Kamar 126

Kamar 126
Mimisan lagi


Gisella menghela nafas, "Sayang!" Panggil Gisella dengan nada manja pada Chan.


"Ada apa sayang?!" Jawab Chan tanpa menoleh ke arah istrinya berada.


Gisella meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Bersandar seakan mencari sebuaah kenyamanan. Chan yang merasa kalau istrinya itu sedang ada pikiran berat pun langsung meletakkan ponselnya di atas nakas, yang terletak di dekat ranjang.


Chan mengusap lembut rambut istrinya itu, "Ada apa hm? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?!" Tanya Chan yang seolah tahu akan kegelisahan Gisella.


"Aku masih bingung Chan, aku merasa aneh sama anak gadis kita!" Ucap Dila memberi tahu.


"Maksud kamu Dila? Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah baik-baik saja sekarang?!" Tanya Chan pada istrinya.


Gisella manarik nafas lalu menghembuskan nya, "Apa kamu nggak merasa aneh? Bukankah Dila jarang sekali sakit? Bahkan hampir tidak pernah dia sakit! Dan kemarin? Kenapa setelah dia jalan-jalan bersama Axel dia malah sakit seperti itu?!" Menghela nafas di sela ucapannya, "Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan Chan? Aku curiga kalau ada sesuatu yang telah terjadi!" Kata Gisella dengan rasa kekhawatirannya yang mulai membuncah.


Chan lalu mengajak Gisella untuk berbaring, lalu wajah mereka saling menatap satu sama lain, "Itu hanya perasaan kamu saja sayang! Anak kita Dila baik-baik saja, kamu bisa lihat sendiri kan?!" Chan mencoba membuat Gisella untuk tidak terlalu mengkhawatirkan anak gadisnya itu.


Gisella menghela nafas gusar, "Tapi perasaan aku nggak enak Chan!"


"Sudah sayang, kamu jangan terlalu ambil pusing tentang masalah ini! Dila kita pasti baik-baik saja! Jangan terlalu di pikirkan, aku nggak mau kamu sakit oke!" Kata Chan lalu menarik istrinya untuk mendekat lagi dan memeluknya dengan hangat.


Malam itu bahkan tampak mencekam dengan suara rintik hujan di luar mansion, hingga membuat udara yang masuk begitu menikam siapapun yang merasakannya. Di bawah rintikan air hujan itu, tampak satu sosok menyeringai penuh menenangkan, seakan mengatakan, "Permainan ini baru di mulai!" Katanya dengan memegang sebuah payung lalu setelahnya dia langsung menghilang entah kemana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Alfian dirinya sedang berada di sebuah ruangan yang sangat gelap. Tapi hanya ada satu lentera saja yang menerangi jalannya, tanpa ragu dia berjalan menyusuri sebuah lorong panjang. Sampai di ujungnya, ada sebuah pintu merah dengan tanda nomor 1** . Dengan 2 angka di belakangnya terlihat buram di mata Alfian. Belum sempat dia memegang handle pintu. Tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Membuat Alfian terkesiap melihatnya. Alfian awalnya tampak ragu untuk memasukinya, sampai akhirnya sebuah suara terdengar samar, "Masuklah, aku ada di dalam! Ku mohon tolong aku!"


Entah itu suara milik siapa, Alfian seperti asing dengan suara itu. Dia lalu masuk ke melewati pintu itu. Dan betapa terkejutnya dia melihat sebuah singgasana yang letaknya jauh berpuluh puluh meter dari sana dan juga ruangan dengan nuansa merah darah di sekelilingnya. Tapi entah kenapa Alfian dengan jelas bisa melihatnya.


Alfian melihat ke arah kiri dan kanannya, terdapat beberapa jeruji besi yang ada di sana. Alfian tentu bingung, lalu dia menajamkan matanya pada beberapa jeruji besi yang ada di samping kirinya.


Dia tersentak saat ada sosok dengan penuh luka tusukan menyeringai menatapnya.


"Siapa kamu?!" Tanya Alfian sambil melangkah ke belakang, berusaha menjauh. Tapi dia tidak tahu saja kalau di belakangnya saat ini juga sebuah jeruji besi.


