Kamar 126

Kamar 126
Menusuk


Di sisi Mark, Dira dan juga Axel kini mereka ada di depan portal. Dira menatap manik mata Axel, membuatnya tersadar dan sedikit merasa lebih baik.


"Dira?" Lirih Axel.


"Axel, aku mohon! Kenang saja aku di masalalu kamu! Aku yakin kamu bisa menemukan pengganti diriku di dunia kamu! Tolong jangan mengharapkan aku kembali! Karena alam kita sudah berbeda Axel! Aku mohon jangan siksa dirimu dengan kepergian ku! Ikhlaskan aku sesuai hati kamu! Jangan sampai kamu terpengaruh iblis lagi!" Kata Dira panjang lebar untuk mengingatkan Axel.


Axel menunduk dan menangis, "Maafkan aku Dira, rasa cintaku membutakan segalanya! Aku berjanji akan hidup bahagia setelah ini! Maafkan aku! Aku mencintaimu Dira!" Ucap Axel dengan terisak menatap Dira lalu kemudian memeluk Dira.


Dira tersenyum dan membalas pelukan Axel , "Aku juga mencintaimu Axel!" Lirih Dira.


Mark yang melihat itu merasa sedih, cinta mereka yang begitu dalam namun tak bisa bersatu karena perbedaan dunia yang mereka lalui.


"Axel maaf menganggu! Tapi kamu tidak bisa berlama-lama di sini! Mengingat raga kamu tidak ada yang menjaga, karena di sembunyikan oleh iblis!" Ucap Mark mengingatkan. Axel lalu melepaskan pelukan itu dengan enggan. Axel mengecup kening Dira singkat lalu berjalan menuju ke arah portal dengan masih menatap Dira dari kejauhan. Ya, setelah ini Axel akan berusaha untuk mengenang Dira saja di masalalu. Bukan untuk menjadi masa depannya.


Axel dan Mark pun menghilang di balik portal itu. Sosok Dira pun tak menghilang, dia berubah menjadi wujudnya seperti semula. Ya, sosok yang ternyata bukanlah Dira yang asli, namun sosok itu hanya menyamar saja menjadi Dira. Tentunya Dira tidak akan bisa muncul karena Dira tengah berada di jalan menuju alam selanjutnya dan melupakan semua yang ada di dunia manusia. Sosok itu tersenyum lalu kemudian menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Chan dan Wendy, mereka berdua tengah duduk di kursi taman sembari Wendy yang dari tadi menceritakan kejadian dulu saat Chan belum bertemu dengan Gisella.


"Chan, kau harus menjadi milikku selamanya!" Ucap Wendy dengan tersenyum menyeringai ke arah Chan yang membuat Chan takut, namun dia mencoba untuk biasa saja di depan Wendy.


Wendy pun mendekatkan wajahnya ke arah Chan. Chan bingung harus melakukan apa, dirinya tidak ingin membuat Gisella kecewa, dia juga tidak tahu apakah Gisella sudah selamat atau belum, "Ku mohon siapapun bantulah aku! " Batin Chan lalu perlahan menutup matanya.


Jarak Wendy dan Chan sekarang hanya beberapa senti saja, bahkan kini Chan telah pasrah dengan apa yang nantinya akan terjadi padanya. Bagi Chan yang terpenting adalah keselamatan anak dan istrinya. Saat bibir mereka hendak menyatu,,,,,


"JAUHI SUAMIKU!!!" Suara teriakan terdengar membuat Wendy dan Chan langsung menoleh.


"Gisella!" Ucap Chan dengan hati yang bahagia melihat istrinya yang telah baik-baik saja.


"Kurang ajar!! Kau berani menganggu ku!!!!" Wendy yang melihat itu geram dan langsung melesat ke arah Gisella. Akan tetapi saat hendak mencekik Gisella, ada satu sosok yang menghadang Wendy tepat berada di depan tubuh Gisella.


Deg,,,,,


"Akhirnya kita bertemu lagi!!" Ucap sosok itu, yang ternyata peri dari bambu kuning. Sosok peri itu muncul tepat pada waktunya.


"Kau!!!" Geram Wendy dengan wajah yang mengerikan.


Gisella yang awalnya kaget pun tersadar dan langsung berlari ke arah Chan. Wendy yang melihatnya hendak menghalangi langkah Gisella, namun dengan secepat kilat Peri bambu kuning itu telah menghadangnya.


