Kamar 126

Kamar 126
Buku kuno


Viola yang mendapat penolakan pun tidak berani membantah, dirinya juga takut kalau sampai nanti di keluarkan dari kampus hanya karena menggoda mahasiswa pemilik kampus.


"Baiklah ,panggil aku jika kau membutuhkan aku!" Ucap Viola dengan nada manja. Lalu setelahnya mencari tempat duduk di kantin itu.


Lukas yang tak sengaja melihat Mark menatap ke arah geng Viola pun buka suara, "Lo kenapa kak?!" Tanya Lukas pada Mark.


Spontan Mark langsung menatap ke arah Lukas yang sedang meminum cola.


"Dia tadi siapa lo sih? Tumben lo bisa deket sama cewek!" Kata Mark penasaran.


Lukas tersenyum miring, "Dia itu nggak lebih dari seorang j*l*ng! Dia sendiri yang merangkak masuk ke apartemen gue, dan ya kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya!" Kata Lukas dengan entengnya, membuat mata Mark membulat.


"Jangan bilang lo udah tidurin dia?!" Tanya Mark tak percaya.


"Lo nggak percaya kak? Ini Lukas loh! Bahkan itu juga akan menjadi yang pertama dan terakhir buat Lukas di masa remajanya!" Kata Alfin membenarkan ucapan Lukas tadi.


"Benar begitu?!" Tanya Mark. Dan Lukas hanya menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya Mark sendiri merasa tidak enak mendengar pengakuan dari saudaranya itu. Akan tetapi siapa yang bisa melawan Lukas? Bahkan dirinya ternyata juga tidak sengaja meniduri Viola, karena pengaruh obat yang di berikan oleh teman satu kampus nya. Dan apa kalian tahu apa yang di lakukan Lukas setelah mengetahui kalau dia di jebak oleh teman satu kampusnya?


Temannya itu langsung di seret ke markas, dan di siksa. Bahkan Lukas tak segan-segan untuk menyuntikkan obat per*ngs*ng pada tubuh temannya itu.


Flashback on,,,


Hari itu tepat di mana Lukas pamit pada kedua orang tuanya untuk melakukan acara party di sebuah hotel. Bahkan Lukas sengaja pergi sendiri , karena dia nantinya akan sekaligus pergi ke markas.


"Woah, bro gue kira lo nggak dateng ke sini!" Ucap Robert, teman satu kelas juga dengan Lukas dan para saudaranya. Namun dia hanya dekat dengan Lukss saja.


Dengan tatapan dingin Lukas, dirinya menjawab, "Gue nggak mungkin ingkari janji gue! Apa yang mau lo taruhkan malam ini?!" Tanya Lukas di akhir ucapannya.


Dan ternyata tujuan Lukws datang ke sana itu untuk menjalani sebuah taruhan yang di berikan dari temannya itu. Meski sebenarnya Lukas tidak tahu taruhan tentang apa, namun bukan Lukas namanya kalau mundur sebelum bertempur. Sampai akhirnya Lukas datang ke sana untuk memenuhi apa yang di minta oleh temannya. Tentu dia tidak ingin di bilang lemah hanya karena tidak berani datang untuk mendatangi pesta yang berkedok taruhan itu.


"Kita taruhan, siapa yang bisa ngabisin minuman ber*lkohol ini paling banyak, dia yang menang!" Kata Robert memberikan taruhan pada Lucas.


"Ck, hanya itu? Lalu apa yang gue dapet kalau gue menang?!" Tanya Lukas dengan tersenyum meremehkan.


"Kalau begitu, gue akan pertaruhkan mobil gue jika nantinya gue kalah!" Lanjut Lukas, baginya mobil miliknya itu tidak bernilai apapun. Akan tetapi berbeda dengan Robert, yang antusias ketika mengetahui kalau Lukas akan mempertaruhkan mobilnya.


"Baiklah, karena gue nggak terlalu kaya! Lo bisa menentukannya! Katakan apa yang perlu gue pertaruhkan kalau lo menang!" Kata Robert dengan kepercayaan dirinya.


"Gue mau lo yang di pertaruhkan, kalau gue menang, lo harus turuti semua yang gue minta! Termasuk mati sekali pun!" Ucap Lukas dingin sambil melipat kedua tangannya di dada.


Robert tampaknya tak keberatan dengan apa yang di minta oleh Lukas barusan, "Baiklah, itu sangat mudah! Gue akan turuti semua kemauan lo kalau nantinya lo yang menang dalam taruhan ini!!" Kata Robert dengan kepercayaan dirinya.


Di kamar hotel itu tidak hanya mereka berdua, tentu ada banyak teman-teman Robert dan juga perempuan atau lebih tepatnya kekasih Robert dan beberapa temannya.


