Kamar 126

Kamar 126
Hantu anak kecil


"Hey ,jaga bicara kamu pada seorang wanita!" Ujar. Chan yang tiba-tiba datang karena untuk menyusul dan memastikan kalau Gisella baik-baik saja.


"Chan sudah! Diamlah dulu?!" kata Gisella yang langsung membuat Chan berhenti berbicara pada Jong Chen.


"Chen, istrimu meminta tolong padaku untuk mengatakan ini! Dia sudah tiada, dan dia kasihan padamu karena kau terus saja menganggap bahwa dia masih ada?!" Ujar Gisella yang memberi tahu kebenarannya kepada Jong Chen.


"Apa kau tidak kasihan kepada istrimu? Dia tidak bisa melanjutkan ke alam selanjutnya karena kau tidak bisa mengikhlaskan kematiannya?!" Ujar Gisella.


"Apa aku harus percaya padamu?" Tanya Jong Chen yang perlahan mulai percaya dengan apa yang di katakan oleh Gisella.


"Dia ada di dekatmu sekarang!" Ujar Gisella yang membuat Jong Chen menoleh ke samping kanan dan kirinya. Namun dia tidak melihat adanya siapapun di sana.


"Aku perlu bukti dengan semua omong kosong kamu itu!" Ujar Jong Chen lagi.


"Baiklah akan aku buktikan!" Jawab Gisella.


Rosela lalu menceritakan semuanya kepada Gisella dan setelahnya Gisella langsung mengatakannya kepada Jong Chen.


Rosela meninggal karena serangan peluru yang di lepaskan oleh seseorang yang tidak di kenal, Rosela meninggal di pelukan Jong Chen lebih tepatnya di pantai tempat dia memandang laut lepas tadi. Kepergian Irene ternyata bukan hanya sendiri ,saat itu dia sedang mengandung anak pertama mereka. Usia kandungan Rosela baru beberapa minggu . Bahkan Jong Chen dan juga Irene baru saja menikah 4 bulan yang lalu.


"Sekarang dia bilang padaku kalau dia sangat mencintaimu?!" Ujar Gisella yang membuat Rosela sedih dan juga Jong Chen yang langsung jatuh bersimpuh.


"Rosela!!!" Ujar Jong Chen lirih sembari menitihkan air matanya.


"Kasihan dia Chen, dia ingin pergi ke alam selanjutnya, namun karena dirimu tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya ,, dia tidak bisa pergi dengan tenang?!" Ujar Gisella lagi lalu bisa bernafas dengan lega.


Jong Chen hanya bisa menangisinya dan sangat menyesal mengetahui hal itu. Chan saat itu menatap Gisella lalu berjongkok di dekat Jong Chen dan berkata,,,,,,


"Kamu harus mengikhlaskan kepergian istrimu?!" Ujar Chan sembari menepuk pundak Jong Chen yang tengah bersedih.


Setelah itu, Gisella dan juga Chan memutuskan untuk menemani Jong Chen ke makam istrinya.


Sesampainya mereka di makam Rosela, Jong Chen langsung berjongkok di dekat batu nisan milik istrinya itu.


"Rosela, maafkan aku,,aku sudah mempersulit jalan kamu,,, sekarang pergilah dengan tenang bersama dengan anak kita,,,, aku di sini akan selalu senantiasa mendoakan kamu dan anak kita?!" Ujar Jong Chen yang kuasa menahan air matanya.


Arwah Rosela yang juga berada di sana pun tersenyum lega melihat suaminya sudah mengikhlaskan kepergian dirinya.


"Katakan pada Jong Chen ,kalau aku akan menunggunya di kehidupan selanjutnya!" Ujar Rosela yang meminta tolong kepada Gisella untuk mengatakannya pada Jong Chen.


"Jong Chen, Rosela bilang padaku kalau dia akan menunggu kamu di alam selanjutnya?!" Ujar Gisella yang membuat Jong Chen bernafas dengan lega.


"Terima kasih ,kalian sudah menyadarkan aku?!" Ujar Jong Chen sembari melihat ke arah Chan dan juga Gisella.


Gisella menjawabnya dengan anggukan lalu tersenyum kepada Jong Chen, begitu juga dengan Chan.


