Kamar 126

Kamar 126
Pertemuan


Sesampainya mereka di sana, mereka berdua bertemu dengan Lisa dan tak lupa Gisella memberikan kue yang tadi dia buat bersama dengan Chan.


Mereka kini berada di tempat di mana anak Lisa meninggal, lebih tepatnya di tepi jalan yang berada di depan mansion Lisa.


Gisella menjelaskan kepada Lisa bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan anaknya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?!" Tanya Lisa yang penuh harap dapat bertemu dengan anaknya.


"Biar aku jelaskan padamu apa saja yang harus kamu lakukan nanti?!" Ujar Gisella yang di jawab anggukan paham oleh Lisa.


"Kamu harus berdiri di sebuah lingkaran yang akan aku buat, dan nanti aku akan membuka separuh indra keenam kamu,,yang harus kamu lakukan hanyalah menutup mata dan mengosongkan pikiran kamu lalu memusatkan pada anakmu,,,sebut namanya 3 kali,,,,selanjutnya kamu akan ada di mana dia atau mereka yang sudah mati menarik kamu untuk pergi ke alam mereka,,, dan yang perlu kamu ingat dan harus kamu lakukan,,,,,jangan pernah beranjak atau keluar dari lingkaran yang sudah aku buat!!!! Kau mengerti?" Ujar Gisella panjang lebar memberi tahu Lisa cara bagaimana supaya bisa bertemu dengan anaknya, dan di akhiri dengan sebuah pertanyaan oleh Gisella.


"Iya, aku sangat mengerti." Ujar Lisa yang sudah mengerti dengan apa yang harus dia lakukan.


"Kau akan bertemu dengan anakmu nanti, tapi yang paling penting jangan pernah keluar dari lingkaran yang sudah aku buat atau kau tidak akan bisa kembali ke dunia ini lagi?!" Ujar Gisella lagi.


Lisa mengangguk dan mengerti dengan semua yang Gisella katakan.


Setelah itu, Gisella membuat sebuah lingkaran yang nantinya akan di bacakan sebuah mantra olehnya. Gisella menyuruh Lisa untuk berdiri di lingkaran tersebut, sedangkan Chan di suruh untuk menjaga Lisa di luar lingkaran itu,, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.


Setelah semuanya sudah selesai di persiapkan, Gisella bertanya kepada Lisa dan juga Chan untuk memastikan bahwa mereka memang sudah siap untuk melakukan ritualnya.


Setelah itu, Gisella membacakan sebuah mantra, dan Lisa pun menutup matanya. Lisa menyebut nama anaknya 3 kali.


Dan tak lama kemudian , Lisa berada di sebuah tempat yang begitu sepi, sunyi tak ada siapapun di sana, yang ada hanyalah Lisa dan juga sebuah lingkaran yang di buat oleh Gisella.


"Tiara kamu di mana?" Teriak Lisa memanggil anaknya , yang kini kita ketahui nama anaknya adalah Tiara.


"Ini bunda, nak?! Kamu di mana? Bunda ingin sekali bertemu denganmu?!" Ujar Lisa yang terus memanggil nama anaknya itu.


"Tiara,,,!" Ujar Lisa lirih sembari menitihkan air matanya.


Tak lama kemudian sosok anak kecil muncul di depan Lisa, dengan pakaian yang sama saat Tiara mengalami kecelakaan.


Lisa yang melihatnya pun berkata,,,,,"Tiara, apa ini kamu? Maafkan bunda yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik, nak?!" Ujar Gisella yang sudah menitihkan air matanya dari tadi.


Anak itu hanya menatap Lisa dengan tatapan sendu, seakan merasa bersalah kepada Lisa.


"Tapi kamu tenang saja sayang, bunda sudah menemukan orang yang menabrak kamu,,bahkan bunda sudah menuntutnya nak! Sekarang kamu bisa pergi dengan tenang nak! Jangan ganggu mereka yang masih hidup! Bunda sudah mengikhlaskan kamu, Tiara?!" Ujar Lisa yang terus saja menitihkan air matanya tanpa henti.


