
Singkat cerita,,,,
Malam harinya setelah mereka beristirahat. Mereka makan malam bersama di ruang makan. Axel tampak celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Lo kenapa?" Alisya menegur Axel saat mendapati dirinya celingukan.
"Kok sepi sih? bi Sara sama bi Tina kemana?" Tanya Axel pada mereka semua.
"Mereka pulang!" Jawab Dira sambil memasukkan satu suap nasi ke dalam mulutnya.
"Hah? Lo tahu dari mana, Dir?" Tanya Bryan heran.
"Ya gue tadi tanya ke mereka sendiri!" Jawab Dira santai sambil terus melahap makanan.
"Emangnya mereka nggak tinggal di sini? Terus kapan mereka baliknya?" Tanya Dila penasaran.
"Tadi sore kan gue udah bilang sama lo, eh maksudnya mau bilang ke lo! tapi lo malah ngusir gue jadinya gue pergi ke kamar Axel !" jelas diri tanpa rasa bersalah.
"Apa? Jadi lo tidur satu kamar sama Axel?" Victor terkejut sambil membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Dira tadi.
"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Dira dengan polosnya.
"Ya udah sih biarin aja, gitu aja pakai teriak!" Ujar Bryan sambil memasukkan satu suapan nasi ke mulutnya.
"Ya sorry namanya juga reflek!" Jawab Victor.
"Udah-udah biarin aja Dira tidur sama Axel , lagian Dira kan penakut! jadi nggak ada salahnya kalau Dira tidur satu kamar dengan Axel! Kalau gue sih nggak bisa bagi kamar, orang ranjang gue di bikin single bad!" Jelas Alisya.
"Lagian lo takut apaan sih ,Dir? Di sini nggak ada apa-apa kok, aman-aman aja!" Ujar Dila yang merasa tidak ada kejanggalan apapun.
"Lo nggak tahu, Dil!" Dira pun menceritakan kejadian yang dia alami saat sore hari tadi di halaman, dengan anak kecil yang lenyap begitu saja, di tambah kejanggalan bi Sara dan bi Tina.
Namun mereka menganggap itu hanya biasa saja, menurut mereka itu hanyalah ketakutan yang di miliki oleh Dira saja, sehingga menyebabkan Dira jadi berhalusinasi.
"Nggak cuma itu aja, tadi juga ada seorang pemuda, umurnya sih kayaknya nggak jauh beda dari kita! Dia naik sepeda dan berhenti tepat di depan pagar Villa, tapi pas bi Tina menegurnya, dia pergi begitu saja! Katanya sih warga sini menganggap pria itu aneh!" Tutur Dira menjelaskan semuanya tentang pria yang menaiki sepeda itu.
"Nah, kalau cerita yang terakhir ini lumayan menarik!" Ungkap Dila sambil memasukkan nasi di dalam mulutnya.
"Menarik apanya?" Tanya Axel bingung dengan apa yang di maksud oleh Dila.
"Ya gue ngerasa penasaran aja sama pria yang naik sepeda itu! Kenapa pria itu pergi begitu saja saat di tegur sama bi Tina?!" Ungkap Dila sambil mengunyah makanannya. Dirinya mulai merasa penasaran dengan pria yang di katakan oleh Dira tadi.
"Namanya aja orang aneh! Jadi kalau di tegus bukannya nyapa balik, eh dianya malah pergi gitu aja!" Bryan terkekeh kecil, tak mau ambil pusing dan tidak menganggapnya serius.
Alisya yang mendengar itu pun berdecak, "Haish, bilang aja lo mau kenalan sama pria itu kan? Udah gue duga sih!" Ucapnya sambil memutar mata malasnya.
"Hehe, lo tau aja sih!" Jawab Dila sambil terkekeh kecil.
"Ish, nggak usah ngada-ngada deh! Lo nggak takut celaka? Lagian tujuan kita ke desa ini tuh buat makalah, bukan yang lainnya!" Ungkap Dira mengingatkan.
"Iya-iya gue tahu, tapi nih ya ngomong-ngomong, kenapa bi Tina sama bi Sara nggak tinggal di sini aja sih?" Tanya Dila yang mulai merasa penasaran.
"Kata mereka sih, itu memang perjanjian mereka dari awal mulai kerja di sini!" Jawab Dira memberi tahukan.
"Kok gue jadi penasaran ya, lagi pula Vila ini kan lumayan besar! Kenapa mereka menolak untuk tinggal di sini?" Ungkap Dila yang merasa heran dan mulai merasa penasaran.
"Awalnya gue juga mikir gitu! Tapi gue coba mikir positif thinking aja dan nggak mau ambil pusing!" Kata Dira dengan santainya, padahal dari awal Dira lah yang begitu penasaran dengan sikap bi Tina dan juga bi Sara.
"Udah gini aja, selagi mereka nggak buat masalah! Kita nggak perlu mikir yang macem-macem! Nanti malah takutnya mereka nggak nyaman lagi!" Axel mengingatkan mereka semua untuk tidak terlalu memikirkan itu.
