Kamar 126

Kamar 126
Suka sama adik sendiri


"Oh begitu!" Jawab Mark singkat sambil menghela nafasnya.


"Memangnya kenapa nak? Oh mama tahu, kamu cemburu ya lihat Haechan sama Dila?!" Tanya Gisella menggoda anak angkatnya itu.


"Eh, mama apaan sih, nggak mungkin lah, kan Dila adik Mark sendiri!" Jawab Mark mengelak.


"Kan nggak ada ikatan darah di antara kalian nak, jadi boleh lah!" Gisella masih saja terus menggoda Mark sampai pipi Mark merona.


"Haish mama!!" Ujar Mark sambil mengalihkan pandangan dan mencoba menutupi pipinya yang mulai memerah.


Gisella tersenyum lalu berkata, "Ya sudah kalau gitu kamu istirahat aja sana!" Perintah Gisella yang menyuruh Mark untuk istirahat.


"Iya Ma!" Jawab Mark singkat, lalu setelahnya berlalu untuk ke kamarnya sendiri. Sedangkan Gisella juga pergi ke kamarnya.


Pov Mark


Di dalam kamar Mark, entah kenapa dirinya merasa gelisah setelah melihat Dila yang masuk ke dalam kamar Axel. Apalagi mendengar ucapan Gisella kalau hal itu biasa terjadi di keluarga mereka.


"Kok rasanya dada gue sesak ya pas lihat Dila masuk ke kamar Axel?! Apa jangan-jangan gue suka sama Dila?! Haish, apaan sih lo Mark!!" Mark tampak memukul kepalanya sendiri untuk menyadarkan dirinya, "Ingatlah kalau sekarang Dila itu udah jadi adik lo sendiri!!" Ujar Mark lalu setelahnya menghela nafas panjang. Setelah berseteru dengan ucapannya sendiri, Mark pun akhirnya terlelap di ranjangnya.


Pov Gisella dan juga Chan


Terlihat mereka sedang duduk dengan bersandar pada dipan ranjang.


"Chan!" Panggil Gisella memulai pembicaraan.


"Ada apa sayang?!" Jawab Chan yang masih sibuk dengan buku yang dia baca.


"Kayaknya Mark suka deh sama Dila!" Ucap Gisella langsung pada intinya.


"Hah?!" Karena terkejut, Chan langsung menatap ke arah Gisella dan meletakkan buku yang dia baca tadi pada nakas, "Kamu tahu dari mana?!" Tanya Chan penasaran.


"Dari sorot mata Mark itu kelihatan banget, sayang!! Kayaknya dia cemburu pas lihat Dila masuk ke dalam kamar Axel!" Ucap Gisella memberi tahu.


Chan tampak mengernyitkan dahinya karena merasa heran, "Sejak kapan anak kita Dila tidur sama Axel?!" Tentu Chan menanyakan keheranannya itu. Karena yang dia tahu, yang paling sering tidur dengan Axel itu Dira bukan Dila.


"Sejak tadi!" Jawab Gisella tanpa beban.


"Terus kamu biarin gitu aja?!" Tanya Chan sedikit khawatir.


"Ya terus mau gimana lagi coba? Lagi pula kan dulu Dira juga sering banget tidur sama Axel!! Jadi kayaknya sih nggak apa-apa kalau Dila tidur sama Axel!! Axel juga nggak mungkin ngelakuin hal yang macem-macem kok!" Jawab Gisella mencoba meyakinkan suaminya itu.


Chan tampak menghela nafasnya," Semenjak kedatangan keluarga kecil Byun di mansion kita, Axel memang sangat dekat dengan Dira!! Bahkan rasanya mereka sudah seperti mengenal sejak lama!!" Ucap Chan sambil menatap ke depan tanpa menatap istrinya yang ada di sampingnya.


"Iya Chan, aku juga merasa seperti itu!" Jawab Gisella yang satu pemikiran dengan Chan.


"Hahh,, ya sudah sayang, kita jangan terlalu mengingat Dira!! Jangan sampai kita berlarut-larut dalam kesedihan lagi!! Takutnya nanti Dira malah sedih lihat kita yang terus-terusan mengingat kesedihan akan ditinggalkan Dira!!" Ucap Chan sambil merangkul Gisella.


"Iya sayang kamu benar!" Ucap Gisella yang memeluk Chan di sampingnya.


