Kamar 126

Kamar 126
Datang ke mansion Jawa


"Kalau gitu, kita ke sana besok saja! Gue nggak mau terlalu terburu-buru!" Ucap Mark setelahnya.


Alfian mengangguk paham, "Oh iya kak, bagaimana dengan mama? Apa lo udah di kasih tahu jawabannya?!" Tanya Alfian yang mengingatkan Mark tentang sebuah buku kuno yang kini di pegang oleh mama Gisella.


Mark pun ingat akan buku yang isinya penangkal iblis itu. Dirinya bergegas menuju kamar mamanya tanpa menjawab ucapan Alfian terlebih dahulu.


"Eh, eh mau kemana lo kak? Kenapa gue malah di tinggalin?!" Tanya Alfian yang melihat Mark berjalan menuju keluar dari kamar Alfian. Tak ada pilihan lain lagi, apalagi Alfian juga sama penasaran nya seperti Mark. Jadi dirinya memilih mengikuti Mark, yang hendak pergi menemui mama Gisella.


Saat sudah berada di lantai 2, tepatnya kamar para orang tua mereka. Mark dan Alfian bertemu dengan Ayah Nathan  "Kalian berdua mau kemana nak?" Tanya Ayah Nathan yang melihat Mark dan Alfian kala itu.


"Kita mau cari mama Gisella, Ayah!" Jawab Alfian.


"Oh, mama Gisella kayaknya baru keluar sama papa Chan tadi! Memangnya ada apa?!" Memberi tahu sembari menanyakan tentang apa yang sedang Mark dan Alfian cari tahu.


"Oh, begitu ya! Sebenarnya nggak ada apa-apa sih Yah, kita cuma pengen ketemu sama mama aja!" Jelas Mark.


"Kalau begitu tunggu saja, mungkin mereka akan segera kembali!" Ucap Ayah Nathan lalu setelahnya pergi dari hadapan mereka menuju ke ruang kerjanya.


Mark dan Alfian pun memilih menuju ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan dari Papa Chan dan Mama Gisella.


Hingga sebuah suara mengagetkan mereka, "Kak, ikut gue yuk!" Suara itu membuat Mark dan Alfian langsung menoleh. Ya, ternyata itu adalah Alfin yang sudah rapi mengenakan kemeja berwarna hitam.


Mark dan Alfian sejenak memandang Alfin dari atas sampai bawah, dia heran kenapa Alfin berpenampilan seperti itu.


"Lo mau kemana kak?!" Tanya Alfian.


"Gue mau ke pemakaman, gue kangen sama Dira! Lo mau ikut apa nggak?!" Ucap Alfin yang malah balik tanya pada Alfian.


"Kak Dila ikut?!" Tanya Alfian lagi dan di jawab anggukan oleh Alfin . Hal itu membuat Mark bersemangat karena mengetahui kalau Dila akan ikut juga bersama mereka menuju ke pemakaman.


"Kalau gitu gue tunggu di mobil, kalian cepetan ganti pakaian!" Ujar Alfin kemudian berlalu menuju ke bagasi untuk mengambil mobilnya dan menunggu di pelataran mansion.


Selang beberapa menit saja, Mark dan Alfian sudah siap dan berjalan menuju ke arah mobil. Di dalam mobil sudah ada Alfin, Dila dan juga Axel . Jujur saja Mark tidak menyangka kalau Axel juga akan ikut bersama dengan mereka saat itu.


Mark membuka pintu mobil, dan melihat Axel tengah duduk di samping Dila. "Kak Mark?!" Dila menyapa Mark yang malah terdiam setelah melihat Axel juga ada di mobil itu, seketika saja raut wajah Mark berubah menjadi canggung karena sedikit tak nyaman kalau Axel juga ikut bersama dengan mereka. Tapi bagaimana mungkin Axel tidak ikut? Bahkan mereka akan berkunjung ke makam Dira. Jadi sudah pasti Axel juga akan ikut bersama dengan mereka menuju pemakaman.


"Kak, buruan naik! Keburu senja nanti!" Kata Alfin yang tengah duduk di tempat kemudi.