"Dia adalah istriku!" Jawab satu sosok yang ada di jeruji besi, yang tepatnya ada di belakang Alfian. Karena seperti mengenali suara itu, Alfian tersentak dan tenggorokannya seperti tercekat. Dengan segera dia berbalik menatap sosok yang ada di belakangnya.


Deg,,,,


"Pa-pak Satyo?!" Ucap Alfian melihat pak Satyo dalam jeruji besi itu.


"Dia adalah istriku, dan di belakangnya ada anakku juga, tolong selamatkan kami! Cari kunci untuk membuka pintu jeruji besi ini!" Pinta pak Satyo dengan suara seraknya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di penjara!" Sedetik kemudian setelah mengatakan itu, Alfian terdiam dan matanya membulat sempurna. Mengingat kalau istri pak Satyo dan anaknya Angel telah tiada, lalu bagaimana bisa mereka ada di dalam penjara?


Alfian menelan saliva nya dengan kasar saat dirinya mulai mengetahui kalau ternyata dia bukan berada di alam nyata sekarang. Dia ada di sebuah alam bawah sadarnya.


Akan tetapi, dia bingung, kenapa bisa pak Satyo juga ada di sana? Bukankah dia masih hidup dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di kantor polisi?


Seketika Alfian bingung dengan pikiran yang berkecamuk memikirkan hal itu membuat kepalanya sakit.


Lalu tiba-tiba,,


"PERGI DARI SINI!!!!" Teriak istri pak satyo hingga membuat Alfian tersentak dan terbangun dari tidurnya.


"Hosh hosh hosh!!!! Astaga cuma mimpi!!" Kata Alfian sambil memegang keningnya. Lalu dengan segera dia meraih segelas air putih, dan langsung menenggaknya hingga saat melihat air itu berubah warna karena adanya cairan yang menetes. Seketika Alfian menjatuhkan gelas itu ke lantai.


Cetiarrr,,,,


Tangan Alfian bergetar, dan tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Terlintas di pikirannya tertuju pada keluarga pak Satyo yang dia temui di alam mimpi. Tangannya terulur memegang hidungnya yang tampak mengeluarkan cairan merah kehitaman. Dan ya, ternyata air putih yang tadi hendak dia minum bisa berubah warna karena darah yang menetes dari hidungnya.


Ini sudah kedua kalinya Alfian mimisan seperti itu. Yang pertama saat melihat sosok di dekat kolam renang yang ada di rumah pak Satyo. Dan kemudian malam ini.


"Tunggu! Bukankah wanita yang ada di dekat kolam renang itu wajahnya sama seperti yang dia temui di alam mimpi tadi?!" Batin Alfian lalu dengan buru-buru mengambil tisu yang ada di Alfian untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.


Ceklekk,,,


Gisella membuka pintu kamar anak bungsunya dengan nafas yang memburu, karena dia mendengar suara pecahan benda dari arah kamar Alfian. Yang letaknya memang tepat di atas kamar Gisella.


Gisella yang khawatir langsung saja berlari ke arah kamar Alfian dengan menaiki anak tangga ,dan membuka pintunya dengan tanpa permisi.


"Alfian!" Ucap Gisella begitu membuka pintu kamar. Gisella langsung mencari keberadaan anak bungsunya itu, namun yang dia lihat Alfian tidak ada di ranjangnya.


"Alfian!!" Panggil Gisella dengan khawatir di tampak pecahan gelas dan tisu dengan noda darah ada di lantai. Membuat hati Gisella kalut, dia sangat takut kalau sampai terjadi sesuatu pada anak bungsunya itu.


Lalu seketika,,,


Ceklekk,,,,


"Mama?!" Ucap Alfian yang memang tidak mengetahui kalau mama Gisella masuk ke dalam kamarnya.


"Alfian?!" Gisella langsung berhambur memeluk anaknya dengan posesif.


"Nak apa yang terjadi sama kamu? Kenapa bisa gelas itu pecah? Dan kenapa juga ada noda darah di tisu itu? Apa yang terjadi?!" Cecar Gisella menanyakan semua pertanyaan yang dari tadi berkecamuk di pikirannya.


