
Setelah itu mereka langsung mencari para remaja yang hilang itu di air terjun itu. Sedangkan Gisella tengah berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Chan. Tanpa mengatakan apapun. Sedangkan di sisi Ratih dia terus saja menangisi Gladis yang tak kunjung sadar itu.
"Gisella ada apa sayang? Apa yang kamu lihat tadi?!" Tanya Chan dengan berbisik di telinga Gisella.
"Hubungan terlarang!" Jawab Gisella singkat namun tak menoleh ke arah Chan yang bertanya padanya.
Tak berapa lama kemudian para warga yang tadi mencari kedua remaja yang hilang itu pun kembali dengan membawa tandu yang berisi tubuh Bisma yang sama kakunya seperti Gladis. Mereka meletakkan Bisma di samping Gladis dengan kondisi Bisma yang tel*nj*ng. Lalu menutupi tubuh Bisma dengan sebuah selendang atau orang Jawa menyebutnya sebagai jarik.
Ratih yang melihat satu teman lainnya mengalami hal yang sama pun langsung menangis sejadi-jadinya di dekat Bisma.
"Apa yang terjadi sama kalian!!!" Tangis Ratih pecah melihat kedua temannya yang sedang sekarat itu.
"Kami menemukan pemuda ini tengah berada di sebuah batu besar yang ada di dekat air terjun, badannya basah seperti habis mandi dari air terjun itu!" Jelas salah satu warga yang tadinya mengangkat tandu yang ia bawa untuk menuju ke kontrakan itu.
"Lalu di mana teman kalian yang satunya? Kenapa dia tidak ada?!" Tanya kepala desa, karena hari sudah menjelang petang. Takutnya akan terjadi sesuatu hal yang sama terhadap anak yang belum di temukan itu.
Salah satu warga menjawab lagi, "Kami hanya melihat pemuda ini saja tuan! Kami tidak melihat siapapun di sana!" Jawabnya.
"Ini tidak mungkin!!" Kata Gisella yang yakin kalau anak yang bernama Dinda itu juga berada di tempat yang sama seperti Bisma, "Ayo cepat cari lagi di tempat air terjun itu!!" Kata Gisella dengan lantang, dia seperti dikuasai amarah bahkan setelah melihat kejadian di penglihatannya tadi. Dia sangat yakin kalau sosok penunggu air terjun itu pasti menyembunyikan Dinda di sana.
Namun saat Gisella hendak beranjak langkahnya di halangi oleh Chan, "Gisella jangan lakukan itu! Ini sudah malam! Banyak warga yang tadi di sana dan tidak menemukan anak itu! Itu artinya dia tidak ada di sana!! Jangan bahayakan dirimu!!" Kata Chan memperingatkan, dirinya tentu khawatir akan keselamatan istrinya itu.
"Chan, ini demi keselamatan gadis itu!" Kata Gisella yang menatap ke arah tangannya yang di pegang oleh Chan.
"Tatap mataku kalau sedang berbicara Gisella!! Apa kau akan membahayakan diri kamu sendiri! Ingatlah anak-anak kamu di rumah! Ingat tujuan awal kita datang ke desa ini!! Jangan buat kesalahan yang akan berakibat fatal!!" Kata Chan yang kesal melihat istrinya itu bahkan menjawab ucapannya tanpa menoleh ke arahnya.
Gisella seketika terdiam dan langsung menatap lekat-lekat mata Chan. Dia sadar kalau dia sudah kelewatan dan membuat Chan merasa cemas sekarang. Dia melupakan sesuatu yang membuat hidupnya bersemangat. Hanya karena melihat kejadian melalui penglihatannya tadi, Gisella jadi lepas kendali.
Gisella langsung memeluk Chan dan menangis dalam dekapan Chan, "Maafkan aku Chan! Maaf karena melupakan tujuan utama kita!" Kata Gisella menyesal.
Chan pun membawa Gisella keluar dari tempat kontrakan itu dan mengajaknya berada di depan mobil, bi Inem yang da di sana pun menanyakan apa yang terjadi. Hingga Gisella menangis seperti itu, "Nona Gisella? Ada apa? Kenapa anda menangis?! Apa ada masalah?" Tanya Bi Inem khawatir.
Gisella menggeleng, "Tidak da bi, aku baik-baik saja! Hanya saja kita belum menemukan 1 orang anak gadis yang hilang itu!" Kata Gisella memberi tahu Bi Inem.
Gisella pun memberi tahukan kronologinya kepada Bi Inem. Bi Inem seperti mengetahui sesuatu mengenai air terjun itu.