Acara taruhan itu pun di mulai, karena memang sebelumnya Robert telah memberikan obat per*ngs*ng pada salah satu botol yang nantinya akan di minum oleh Lukas. Tanpa rasa curiga sedikit pun ,Lukas langsung memulai untuk meminum minuman ker*s.


Sebenarnya mau berpuluh-puluh botol pun Lulas pasti akan kuat dan hanya akan sedikit mabuk. Minuman ker*s adalah minuman nya sehari-hari di markas, jadi tidak mungkin dirinya bisa mabuk berat. Hingga dirinya tiba-tiba merasakan panas di sekujur tubuhnya.


"Apa AC di sini mati? Cepat perbesar AC nya!!" Pinta Lukas sambil menggoyangkan bajunya hingga menyebabkan angin. Tapi sayangnya itu tidak berguna sama sekali. Tubuh Lukas memanas hingga munculah h*srat yang harus dia tuntaskan secepatnya.


Akan tetapi sebelum itu, ternyata Lukas mulai menyadari kalau dirinya telah di jebak oleh Robert.


Robert tampak tersenyum seringai ke arah Lukas, "Selamat menikmati malam panjang lo bro!!" Kata Robert lalu mengambil kunci mobil Lukas dan keluar dari ruangan itu bersama dengan para temannya. Hingga hanya menyisakan Lukas sendiri di sana.


"Sialan!! Akan gue buat lo mati setelah ini!! Arrhhh!!" Lukas menger*ng kepanasan. Sedangkan di luar ruangan itu sudah ada satu wanita cantik, ya siapa lagi kalau bukan Viola. Viola sendiri sudah terobsesi dengan Lukas sejak lama, bahkan dia menginginkan Lukas untuk menjadi miliknya selamanya.


Hingga pada akhirnya dia ikut terlibat dalam permainan Robert itu, dengan memanfaatkan waktu seperti ini. Viola pasti akan bisa mendapatkan Lukas.


"Gimana?!" Tanya Viola setelah melihat Robert dan teman-temannya keluar dari ruangan itu.


"Lo tenang aja, semuanya beres!! Dia lagi kepanasan tuh di dalam! Selamat menikmati malam yang panjang!" Ucap Robert memberi selamat pada Viola. Di sisi Viola dirinya tersenyum seringai. Lalu perlahan masuk ke dalam ruangan itu untuk menemui Lukas.


Hingga akhirnya mereka mencapai pelep*san untuk yang ke 10 kalinya. Lukas benar-benar melakukannya dengan kasar, membuat Viola terkulai lemas tak berdaya.


Lukas lalu menelpon Adam untuk membawakan pakaian ganti dan menjemputnya. Lalu meninggalkan Viola yang terlelap karena kelelahan. Tak lupa Lukas memberikan uang 1 M cas, untuk Viola sebagai tanda bahwa mereka tidak pernah melakukan apapun.


Namun siapa sangka Viola justru masih berusaha mengejar cinta dari Lukas. Namun Lukas membiarkannya, selagi Viola tak berbuat macam-macam padanya.


Flashback off,,,


Memang isu kalau Viola sebagai seorang ****** tersebar setelah dirinya beberapa kali kepergok berduaan bersama om-om. Dan bahkan sering sekali gonta-ganti pasangan. Namun itu semua hanya menjadi pelarian Viola saja, dia mau di ajak melakukan sesuatu di atas r*njang dengan bayaran.


Dia sudah tidak dapat berpikir lagi. Yang penting , mahkota berharganya sudah dia berikan pada Lukas seorang. Yang mampu membuatnya terpikat. Akan tetapi itu bukanlah cinta, melainkan obsesi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gue kasihan sama temennya!" Kata Mark mengalihkan pembicaraan.


"Teman siapa?!" Tanya Adam pada Mark.


Mark menghela nafasnya, "Ada sosok yang mengikuti salah satu teman Viola, kayaknya dia punya dendam!" Kata Mark memberi tahu para saudaranya.


"Memangnya temen yang mana? Viola kan temennya banyak!" Ujar Zaki ikutan nimbrung.


"Pasti yang pendiem!" Kata Alfin langsung menyela sebelum Mark mengatakannya terlebih dahulu.


"Lo tahu dari mana?!" Tanya Mark.


"Gue cuma nebak doang kok! Oh, gue bener ya?!" Ujar Alfin bangga sembari meminum jus yang dia pesan tadi.


Menghela nafasnya "Ya udah lah, gue lagi malas bahas yang begituan! Nanti yang ada gue jadi nggak fokus kuliah!" Kata Mark.


"Lagian siapa juga yang nyuruh lo buat nyari tahu, biarin aja kali! Orang nggak ganggu juga!" Kata Lukas dengan datar.


Lalu Mark menanyakan letak keberadaan perpustakaan. Karena dirinya ingin sekali membaca buku di perpustakaan. Alfin yang sering ke sana pun akhirnya mengantarkan Mark untuk pergi ke perpustakaan.


