
"Gisella, kamu mau?" Ucap Chan sambil menyodorkan sumpit dengan daging yang lezat di ujungnya.
Gisella hendak memakan suapan itu namun Chan justru malah memakannya sendiri.
"Haish, dasar!!" Ucap Gisella Geram pada Chan.
"Eh, Chan !! Gue mau nanya sama lo?!" Kata Nathan yang menyela pembicaraan.
"Tanya aja!" Kata Chan menyuruh Nathan untuk mengatakan apa yang akan dia tanyakan.
"Lo benar-benar mencintai Wendy?!" Tanya Nathan yang membuat Chan langsung berpikir.
Chan berpikir setelah kejadian tadi siang. Chan tidak lagi memikirkan Wendy, Aneh! Tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta ketika ditinggal pas lagi sayang-sayang nya. Biasanya ketika ditinggal oleh orang yang kita sayangi atau bahkan kita cintai, kita yang mencintainya akan merasa sangat kehilangan. Namun berbeda dengan Chan, justru Chan tidak merasakan apapun. Seakan dia tidak pernah mengenal Wendy.
Hal itu karena Chan sudah tidak lagi terpengaruh oleh Wendy. Dan pengaruh itu sudah hilang terhadapnya.
"Ini aneh! Kenapa aku tidak merasakan apapun, bahkan aku tidak mengingat Wendy?!" Ujar Chan yang merasa aneh pada dirinya.
"Itu karena sebelumnya kau dalam pengaruh Wendy, Chan!" Jawab Gisella memperjelas lagi.
"Chan, apa kau tahu? Gisella rela mati demi menyelamatkan kamu!!" Ucap Lisa dengan tiba-tiba hingga membuat Gisella malu sendiri.
"Eh, apaan sih!" Ucap Gisella sambil mencoba menutup mulut Lisa dengan beberapa makanan.
"Terus asal kamu tahu aja nih ya, dia rela pergi ke tempat angker buat nyari bunga anggrek hitam yang mampu menangkal iblis!" Ucap Lisa lagi sembari menahan tangan Lisa yang hendak menutup mulutnya.
"Bahkan dia sampai rela datang ke markas besar seorang mafia nomor 1 demi mendapatkan bunga anggrek yang dia butuhkan itu!" Timpal Nadia membantu Lisa.
"Apa benar begitu?" Tanya Chan sembari menoleh ke arah Gisella. Dengan hati yang berbunga-bunga mengetahui kalau Gisella sampai senekat itu untuk menyelamatkan dirinya.
Gisella tertunduk malu saat di pandang oleh Chan, lalu dengan segera dia pergi ke kamar mandi untuk melarikan diri, sebelum yang lain memojokkannya lagi.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau kau juga memiliki rasa yang sama sepertiku, Gisella! Maaf karena sebelumnya aku tidak bisa mengerti dirimu!" Ucap Chan di dalam batinnya sembari melihat Gisella yang masuk ke dalam mansion.
Lalu Chan pun menyusul Gisella untuk masuk ke dalam mansion.
Melihat Chan yang masuk menyusul Gisella. Byun langsung berpamitan pada semuanya untuk pulang, dengan alasan ada urusan mendadak. Padahal kenyataannya Byun tidak bisa menahan lagi sakit hatinya.
"Gue pamit dulu ya, ada urusan mendadak yang harus gue selesaikan!" Ucap Byun berbohong.
"Loh, lo nggak nginep di sini sama kita?" Tanya Nathan pada Byun yang sudah bangkit dari duduknya.
"Sorry! Gue nggak bisa ninggalin urusan mendadak ini!" Ucap Byun.
"Baiklah, kalau begitu, berhati-hatilah!" Ucap Nathan yang menyuruh Byun untuk berhati-hati di jalan saat menyetir.
"Kalau gitu sampaikan salam gue sama Gisella!! Permisi?!" Ucap Byun dengan wajah tersenyum manis ke arah teman-temannya itu. Lalu setelahnya pergi tanpa berpamitan pada Gisella dulu.
"Ada apa dengan Byun?" Tanya Lisa yang merasa heran dengan tatapan Byun.