Alfian yang menyadari kalau kak Mark tidak nyaman pun memutuskan mengambil alih jok kedua. Bagaimana mungkin mereka bertiga di tempatkan di satu  jok tengah itu. Tentu Alfian tak ingin ada kecanggungan.


"Gue duduk di sini aja kak! Lo duduk di depan sama kak Alfin! Gue males duduk di depan!" Kata Alfian yang langsung mengambil alih tempat duduk Mark. Dan menyuruhnya untuk segera duduk di jok depan dengan kak Alfin.


Setelah itu Mark langsung duduk di jok depan ,tepatnya di dekat Alfin berada. Lalu kemudian Alfin mulai melajukan mobilnya menuju ke pemakaman umum yang letaknya tak begitu jauh dari mansion.


Benar saja, terjadi sebuah kecanggungan di dalam mobil itu. Mark yang paling tua di dalam mobil itu, hanya bisa terdiam. Dirinya merasakan sakit di hatinya, meskipun dia tahu hubungan Axel dan Dila hanya sebatas saudara saja. Akan tetapi entah kenapa dia merasa sangat cemburu melihat Dila ada di dekat Axel saat itu.


Sampai tibalah mereka di makam dan langsung menuju ke makan Dira. Memang tujuan awal mereka berkunjung ke makam Dira dan kakak tertua. Namun siapa sangka Alfin juga datang ke makam Saviana yang letaknya di dekat makam Dira itu. Alfin memberikan sebuah bucket bunga mawar pada batu nisan Saviana. Lalu setelahnya berjongkok dan menatap makam Saviana itu.


"Hay Saviana, bagaimana kabar kamu? Aku berharap kamu sudah berada di alam yang lebih baik lagi sekarang! Tunggulah aku di kehidupan selanjutnya, aku akan menemui kamu Saviana!" Batin Alfin sambil menatap batu nisan Saviana dengan Sayu.


"Halo Dira, gimana kabar lo sekarang? Lo pasti udah bahagia kan di alam sana! Gue kangen sama lo Dira, bahkan lo sama sekali nggak pernah datang ke mimpi gue! Apa lo udah benar-benar lupain gue?! Lihatlah, kembaran kamu berhasil membuatku berubah menjadi seperti ini, kamu tahu rasanya bagaimana? Sama persis ketika dulu aku berada di dekat kamu Dira!!" Batin Axel yang menatap makam Dira dengan memberikan bucket bunga mawar putih di nisan Dira. Mark, Dila dan juga Alfian pun duduk di dekat makam Dira. Mereka seperti melepaskan rindu seperti ketika lama


tak bertemu.


Setalah selesai dari pemakaman itu mereka memutuskan untuk kembali ke mansion. Karena memang hari sudah mulai way senja. Tentu saja mereka tak ingin terlambat sampai di mansion, apalagi membuat seluruh keluarga khawatir terhadap mereka.


Singkat cerita, setelah sampai di mansion. Mereka langsung di suruh untuk mengikuti makan malam keluarga besar. Hari ini tampak berbeda, karena kursi dari mama Gisella dan Papa Chan tampak kosong. Hal itu membuat anak-anak bertanya-tanya akan kemana perginya mereka.


"Kok papa Chan sama mama Gisella nggak ada sih? Mereka ke mana?" Tanya Renald buka suara sebelum makan malam di mulai.


"Iya, kok nggak pamit ke kita!" Ujar Dila yang memang sedari pulang sekolah tidak melihat keberadaan mama Gisella dan papa Chan di mansion.


"Apa? Ke Jawa? Mereka ngapain?" Tanya Dila penasaran, karena dirinya tidak tahu apa tujuan dari kedua orang tuanya itu. Lain halnya dengan Alfian dan Mark yang langsung berpikir kalau mama Gisella dan papa Chan ke sana karena ingin mencari petunjuk tentang buku itu. Atau bahkan berpikir kalau mama Gisella sudah menemukan arti dari tulisan aksara jawa itu.


