruangan itu ada Alex yang mengerjakan beberapa berkas. Alex terlihat sedang sibuk sekali, sampai-sampai tidak melihat Chan yang datang. Dia hanya tahu kalau ada seorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Hey, ketuk pintu dulu kalau masuk, apa kau tidak memiliki sopan santun?" Ujar Alex sambil membolak-balikkan berkas yang dia kerjakan.
Gisella yang melihatnya mengangkat satu alisnya lalu berkata "Bukankah ini perusahaan kamu?"
"Ekhem!!!" Ujar Chan yang berdehem melihat Sehun.
Sehun pun menoleh ke sumber suara, dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depannya. Alex langsung berlari memeluk Chan yang kini sudah kembali.
"Lo kemana aja sih, Chan! Semua pekerjaan ini sangat menyiksa gue!! Gue udah cari lo kemana-mana bahkan mansion lo kosong! Eh tapi tunggu,,,, siapa dia?" Ucap Alex yang berakhiran dengan sebuah pertanyaan.
"Dia Gisella" jawab Chan.
Gisella dan Alex pun saling berjabat tangan tanda saling berkenalan. Alex menatap dari atas sampai bawah style Gisella, bahkan tidak berkedip.
"Udah ngelihatnya?" Tanya Chan yang menyadarkan Alex.
"Eh,, sorry ,Chan! habisnya dia cantik!" Ceplos Alex.
"Ck" memalingkan wajahnya.
"Selesaikan semua berkas-berkas itu!!" Suruh Chan yang setelahnya berjalan hendak pergi.
"Lo mau ke mana lagi? Bahkan lo belum cerita sama gue!!" Tanya Alex yang melihat Chan berjalan pergi.
Chan pun berbalik arah dan menceritakan segalanya pada Alex.
"Jadi kalian tinggal bersama? Satu mansion?" Tanya Alex dengan wajah terkejutnya.
"Menurut lo?" Tanya Chan balik.
Alwx bahkan belum sempat menutup mulutnya setelah bertanya, Chan pun sudah mengajak Gisella pergi dari sana.
Masih di ruangan Chan, terlihat Alex sedang berpikir keras.
"Astaga? Dia pergi beberapa minggu dan hanya menceritakannya sesingkat itu sama gue?" Ujar Alex yang salut akan Chan.
Mata Sehun pun mengarah pada berkas-berkas yang ada di meja.
"Haish, kapan kelarnya sih ini!" Ujar Sehun sembari mengacak-acak rambutnya.
Chan pun memutuskan untuk langsung pergi ke hotel. Sesampainya mereka di sana Chan berkata pada Gisella,,,,
"Gisella"
"Iya?" Jawab Gisella singkat.
"Aku ingin berterima kasih kepadamu" ucap Chan.
"Untuk?" Jawab Gisella lagi dengan singkat.
"Chan, sudahlah! Yang lalu biarlah berlalu! Lebih baik kita turun dan segera mencari keberadaan pacar kamu!" Pinta Gisella.
Sebelum Chan turun dari mobilnya, dia melepas kalung pemberian Gisella dan mengembalikannya kepada Gisella.
"Kenapa kamu kembalikan padaku? Kenapa nggak kamu buang saja? Lagi pula ini sudah menjadi hak kamu!" Pungkas Gisella.
"Tidak! Aku tidak akan bisa membuangnya! Lebih baik aku memintamu untuk menjaganya daripada harus aku buang"
"Tapi Chan,,,,,," terpotong.
Chan mengarahkan jari telunjuknya ke mulut Gisella , pertanda bahwa Chan menyuruh Gisella untuk diam.
Deg,,,,,,
Gisella menelan ludahnya lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Chan.
Chan lalu memberikan kalung itu ke tangan Gisella. Gisella menerima kalung itu dengan perasaan sedih dan tanpa menatap Chan.
"Aku cuma tidak mau kalau sampai Wendy salah paham pada kalung itu nantinya!"
"I,,,iya aku tahu" ujar Gisella dengan gugup dan menatap ke luar jendela.
"Maafkan aku Gisella, aku tidak bermaksud mengembalikan kalung itu padamu dengan cara seperti ini." Ujar Chan di dalam batinnya sembari menatap Gisella yang sedang mengalihkan pandangannya.
Chan turun terlebih dahulu, sedangkan Gisella masih berada di dalam dan menggenggam erat kalung yang sudah di kembalikan oleh Chan. Entah kenapa air mata Gisella jatuh dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat Gisella menghapus air matanya supaya Chan tidak mengetahuinya.
Gisella pun turun dari mobil. Chan yang melihat mata Gisella yang memerah pun akhirnya bertanya pada Gisella. Namun Gisella menyembunyikan apa yang ada di hatinya pada Chan.
"Gisella, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Chan di dalam hatinya karena merasa ada yang di sembunyikan oleh Gisella darinya.
Karena Gisella berjalan terlebih dahulu akhirnya Chan mengikutinya dan segera menuju ke kamar nomor 126.
Sesampainya di depan kamar nomor 126, Chan mengetuk pintu itu padahal dia sudah memegang kunci cadangan kamar itu.
"Kenapa kau mengetuk pintunya?" Tanya Gisella heran.
"Siapa tahu aja, Wendy membukakan pintunya untukku"
"Kau memiliki kunci cadangan bukan? Pakai saja kunci itu!" Suruh Gisella.
Chan pun menuruti apa kata Gisella dan membuka pintu itu.
Saat pintu itu terbuka, Gisella langsung mencium bau anyir di kamar itu, dan dia juga merasa ada yang mengawasinya.
Perlahan Chan dan juga Gisella masuk ke dalam kamar nomor 126 itu. Dan terdengar suara shower kamar mandi yan g menyala, menandakan bahwa ada orang di dalam kamar itu.
"Wendy apa kau di dalam?" Tanya Chan dengan nada sedikit teriak.
"Haish, kau ini tidak sopan sekali!" Ujar Gisella kesal.
"Biarkan saja! Dia adalah kekasihku sekaligus calon istriku , jadi aku berhak atas dirinya!"
Deg,,,,
Hati Gisella seketika seperti tertusuk oleh ribuan duri. Hal itu di karenakan perkataan Chan yang menyakitkan bagi Gisella.
Gisella pun memutuskan untuk menunggu dengan duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Wendy!" Panggil Chan.
"Chan, apa itu kau?" Jawab seseorang dari balik pintu kamar mandi.
"Apa kau di dalam?" Tanya Chan.
"Iya, Chan aku sedang mandi, sebentar lagi aku akan keluar!" Ujar seseorang di balik pintu kamar mandi itu yang tak lain adalah Wendy.
"Kalau begitu aku akan menunggu kamu di sofa!" Ujar Chan yang setelahnya berjalan ke arah sofa, tepatnya di sofa yang juga di duduki oleh Gisella.