Lalu bagaimana dengan masalalu dari Alfin tentang pertemuannya dengan Saviana? Tentunya kalian tidak mungkin lupa kan?


Ya, bahkan Saviana tidak akan pernah hilang dari ingatan Alfin. Hanya saja Alfin menyimpannya rapat menjadikan itu sebuah kenangan. Perpustakaan yang menjadi saksi bisu itu pun mereka datangi.


"Gue cari buku dulu! Lo ambillah, nanti gue bilang ke penjaga perpus buat bikinin lo kartu akses! Biar lo bisa pinjam buku-buku di sini!!" Kata Alfin. Meminjam? Tentu tidak mungkin bagi satu keluarga besar itu. Bahkan jika mau, mereka bisa membangun sebuah perpustakaan pribadi dengan berkali-kali lipat ukurannya di bandingkan dengan yang ada di perpustakaan itu. Ingatlah bawa itu hanya formalitas, ya meskipun mereka juga kadang membutuhkan wawasan yang luas. Atau bahkan bisa untuk mengembalikan mood mereka yang sedang hancur.


Saat itu Mark sudah mengambil sebuah buku yang dia inginkan. Dia membacanya. Lalu beberapa menit kemudian Alfin juga tampak berjalan mendekatinya dengan membawa sebuah buku di tangannya.


"Cepet banget sih lo kak?!" Tanya Alfin yang baru saja datang. Lalu kemudian dia duduk di depan kak Mark.


Mark hanya melihat Alfin sekilas lalu kembali fokus pada bukunya,"Gue cuma pengen lihat-lihat aja sih, dan kebetulan ada buku ini! Eh gue malah tertarik, jadi gue ambil aja terus gue baca!" Kata Mark sambil matanya masih fokus ke arah buku yang dia baca.


Alfin mencoba mencari tahu buku apa yang membuat kakaknya itu bisa tertarik dengan buku yang di pegang nya itu. Dan Alfin mendapatkan sebuah informasi dari judulnya yang dia baca, ' 3 benda penangkal iblis' itulah judul buku yang di baca oleh Mark.


Entah kenapa dia malah membaca itu, padahal Alfin pikir Mark akan mengambil buku pelajaran untuk dia menambah wawasan pengetahuan dirinya. Namun ternyata tidak, kakaknya itu sungguh unik, dan malah memilih tertarik pada merek makhluk lain yang biasa di sebut dengan sebutan hantu.


"Air suci? Air bunga anggrek hitam? Dan ini? Apa maksudnya tulisan ini?!" Gumam Mark saat dirinya kesulitan mendapat info dari nomor 3 yang ada di bukunya. Benar saja buku itu bertuliskan latin jawa yang membuat Mark tak tahu apa artinya. Benar, mereka hidup di kota besar. Bahasa jawa? Tentu saja mereka tidak tahu mengenai hal itu. Karena mereka hidup di jaman modern dan tidak ada bahasa jawa dalam pelajaran mereka.


Dengan sigap mark langsung tertarik dengan buku itu. Dia tidak akan meminjamnya, tapi dia akan membelinya. Tentu saja, dia akan sedikit menggunakan kartu yang mama Gisella berikan. Mark ingin membuat mama Gisella bangga kalau Mark menggunakan kartu itu. Karena dari awal Mark datang ke mansion besar itu, dirinya bahkan tidak pernah memakai blackcard yang mama Gisella berikan. Itu membuat Gisella gemas sendiri dengan anaknya yang satu itu. Mark sungguh anak yang hemat, pikir Gisella saat itu. Hingga membuatnya geram.


Setelah itu, mereka pulang ke mansion. Dan tak lupa Mark membawa buku yang baru saja dia beli di perpustakaan. Bahkan saat Mark hendak membelinya dengan uang, penjaga perpustakaan itu mengatakan. Bahwa dirinya tidak ingat kalau memiliki buku seperti itu. Dan di yakini buku itu hanya ada satu saja di seluruh dunia.


Sesampainya di mansion,,


Mark langsung mengganti pakaiannya. Dan merebahkan tubuhnya di ranjang, dengan masih memandang buku yang tadi dia beli.


Tiba-tiba,,,


Ceklekk,,,


Pintu kamar Mark terbuka, Mark masih tak bergeming dan hanya menatap ke arah pintu. Ada kepala yang melongok masuk dengan pintu yang hanya sedikit di buka. Ya siapa lagi kalau bukan Dila?


"Kak Mark!" Panggil Dila dengan memasukkan kepalanya melalui sela pintu.


"Dila? Ada apa?!" Tanya Mark dengan masih betah pada posisinya untuk tiduran di ranjang miliknya.


"Apa kau sibuk kak?!" Bukannya menjawab Dila justru malah balik bertanya.