Kamar 126

Kamar 126
Telaga


Akan tetapi tidak dengan Alfian . Meskipun kondisinya sudah berangsur membaik, namun karena rasa kekhawatiran yang dimiliki Gisella, Alfian di larang bersekolah untuk beberapa hari ke depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kampus, Alfin terlihat bersemangat menuju ke perpustakaan. Berbeda dengan biasanya, ketika Alfian akan ke perpustakaan, dirinya akan mengajak Lucas, Adam atau pun Zaki. Tapi kali ini memang berbeda karena Alfin ingin menemui gadis yang dia sukai.


Perpustakaan,


"Di mana dia? Kenapa dia sulit sekali untuk di ajak ketemu?" Ucap Alfin sambil celingukan mencari keberadaan gadis pujaan hatinya. Sampai akhirnya dirinya teringat sesuatu,


"Tunggu! Bukankah dia aku temui di kursi pojok dulu? Lebih baik gue ke sana, dia pasti ada di sana!" Batin Alfin lalu segera menuju ke kursi pojok, tempat dia menemui Saviana yang kedua kalinya.


Dan ternyata benar, gadis itu masih setia duduk di kursi pojok itu. Dengan hati yang bersemangat, Alfin melangkah untuk menuju ke arah gadis itu duduk. Entah kenapa hatinya merasa berbunga meskipun hanya dengan melihat Saviana dari kejauhan.


Saviana yang melihat Alfin mendekat hanya membatin, "Astaga, kenapa dia ke sini lagi?".


"Hay, lo sendiri?" Sapa Alfin yang sudah duduk di samping Saviana.


"Bagaimana bisa dia ngajak gue bicara kayak gini? Orang lain bakal nganggap dia gila kalau lihat dia bicara sendiri!" Batin Saviana sambil melihat Alfin.


"Hey, kenapa lo malah diam aja?" Tanya Alfin yang melihat Saviana justru malah diam menatapnya.


Ucapan Alfin sontak membuyarkan lamunan Alfin , "Eh iya ,gue lupa kalau ada kelas!" Saviana malah beranjak hendak meninggalkan Alfin. Namun dengan cepat Alfin menghalangi langkah Saviana dengan menahan tangannya.


"Tunggu! Jangan pergi lagi dari gue! Kenapa lo seperti terus menghindar dari gue? Setiap kali gue pengen bicara sama lo, lo pasti pergi gitu aja!" Alfin akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasakan ketika Saviana selalu menghindar darinya.


"Gue mohon lepasin tangan gue! Kali ini gue beneran ada kelas!" Ucap Saviana dengan mencoba melepaskan tangannya.


"Gue akan lepasin tangan lo, tapi lo janji ke gue nanti kalau kelas lo udah selesai, kita ngobrol! Gimana?" Alfin memberi sebuah kesepakatan.


Mau tidak mau Saviana hanya bisa menghela nafas, "Oke, gue mau kita ngobrol di telaga tersembunyi yang ada di dekat kampus!" Ucap Saviana.


"Astaga, kenapa gue tadi malah ngomong kayak gitu?" Batin Saviana sambil memegang mulut dan membelalakkan matanya.


"Maksud lo telaga apa?" Tanya Alfin sambil mengangkat satu alisnya ke atas.


"Lo nggak tahu kalau di sini ada telaga? Ya memang sih keberadaan telaga itu tersembunyi, tapi nggak apa-apaan!" Kata Saviana menarik nafas di sela ucapannya, "Gue nanti akan tunggu lo di halaman belakang kampus, nanti gue tunjukin ke lo letak telaganya di mana, dan kita ngobrol di sana aja!" Saviana pun mengakhiri kalimatnya dengan senyuman, berharap Alfin akan mau dengan apa yang dia rencanakan.


Alfin pun menjawab, "Baiklah kalau gitu gue akan tunggu lo nanti!" Dengan melepaskan tangan Saviana yang sempat dia genggam untuk menghalangi jalannya.


Saviana pun pergi ke luar perpustakaan. Entah kenapa hatinya merasakan ada sesuatu yang tak biasa saat ada di dekat Alfin. Begitu juga dengan Alfin.


"Kenapa semakin ke sini, gue semakin penasaran sama lo ,Sav! Hati gue serasa nyaman banget saat ada di dekat lo! Gue harus bisa dapetin hati lo, Sav!" Ucap Alfin yang menatap punggung Saviana yang berjalan hingga sampai tak terlihat lagi.


Di kelas Alfin.


Beberapa jam telah berlalu, kelas Alfin kini usai lebih dulu dari jam biasanya.


