Kamar 126

Kamar 126
Perasaan tidak enak


"Kenapa tiba-tiba perasaan gue jadi nggak enak gini ya!" Batin Dila yang masih memeluk saudara kembarnya itu.


Setelah mereka melepas pelukan mereka. Dila pun pamit untuk kembali ke kamarnya sendiri. Namun tanpa di sangka ternyata Axel masih setia berdiri di depan pintu kamar Dira, sambil menunggu Dila keluar dari kamar Dira.


"Ya udah kalau gitu gue ke kamar gue dulu ya! Kalau lo butuh apa-apa panggil gue aja!" Ucap Dila yang di angguki oleh Dira. Lalu setelahnya Dila keluar.


Ceklekk,,,


Pintu kamar Dira kembali di tutup dan di kunci dari dalam. Dila yang melihat Axel yang masih tak bergeming dari posisinya pun terkejut.


"Astaga, lo ngapain di situ?!" Tanya Dila yang melihat Haechan berdiri di samping pintu kamar Dira.


"Gue mau bicara sama Dira!" Kata Axel saat melihat Dila sudah keluar dari kamar Dira.


"Udah besok aja! Dira lagi pengen sendiri!" Ujar Dila lalu berjalan pergi meninggalkan Axel begitu saja.


Axel memandang Dila yang berlalu pergi, menjauh sampai masuk ke dalam kamarnya sendiri. Setelah itu Axel tampak menoleh ke arah pintu kamar Dira yang masih terkunci rapat.


"Gue akan tetap nunggu di depan kamar lo, Dir! Sampai lo mau bicara sama gue!" Batin Axel sambil menatap sendu ke arah pintu kamar Dira yang tertutup.


"Dira, gue pengen ngomong sama lo! Gue minta maaf ,Dir! Gue mohon maafin gue!" Kata Axel yang kini sudah berada tepat di depan pintu kamar Dira, dia tampak menunduk menyesali apa yang sudah dia lakukan, karena tak percaya pada ucapan Dira.


Ternyata Dira sedari Dila keluar, dia mengetahui kalau Axel ada di depan kamarnya. Bahkan Dira sempat mendengar percakapan yang terjadi antara Dila dan juga Axel saat berada di depan kamar Dira. Dira yang mendengarnya langsung duduk di balik pintu kamarnya dan menatap sendu ke arah jendela, dia juga menyesal sudah marah terhadap Axel dan juga yang lain.


"Axel!" Jawab Dira dari balik pintu yang masih tertutup rapat. Axel yang mendengar namanya di panggil pun sontak tak percaya, dia tak menyangka kalau Dira menjawab ucapannya.


"Dira!" Panggil Axel pelan dia sangat antusias mendengar apa yang di katakan oleh Dira, apalagi tadi Dira malah menyebut namanya.


"Gue udah maafin lo! Gue juga minta maaf karena udah terlalu maksain lo buat percaya sama gue!" Ucap Dira dengan segala penyesalannya.


Axel merasa sangat senang bisa kembali mendengar suara Dira. Sungguh, entah kenapa Axel tidak bisa terus-terusan di diamkan oleh Dira. Hatinya rasanya sangat sakit melihat Dira yang seakan membenci dirinya.


"Dira, bisakah kita berbicara empat mata?!" Tanya Axel yang berharap kalau Dira mau menuruti apa keinginan Axel.


"Maaf, Axel! Gue lagi nggak pengen di ganggu, gue pengen sendiri! Lebih baik kita bicarakan besok saja! Mendingan lo tidur!" Suruh Dira pada Axel.


"Memangnya lo yakin mau tidur sendiri?" Tanya Axel memastikan, karena setahu Axel, Dira adalah orang yang penakut, bahkan hampir setiap hari dirinya tidur bersama dengan Axel di kamarnya.


"Iya, gue yakin! Gue juga pengen belajar jadi wanita yang tidak terlalu penakut, supaya gue bisa kayak Dila.


"Gue nggak peduli mau lo kayak apa, Dir! Gue nggak butuh lo jadi orang lain, Dir! Gue sayang sama lo!" Ucap Axel  yang mengungkapkan perasaannya. Sebenarnya itu bukan kali pertama Axel mengucapkan kalimat itu pada Dira, akan tetapi sudah berulang kali. Namun kali ini rasanya sangat berbeda seperti biasanya, Axel benar-benar merasakan sesak pada dadanya ketika melihat Dira yang tak ingin bicara dengannya.


"Gue juga sayang sama lo, Axel! Sejak lo hadir bersama keluarga lo! Hidup gue jadi lebih bahagia lagi!" Kata Dira yang juga tak kalah ingin meluapkan semua perasannya.


"Gue juga merasa begitu, Dir!" Kata Haechan lagi, entah kenapa senyum mereka mengembang dari balik pintu yang berbeda. Mendengar ungkapan hati mereka masing-masing yang membuat hati mereka serasa berbunga-bunga.


"Ya sudah, pergilah ke kamar lo dan tidur! Gue juga mau tidur!" Kata Dira yang menyuruh Haechan supaya dirinya segera ke kamar dan juga tidur.


