
Tao menunduk dan mengurungkan niatnya untuk membunuh mereka.
"Gue memang salah! Lebih baik lo bunuh gue sekarang juga!! Gue udah nggak bisa hidup seperti ini lagi!! Selama ini gue bertahan hidup cuma karena Tio, tapi sekarang Tio udah nggak ada! Lebih baik gue mati dan damai bersama dengannya!" Ucap Tao sembari menunduk sedih.
"TIO?!" Ucap Gisella dengan tiba-tiba.
Sosok Tio datang dengan badan berlumuran darah, lalu menghampiri mereka yang ada di rumah sakit. Namun seperti biasa, sosok astral hanya bisa dilihat dengan indra keenam yang sudah terbuka saja. Hanya Gisella dan juga Chan yang bisa melihat kedatangan Tio di sana.
Tio datang dengan wajah sedihnya, melihat Tao yang terluka. Dirinya berdiri tepat di dekat Tao.
"Kenapa lo manggil saudara gue?!" Tanya Tao melihat ke arah Gisella yang sempat memanggil nama Tio.
"Dia ada di dekat kamu sekarang! Dia datang untuk menemui kamu!" Ucap Gisella memberi tahu Tao.
"Apa? Apa kau bercanda?" Ujar Tao yang tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gisella.
"Gisella berkata serius, dia bisa melihat mereka yang sudah mati!" Ucap Chan membela Gisella.
"Benarkah, kalau lo bisa melihat dia? Tolong katakan padanya kalau gue sangat menyayanginya!!" Pinta Tao pada Gisella, untuk memberitahu Tio.
"Dia juga sayang padamu! Dia juga meminta maaf atas kesalahan yang sudah pernah dia buat semasa di dunia!" Ucap Gisella yang menyampaikan apa yang dikatakan oleh Tio.
"Gue pengen banget ketemu sama dia untuk yang terakhir kalinya!" Ucap Tao yang sangat ingin menemui saudara kembarnya untuk yang terakhir kalinya.
Gisella dan juga Chan saling bertatapan, mendengar apa yang diminta Tao padanya.
"Aku bisa mempertemukan kami dengan saudara kembar kamu!! Tapi berjanjilah pada kita kalau kamu akan menjadi orang yang lebih baik lagi!" Ucap Gisella dengan menyarankan Tao agar menjadi pria yang lebih baik lagi.
Tao pun setuju dan mengangguk terharu karena ada orang yang bisa mempertemukan dia dengan saudara kembarnya meskipun hanya untuk terakhir kalinya.
"Baiklah, gue akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi! Asalkan gue bisa bertemu dengan Tio!" Ucap Tao yang tersenyum penuh haru.
"Kenapa kalian mau membantunya?" Tanya Leon yang merasa tidak senang kalau mereka membantu Tao.
"Sayang, tidak ada salahnya memberikan orang lain kesempatan kedua! Aku mohon!" Ucap Jeni memohon agar Tao diberikan kesempatan ke 2 untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Karena merasa tidak ada pilihan lain lagi, Leon pun menghela nafas dan berkata.
"Baiklah!! Tapi kalau sampai dia berani menyentuh kalian semua terutama istri gue! Gue bakal bunuh lo dengan cara yang lebih mengerikan lagi.
"Gue juga nggak terlalu peduli dengan kematian gue nantinya! Yang penting gue bisa bertemu dengan Tio dan setelahnya berusaha hidup menjadi yang lebih baik lagi!" Ucap Tao penuh keyakinan dari dalam dirinya.
"Kalau begitu, aku akan membantu kamu!" Ucap Gisella yang bersedia membantu Tao untuk bertemu dengan saudara kembarnya, Tio.
Singkat cerita, Gisella langsung mempertemukan Tao dan juga Tio di alam lain, menggunakan astral projection.
Pov Tao dan Tio.
"Tio!" Panggil Tao dan di jawab senyuman manis pada wajah Tio.