"Air terjun itu sangat berbahaya nona! Anda tidak bisa ke sana pada waktu malam hari!" Kata bi Inem mengingatkan. Gisella mengernyitkan dahinya bingung. Dia ingin sekali tahu mengenai air terjun itu.
"Gisella ini bukan saatnya mendengar cerita itu, kita harus melakukan sesuatu untuk menolongnya!" Ucap Chan memberi tahu.
Namun tiba-tiba saja ada hal yang tidak terduga, ada seorang anak gadis yang berlari tertatih sembari menangis dari arah hutan. Mereka bertiga yang melihatnya langsung menghampiri arah sumber suara. Dan melihat gadis dengan pakaian kotornya berlari dari arah hutan menuju kontrakan itu.
Gisella langsung berlari ke arahnya di ikuti dengan Chan karena Chan tentunya sangat khawatir dengan istrinya.
Brukkk,,,
Gadis itu terjatuh dengan mata sembab akibat menangis, "Tolong!!" Kata gadis itu.
Gisella langsung memapah gadis itu, "Apa kau Dinda?!" Tanya Gisella langsung yang membuat gadis itu terdiam dan memandang ke arah Gisella dengan linangan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Gadis itu mengangguk, pertanda bahwa memang apa yang menjadi tebakan Gisella benar kalau gadis itu adalah Dinda, teman dari Ratih yang hilang itu. Sebuah keajaiban yang tak terduga kalau Dinda bisa kembali dengan sendirinya. Membuat Gisella bingung.
Gisella dan Chan memapah gadis yang umurnya seusia dengan Dila anak mereka. Mereka membawanya masuk ke dalam kontrakan. Semua orang yang ada di sana tentunya terkejut, mereka membelalakkan mata kaget melihat Dinda kembali dengan selamat dan tidak bernasib sama seperti Gladis dan Bisma.
"Ratih!!!" Ucap Dinda lirih ketika sudah berada di ambang pintu, kakinya bahkan sudah tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya, di tambah dia melihat kedua temannya yang sekarat itu di depan matanya.
Ratih langsung menoleh mendengar suara Dinda, "Dinda!!" Ucap Ratih lalu berlari memeluk Dinda. Mereka saling menguatkan satu sama lain, Dinda di papah oleh Ratih dan di bawa ke arah Gladis dan Bisma yang tengah sekarat di letakkan di sebuah meja dan di kerumuni banyak warga.
Semua yang melihat itu merasa iba, Bayu dan Dirga juga sama menitihkan ir mata melihat temannya mengalami hal seperti itu. Di kepala mereka bertanya-tanya mengenai apa yang telah terjadi sehingga Gladis dan Bisma bisa sampai seperti itu.
Dinda langsung duduk di dekat Gladis dan Bisma yang tengah sekarat, menangis histeris melihat kedua temannya dengan kondisi seperti itu"Ratih,, gue melihat Bisma di kelilingi oleh banyak ular!!! Dia terlihat ketakutan dan menatapku!!" Ucap Dinda sembari menangis sesegukan dan menceritakan apa yang dia lihat. Ratih hanya bisa menenangkan Dinda walaupun dia juga tak kalah histeris melihat kedua temannya yang sekarat seperti itu.
"Gue juga melihat Gladis yang di paksa menjadi seorang pelayan di sana! Dia tidak bisa menolaknya, dia juga akan menjadi penerus penunggu di sana!! Kasihan Gladis, Tih!!!" Ucap Dinda lagi dengan isak tangisnya.
Gisella juga tak kalah menitihkan air matanya. Dia mendekat ke arah kepala desa dengan diikuti oleh Chan yang ada di belakangnya.
"Ada apa nak?!" Tanya kepala desa yang sudah seusia paman Felix itu.
"Mereka berdua telah melakukan perbuatan terlarang di air terjun itu!" Kata Gisella.
Deg,,,
Sontak semua mata mengarah ke arah Gisella dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Gisella tahu mengenai hal itu. Tapi entah kenapa melihat apa yang terjadi sekarang mereka menjadi percaya dengan apa yang di katakan oleh Gisella.
"Astaga ya tuhan!! Kenapa mereka melakukan hal seperti itu di desa orang!! Mereka kenapa melakukan hal terlarang??!!!!" Kata Bayu dengan rasa kesalnya pada Gladis dan Bisma yang telah melakukan perbuatan tidak senonoh di desa orang. Sedangkan Tirta terlihat menenangkan Bayu yang masih kesal itu.
"Air terjun itu memiliki penunggu! Bahkan warga di sini tidak ada yang berani ke sana! Aku bahkan sudah pernah memperingatkan kalian untuk tidak mendekat ke sana waktu itu!! Kenapa kalian tidak mau mendengarkan?!" Kata kepala desa yang menyesal tak bisa menjaga anak-anak dari kota itu.