"Ya sudah kalau gitu gue ke kamar dulu! Kalau lo butuh apa-apa! Kamar gue selalu terbuka buat lo, Dir!" Kata Axel memberi tahu.


"Iya, baiklah!".


Setelah adanya percakapan itu, Axel tampak lega begitu juga dengan Dira yang juga merasa lebih baik lagi ketika mengatakan semua itu pada Axel. Axel tampak berjalan menuju kamarnya untuk segera tidur. Sedangkan Dira langsung menuju ranjangnya untuk tidurnya.


Singkat cerita, keesokan harinya saat sarapan. Semua orang tampak berkumpul di sana, kecuali Dira yang mungkin masih berada di kamarnya.


"Loh, Dira mana? Dia nggak ikut sarapan bareng sama kit?" Tanya Dila yang melihat bangku Dira kosong.


"Gue nggak tahu, mungkin dia masih ngambek!" Kata Alisya yang menjawabnya asal.


"Gue sama Victor niatnya juga mau minta maaf sih sama Dira, karena kita kemarin udah bikin dia marah!" Kata Alisya dengan segala niatnya.


"Gue rasa kalian juga nggak salah, kalian nggak percaya sama Dira, karena kalian nggak ada bukti untuk menunjukkan apa yang Dira rasakan! Jadi itu sih menurut gue sih wajar-wajar aja!" Kata Dila yang juga tidak menyalahkan Alisya dan Victor atas kemarahan Dira kemarin.


"Dil, Dira mana?!" Tanya Axel yang baru saja datang ke meja makan untuk sarapan.


"Masih di kamarnya mungkin, paling bentar lagi juga keluar!" Kata Dila yang menatap Axel sekilas.


Axel pun duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan, mereka semua menunggu Dira yang masih setia di kamar.


Akan tetapi mereka sudah menunggu lebih dadi 30 menit, Dira tak kunjung keluar dari kamarnya. Hal itu membuat mereka bingung dan khawatir akan Dira yang tak kelihatan batang hidungnya.


"Kok tiba-tiba perasaan gue nggak enak ya!" Batin Dila yang merasa tidak enak tentang Dira.


"Ini udah lebih dari 30 menit ,kenapa Dira nggak keluar juga dari kamar? Apa memang dia benar masih marah? Atau ternyata dia belum bangun?!" Tanya Alisya.


"Bentar, gue akan cek ke kamarnya dulu!" Kata Dila yang setelahnya beranjak dari kursinya, lalu di ikuti oleh Axel dari belakangnya.


Tok tok tok,,,


Dila mengetuk pintu kamar Dira dan menyuruh saudara kembarnya itu untuk keluar sarapan.


"Dira, kok lo nggak keluar buat sarapan? Lo nggak lupa kan kalau kita mau keluar?!" Tanya Dila di balik pintu kamar Dira.


Axel tampak mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dila yang mengajak saudara kembarnya untuk keluar entah ke mana.


"Keluar ke mana?" Tanya Axel penasaran.


"Ish,, udah deh! Ini tuh urusan dua anak kembar! Jadi nggak usah kepo!" Kesal Dila pada Axel yang sangat kepo para urusannya.


Tok tok tok,,


Dila kembali mengetuk pintu, namun tak kunjung ada jawaban. "Dir, Dira!! Kok lo nggak jawab sih? Lo masih tidur? Kan katanya lo juga kau minta maaf sama semuanya! Masak lo sama sekali nggak jawab gue sih!" Kata Dila sembari mengetuk pintu kamar Dira terus tanpa henti.


Karena merasa tak kunjung ada jawaban. Hal itu membuat Dila dan Axel yang ada di depan pintu kamar Dira pun merasa khawatir pada Dira.


"Dira, lo baik-baik aja kan?" Tanya Dila yang mulai khawatir, "Dira buka pintunya Dir!! DIRA!!" Teriak Dila, namun tak kunjung ada jawaban. Axel yang mendengar Dila berteriak pun langsung merasa ikut khawatir pada Dira.


"Dira buka pintunya, Dir!" Kata Axel yang juga ikutan mengetuk pintu kamar Dira.


Namun masih sama, tak ada sahutan dari dalam kamar Dira, hal itu cukup mengundang perhatian mereka yang tengah berada di ruang makan. Mereka yang mendengar teriakan Dila dan Axel pun langsung menghampiri mereka, yang saat ini ada di depan kamar Dira.


"Ada apaan sih?" tanya Bryan.


"Iya nih, kenapa teriak-teriak?!" Tanya Alisya setelahnya.


"Victor, bantuin gue buat dobrak pintu ini!" Kata Axel dengan wajah khawatirnya.


"Hah?" Victor tampak terdiam mengangkat satu alisnya.


"Udah buruan!!" Bentak Dila yang melihat Victor malah seperti bercanda.


Tanpa basa basi lagi, Victor langsung menuruti apa yang di mau oleh Dila. Untuk mendobrak pintu kamar Dira bersama Axel.


Brakk,,,