"Entahlah, kayaknya ada cinta segitiga!" Ucap Nadia yang membuat seluruh mata tertuju padanya karena penasaran dengan maksud dia.
"Eh, gimana-gimana?" Tanya Jeni dengan antusias karena tak mengerti yang dimaksud oleh Nadia. Saat Nadia hendak menjelaskannya pada Jeni, Nathan pun menyelanya.
Nadia pun memutar mata malasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi Byun, setelah keluar dari mansion Gisella. Byun menaiki mobil miliknya lalu melajukan perlahan mobilnya itu.
"Haish, kenapa gue jadi kayak gini sih? Harusnya kan gue senang kalau lihat Gisella bahagia!!" Ucap Byun di dalam mobilnya.
Saat dia sedang berseteru dengan pikirannya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena kesal pada dirinya sendiri. Namun saat itu tiba-tiba saja ada yang menelfon Byun. Byun sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya karena nomor tidak di kenal. Karena pikiran Byun sedang bingung. Byun yang hendak mengangkat telepon itu, justru ponselnya malah terjatuh di sela-sela rem mobilnya.
"Haish, ada-ada aja sih!!!" Ucap Byun yang masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Karena merasa geram, Byun pun berusaha mengambil ponsel miliknya yang terjatuh tanpa menghentikan mobilnya yang sedang melaju kencang. Tanpa Byun sadari ada truk yang juga melintas di arah yang berlawanan dengan Byun. Truk itu melaju sangat kencang karena mendapati jalanan yang sepi. Sampai akhirnya menabrak mobil Byun yang sudah keluar dari jalur mobilnya. Mobil Byun terguling bahkan jauh dari tempat dia mengalami kecelakaan.
Sedangkan di saat yang bersamaan. Gisella sedang pergi ke dapur untuk mengambil beberapa daging lagi, dan juga untuk melarikan diri dari godaan teman-temannya itu.
Chan yang saat itu hendak menyusul Gisella ke dalam mansion, mendengar suara barang pecah. Kemudian dia segera mencari keberadaan Gisella karena khawatir terjadi sesuatu pada Gisella.
Cetiarrrr,,,,,,,
"Gisella!" Ujar Chan setelah melihat Gisella di dapur.
"Akhh" Tangan Gisella berdarah akibat mengambil beberapa pecahan piring yang hendak dia bawa tadi bersama dengan potongan daging.
"Astaga, tangan kamu berdarah?!" Ucap Chan dengan segala kekhawatirannya.
"Aku nggak apa-apa, Chan!" Ucap Gisella yang tidak ingin merepotkan Chan.
"Sudah, biar aku saja yang membersihkannya nanti! Sini aku obati dulu luka kami!" Ucap Chan yang kemudian menarik pelan tangan Gisella dan mengobati lukanya.
Setelah selesai mengobati luka kecil di tangan Gisella, Chan pun membersihkan pecahan piring itu. Sedangkan di sisi Gisella, dia merasa tidak enak dengan perasaannya.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak ya?" Ucap Gisella yang melamun dan mencoba untuk berpikir.
"Gisella, kamu bicara sama siapa?" Tanya Chan yang masih membersihkan pecahan piring, yang letaknya juga tidak jauh dari tempat Gisella berdiri.
"Eh, nggak apa-apa kok! Kamu tenang saja!" Ucap Gisella yang sedikit terkejut.
Setelah selesai membersihkan pecahan piring itu. Gisella dan juga Chan keluar menuju halaman dengan membawa beberapa daging segar untuk dipanggang.
Gisella seperti merasa ada yang kurang, namun dia masih mencoba berpikir apa yang kurang dari semua yang ada di sana.
"Loh, Byun mana?" Tanya Gisella sembari menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Byun.
"Byun tadi bilang ke kita kalau dia mau pulang duluan, katanya sih ada urusan mendadak!" Kata Lisa sembari memasukkan daging yang sudah matang ke dalam mulutnya.
"Bukannya dia bilang mau menginap di sini?" Tanya Gisella heran.
"Nggak tau juga sih ,Sel! Tapi yang jelas tadi dia juga nitip salam buat kamu!" Ucap Lisa lagi yang di jawab anggukan oleh Gisella.