
Bak tersambar petir di siang bolong, Semua yang ada di sana merasa sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh dokter tadi. Mereka bahkan tidak pernah menyangka kalau hasilnya akan menjadi sefatal ini. Gisella yang saat itu kembali pingsan, tidak mengetahui kalau dirinya sudah kehilangan calon anaknya.
"Tidak mungkin! Ini pasti salah!! Cepat kembalikan anak ku!!" ucap Chan yang terlihat sangat emosi lalu menarik kerah Dokter tadi. Suho berusaha menenangkan Chan yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.
"Maaf tuan tapi saya tidak bisa melakukan apapun, ini sudah menjadi suratan takdir! Tuan harus bisa ikhlas menerima semua ini, kalau begitu saya permisi!" ucap dokter itu yang setelahnya berlalu pergi.
Setelah dokter itu pergi dari sana, semua menenangkan Chan yang masih terlihat emosi, dan sesekali menitihkan air matanya mengingat calon anaknya yang telah tiada.
"Chan lo harus tenang , lo nggak boleh kayak gini, lo harus kuat demi Gisella!" ucap Nathan menenangkan Chan.
"Nathan, dari awal gue udah bilang kalau enggak perlu melakukan hal kayak gini, dan sekarang yang kalian lihat sendiri kan akibatnya?" ucap Chan yang merasa sangat menyesal memperbolehkan Gisella untuk melakukan astral projection. Air mata Chan mengalir deras dari pelupuk matanya ,menandakan bahwa dia merasa sangat kehilangan akan kepergian calon anak pertamanya.
"Lo harus sabar Chan kita semua juga nggak tahu kalau akhirnya bakal jadi kayak gini! kalau kita tahu semuanya bakalan kayak gini kita juga nggak mau ngelakuin ini! kita semua juga merasa kehilangan Chan!" ucap Leon yang juga berusaha menenangkan Chan.
Setelah semuanya terasa tenang mereka duduk di samping Gisella yang masih terbaring pingsan di ranjang. Mereka tidak tahu apa yang akan Gisella rasakan saat mengetahui kalau calon anak pertamanya sudah tiada. Mereka takut kalau sampai Gisela tidak bisa mengendalikan emosinya.
Chan yang hanya bisa terdiam menatap wajah istrinya sendu , dirinya bingung harus mengatakan apa pada istrinya nanti. Dari wajah Chan terlihat penyesalan atas apa yang sudah dilakukan Gisella tadi. kalau saja tadi Chan tidak mengijinkan Gisella Untuk melakukan astral projection. Mungkin calon anak mereka pasti masih hidup.
Selang beberapa menit kemudian, Gisella terbangun dari pingsannya.
"Gisella, sayang!" ucap Chan menatap Gisella yang sudah tersadar dari pingsannya, lalu dengan segera dia mengusap air mata yang tadi membasahi pipinya.
"Chan, Kenapa kamu menangis? apa ada masalah?" tanya Gisella heran menatap wajah suaminya yang lesu.
Semua yang ada di sana pun keluar ,dan kini hanya menyisakan Gisella dan juga Chan di dalam kamar itu. Gisela terlihat bingung, ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang tiba-tiba keluar saat Gisella menanyakan apa yang menyebabkan Chan tampak lesu.
Setelah mereka semua keluar dari kamar itu, Chan menitihkan air matanya saat menatap wajah istrinya itu.
"Chan, Kenapa kamu aja diam dan menatapku seperti itu? dan tadi kalian semua juga kelihatannya seperti orang yang habis menangis! Chan, Sebenarnya ada apa? tidak perlu menangis, bukan? aku baik-baik saja! Sungguh! Aku sudah kembali sayang!" ucap Gisella sambil menangkup wajah suaminya itu, dan mengusap air mata Chan.
Chan hanya bisa meneteskan air matanya ,dan dengan segera dia langsung memeluk istrinya. Gisella masih sangat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka semua.
"Anak kita!'' ucap Chan yang masih mencoba merangkai kata supaya Gisela tidak terlalu sakit saat mendengar kabar buruk itu.
"Hah? anak kita kenapa?" tanya Gisella bingung sembari menaikkan satu alisnya ke atas.
