
Lalu kemudian dia memulai astral projection, sebelum memulainya Gisella menatap Chan dalam. Chan pun memakaikan kalung air suci ke pada leher Gisella, mengingat kalau air suci yang tadi Gisella bawa telah di berikan pada penunggu bambu kuning.
Cup,,,
Chan mengecup dahi istrinya singkat. Kini yang ada di dalam kamar itu adalah bi Inem, Ratih Chan dan juga Gisella saja.
Gisella mulai menutup matanya dan mulai melakukan astral projection. Saat Gisella telah berada di alam bawah sadarnya, tiba-tiba,,
Deg,,,,
"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sekitar Ratih? Apa kamu yang sudah membuat teman-teman Ratih menjadi seperti ini?!" Tanya Gisella ketika melihat sosok wanita tua yang berada tepat di belakang Ratih.
"Mereka berbeda dengan cucuku! Mereka pembawa mala petaka yang bisa menyeret cucuku ke dalam masalah besar!! Apa kay pikir kalau tidak ada aku, mereka semua bisa selamat dari hantu penunggu air terjun itu!!" Kata wanita tua itu memberi tahu.
Deg,,,
"Apa? Tunggu? Kau nenek dari Ratih?" Tanya Gisella pada wanita tua itu, dirinya langsung menyimpulkan kalau wanita tua itu ada hubungannya dengan Ratih, yaitu saat dia menyebutkan kata cucu.
Wanita tua itu menjawab "Iya, dia adalah cucuku yang harus aku jaga, aku berkewajiban menjaga dia! Tempat yang dia tempati ini bukanlah tempat biasa!! Mereka sudah menjadi incaran dari banyaknya penunggu di sini! Terutama sosok penunggu air terjun itu!! Aku yang selama ini menjaga mereka di sini, tapi mereka malah berbuat satu hal yang menyimpang! Mereka sudah di pastikan tidak akan pernah selamat!!" Kata wanita tua itu dengan wajah yang terlihat kesal, dia kesal karena memang wanita tua itu sudah pernah memperingatkan para siswa dan siswi dari kota itu. Dengan cara merasuki tubuh Dinda dan memberinya peringatan. Namun ternyata mereka semua tidak mempedulikannya dan malah melanggar pantangan yang membuat penunggu air terjun itu marah. Wanita tua itu bahkan di segani oleh penunggu air terjun itu, namun penunggu air terjun itu tak akan segan-segan untuk mencelakai siapa saja yang berani mengusik wilayahnya.
Di daerah Jawa memang sangat kental akan hal-hal mistis. Tak hanya mereka yang bisa melihat makhluk tak kasat mata saja, melainkan hampir seluruhnya percaya akan hal-hal gaib. Tak sedikit tempat-tempat mistis yang menjadi ada di pulau Jawa. Banyak sekali tempat yang menjadi rumah mereka, atau bahkan juga ada yang telah mendiami salah satu tempat itu berapa tahun lamanya. Air terjun yang mereka datangi itu ternyata adalah salah satunya yang memiliki seorang penunggu. Dan jika siapa saja orang yang berani mengusik atau bahkan mengotori tempat itu, mereka akan celaka dan bisa tidak selamat.
Gisella yang mendengar itu pun kaget, dia takut kalau sampai kedua remaja itu tidak akan selamat. Mengingat mereka telah mengotori tempat itu dan bahkan berani melakukan hal tidak senonoh di tempat yang bahkan mereka tidak tahu kalau tempat itu sungguh berbahaya. Dan juga bahkan para warga saja tidak berani menginjakkan kakinya di sana , takut kalau mereka akan terkena malapetaka di tempat itu.
"Tolong antar kan saya pada sosok itu!" Pinta Gisella yang ingin sekali bertemu dengan sosok penunggu air terjun itu. Dia ingin segera menyelamatkan kedua remaja itu dari kemalangan yang menimpa mereka.
"Untuk apa? Itu hanya akan sia-sia saja! Jika kau mengusiknya, maka hidupmu juga tidak akan bisa selamat dari dirinya!! Lebih baik kau tidak usah ikut campur dalam masalah ini!!" Kata wanita tua itu memperingatkan.
Namun Gisella sudah bertekad ingin menemui penunggu air terjun itu. Dia tidak tega dan tidak ingin ada korban lagi seperti di kejadian masalalu yang ada di hidupnya.
"Saya mohon antar kan saya pada beliau penunggu air terjun!" Pinta Gisella memohon.
Wanita tua itu melirik ke arah belakang Gisella lalu berkata "Kau tidak perlu ke sana, dia sudah ada di belakangmu!"
Deg,,,
Wanita tua itu tiba-tiba menghilang dan Gisella langsung berbalik melihat adanya sosok cantik jelita dengan rambut di sanggul seperti seorang putri dengan pakaian khas adat Jawa. Gisella terbelalak melihatnya ,lalu kemudian dalam sekejap saja Gisella dan sosok itu berpindah tempat. Yang lebih tepatnya di air terjun dengan keindahan yang luar biasa.
"Apa yang kamu inginkan nduk?!" Tanya sosok penunggu itu dengan ramah. Nduk itu panggilan untuk perempuan yang lebih muda dari pada yang memanggilnya. Biasanya di gunakan oleh ibu ke anaknya.
