Kamar 126

Kamar 126
Mencintaimu


"Astaga, kenapa aku malah jadi bahas Byun di depan Chan? Haish, tapi untuk apa aku mengkhawatirkan, Chan? Lagi pula dia tidak memiliki rasa padaku! Jadi untuk apa aku terlalu berharap padanya?!" Kata Gisella di dalam batinnya.


Sedangkan di posisi Chan sekarang, dia berada di dalam kamar tanpa mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Kenapa rasanya hatiku sakit saat Gisella menyebut nama Byun berulang kali! Dan seakan mereka memiliki hubungan khusus!" Ucap Chan yang masih menduga-duga.


"Aku ingin marah, tapi apa hak aku untuk marah padanya? Aku juga bukan siapa-siapa Gisella!" Ucap Chan lagi lalu menghela nafas.


"Aku memang mencintaimu, Gisella! Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan kamu kepadaku?! Mungkin aku sudah salah memimpikan ingin memiliki kamu selamanya, hati kamu sekarang sudah menjadi milik, Byun?!" Ucap Chan dengan diakhiri tundukan kepalanya karena merasa menyesal.


"Apa yang kamu katakan, Chan?" Kata Velia yang sedari tadi sudah berada di belakang Chan ,namun Chan tidak mengetahuinya.


Deg,,,,


Chan terkejut setengah mati mengetahui Gisella yang berada di belakangnya. Gisella sendiri mendengar semua yang diucapkan oleh Chan barusan. Karena saat Chan meminta ijin untuk pergi ke kamarnya mengambil ponsel. Gisella merasa aneh dengan sikap Chan. Maka dari itu, Gisella memutuskan untuk mengikuti Chan ke kamarnya. Saat Gisella mengikuti Chan ternyata pintu kamar Chan masih terbuka sedikit, saat Gisella hendak menyapa Chan. Justru Gisella mendengar ucapan Chan dan memutuskan untuk masuk tanpa ijin dari Chan.


"Gisella? A,,apa yang ka,,kamu lakukan di si,,sini?!" Tanya Chan gelagapan karena tak menyangka ada Gisella di belakangnya.


"Ini mansion ku! Apa kau lupa? Aku ke sini untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja! Dan kebetulan pintu kamar ini masih terbuka sedikit, jadi aku langsung masuk ke dalam.


"Apa Gisella mendengar semua yang aku katakan tadi?" Tanya Chan di dalam hatinya sambil menelan ludah.


"A,,apa kau mendengar yang a,,aku katakan tadi?" Tanya Chan yang masih gugup.


Gisella menjawabnya dengan anggukan perlahan, sontak membuat Chan membelalakkan matanya karena terkejut ketika Gisella tahu kebenaran tentang perasaannya.


"Mm,,maaf aku su,,,sudah berbicara lancang se,,seperti itu tadi! Aku tidak bermaksud untuk,,,,,,,,,,"


"Syuuttttt" Isyarat Gisella dengan jari telunjuknya yang mengarah pada bibir Chan, Gisella menyuruh Chan untuk diam dan memotong ucapan Chan begitu saja.


Gisella menatap mata Chan lekat-lekat. Perlahan Gisella menurunkan jari telunjuknya yang ada di mulut Chan. mereka menajamkan matanya masing-masing karena semakin dekat jarak antara mereka.


Kini mata mereka berdua saling beradu. Bahkan tidak ada yang mengucap sepatah kata pun saat itu, bibir mereka sama-sama membeku karena degupan kencang pada hati mereka.


Nafas mereka seakan membara karena merasakan sesak di dada mereka masing-masing. Perasaan keduanya sama, namun mereka masih bingung bagaimana cara mengungkapkan rasa itu.


"Gisella, aku mencintaimu," Kata yang langsung keluar dari mulut Chan dengan penuh keseriusan di dalam hatinya.


Mata Gisella berkaca-kaca mendengar kata yang keluar dari mulut Chan itu.


"Selama ini, aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya padamu! Saat aku kehilangan ingatanku, entah kenapa aku selalu merasa nyaman saat berada di dekat kamu!! Bahkan saat ingatanku kembali dan aku tahu kalau aku memiliki kekasih, perasaanku tidak dapat di bohongi, Gisella!! Aku mencintaimu, Gisella!! Aku mencintaimu!! Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan kamu!!" Ucap Chan dengan mata yang berkaca-kaca hendak menangis dengan masih menatap mata Gisella.