"Kamu,,," ucap Chan yang masih belum sanggup untuk mengatakan semuanya pada istrinya itu.
"Sayang cepat katakan ada apa, Kenapa dengan kita?'' ucap Gisella yang masih terus merasa khawatir dan kini perasaannya mulai tidak.
Chan mengambil nafas panjang lalu menghela nya dengan kasar.
"Kamu keguguran sayang!" 1 kalimat keluar dari mulut Chan yang sedari tadi membuat dirinya bingung harus mengatakannya seperti apa lagi.
Deg,,,,
"Enggak !! ini gak mungkin!! Chan Pasti kamu bohong kan?" ucap Gisella yang masih belum percaya akan apa yang diucapkan Chan tadi. Namun tanpa Gisella ketahui dirinya perlahan menitihkan air mata.
"Chan cepat katakan kalau ini hanya bohong! ini enggak lucu tau enggak!" ucap Gisella yang masih tak percaya dan menganggapnya hanyalah sebuah lelucon.
Merasa kalau Chan tidak bisa mengatasinya sendiri. Mereka semua yang sedari tadi berada di balik pintu kamar itu ,langsung masuk perlahan secara bersamaan.
"Gisella, yang Chan katakan itu benar!! kamu harus bisa ikhlas!!" ucap Lisa yang mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Gisella.
Mendengar ucapan dari Lisa ,Gisella pun mencoba mengingat saat kejadian dirinya masuk ke alam lain, melalui astral projection yang sempat dia jaga portalnya.
Flashback on,,,
Saat Gisella digendong oleh Nathan dan dibawa menuju portal astral projection, Gisella merasakan sakit pada bagian perutnya dan bahkan mengeluarkan banyak darah.
Flashback off,,,,
"Tidak!!! Ini tidak mungkin!!! TIDAK!!!!" Gisella berteriak histeris dan juga menangis.
Saat Gisella berteriak histeris semuanya yang ada di sana ikut merasakan apa yang Gisella rasakan. Kehilangan sosok anak yang bahkan belum sempat di lahir kan, membuat Gisella tak percaya dengan apa yang sedang menimpa dirinya. Masih seperti mimpi baginya.
"Gisella, tenangkan diri kamu!" Ucap Chan sembari memeluk Gisella untuk menenangkannya.
"Tidak Chan, Tidak!! Anakku tidak mungkin ikut musnah bersama iblis itu!!" ucap Gisella yang masih menangis histeris, dan masih tidak percaya kalau anaknya telah tiada.
Semuanya tercengang mendengar apa yang di ucapkan oleh Gisella, mereka tak percaya kalau anak Gisella ternyata tewas karena iblis itu.
"Sayang, apa maksud kamu?" Tanya Chan pada istrinya itu.
"Tidak!!! Ini tidak mungkin!!!!" Gisella masih menangis menangis histeris.
"Gisella tenangkan diri kamu!" Kata Jiso yang melihat Gisella menangis tanpa kendali.
"ANAK KU!! KEMBALIKAN ANAK KU!!" Teriak Gisella yang masih menangis sejadi-jadinya. Kemudian Gisella pingsan seketika.
"Gisella bangun sayang!" Panggil Chan pada Gisella yang pingsan dalam dekapannya. Chan juga menangis melihat istrinya yang sedari tadi menangis tanpa henti.
Setelah itu Nathan memberitahu Chan supaya mengajak Gisella untuk Kembali ke Mansion yang ada di negara mereka sendiri.
"Sebaiknya kita kembali ke Mansion milik kita sendiri, gue khawatir kalau sampai nanti malam menangis histeris kayak tadi kalau kita masih di sini!" Saran Nathan.
"Iya, Nathan ! lo benar! gue kasihan kalau sampai ngelihat Gisella menangis histeris kayak tadi! gue juga sedih atas kepergian calon anak gue, tapi Gisella pasti lebih merasa kehilangan!" ucap Chan yang sesekali menyeka air matanya.
Setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke negara mereka sendiri. Tak lupa mereka berpamitan pada Tao, di makam yang ada di dekat mansion itu. Karena Tao dimakamkan di sana.
Mereka pun kembali menggunakan pesawat pribadi milik Nathan. mereka juga tidak lupa untuk memberitahu beberapa mafioso, untuk tinggal di mansion itu.