"Kurang ajar! Beraninya kau menghadang jalanku!! Pergi kau dari alam ku!!" Ucap Wendy yang langsung merubah suasana di sekitar menjadi mengerikan.


"Aku ada untuk menghabisi iblis seperti dirimu!! Kau harus musnah!!" Kata Peri bambu kuning.


Wendy tertawa, "Hahahaha, kau mau memusnahkan aku? Coba saja kalau bisa!! " Ujar Wendy dengan kepercayaan dirinya, memang kalau Wendy tidak pernah sekalipun bertemu dengan sosok Peri yang notabenenya adalah musuh bebuyutannya.


Mereka lalu terlibat perkelahian sengit, saling memusnahkan satu sama lain. Tak ada jeda di pertarungan mereka, beberapa kali Wendy terpental namun masih bisa berusaha mengimbanginya. Hal itu membuat Gisella dan Chan khawatir kalau sampai pertarungan itu di menangkan oleh Wendy.


Namun pada akhirnya mereka lega, setelah melihat Wendy terpental dan jatuh dengan memuntahkan sebuah cairan hitam. Dirinya lemas hingga tak sadarkan dia seperti orang yang pingsan. Padahal dia bisa saja hidup kembali, karena dia iblis.


Sosok peri itu berjalan ke arah Chan dan Gisella. Peri itu seakan memberi hormat pada tuannya, "Maafkan aku Gisella, aku muncul dan melakukan ini! Bahkan muncul di depan anak dan suamimu! Tapi itu untuk melindungi mereka! Tugas pertamaku telah selesai!"


Gisella memahami itu dan berkata "Tidak apa, mungkin ini karena mendesak, terima kasih sudah muncul di saat yang tepat!" Ucap Gisella tersenyum. Chan masih berpikir dengan apa yang dikatakan oleh sosok cantik di depannya itu.


"Tapi iblis ini masih bisa hidup kembali!!" Ucap Peri yang membuat Chan dan Gisella terkejut dan takut.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?! Aku tidak ingin seluruh keluargaku terus-terusan di pengaruhi olehnya!!" Ujar Gisella dengan khawatir.


Peri itu tersenyum, "Kau tenang saja Gisella! Ku tahu bagaimana cara memusnahkannya menjadi abu!" Ucap Peri itu lalu menoleh ke arah Chan, Gisella juga menatap Chan lalu kembali melihat arah Peri itu tanpa bertanya, "Iblis ini terus menganggu keluargamu karena pria yang dia cintai telah menjadi milik orang lain! Walau cintanya itu memiliki tujuan juga!" Lanjutnya, lalu tangan Peri itu mengeluarkan sebuah salib dengan ukuran telapak tangan, "Gunakan ini! Tusuk kepalanya!Leburkan cinta dan dendamnya terhadap kalian!" Ucap peri itu lagi sembari menyodorkan salib itu pada Chan.


Chan menoleh ke arah Gisella meminta persetujuan, Gisella mengangguk pertanda bahwa dia menyetujuinya. Chan kemudian menerimanya dan mengambil salib itu dari tangan Peri.


Chan berjalan menuju ke arah Wendy yang sedang menutup mata tak sadarkan diri, saat hendak menusuk Wendy, tiba-tiba mata Wendy terbuka.


Deg,,,,


Hal itu membuat Chan dan Gisella terkejut di buatnya.


"Cepat tusuk dia!!!!!" Ucap peri itu, karena ternyata Wendy membuka mata untuk mengumpulkan energinya supaya pulih dan bisa menyerang lagi.


Jleb,,,,,,,


"AKHHHHHHH!!" Teriakan kesakitan dari iblis itu membuat seluruh tempat itu seakan ingin runtuh, perlahan tapi pasti sosok iblis itu seperti terbakar dan menjadi abu yang bertebaran. Namun ternyata jika Gisella dan Chan tak kunjung kembali sebelum iblis itu benar-benar musnah. Mereka tak akan bisa keluar dari tempat itu, dan selamanya akan terjebak di sana.


"Cepat keluar sebelum dia dan tempat ini lenyap!!" Perintah peri.


Gisella dan Chan mengangguk lalu berlari ke arah portal untuk kembali ke dunia mereka dengan selamat.