Perlahan Chan memeluk hangat Gisella. Gisella yang kini berada di pelukan Chan , matanya berkaca-kaca dan pada akhirnya menitihkan air matanya, lalu perlahan juga membalas pelukan hangat Chan.


"Aku juga mencintaimu, Chan! Aku mencintaimu!!" Kata pertama yang keluar dari mulut Gisella saat masih berada di pelukan Chan.


Mendengar ucapan Gisella, mereka saling memeluk dengan erat. Dengan ungkapan perasaan Gisella yang seperti itu, menandakan kalau dirinya menerima cinta dari Chan.


Kini mereka saling memeluk bahkan cukup lama mereka larut dalam perasaan cinta itu. Air mata yang keluar dari mata mereka itu adalah air mata kebahagiaan. Sampai akhirnya mereka melepas pelukan dan Gisella berkata.


"Chan, Byun adalah sahabatku! Kau tidak perlu cemburu padanya! Aku hanya khawatir dengan sahabatku itu saja! Aku harap kamu mengerti?!" Ucap Gisella menjelaskan pada Chan dengan masih berlinangan air mata yang penuh haru kebahagiaan di hatinya.


"Aku mengerti! Yang aku inginkan kini sudah aku dapatkan, dan selamanya akan aku perjuangkan dan bahagiakan,,sampai masa depan lalu kemudian ajal akan menjemput dan mempertemukan kita lagi di kehidupan yang akan datang!" Kata Chan sembari menghapus air mata Gisella.


Gisella tersenyum mengangguk lalu kembali memeluk Chan hangat.


"Aku akan mengantarmu ke mansion Byun!" Ucap Chan lagi.


Gisella hanya menjawabnya dengan anggukan karena mulutnya kini tak mampu untuk berkata-kata lagi. Kebahagiaan miliknya yang sempat pupus kini datang menghampiri dirinya, sampai dia tidak tahu lagi cara berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang sudah diturunkan padanya.


Chan pun mengantarkan Gisella ke mansion Byun. Namun yang lain memutuskan untuk tetap berada di mansion Gisella.


Sesampainya di mansion Byun, Gisella segera turun dari mobil. Pintu gerbang mansion Byun terkunci dari luar, bahkan terlihat tidak ada siapapun di dalam sana dan yang dilihat oleh Chan dan Gisella adalah sebuah mansion yang tak berpenghuni.


"Chan, sepertinya mansion Byun kosong!" Kata Gisella sambil memegang gerbang Byun yang masih terkunci itu.


"Kamu yakin ini mansion nya?" Tanya Chan dengan mata yang melihat ke arah mansion Byun.


"Iya aku yakin, aku kan pernah ke sini buat bantuin dia dulu!" Kata Gisella menjelaskan.


"Lalu kenapa gerbangnya di kunci?"


"Aku juga tidak tahu?! kata Lisa, tadi Byun pulang karena ada urusan mendadak, tapi kenapa mansion nya kosong? Apa jangan-jangan Byun pergi?!" Kata Gisella yang masih menduga-duga tentang keberadaan Byun di mana.


"Pergi ke mana?" Tanya Chan dengan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak tahu, tapi firasat ki mengatakan kalau Byun nggak ada di sini, mansion ini kosong!" Kata Gisella.


"Terus sekarang kita harus gimana?" Tanya Chan pada Gisella yang kini terlihat khawatir.


"Kita balik ke mansion aja dulu!". Saran Gisella dan langsung saja di turuti oleh Chan.


Chan dan Gisella pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion milik Gisella. Ditengah perjalanan Gisella terlihat sangat khawatir akan Byun, dan Chan yang melihat itu merasa penasaran seberapa dekat Gisella dengan Byun.


"Gisella!" Panggil Chan yang sedang menyetir.


"Ada apa, Chan?" Tanya Gisella.


"Kenapa kamu kelihatannya khawatir banget sama Byun?" Tanya Chan yang masih fokus menyetir dan pandangan melihat ke depan.


"Aku cuma nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, Chan! Dia udah menolong aku!" Kata Gisella.


"Menolong? Menolong apa?" Tanya Chan penasaran.


"Emhh, itu,,, " Ucap Gisella gugup.


"Ceritakan saja sayang!"


Deg,,,,,