"Sama-sama, kalau ada apa-apa hubungi kita saja,, siapa tau kita bisa bantuin kamu?!" Ujar Chan yang masih menepuk pundak Jong Chen, dengan tujuan agar Jong Chen menjadi lebih tenang lagi. Jong Chen tersenyum kepada Chan dan juga Gisella kemudian mengangguk perlahan.


Hari sudah menjelang senja ,Gisella dan juga Chan kembali ke mansion untuk beristirahat.


Akan tetapi di tengah perjalanan mereka , ada seorang anak kecil yang sedang duduk sendirian di tepi jalan.


"Ada apa, Sel?" Tanya Chan setelah menghentikan mobilnya.


"Lihatlah ,di sana ada anak kecil!" Ujar Gisella sembari menunjuk ke arah anak kecil itu.


"Aku tidak melihat apapun,!" Kata Chan yang tidak melihat apapun pada arah yang di tunjukkan oleh Gisella.


Namun Gisella seakan tidak peduli pada jawaban Chan, Gisella langsung saja turun dari mobil dan hendak menghampiri anak kecil yang dia lihat itu.


"Haish, apa lagi yang akan dia lakukan kali ini?" Ujar Chan yang langsung turun dari mobil mengikuti Gisella.


Gisella menghampiri anak itu, namun anak itu justru langsung berlari seakan tidak mau di dekati oleh Gisella. Saat itu Gisella mengejar anak kecil itu ,begitu juga dengan Chan yang ikut berlari tanpa tau, apa yang sebenarnya membuat Gisella berlari seperti itu.


Cukup lama mereka mengejar anak itu, namun tak kunjung bisa menangkapnya. Sampai akhirnya Gisella berhenti untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlarian mengejar anak itu.


"Gisella, tunggu! Jangan lari lagi!" Ujar Chan yang nafasnya juga terengah-engah akibat mengikuti Gisella yang terus berlari.


"Lagi pula kenapa kamu terus berlari?" Ujar Chan lagi.


"Aku cuma mau ngejar anak itu saja, dia terus berlari saat aku mau mendekatinya! Aku ingin tau apa sebenarnya tujuannya?!" Ujar Gisella yang sibuk mengatur nafasnya.


"Gisella sudahlah, ini sudah larut, sebaiknya kita pulang ke mansion?!" Ujar Chan yang mengajak Gisella untuk ke mansion.


Gisella pun menghela nafasnya dan berkata,,,,,


"Kita istirahat saja dulu di sana?!" Ujar Gisella sembari berjalan ke arah kursi yang ada di taman bermain dekat dengan jalan yang memang sepi itu.


Saat Gisella dan juga Chan duduk di kursi taman bermain itu, mereka melihat ada seorang wanita membawa beberapa tangkai bunga mawar dan menaruhnya tepat di tempat anak kecil itu pertama kali dilihat oleh Gisella.


Akan tetapi saat seorang wanita itu menaruh bunga di tempat itu, sosok anak itu muncul di depannya ,namun hanya diam membisu menatap wanita itu. Anak kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menatap wanita itu sendu.


"Sayang, semoga kamu tenang ya di sana?!" Ujar wanita itu yang sedang berdiri tepat di depan beberapa tangkai bunga yang dia taruh di sana.


Karena rasa penasarannya, Gisella akhirnya memutuskan untuk mendekati wanita itu.


"Gisella kamu mau ke mana?" Tanya Chan yang melihat Gisella berdiri dan berjalan entah kemana.


"Aku mau menemui wanita itu?!" Ujar Gisella tanpa berbalik menatap Chan dan terus melanjutkan langkahnya.


Chan pun mengikuti kemana Gisella akan pergi.


"Permisi?" Kata Gisella yang kini sudah ada di dekat wanita itu.


Dan mereka berdua pun saling berkenalan. Dan kini Gisella sudah tahu nama dari wanita itu. Namanya Lisa.


Gisella tidak tahu kalau ternyata di dekat pagar tinggi itu ada sebuah foto anak kecil yang di dekatnya banyak rangkaian bunga-bunga mungil. Gisella memandang lekat-lekat foto anak itu.


"Anak itu,,,?" Ujar Gisella yang terpotong karena Lisa.


"Apa kau mengenal anakku?!" Tanya Lisa dengan segera hingga memotong ucapan Gisella.