"Kalian balik duluan aja! Gue masih ada urusan!" Ucap Alfin yang menyuruh para saudaranya untuk pulang meninggalkannya.


"Lah, emangnya lo mau ke mana?" Tanya  Adam heran, karena tidak seperti biasanya Alfin  menyuruh mereka untuk meninggalkannya.


"Tau nih tumben banget?!!" Ucap Zaki.


"Ini pasti karena cewek, lo punya gebetan baru?" Ujar Lucas menggoda Alfin.


"Haish, kita kan juga teman!" Ucap Zaki.


"Maksud gue temen satu kelas! Kalau kalian tuh saudara bukan teman!" Ujar Alfin yang menenteng tasnya lalu berjalan keluar kelas.


"Ish, iya-iya gitu aja bawel banget sih lo! Udah sana ketemu sama cewek lo!" Ucap Lucas yang menatap Alfin berjalan keluar dari kelas.


"Bodo amat!" Jawab Alfin tanpa berbalik dan terus belalu.


Setelah itu Alfin pergi ke halaman belakang kampus untuk menunggu dan menemui Saviana. Namun ternyata saat sudah sampai di halaman belakang, Saviana sudah lebih dulu berada di sana. Ya Saviana memang benar tidak ada kelas, karena dirinya hanyalah arwah yang bergentayangan dan hanya bisa berkeliaran di sekitar kampus. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Alfin.


"Hey!" Panggil Alfin. Dan Saviana langsung menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya.


"Kok lo udah di sini? Kelas lo udah selesai? Oh iya lo udah nunggu lama?" Tanya Alfin tanpa jeda. Saviana hanya tersenyum lalu berkata.


"Kelas gue udah selesai tadi kok, gue juga baru aja sih ke sini, tadi sempet mampir ke perpus dulu buat balikin buku!" Ujar Saviana berbohong.


"Ya sudah, sekarang tunjukin sama gue di mana tempatnya?!" Ucap Alfin yang tak sabar lagi menunggu.


"Ya sudah ayo!" Ajak Saviana yang beranjak dari duduknya. Alfin hanya mengikutinya dari belakang.


Betapa terkejutnya Alfin saat melihat sebuah pintu kecil berada di tembok yang tertutup oleh tanaman rambat. Saat pintu itu dibuka terlihatlah sebuah telaga yang tak begitu besar dan luas. tempat itu terlihat seperti belum pernah ada yang datang ke sana, terlihat dari tanaman dan juga tumbuhan yang masih asri. dan juga ada banyak pohon yang menjulang tinggi.


"Astaga, indah sekali?" Ujar Alfin yang terlihat kagum saat pertama kali melihat telaga itu.


"Lo suka?" Tanya Saviana.


"Iya gue suka sama tempat ini! Tapi kayaknya belum banyak yang tahu tentang tempat ini?! Bahkan gue sendiri baru tahu kalau di sini ada telaga!" Ucap Alfin yang terpesona akan keindahan telaga itu, karena memang benar dirinya sama sekali tidak tahu kalau di sana ada sebuah telaga.


"Gimana caranya gue kasih tahu dia soal telaga ini?" Batin Saviana menunduk.


"Kenapa lo malah diem?" Tanya Alfin saat melihat Saviana diam dan menunduk.


"Eh, sebenarnya telaga ini memang udah ada sejak lama dan sengaja di tutup oleh pihak kampus! Tapi dulu salah satu mahasiswa di kampus ini membuat pintu itu untuk menuju ke telaga ini!" Jelas Saviana saat tersadar dari lamunannya.


"Lo kok bisa tahu?" Tanya Alfin sambil mengangkat satu alisnya.


"Ah it-itu , lihatlah bunganya sangat cantik!" Ucap Saviana mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun duduk di rumput hijau yang terhampar di sekitar pinggiran telaga. Mereka berdua cukup menghabiskan waktu untuk saling berbagi cerita.


"Sav, gue mau tanya sama lo?!" Ucap Alfin setelah mereka cukup bersenda gurau.


"Ada apa? Tanya aja?!" Saviana kini sudah merasa nyaman berada di dekat Alfin.


"Tempat ini begitu indah, tapi tidak ada yang tahu?" Alfin masih bingung dan juga heran.


"Ya, namanya aja di sembunyikan! Jadi wajar dong kalau nggak ada yang tahu!" Kata Saviana sambil menatap ke arah telaga yang ada di depannya.


"Terus lo sendiri?" Tanya Alfin penasaran.


"Eh!" Saviana tampak tersentak dengan apa yang di tanyakan oleh Alfin.


"Ada apa?" Tanya Alfin sambil menatap Saviana.