"Nggak, Tio! Lo salah! Lo udah jadi adik yang terbaik buat gue! Berkat lo gue jadi bisa hidup lebih lama lagi!" Ucap Tao yang merasa sedih harus berpisah alam dengan saudara kembarnya itu.
"Mungkin ini udah jadi jalan yang terbaik bagi gue kak! Gue mohon lo ikhlaskan kepergian gue ya! Jalani hidup lo dengan lebih baik lagi! Jangan jadi orang seperti gue!! Lakukan kebaikan di kehidupan lo yang masih panjang ini kak! Lo tenang aja, gue bakal selalu menunggu lo di sini kak!" Ucap Tio yang juga sedih harus berpisah alam dengan saudara kembarnya, yang selalu menjadi kebanggaan bagi Tao.
"Ijinkan gue memeluk lo untuk yang terakhir kalinya!" Pinta Tao pada saudara kembarnya itu.
Mereka pun saling bertukar senyuman manis yang terukir di wajah mereka masing-masing.
Akan tetapi, saat Tao hendak mendekat ke arah Tio berada. Tiba-tiba saja Tio melebur bagaikan debu, yang bertebaran karena tertiup oleh angin.
Belum sempat Tao memeluk saudara kembarnya itu, namun justru Tio sudah lebih dulu menghilang begitu saja, dan hanya menyisakan tangis Tao saja.
"Tio, kau ke mana?" Ucap Tao sembari melihat ke sekeliling namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Tio.
Yang dilihat oleh Tao hanyalah bak ruangan kosong nan gelap, yang dipenuhi oleh kegelapan, dan hanya ada satu cahaya, bak lampu yang menyala setengah redup menyala tepat di atas kepala Tao.
Samar-samar Tao mendengar suara Gisella.
"Tao, tutup mata kamu dan segeralah kembali ke alam dunia!" Ucap Gisella mengarahkan Tao untuk segera kembali ke dunia.
Dengan berat hati karena tidak bisa memeluk saudara kembarnya yang telah tiada, akhirnya Tao menuruti apa yang di katakan oleh Gisella. Tao pun akhirnya langsung menutup matanya dan berhasil kembali ke dunia nyata.
Air mata Tao terus mengalir setiap dirinya mengingat, saat tidak bisa memeluk saudara kembarnya untuk yang terakhir kali.
Chan pun mendekati Tao yang yengah bersedih dan berusaha menenangkannya.
"Lo harus bisa ikhlasin dia, ini udah jadi jalan buat Tio!" Ucap Chan sembari menepuk pelan pundak Tao.
Tao langsung mengeluarkan pisau yang semula dia taruh di dalam sakunya.
Deg,,,,
Tao langsung mengarahkan pisau itu pada Chan dengan tatapan kosongnya.
"Hey!! Jangan berani macam-macam!" Ancam Leon yang melihat kejadian itu.
Tao lalu menatap Chan sendu sembari berkata,,,,
"Chan, gue mohon tolong bunuh gue sekarang juga! Gue nggak punya tujuan hidup lagi setelah kepergian Tio!" Pinta Tao yang ternyata mengarahkan pisau itu untuk menyuruh Chan membunuhnya.
"Nggak! Jangan lakukan itu Tao! Apa kau pikir dengan melakukan hal seperti itu, semuanya akan berjalan mudah? Nggak! Itu nggak akan bisa menyelesaikan masalah yang kamu alami, Tao!" Ucap Gisella melarang Tao untuk bunuh diri.
"Selama ini gue nggak pernah melakukan kesalahan bodoh seperti yang sudah dilakukan Tio, tapi udah nggak ada gunanya lagi gue hidup Vel!" Ucap Tao yang sudah putus asa dengan hidupnya.
"Pasti ada!!!" Jawab Gisella dengan cepat.
"Tao!" Panggil Nathan , lalu kemudian Tao langsung menoleh ke arah Nathan.