"Sudah, ya tanyanya nanti aja! Kita makan malam dulu! Keburu dingin nanti nggak enak lagi makanannya!" Ujar Bunda Nadia yang menengahi ucapan dari suami dan juga anak-anak yang penasaran itu.


Setelah makan malam selesai. Ayah Nathan memberi tahu mereka semua kalau mama Gisella dan papa Chan entah kapan akan kembali ke mansion. Karena memang ada pekerjaan yang harus di selesaikan oleh papa Chan di sana, sedangkan mama Gisella juga akan mencari tahu mengenai letak keberadaan tanaman yang dia cari itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di saat sebelumnya, beberapa jam sebelum anak-anak kembali dari kampus dan juga sekolah mereka masing-masing. Terlihat Gisella dan Chan bersiap untuk menuju ke tanah Jawa. Yang memang terkenal dengan hal-hal mistisnya. Di tanah Jawa memang masih kental sekali dengan hal-hal gaib. Jadi tak heran kalau apa yang di cari oleh Gisella itu hanya ada di tanah Jawa.


Info : Ingat ya guys kalau ini itu cuma karangan fiktif dari author saja. Jadi jangan di samain sama aslinya ya, soalnya ini buat kelanjutan karya aja biar lebih menarik lagi. Tidak bermaksud menyinggung atau menyimpang pihak manapun. Harap bijak dalam membaca dan mengoreksi oke. Happy reading,,,,


Sesampainya Gisella dan juga Chan di tanah jawa, mereka langsung menuju sebuah mansion besar milik mereka yang ada di sana. Mereka akan menginap di sana. Tak lupa juga Gisella memagari mansion itu dari makhluk astral yang nantinya akan menganggu mereka. Lebih tepatnya hanya untuk berjaga-jaga saja.


"Chan, apa perusahaan yang ada di sini akan benar-benar di bangun?!" Tanya Gisella pada Chan.


"Sepertinya tidak Gisella, aku akan lebih memilih membeli perusahaan yang sudah berdiri saja atau kalau tidak aku hanya akan menanam saham saja di sini!" Ucap Chan memberitahu tentang rencananya mengenai perusahaan.


Gisella mengernyit heran, "Memangnya kenapa Chan? Apa uangnya nggak cukup untuk bangun perusahaan baru lagi?!" Tanya Gisella yang mengira kalau uang yang di miliki mereka untuk membangun sebuah perusahaan itu tidak cukup.


Chan mendengus mendengarnya, "Apa kamu lupa? Bahkan uang aja sampai bingung mau di apain! Kalau cuma bikin perusahaan aja itu gampang sayang, apalagi masalah biaya!" Kata Chan lalu menghela nafas untuk melanjutkan ucapannya tadi, "Aku memilih tidak membangun karena memang tanah jawa ini bukan sembarangan tempat sayang, ada beberapa tempat yang memang rumit untuk di tempati!! Apalagi kalau untuk membuat perusahaan yang tidak kecil ukurannya, akan ada banyak syarat yang di ajukan nanti, termasuk dalam hal-hal gaib atau mistis!" Jelas Chan panjang lebar.


"Kamu tahu dari mana soal ini? Aku aja nggak begitu paham, tapi kayaknya kamu udah paham banget soal tanah jawa!" Ucap Gisella yang tak menyangka kalau suaminya itu lebih tahu mengenai tanah jawa di bandingkan dengan dirinya.


"Sebenarnya aku memiliki kenalan di sini, lebih tepatnya bisa di panggil sebagai saudara! Dia sepupu dari mama dulu!" Ucap Chan.


"Oh yang kamu bilang, dia itu udah kayak orang pinter itu?!" Tanya Gisella. Memang dulu Chan pernah bercerita pada Gisella mengenai saudara jauh mamanya. Chan biasanya menyebutnya paman, karena tampaknya umurnya di bawah mama.


Meski begitu Chan sendiri tidak pernah bertemu langsung dengannya, itu karena dulu ketika berkunjung ke kediaman paman Chan. Dirinya tidak pernah bertemu, karena pamannya itu selalu melakukan tapa di sebuah ruangan yang memang sudah di buat khusus. Supaya tidak ada yang mengganggu beliau yang tengah bersemedi.