Ya, Saking gemasnya dengan noda darah di hidungnya tadi. Alfian langsung berlari ke kamar mandi dan melupakan pecahan gelasnya, juga tisu yang habis dia pakai untuk mengelap hidungnya yang mimisan tadi.


"Ma, Alfian bisa jelasin!" Kata Alfian menenangkan mamanya yang tampah khawatir padanya.


Gisella menarik nafas untuk menetralkan kekhawatirannya, "Katakan sayang!" Ucap Gisella lalu duduk bersama dengan Alfian di tepian ranjang.


"Mama, sebenarnya Alfian mimisan tadi! Tapi mama nggak usah khawatir Alfian baik-baik saja! Dan ini juga baru terjadi 2 kali saja ma!" Kata Alfian menjelaskan. Sesaat mata Gisella membulat mendengarnya.


"Nak, apa yang kamu lakukan sampai itu bisa terjadi? Apa kamu sakit?" Tanya Gisella menatap mata Alfian intens.


Alfian menggeleng, "Alfian tidak sakit ma, ini terjadi setelah Alfian ikut kak Mark tadi siang! Melihat ada satu sosok yang menyeringai ke Alfian, lalu setelahnya Alfian mengalami mimisan!" Jelas Alfian. Alfian sendiri sengaja tidak mengatakan kalau dirinya mengalami pingsan sesaat setelah mimisan. Dia takut kalau sampai Gisella khawatir dan tidak memperbolehkannya untuk membantu makhluk tak kasat mata.


Gisella menghela nafasnya setelah mendengar itu dari mulut anak bungsunya, "Nak, apa darah itu berwarna kehitaman?" Tanya Gisella sembari mengusap pundak Alfian. Alfian yang mendengarnya mengernyit heran, kenapa mamanya ini selalu tahu apa pun tentang makhluk tak kasat mata?


Ah ,ya dia lupa kalau mamanya itu lebih berpengalaman dari pada dirinya.


Alfian mengangguk, "Iya ma, memangnya itu artinya apa ma?!" Tanya Renjun penasaran.


"Itu terjadi saat kita tidak memperbolehkan makhluk lain berkomunikasi dengan kita, dalam artian kita menutup telinga supaya mereka yang jahat tidak bisa mengusik kita meskipun meminta tolong!" Jelas Gisella, namun bukannya paham Alfian malah menggaruk kepalanya. Dia merasa sedikit bingung dengan penjelasan dari mamanya tadi.


"Alfian nggak paham ma! Hehe" Kata Alfian sambil terkekeh.


Gisella menghela nafasnya untuk kembali memberi tahu anaknya itu, "Jadi gini, di dunia tak kasat mata itu ada yang baik dan juga jahat!! Dan di sini mama sedang membahas entitas mereka yang jahat, saat ada makhluk jahat yang ingin mendekati kita! Namun kita menolak untuk berkomunikasi! Itu akan terjadi bentrokan pada tubuh kita, salah satunya bisa mengakibatkan mimisan!" Jelas Gisella lebih detail lagi, membuat Alfian langsung paham.


Alfian mengangguk paham, "Oh jadi gitu? Iya iya Alfian paham ma!" Jawabnya.


"Jadi kamu harus selalu hati-hati nak, memang tidak ada salahnya kalau kita membantu mereka ,untuk menyelesaikan urusan dunia mereka yang belum terselesaikan!" Menarik nafas, "Tapi kita juga harus tahu batasan! Yang penting ingat selalu ini!!! Jangan masuk ke dalam kubangan iblis! Jangan sampai kamu sama kakak kamu Mark masuk ke dalam alam iblis, karena itu akan sangat berbahaya!!" Kembali Gisella memberi nasihat mengenai itu pada Alfian.


Lalu setelahnya Gisella tersenyum menatap anaknya yang terus menjawab Gisella dengan anggukan patuh. Membuat hati Gisella menghangat melihat anaknya yang begitu patuh pada apa yang di perintahkan olehnya.


