Kamar 126

Kamar 126
Dila pingsan


"Mark, kamu nggak usah khawatir, mama akan cari tahu ini! Kamu nggak usah terlalu memikirkan ini oke!! Kamu harus fokus pada kuliah kamu dulu, mengerti?!" Gisella menasihati anak sulungnya itu tentang apa yang harus dia lakukan. "Kamu juga Alfian, kamu harus fokus pada sekolah kamu oke!" Lanjut Gisella sembari menoleh ke arah anak bungsunya itu.


Mark dan Alfian pun mengangguk. Lalu setelahnya Gisella memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Bryan anak ke 2 dari ayah Nathan itu tampaknya sedang kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya. Hingga dirinya memutuskan untuk turun ke lantai 3 untuk menemui Dila.


"Haish, kenapa susah banget sih! Kalau bukan karena ayah sama bunda! Gue nggak mau belajar sama sekolah gini!! Lagian buat apa coba? Orang gue udah punya banyak perusahaan!!" Gerutu Nathan sembari menatap coretan matematika di bukunya.


"Halah, lo gimana sih kak, gitu doang aja bangga! Harusnya kalau lo sekolah itu seneng dong!" Sebuah suara mengejutkan Nathan yang tengah frustasi memikirkan soal matematika yang sulit dia pecahkan.


Bryan menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati adik bungsunya itu ada di ambang pintu. Sembari melipat kedua tangannya di dada.


Bryan mendengus melihatnya, "Apaan sih lo! Gangguin orang aja! Udah sana pergi! Gue lagi nggak mau bicara sama lo!" Usir Bryan pada adiknya itu.


Renald, anak bungsu dari Ayah Suho dan bunda Nadia itu terlihat mengerucutkan bibirnya karena di usir oleh Bryan. "Lo ngusir gue? Oke gue aduin ke bunda!" Ucap Bryan malah mengancam Bryan.


"Eh eh apaan sih, gitu aja pakai ngadu segala!!" Kesal Bryan yang langsung berdiri dari duduknya dengan membawa buku pelajarannya menuju ke Renald.


"Lo mau di sini kan? Nggak mau gue usir? Ya udah masuk aja sana! Gue mau ke kamar Dila!!" Kata Bryan sebelum dia berlalu meninggalkan Renald yang masih tak bergeming di ambang pintu.


"Tuh orang sensi amat sih, lagi PMS kali ya?!" Ucap Renald ketika Bryan sudah pergi menuju ke kamar Dila. Dia sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya yang terlihat seperti anak kecil di bandingkan dengan dirinya, "Ini sebenarnya yang kakak siapa yang adik siapa sih! Haish!!" Gerutu Renald lalu setelahnya dia menutup pintu kamar Bryan dan pergi ke kamarnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlihat Bryan dengan wajah kesalnya menuju ke kamar Dila.


Tok tok tok,,,,


Dila yang berada di dalam kamar mendengar ketukan pintu itu, dan langsung menyuruhnya untuk masuk.


"Masuk aja pintunya nggak di kunci!" Jawab Dila sambil tangannya masih sibuk mengerjakan tugas sekolahnya yang hampir selesai.


Ceklekk,,


Pintu terbuka namun Dila tak melihat siapa yang datang ke kamarnya. Bryan langsung melempar bukunya di ranjang Dila lalu merebahkan tubuhnya di sana.


Hal itu sontak membuat Dila langsung menoleh ke arah Bryan, "Bryan, lo kenapa sih? Berantem sama adek lo lagi?!" Tanya Dila yang menghentikan aktivitasnya mengerjakan tugas.


"Gue kesel banget tuh sama si Renald!! Masak iya gue nyuruh dia pergi dari kamar gue ,bukannya pergi malah ngira gue ngusir terus pakai acara ngancem mau ngaduin ke bunda lagi!" Bryan mengucapkan itu sembari mencebikkan bibirnya membuat Dila terkekeh.


"Lo kenapa sih, Bry! Dia itu kan adek lo! Harusnya lo ngalah dong!" Kata Dila memberi tahu Bryan.


"Ya gue tuh lagi frustasi Dil gara-gara nggak bisa ngerjain tuh tugas matematika, eh malah di ganggu tuh sama Renald!" Memutar bola matanya sambil mengerucutkan bibirnya.


Dila menggelengkan kepalanya sambil memutar bola matanya jengah, "Bryan, lo kan lebih besar dari pada Renald! Harusnya lo lebih sabar dong di bandingin dia! Lo harusnya bisa nasehatin dia!" Dila memperingatkan Bryan tentang posisinya menjadi anak ke 2 seperti dirinya.


Bryan langsung duduk dan menatap Dila, "Haish, lo sendiri juga sering berantem kan sama Alfian?!" Bukannya menjawab Bryan malah membalikkan pertanyaan itu pada Dila. Yang langsung membuat Dila menjadi bungkam, dan tak tahu harus mengatakan apa lagi.


Dila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ,lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lo mau ngapain sih kesini? Gue lagi belajar nih, jangan ganggu!" Kata Dila mengalihkan ucapannya.