"Lalu bagaimana kalau kita datang ke paman kamu itu aja? Siapa tahu dia tahu mengenai yang sedang kita cari?!" Jelas Gisella yang menyarankan tentang idenya tadi.


Chan tampak berpikir, "Tapi kalau kita ke sana terus nggak ketemu sama beliau gimana?!" Tanya Chan tentang kemungkinan kecil jika ingin bertemu dengan pamannya ini.


"Besok kita ke sana ya!" Pinta Gisella dengan mata yang berbinar, "Lagian nggak ada salahnya juga kita nyoba ke sana! Siapa tahu kita beruntung bisa bertemu?!" Lanjutnya lagi.


"Sayang, kenapa kamu kayaknya pengen banget tahu sih? Lagian apa gunanya coba? Kan udah ada air suci sama air anggrek hitam?! Emangnya itu masih kurang?!" Tanya Chan yang tak hanya mengira kalau Gisella itu terlalu berlebihan mengenai ini.


Gisella mendengus, "Bukankah bagus kalau kita bisa memilikinya? Bisa untuk berjaga-jaga aja Chan! Lagian aku yakin kok! Ini juga nggak sulit buat di dapatkan di jawa!" Kata Gisella dengan raut wajah memelas.


"Haish, terserah kamu saja!" Ujar Chan pasrah pada istrinya itu, dia tidak bisa melihat wajah memelas nan imut istrinya itu. Bahkan wajah Gisella seperti tidak ada bedanya sama sekali, di bandingkan dengan saat dia masih muda dulu. Itu karena dia sengaja membeli tempat spa dan menyuruh Chan memindahkan semuanya ke mansion besar. Jadi mereka senantiasa melakukan perawatan wajah bahkan tubuh, dari ujung kaki hingga ujung rambut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, di mansion besar tampak sedang sarapan bersama. Karena hari itu hari libur, mereka memutuskan untuk bersantai di mansion. Akan tetapi berbeda dengan Mark, Alfian , Alfin , Lucas dan juga Victor. Seperti rencana Mark, mereka akan menuju ke lokasi museum manekin milik Ana yang ada di pusat kota.


Di dalam mobil tepatnya saat mobil tengah melaju dengan kecepatan sedang. Mark memberikan saran dan instruksi pada para saudara-saudaranya itu.


"Gue kasih tahu kalian, saat nanti berada di dalam museum! Gue harap kalian tidak melakukan kesalahan!! Karena gue yakin kalau manekin-manekin yang ada di sana itu terbuat dari tubuh manusia asli!!" Kata Mark mengingatkan mereka untuk selalu waspada dengan hal itu.


Lucas mendengus, "Gue nggak percaya ada perempuan sekejam itu, bagaimana bisa dia membunuh dan menjadikan manusia sebagai patung manekin? Bahkan kejamnya dia melebihi gue!!" Ucap Lucas yang membedakan dirinya dengan seorang Ana, si pembuat patung manekin.


"Tapi kak, menurut gue! Lebih baik kita langsung ketemu aja sama tuan Bram itu! Sekalian kita kasih tahu kebenarannya!" Ucap Alfian menimpali.


Mark menoleh ke arah Alfian , "Tidak semudah itu Alfian! Gue yakin kalau kita langsung mengatakannya, tuan Bram itu tidak akan percaya pada kita! Dia pasti mengira kalau kita itu hanya membual saja!" Jelas Mark yang tak setuju dengan saran yang tadi di berikan oleh Alfian.


"Gue setuju sama kak Lucas, lebih baik kita selidiki dulu mengenai ini! Dan kita akan tangkap basah Ana itu saat kita sudah benar-benar memiliki rencana yang matang!" Ucap Alfin setuju dengan pendapat dari Mark.


Selang beberapa saat kemudian, sesampainya mereka di museuk itu. Sebelum turun dari mobil, kembali Mark mengingatkan mereka lagi untuk tetap menjaga kesopanan dan tak berbuat hal nekat yang nantinya akan merugikan diri sendiri.