"Tidurlah, mama akan suruh pelayan untuk membersikan ini nanti!" Suruh Gisella pada Alfian. Lalu dengan segera setelah menganggukkan kepalanya. Alfian langsung memposisikan tidur di ranjang miliknya, Gisella dengan penuh kasih sayang menyelimuti Alfian. Lalu kemudian dia beranjak dari kamar Alfian untuk memanggil pelayan.


Hanya beberapa menit saja pelayan telah membersihkan kamar Alfian dari pecahan gelas yang berserakan. Tentunya pelayan pria yang di tugaskan khusus untuk anak-anak pria. Sedangkan di sisi wanita jika meminta pelayan masuk ke kamar mereka masing-masing, akan menyuruh pelayan wanita juga. Itu sudah menjadi aturan paten dari Ayah Suho. Karena ayah Suho tidak mau kejadian kelam terulang kembali.


Masih di tempat yang sama, yaitu kamar Alfian. Sesaat setelah pelayan selesai membersihkan kamar Alfian dan keluar dengan menutup pintu kembali. Alfian membuka matanya, dia menatap langit-langit kamar, dengan penuh tanda tanya di otaknya.


"Kenapa bisa pak Satyo ada di alam itu? Apa benar pak Satyo sudah tiada? Tapi bagaimana mungkin, dia bahkan baru saja masuk ke dalam jeruji besi!!" Dan kalau memang itu hanyalah alam bawah sadar dan itu memang keluarga pak Satyo, akankah itu benar istrinya? Tapi kenapa istrinya terlihat lebih mengerikan dari pada pak Satyo sendiri?!" gumam Alfian dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan.


"Gue harus cari tahu lagi besok!" Kekeh Alfian dengan percaya diri akan melakukan penyelidikan lagi mengenai hal itu. Dia masih saja di hantui di alam bawah sadarnya, bagaimana dia bisa tenang?


Alfian pun akhirnya tertidur setelah selesai bergumul dengan pikirannya yang berkecamuk, ingin segera menuntaskan semua jawaban yang harus dia dapatkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, mentari pagi bersinar cerah memasuki celah-celah jendela yang masih tertutup dengan gorden. Lalu setelah beberapa menit, tampak gorden di kamar mereka masing-masing terbuka dengan remote yang di pegang oleh Gisella. Chan sendiri yang mendesain remote itu supaya memudahkan istrinya, dan tidak perlu lagi untuk memanggil mereka di masing-masing banyak kamar.


Seperti biasa mereka sarapan bersama di meja makan hanya terdengar suara dentingan sendok. Hingga makanan yang mereka habisi telah tandas tak bersisa. Hari itu adalah hari minggu, Sekolah dan juga kampus tentu saja libur. Jadi mereka memiliki waktu bersama dengan keluarga besar mereka itu.


Ada yang memilih bersantai di rooftop, ada yang di halaman belakang dengan rumput hijau yang indah, ada yang berenang, ada yang berolah raga di tempat gym, ada yang bermain game di ruang game, dan ada juga yang menonton film di bioskop pribadi di mansion itu, tentu masih banyak lagi yang mereka lakukan.


Alfian, Lukas, Alfin, Victor dan juga Mark saat itu memilih untuk berada di tempat gym. Sampai suatu dering ponsel terdengar.


Ring Ring Ring!!!


Ponsel Victor yang berdering kala itu, lalu dengan segera Jeno mengambil ponselnya. Dahi Victor mengernyit melihat ada panggilan telepon dari kantor polisi tempat dia kemarin mengantarkan pak Satyo ke kantor polisi.


"Dari siapa?!" Tanya Alfin saat melihat Jeno tak kunjung mengangkat teleponnya.


Jeno menoleh ke arah Alfin yang tampak sedang mengusap keringat yang mengucur di dahinya akibat olahraga, "Ini dari kantor polisi kak!" Jawab Jeno yang langsung membuat semua yang ada di tempat gym menghentikan aktivitasnya.


"Cepat angkat!" Perintah Mark.


Langsung saja Victor mengangkat telepon itu.


"Halo selamat pagi!" Ucap suara di balik telepon yang di yakini sebagai polisi.


Jeno menjawab, "Iya selamat pagi!"