Mereka semua menghabiskan waktu bersama di mansion besar mereka yang ada di Prancis itu. Mereka juga berlibur ke beberapa tempat yang ada di Prancis bersama.


Author :bayangin aja sendiri keluarga besar mereka jalan-jalan lewat pinggiran jalan, udah kayak mau demo karena saking banyaknya orang.


Mark tampak duduk sendirian di sebuah kursi taman, karena yang lain sedang asik berbincang-bincang dan memberi apa yang ada di sekitar taman itu.


Dila yang saat itu sedang bersama dengan Axel pun, melihat Mark yang duduk sendiri dari kejauhan.


"Axel, gue ke Mark dulu ya!" Ucap Dila yang memberi tahu Axel, dan hanya di jawab anggukan saja.


Dila lalu berjalan ke arah Mark berada. Dan langsung saja dirinya memeluk Mark dari belakang, yang cukup membuat Mark terkejut setengah mati.


Grepp,,


"Kakak!" Panggil Dila setelah memeluk Mark.


Deg,,,


Hati Mark berdesir, membuat tubuhnya merasa panas dingin. Karena baru pertama kali dirinya di peluk oleh Dila.


"Dila!" Ucap Mark setelah menyadari kalau itu adalah Dila. Lalu kemudian Dila melepas pelukan dan duduk di sebelah Mark. Tak dapat di pungkiri jantung Mark berdebar dengan sangat kencang, membuat dirinya salah tingkah sendiri. Namun dirinya berusaha menutupinya dari Dila.


"Kenapa duduk sendirian kak?!" Tanya Dila penasaran karena dari tadi memang dia melihat Mark yang duduk sendirian.


"Gue nggak sendiri kok, tuh lihat mereka lagi pada duduk di bawah pohon!" Ucap Mark sambil menunjuk dengan dagunya memberi tahu Dila.


Dila sekilas melihat arah yang di tunjukkan Mark tadi, lalu setelahnya menghela nafas panjang.


"Hahhh,,, kak gue kangen deh sama Dira!" Ucap Dila yang langsung membuat Mark menoleh ke arahnya.


"Ya kalau kamu kangen, tinggal pergi ke makamnya aja, Dil!" Jawab Mark sambil menenggak minuman yang tadi sempat dia beli.


"Memangnya kakak nggak bisa ya buat gue jadi bisa melihat makhluk tak kasat mata? Gue pengen lihat Dira kak!" Pinta Dila yang memang ingin sekali melihat saudara kembarnya, meskipun sudah beda alam dengan dirinya.


"Dira udah nggak ada di sini, Dil! Jadi kalau pun gue buka indra keenam lo, itu juga hanya akan sia-sia saja! Dan nggak bakal merubah apapun kalau Dira itu memang sudah pergi ke alam yang lebih baik lagi!" Ucap Mark menjelaskan panjang kali lebar.


Dila langsung menatap lesu rumput yang ada di dekat kakinya, sambil menghela nafas. Mendengar apa yang di katakan oleh Mark tadi.


"Oh iya Dil, tumben lo sendiri! Axel kemana? Biasanya lo nempel mulu sama si Axel!" Ucap Mark yang sengaja mengalihkan pembicaraan, dan mencoba membuat Dila tidak berlarut mengingat Dira lagi.


"Tuh dia si sana!" Jawab Dila sambil menunjuk dengan dagunya, "Memangnya kenapa kalau gue nempel si Axel mulu? Kakak cemburu ya?!" Ujar Dila yang mencoba menggoda kakaknya itu.


"Haish, nggak lah Dil!" Ucap Mark yang mencoba mengalihkan pandangan matanya, agar tidak salah tingkah di depan Dila.


"Bohong dosa loh kak!" Ejek Dila lagi.


"Axel kan keluarga kita juga, Dil!" Ucap Mark.


Dila tampak menarik nafas lalu membuangnya perlahan, "Gue sama Axel adalah orang yang paling merasa kehilangan atas meninggalnya Dira, kak!! Ya, meskipun yang lainnya juga merasa kehilangan, Dira bahkan lebih dekat dengan Axel lebih dari gue yang saudara kembarnya sendiri!!" Ucap Dila uang mengingat kalau dirinya memang tidak sedekat seperti Axel dengan Dira.