Dinda dan Ratih semakin histeris mendengar penjelasan dari kepala desa itu. Mereka bahkan juga baru tahu mengenai perbuatan di luar batas yang di lakukan oleh keduanya di sana.
Ratih pun berjalan mendekat ke arah Gisella dan juga Chan, "Tante, apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan teman-teman saya? Saya mohon bantu kami!!" Pinta Ratih memohon yang sebesar-besarnya kepada Gisella untuk menolong kedua temannya. Bahkan Ratih sampai bersimpuh di kaki Gisella. Gisella yang melihat itu langsung menyuruh Ratih untuk segera berdiri dari duduknya.
"Bangunlah nak!" Kata Gisella sembari menyuruh Ratih untuk bangun. Ratih lalu berdiri dengan menunduk tak tahu harus melakukan apa lagi untuk kedua orang temannya.
Gisella pun menatap Chan dengan tatapan memohon untuk melakukan astral projection untuk membantu teman-teman Ratih. Chan tidak menyetujuinya dan menggelengkan kepalanya.
"Chan , aku mohon!" Kata Gisella memohon pada Chan dengan tatapan sendunya.
Tak ada lagi yang bisa Chan lakukan selain menuruti istrinya itu, Chan menghela nafas, "Baiklah, tapi berjanjilah untuk kembali dan tak memaksakan kehendak dari penunggu itu!!" Kata Chan dengan tegas, meski sebenarnya dia sangat takut dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Gisella tersenyum lalu memandang ke arah Ratih dan berkata, "Ratih lihat tante!" Kata Gisella dan Ratih langsung menatap ke arah Gisella yang ada di depannya, "Tante akan bantu kamu!" Lanjut Gisella namun tiba-tiba saja Gisella tersentak kaget melihat sosok yang ada di balik tubuh Ratih.
Deg,,,
Gisella langsung membelalakkan matanya melihat itu, dia tak menyangka ada satu sosok yang berada di balik tubuh Ratih.
"Gisella ada apa?!" Kata Chan yang membuat Gisella tersadar. Seketika sosok itu juga langsung menghilang, Gisella juga berpikir apakah sosok itu adalah sosok yang sama dengan yang ada di air terjun?
Tapi kenapa bisa ada di balik tubuh Ratih?
Apa semua ini ada hubungannya dengan Ratih?
Semakin ke sini, Gisella semakin yakin untuk melakukan misi ini, dia ingin menolong anak-anak ini sebisa dan semampu dia.
"Aku tidak apa-apa Chan! Apa kau melihatnya?!" Tanya Gisella pada Chan yang ternyata malah di jawab anggukan oleh Chan. Gisella terkejut karena Chan juga bisa melihat sosok itu.
"Aku akan menjalankan misi ini sampai tuntas Chan!" Kata Gisella dengan tekat yang dia punya.
Gisella pun meminta Chan untuk menemaninya membuka astral projection. Gisella yang akan masuk sedangkan Chan lah yang bertugas menjaga astral projection.
"Tante, biarkan aku ikut bersama!" Kata Dinda yang juga ingin menolong temannya itu. Gisella menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa mengajak anak gadis yang bahkan dalam kondisi seperti ini.
"Kamu sebaiknya temani mereka, berdoalah! Semoga aku bisa membawa kedua teman kalian kembali!!" Kata Gisella mencoba meyakinkan Dinda supaya dia tidak perlu ikut dengannya.
Setelah itu Dinda hanya bisa pasrah dengan keputusan yang di buat oleh Gisella tadi. Gisella berada di sebuah kamar yang awalnya di tempati oleh para gadis-gadis itu untuk tidur.
Lalu kemudian dia memulai astral projection, sebelum memulainya Gisella menatap Chan dalam. Chan pun memakaikan kalung air suci ke pada leher Gisella, mengingat kalau air suci yang tadi Gisella bawa telah di berikan pada penunggu bambu kuning.
Cup,,,
Chan mengecup dahi istrinya singkat. Kini yang ada di dalam kamar itu adalah bi Inem, Ratih Chan dan juga Gisella saja.
Gisella mulai menutup matanya dan mulai melakukan astral projection. Saat Gisella telah berada di alam bawah sadarnya, tiba-tiba,,
Deg,,,,
Pov Author : Halo guys author menyapa nih! Gimana sama kelanjutan ceritanya? jangan lupa buat dukungannya ya biar author jadi tambah semangat buat nulis!!
Oh iya sekali lagi author cuma mau ngingetin ke kalian semuanya, kalau cerita ini murni karangan author, kalau ada kesamaan tempat atau apapun itu semuanya tidak di sengaja dan author meminta maaf sebesar besarnya🙏