"Ya, kalau nggak nyaman sih tinggal cari pembantu lain aja!" Jawab Bryan yang selalu merasa santai dengan apa yang namanya uang.
"Nggak gitu juga kali Bryan😒!" Kata Alisya dengan wajah malasnya.
Mereka pun menghabiskan malam malam bersama di vila itu dan melanjutkan untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Namun tidak dengan Dira yang memilih tidur satu kamar dengan Axel. Bukan apa-apa, Dira hanya tidak nyaman kalau harus tidur sendiri, entah kenapa dirinya merasa tidak nyaman saat berada di kamarnya sendiri.
Malam itu di kamar Haechan, terlihat Dira yang sudah berbaring di atas ranjang sambil membolak-balikkan tubuhnya, dirinya tidak bisa tidur. Apalagi Axel yang memilih tidur di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya itu.
"Haechan!" Panggil Dira yang melihat Haechan sedang memainkan labtop nya di sofa.
"Ada apa, Dir?" Tanya Axel yang masih fokus dengan labtop nya.
"Temenin gue tidur di sini! Gue nggak bisa tidur nih!" Kata Dira sambil memencepkan bibirnya.
"Dir, lo kan udah di kamar gue! Jadi ya lo tinggal tidur aja!" Kata Axel setelah menghela nafasnya.
"Gue mohon Axel ! Nanti kalau gue udah tidur, lo boleh balik ke sofa lagi kok!" Ucap Dira memohon dengan mata yang kembali berbinar menatap Axel. Apa boleh buat, Axel hanya bisa menghela nafasnya kasar dan menuruti apa yang diinginkan oleh Dira.
Axel lalu beranjak dengan mematikan labtop nya lalu menemani Dira tidur di ranjang. Lalu setelah melihat Dira yang saat itu tertidur pulas, akhirnya Axel kembali ke sofanya untuk tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, di mansion besar keluarga Nathan dan yang lainnya.
Pov Alfin.
Di dalam kamarnya terlihat Alfin yang sedang berdiri sambil memandang ke luar jendela kamarnya.
"Kayaknya gue emang beneran suka deh sama dia!" Ungkap Alfin lirih sambil tersenyum menatap keluar jendela.
Namun tiba-tiba saja suara membuyarkan lamunannya dan membuatnya menoleh.
"Jaehyun!" Panggil Gisella yang langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Alfin.
"Eh mama? Ada apa ma?" Tanya Alfin yang melihat mamanya masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu lagi ngapain sih nak? Ayo kita sarapan! Yang lainnya udah pada nungguin tuh di bawah!" Ajak Gisella pada anak pertamanya itu.
"Iya, ma! Ini Alfin juga mau turun kok!" Jawab Alfin yang tersenyum menatap mamanya.
"Ya sudah mama duluan ya, kamu jangan lama-lama!" Ucap Gisella mengingatkan anaknya untuk segera turun. Alfin hanya tersenyum mengangguki apa yang di katakan oleh mamanya tadi.
Saat Gisella keluar, Alfin langsung mengambil kunci mobil yang ada di meja samping ranjang. Lalu berjalan mengekor di belakang Gisella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat sarapan, lebih tepatnya di meja makan.
"Aku kok kangen ya sama anak-anak!" Ucap Gisella yang mengurungkan niatnya untuk memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Astaga, baru juga sehari, Sel! Udah kangen aja! Biarin aja kenapa sih?! Biar sekali-kali mereka tuh ngerasain kebebasan!" Ucap Byun yang langsung menyambar.
"Iya sayang, kamu nggak usah terlalu khawatir! aku yakin mereka pasti baik-baik aja!" Ucap Chan menyakinkan Gisella.
"Lagian mereka udah pada besar ma, nggak ada yang perlu di khawatirkan!" Ucap Adam menyahut sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Baru juga sehari, Ma! Gimana nanti kalau mereka udah pada nikah?" Zaki malah terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Itu yang mama cemaskan!" Ucap Gisella menghela nafas.
"Kok gitu sih sayang?" Ucap Chan.
"Terus mereka mau lo tahan di sini terus gitu?" Tanya Alex sambil melirik Gisella.
"Kalau bisa gitu kenapa nggak?" Gisella hanya mengedikkan bahunya dan merasa sedikit sombong karena bisa menahan anak-anaknya. Menahan bukan artian di penjara, melainkan jika mereka menikah nanti, Gisella akan menyuruh mereka untuk selalu ada di sekitarnya ,dan membuatkan mansion di sekitar mansion miliknya.
"Haish, susah ya kalau ngomong sama orang sultan!" Kata Nadia yang hanya bisa menggeleng heran.
Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke sekolah sedangkan anak pertama mereka, pergi berangkat ke kampus.
Akan tetapi tidak dengan Alfian. Meskipun kondisinya sudah berangsur membaik, namun karena rasa kekhawatiran yang dimiliki Gisella, Alfian di larang bersekolah untuk beberapa hari ke depan.