Bryan mendengus, sebenarnya dia tahu kalau Dila hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja. Akan tetapi dia memilih tak mempermasalahkannya lagi dan mendekati Dila, dengan membawa buku matematika miliknya.


"Gue nggak bisa yang ini, gue tadi udah nyanyi-nyari tapi nggak ketemu jawabannya!" Ujar Bryan memberi tahu soal yang baginya susah, dan bahkan membuatnya merasa frustasi akan itu.


Dila yang melihat itu langsung mengambil alih buku Bryan, dan menyuruh Bryan mendekat ke arahnya.


"Jelas ini nggak nemu jawabannya Bryan!!!" Kesal Dila saat melihat soal salinan dari papan tulis ke buku Bryan.


Bryan bingung seperti orang yang tak memiliki beban apapun, "Ada apa? Kenapa lo malah marahin gue?!" Tanya Bryan bingung.


"Lihat nih!!" Mengarahkan jari telunjuknya pada soal yang di tulis Bryan, "Ini tuh harusnya 4 bukan 9!! Jelas nggak nemu lah kalau soalnya aja lo salah! Haish!! Kesal dan menghela nafasnya.


Bryan terkekeh, "Hehehe , salah ya? Ya gue kan nggak tahu! Lagian salahin aja tuh guru bikin angka 4 kayak 9! Jadi gue tulis apa yang gue tahu lah!!" Bryan masih berusaha mengelak dari kesalahannya.


"Udah sekarang lo kerjain aja! Pasti ketemu, nanti kalau nggak bisa baru tanya lagi ke gue!" Suruh Dila sembari tangannya masih fokus untuk menulis jawaban di bukunya.


"Haish, iya baiklah!" Bryan pasrah lalu mengambil bukunya dari meja belajar Dila. Dirinya langsung menuju sofa yang ada di kamar Dila dan mengerjakan tugas sekolahnya di sana. Karena tidak mungkin dia kembali ke kamar , takutnya nanti ada yang salah lagi dengan soal-soal miliknya. Jadi Bryan memilih berada di kamar Dila sampai tugas miliknya itu selesai di kerjakan.


Bryan akhirnya mengerjakan soal itu sampai selesai, bahkan tak ada kesalahan dan kesulitan untuknya. Membuatnya menjadi percaya diri kembali setelah mengerjakan soal itu.


"Gimana?!" Tanya Dila pada Bryan yang sudah siap untuk membereskan bukunya yang telah di penuhi soal yang dia kerjakan.


"Haish, tanpa bantuan dari lo pun, apapun keinginan gue udah di tanggung sama nyokap sama bokap gue! Dan nggak akan pernah ada habisnya!" Ucap Dila sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ya ya ya, gue percaya! Kalau gitu gue ke kamar gue dulu, ya semoga aja Renald nggak ada di sana! Males banget gue debat sama dia!" Kata Bryan lalu kemudian beranjak dari duduknya.


Setelah itu Bryan berpamitan pada Dila untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Dila tampak bergerak menuju ranjangnya untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Mentari pagi terlihat sudah menyinari bumi. Burung berkicauan dengan merdu. Bahkan sinar mentari pun tahu cara untuk membangunkan para anak-anak untuk bergegas menuju ke kampus dan sekolah mereka masing-masing.


Namun berbeda dengan Dila yang terlihat malas untuk bangkit dari ranjangnya. Dirinya masih memikirkan kenapa Axel akhir-akhir ini bahkan cuek padanya.


"Gue males banget nih buat sekolah, lagian Axel pasti juga bakal diemin gue lagi! Kan gue jadi nggak mood!!" Kata Dila yang masih bergumul dengan selimut miliknya. Bahkan dia menyelimuti dirinya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


Lalu beberapa menit kemudian, Dila tampak membuka selimutnya dengan paksa. Kemudian menatap langit-langit kamarnya sembari berkata, "Gue harus sekolah!! Gue nggak boleh males-malesan cuma karena Axel nyuekin gue! Harusnya gue tanya ke dia apa penyebabnya sampai dia giniin gue! Iya gue harus bertanya!" Berbicara dengan penuh tekat di hatinya. Kemudian Dila segera bergegas menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk sekolah.


Sedangkan yang lainnya sudah berada di meja makan untuk sarapan. Dila yang baru saja selesai bersiap pun, keluar dari kamarnya dengan wajah yang ceria. Dia menuju ke meja makan untuk sarapan bersama dengan keluarga besarnya.


Singkat cerita mereka pun berangkat ke sekolah dan kampus mereka masing-masing. Hari ini ada kelas olahraga di tempatnya di kelas yang di tempati oleh Dila.


Pukul 10.00, mereka yang ada di kelas itu langsung mengganti pakaian olahraga mereka. Karena mereka hari ini ada kelas olahraga basket.


"Ini sih Victor yang paling jago!" Kata Bryan yang sudah pesimis duluan dengan bakat yang dia miliki.


Victor menatap Bryan, "Jangan pesimis dulu kenapa sih? Di mulai aja belum, masak lo mau nyerah sih?!" Ucap Victor mencoba meyakinkan Bryan kalau dirinya pasti bisa melakukannya.