"Siapa anda? Kenapa anda mengambil jiwa manusia? Apa kau ingin menumbalkan mereka?!" Tanya Gisella dengan menahan emosinya.
Sosok itu tersenyum manis ke arah Gisella, "Aku Dayang, penunggu air terjun ini! Aku sudah lama berada di sini! Mereka yang mengotori tempatku, akan mendapatkan balasannya! Mereka anak-anak yang tidak bisa menjaga sikap di tempat lain" Ucap sosok Dayang itu.
Dayang itu masih tersenyum manis ke arah Gisella, lalu menatap ke arah air terjun. Perlahan sosok muncul dari sana, yang ternyata adalah Gladis. Dia memakai pakaian adat Jawa yang sangat mirip dengan apa yang di gunakan oleh Dayang itu. Mendekat dengan melayang ke arah Gisella dan Dayang. Gisella tentu saja terkejut, "Gladis?!" Lirih Gisella.
"Lebih baik kamu tidak usah ikut-ikutan! Ini sudah menjadi garis takdir untuk dia! Dia yang sudah melakukan kesalahan besar!!" Ucap Dayang itu dengan nada anggun.
"Lantas apakah kamu mau menjadi gantinya?!" Tanya Dayang.
Deg,,,,
Gisella tak dapat berkata-kata lagi, dia terdiam dan berpikir. Namun Dayang itu tersenyum ke arah Gisella dan berkata, "Kamu bisa gantikan mereka! Atau aku akan mengambil anak-anak kamu! Apakah kamu mau?!" Tanya Dayang yang membuat Gisella tersentak. Bagaimana mungkin Dayang itu bisa mengetahui kalau Gisella memiliki seorang putri, bahkan Dayang itu mengancam akan mengambil putrinya jika mau melepaskan jiwa dari kedua remaja itu.
"Tidak! Jangan lakukan itu!!" Ucap Gisella dengan khawatir, dia langsung melihat Gladis yang tengah menunduk dan menangis.
Gisella berada dalam dilema yang sulit, dia tidak mungkin meninggalkan Gladis yang seperti itu. Namun dia juga tidak bisa menjadikan anaknya sebagai korban dari Dayang.
"Bagaimana?!" Tanya Dayang.
Gisella tak bisa menjawab apapun, dia terdiam hingga tiba-tiba,,,
"Jangan lakukan itu!" Sebuah suara terdengar samar, dan perlahan menampakkan sosok dari paman Felix.
"Paman Felix?" Lirih Gisella.
"Jika kau tidak mau melepaskan kedua remaja itu, maka lakukanlah! Jangan membuat semua orang menjadi bahan tumbal untukmu!" Ucap Paman Felix.
"Pilihan yang bagus, aku menyukai keberanian mu mengatakan itu! Gadis ini dan juga pria itu pantas di hukum karena perbuatannya!" Ucap Dayang itu sembari mengusap wajah Gladis pelan.
Paman Felix kemudian memegang tangan Gisella dan membawa Gisella kembali ke tubuhnya.
Gisella pun membuka matanya, dan menangis. Membuat Chan merasa khawatir padanya.
"Gisella ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Chan khawatir.
"Mereka berdua sudah terjebak, dan tidak bisa kembali lagi Chan!" Kata Gisella memberi tahu. Chan pun memeluk istrinya dengan hangat untuk menenangkannya.
Lalu setelah itu mereka menemui semuanya yang tengah berada di ruang tamu. Terlihat semua orang menangis dan menatap iba kepada kedua remaja yang sekarat itu.
Gisella meminta maaf kepada mereka terutama kepada Ratih. Karena dirinya tak bisa membawa kembali jiwa kedua temannya itu.
"Maafkan saya yang tidak bisa menolong mereka pak!" Kata Gisella pada kepala desa. Kepala desa pun menghela nafasnya, "Tidak apa-apa! Memang sebenarnya siapapun yang sudah berani mendekat ke air terjun itu, apalagi melakukan hubungan terlarang di sana! Mereka tidak akan bisa selamat!!" Kata Kepala Desa memberi tahu Gisella.
Kemudian keesokan harinya para anak-anak itu kembali ke kota. Beserta kedua teman mereka yang sekarat itu. Sedangkan Gisella, Chan dan juga Bi Inem kembali ke kediaman paman Felix.
Saat mereka masuk ke dalam pendopo itu, terlihat paman Felix sedang duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruang tamu. Gisella yang melihat itu langsung mendekati paman Felix. Tentunya untuk menanyakan tentang semua rasa penasaran Gisella.
"Paman!" Ucap Gisella yang langsung duduk di kursi ruang tamu tepatnya di depan paman Felix. Diikuti oleh Chan juga yang duduk di samping Gisella. Sedangkan Bi Inem ke dapur untuk membuatkan minuman dan juga akan menyiapkan makanan untuk mereka nanti.
"Paman, bisakah paman menjelaskan semuanya yang terjadi kepada anak-anak itu?!" Tanya Gisella penasaran.
"Gisella tenanglah sayang!" Kata Chan mencoba menenangkan Gisella.