Jarak antara Tiara dan juga Lisa lumayan jauh dan Lisa tidak bisa memeluk Tiara karena tidak boleh melanggar aturan keluar dari lingkaran yang sudah di buat oleh Gisella. Yang membuat Lisa bertambah sedih adalah, ketika dia tidak bisa memeluk anaknya di saat itu.


"Bunda!" Ucap seorang anak kecil yang sangat cantik hingga membuat hati Lisa sedikit lebih tenang hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Tidak nak, kamu tidak salah!" Ucap Lisa dengan sesenggukan karena menangis.


"Ada hal yang belum bunda ketahui, bunda tidak perlu menyalahkan siapapun,, yang pantas bunda salahkan hanyalah Tiara!" Ujar Tiara.


Lisa sedikit bingung dengan pernyataan dari anaknya itu lalu bertanya "Maksud kamu apa nak?" Tanya Lisa pada Tiara.


Tiara pun akhirnya menceritakan segalanya kepada Lisa.


"Sebenarnya hari itu aku bolos les matematika, dan aku malah pergi ke taman dengan teman-temanku,, aku tau aku pulang terlalu larut di hari itu,,,,karena aku takut bunda akan marah padaku,,, jadi aku memutuskan untuk memanjat pagar tinggi yang baru saja bunda buat,,, namun karena pagar itu terlalu tinggi, aku terjatuh dan kakiku rasanya sakit untuk berjalan,, kepalaku juga rasanya sangat sakit karena terbentur aspal jalan,, aku mencoba berdiri dan berjalan lewat pagar yang lain namun aku sudah tidak kuat lagi dan akhirnya terjatuh di jalan bunda?!" Jelas Tiara panjang lebar hingga membuat Lisa yang mengetahuinya merasa sangat syok karena mengetahui anaknya meninggal karena ulah dirinya yang memagari mansion terlalu tinggi.


"Ja,,,jadi ka,,,kamu meninggal ka,,rena ,,bunda?" Ujar Lisa yang tak bisa menahan tangisnya lagi.


"Tidak bunda! Ini bukan salah bunda! Ini salah Tiara yang sudah berbohong kepada bunda!" Ucap Tiara yang setelahnya juga menangis.


"Tidak sayang, ini salah bunda,,,maafkan bunda nak, seharusnya bunda tidak menyuruh orang untuk meninggikan pagar itu lagi! Maafkan bunda nak?!" Ujar Lisa yang masih saja menangis bahkan lebih parah lagi.


Setelahnya Tiara mengusap air matanya sendiri lalu berjalan ke arah Lisa. Tiara mengusap lembut air mata Lisa yang jatuh dari pelupuk mata.


"Bunda jangan menangis! Ini salah Tiara!" Ujar Tiara sembari mengusap air mata Lisa.


Lisa langsung saja memeluk anaknya itu dan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan.


"Bunda sayang sama Tiara?!" Ujar Lisa yang menangis sejadi-jadinya.


"Tiara juga sangat menyayangi bunda?!" jawab Tiara dengan suara khas anak kecil.


"Setelah ini, Tiara akan menunggu bunda di kehidupan selanjutnya, dan tolong bebaskan tuntutan itu bunda, orang yang bunda tuntut tidak bersalah?!" Ujar gadis mungil itu yang membuat Lisa tidak berhenti menangis.


Perlahan tubuh gadis kecil itu menghilang, seperti di ambil dari tempat dia berada, Lisa hanya bisa menangis setelah mengetahui semua kebenaran itu,, tangis Lisa semakin pecah saat melihat anaknya yang perlahan hilang dari pandangan matanya.


"Lisa buka mata kamu sekarang!" Terdengar suara sayu pada Lisa yang sedang berada di alam bawah sadarnya.


Sedangkan di saat yang bersamaan di dunia nyata.


"Gisella, kenapa dia tidak membuka matanya?" Tanya Chan khawatir dengan Lisa.


"Kamu tenang saja Chan, sebentar lagi dia akan membuka matanya?!" Ujar Gisella menenangkan Chan.


Perlahan Lisa pun membuka matanya, matanya terlihat merah karena tak henti menangis dan akhirnya Lisa pingsan, dan di tangkap oleh Chan.