Kelas olahraga di pimpin oleh guru Kim, mereka di suruh memasukkan bola ke dalam ring basket sebanyak-banyaknya dalam jarak 5 meter. Dengan waktu yang sudah di tentukan.


Kelas Olahraga hari itu pun di mulai, akan tetapi ada kejadian yang membuat Dila harus di bawa ke UKS karena pingsan akibat terkena lemparan bola basket yang tidak di sengaja oleh Alisya.


"Dila, tangkap!" Ucap Alisya sambil melempar bola basket. Akan tetapi saat Dila hendak menangkapnya kakinya malah terkilir dan alhasil dia terjatuh lalu bola itu mengenai kepalanya. Dila yang memegangi kepalanya pun langsung di hampiri oleh Axel.


"Dila!" Ucap Alisya dan Axel yang melihat Dila pingsan. Tidak hanya itu, teriakan mereka di dengar oleh siswa lain dan membuat mereka semua menoleh ke arah Dila.


Axel tampak khawatir, "Dila bangun Dil!" Ucap Axel sembari membangunkan Dila. Namun Dila benar-benar pingsan saat itu.


"Axel, bawa Dila ke UKS!" Perintah guru Kim pada Axel, "Dan untuk kalian semua ayo kita lanjutkan olahraganya!" Lanjut guru Kim.


Setelah mendengar dan mendapatkan perintah dari guru Kim tadi, Axel langsung bergegas menggendong Dila dan membawanya ke UKS.


Sesampainya di UKS, Haechan langsung membaringkan Dila di ranjang. Dan mengambil minyak kayu putih di kotak P3K yang ada di sana.


"Dila bangunlah, jangan bikin gue khawatir!" Kekhawatiran menyelimuti wajah Axel. Dia begitu takut dan trauma kalau sampai Dila kenapa-kenapa.


Selang beberapa saat Dila terbangun dari pingsannya dan memandangi sekitar lalu menyadari kalau dirinya ada di UKS. Dila juga melihat adanya Axel juga di sana.


"Dila lo udah sadar?!" Tanya Axel saat melihat Dila sadar dari pingsannya.


Dila pun beranjak untuk duduk, sambil masih memegangi kepalanya yang terasa sakit , "Apa yang terjadi? Kenapa gue bisa ada di sini?!" Tanya Dila yang tak mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Dia hanya ingat kalau tadi dia ada di lapangan basket.


"Lo tadi pingsan, dan gue yang bawa lo ke sini!" Ucap Axel memberi tahu.


"Syukurlah lo udah sadar, Dil! Kalau gini kan gue jadi lega lihat lo yang udah baik-baik aja!! Bahkan gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri kalau sampai gue nggak bisa jagain lo, Dil!" Kata Axel di dalam batinnya.


"Gue nggak nyangka di balik sikap cuek lo ke gue akhir-akhir ini, ternyata lo masih peduli sama gue Axel!" Batin Dila tersenyum kecil ke arah Axel.


Sempat terjadi sebuah kecanggungan di antara mereka, karena saling diam tak menyapa lagi "Tadi gue di suruh sama guru Kim buat bawa lo ke sini! Karena lo udah siuman, jadi gue balik ke lapangan basket dulu!" Ucap Axel tanpa melihat ke arah Dila, bahkan dirinya hendak berdiri meninggalkan Dila.


Dila yang melihat itu tak tinggal diam. Dirinya langsung meraih tangan Axel untuk mencegahnya pergi.


"Tunggu!" Ucap Dila sembari menghalangi tangan Axel dengan memegang tangannya.


Axel menghentikan langkahnya, dengan nafas yang tercekat karena Dila malah menghalangi langkahnya. Axel berkata, "Gue harus balik ke lapangan Dil! Kalau nggak nanti guru Kim bisa marah!" Ujar Axel tanpa menoleh ke arah Dila.


"Apa benar lo akan kembali ke lapangan hanya demi guru Kim? Lo tega ninggalin gue sendiri di sini? Kenapa lo selalu menghindar dari gue Axel? Semenjak kejadian itu lo selalu menghindar dari gue! Gue nggak tahu apa alasan lo! Tapi kenapa Axel, kenapa???!" Ucap Dila dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dirinya tak tahan lagi, ingin segera mengetahui alasan Axel menjauhi dirinya akhir-akhir ini.


Di balik tubuh tegap yang membelakangi Dila itu, tampak Axel yang matanya memerah menahan air mata yang sudah akan keluar dari peradabannya. Dia tak sanggup mendengar ucapan Dila yang menyayat hatinya.


"Kenapa lo diem Axel? Lo bahkan udah janji bakal jaga gue! Tapi kenapa? Saat gue sakit, lo malah nggak ada di samping gue!! Kenapa lo malah berubah ke gue? Apa salah gue sama lo Axel?!" Ujar Dila sesegukkan menahan sesak di dadanya akibat mengatakan hal itu pada Axel.


Axel masih tak bergeming, air maya juga sudah membasahi pipinya, berusaha menutupinya dari Dila. Merasa percuma dengan apa yang dia lakukan, Dila perlahan melepas tangannya yang sempat menghalangi langkah Haechan tadi.